Menulis?

Mengapa kamu menulis?

Sebuah tanya dari seorang teman yang ternyata sering mampir dan membaca blog yang saya punya selama ini. Dia, seorang Silence Reader yang tidak pernah saya tahu sebelumnya bahwa dia mengikuti dan menjadi tahu lebih jauh siapa saya dengan membaca apa yang saya tulis. Teman yang akhirnya menanyakan kenapa saya suka menulis, mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya ke sebuah tulisan yang saya bagikan di sini.

Saya menulis tujuan sebenarnya adalah memberikan kesempatan untuk pikiran saya bisa terbaca dan tidak terlupakan begitu saja, disamping juga memberikan sedikit latihan kepada jari-jemari saya menari mengikuti irama yang dipimpin oleh sebuah pikiran. Berharap perpaduan itu menjadi sebuah komposisi yang bukan saja bisa dinikmati oleh saya namun juga oleh orang lain terutama oleh putri kami, A. Mimpi saya, suatu saat A akan mengerti beberapa bagian perjalanan saya dengan membaca apa yang saya tuangkan di sini. Ingatan saya mungkin saja pudar, kemampuan saya untuk merangkai kata bisa saja semakin berkurang, kemampuan untuk bercerita kembali bisa saja tidak menyimpan apa yang saya tulis hari ini, namun saya punya tempat ini. Sebuah platform yang nantinya bisa saya gunakan untuk memacu semangat A untuk semakin mendalami bahasa Indonesia, platform yang bisa saya wariskan kepada A mungkin untuk dilanjutkan atau sekedar untuk dibaca kala waktu senggang. Platform yang ingin saya tunjukkan kepada A, tentang sebuah perjalanan hidup, pembelajaran untuk menulis lembar demi lembar di buku kehidupan.

Menulis adalah satu dari kegiatan yang sangat saya sukai sejak kecil, saya bisa duduk dimana saja dan masuk ke dunia saya untuk menggoreskan satu atau dua kata. Koleksi puisi yang saya tulis dengan tangan sangat banyak, ingin rasanya menyimpannya dalam bentuk tulisan rapi di komputer, namun saya belum rela saja menggunakan waktu saya untuk melakukan hal itu. Mungkin bisa dikatakan kalau menyimpan puisi-puisi tersebut dalam bentuk digital bukan menjadi prioritas yang utama saat ini. Nanti sajalah… saya tidak tahu apakah ini bisa dikategorikan sebagai sebuah kemalasan atau memang kembali pada skala prioritas? Biarlah orang lain yang menilai, buat saya untuk saat ini hal itu bukan suatu kebutuhan yang mendesak.

Kami pernah ngobrol saat akhir pekan menghampiri, berandai-andai dengan keluarga kecil kami, saat mertua datang berkunjung. Jika seandainya kami memenangkan sebuah lotteri atau dikasi kesempatan untuk memiliki uang berlebih, apa yang akan kami lakukan. Entah mengapa, kami memiliki jawaban yang sama, pergi berwisata ke beberapa tempat. Mulailah kami mengembangkan ide tersebut, setiap orang harus mengatakan tempat mana yang ingin sekali dikunjungi dan diikuti pula alasan mengapa memilih tempat tersebut. Obrolan santai yang ternyata membuat kami semakin mengerti pribadi kami masing-masing. Ketika giliran saya untuk menyebutkan kemana saya ingin pergi jalan-jalan, jawaban saya adalah ke tempat dimana saya bisa dekat dengan air atau pegunungan. Orang-orang kesayangan saya tertawa, karena untuk berada dekat air sebenarnya bukan hal yang susah. Kami naik mobil 10 menit pun atau naik kereta 30 menit saja, sudah bisa berada dekat dengan air. Kalau pegunungan mungkin agak susah karena kami harus menyetir setidaknya 8-9 jam untuk bisa menikmatinya. Mereka menanyakan mengapa begitu sederhana, ya… karena jika berada di dekat air atau pegunungan, entah mengapa saya pasti keinginan untuk membaca dan menulis akan melonjak tinggi mengalahkan keinginan yang lain seperti makan contohnya. Inilah yang ingin saya kembangkan, kemampuan untuk bisa bercerita lewat tulisan, berbagi tentang buah pikiran yang saya gunakan tidak saja sebagai pengingat untuk diri sendiri namun juga sebagai alat untuk memberikan kebebasan pada gadis kecil dalam diri untuk memberikan saya pelajaran, renungan dan juga sebuah ajang untuk mendalami bagaimana saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri, sebelum berdamai dengan orang lain.

Mereka belum puas dengan jawaban saya, mereka meminta saya untuk menyebutkan nama satu atau beberapa tempat yang pertama kali ada di kepala jika rejeki itu sudah ada dan memungkinkan saya untuk pergi. Yang ada, beberapa nama berkelibat di benak saya, mulai dari Fjord di Norwegia, Aosta Valley yang terletak di barat laut Italia dan Danau Garda di utara Italia. Mengapa 3 tempat ini? Mungkin karena saya sudah melihat beberapa foto dari teman-teman baik yang sudah pernah ke sana atau bahkan tinggal di sana dan ketika saya melihat foto-foto tersebut saya seperti bisa melihat diri saya sendiri, duduk dengan buku, kertas, pena atau mungkin komputer saya dan tenggelam dalam barisan huruf-huruf yang mendendangkan sebuah karya agung di telinga saya. Saya ingin mengunjungi tempat itu untuk bisa membandingkan dan merasakan apakah impian saya untuk menulis di sana bisa menjadi kenyataan, apakah benar adanya suasana air dan pegunungan itu bisa membuat saya tersihir dan bermain dengan huruf dan angka. Itu impian saya! Jawaban saya membuat orang-orang terkasih mengambil telefon mereka dan mulai mencari tahu seperti apa tempat tersebut, terutama Aosta valley yang baru pertama kali mertua saya mendengar nama tempat tersebut. Mereka tahu saya dan setuju bahwa tempat-tempat tersebut akan mampu membuat saya diam berjam-jam dengan buku, kertas, pena dan komputer saya. Seperti halnya ketika kami berada di Åre, salah satu tempat yang bisa menyihir saya.

Ini juga salah satu alasan mengapa saya menulis, setidaknya saya bisa berbagi dan menggambarkan tentang sebuah tempat tersebut dengan menuliskannya. Saat ini mungkin tidak terlalu banyak yang bisa saya bagikan mengenai tempat-tempat dimana saya mendapat kesempatan berkunjung bersama keluarga, namun saya sudah pernah menuliskan beberapa tempat yang memberikan arti tersendiri dan bisa dilihat dibeberapa postingan saya sebelumnya, contohnya cerita ketika kami berada di Praha, ketika saya berada tempat favorit saya, Skansen atau hanya sekedar berjalan-jalan di Kota Tua Stockholm dan masih ada beberapa postingan lagi.

Jika dilihat, saya bisa saja menulis tanpa membagikannya kepada orang lain, namun bagi saya apa salahnya jika saya berbagi. Sekali lagi, kalaupun tidak ada satu pun yang membaca tulisan saya, setidaknya saya sudah menyimpan buah pikiran saya untuk A nantinya. Tujuan utama saya menulis bukan untuk menjadi terkenal, saya menulis karena saya suka. Ada atau tidak pembaca, tidak pernah mempengaruhi keinginan saya untuk melanjutkan merangkai kata, menuangkan pendapat, mengungkapkan sebuah pandangan akan kehidupan. Tapi tentu saja ada kebanggaan tersendiri dan haru jika ada yang membacanya seperti teman saya yang ada di postingan ini. Saya lebih bangga lagi ketika ada seorang teman yang lain mengatakan kepada saya secara pribadi bahwa tulisan saya seperti seorang teman yang mengatakan hal,

”Kamu tidak sendiri!”

Terutama ketika teman tersebut berada di posisi dimana roda kehidupannya berada di titik terendah. Saat saya mendengar hal-hal seperti inilah yang membuat saya semakin mencintai kegiatan ini, ada buncah di dada yang kadang nyaris membuat saya menangis, ternyata saya masih bisa bermanfaat buat orang lain walau hanya tulisan yang tidak seberapa. Saya yakin bahwa berbagi hal positif itu suatu keindahan yang menempatkan manusia untuk mengerti akan kasih, akan roda kehidupan yang terus berputar, akan karma, akan arti sebuah perputaran menerima dan memberi. Saya tidak akan berhenti di sini, walaupun terkadang seperti yang sudah saya pernah katakan bahwa terkadang sulit menemukan waktu untuk duduk dan menarikan jari jemari ini, namun saya akan terus berusaha untuk menemukan waktu itu.

Menulis bagi saya adalah bagian dari perjalanan saya, sama seperti halnya membaca dan melakukan kreativitas yang lain. Inilah yang menyeimbangkan saya ditengah kesibukan saya sebagai anak, ibu, istri, menantu, teman dan manusia. Selama saya masih bisa diberikan kesempatan membuka mata di setiap pagi menjelang, kalian akan tetap melihat satu dua kalimat saya di platform ini. Mungkin kepulangan ke tanah kelahiran kali ini akan membantu saya untuk melatih dan berkomitmen untuk meluangkan waktu menuliskan tentang apa saja di setiap hari saya. Ya… mari kita lihat bersama hasilnya. Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya.

Haninge,  demaodyssey 18032018

Advertisements
Posted in catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian | Tagged , , | 1 Comment

Reaksi Akan Sebuah Cibiran

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berbagi dengan seorang teman baik yang sudah hampir 1 tahun tidak bertemu. Kami bertemu sore setelah saya pulang dari kerja, hanya hari itu saya bisa bertemu dengannya karena dia pun harus kembali ke Inggris dan saya akan pulang liburan ke Bali. Teman ini yang sering saya ajak sebagai teman berdiskusi tentang banyak hal, terutama tentang hidup sebagai sebuah perjalanan untuk belajar. Seperti pertemuan setahun yang lalu, waktu begitu cepat berlalu sedangkan kami masih ingin saling bertukar pikiran tentang banyak pertanyaan yang ada di benak kami.

Ada satu pertanyaan yang dia ajukan pada saya yang membuat saya tersenyum,

”Pernahkah kamu dicibir oleh orang lain?”

”Pernah” jawab saya dengan senyum masih terbentuk di wajah saya.

”Sepertinya kamu menghadapinya sebagai sesuatu yang tidak serius” dahi teman Swedia saya ini berkerut keheranan dengan sorot mata keingintahuan yang sudah saya sering lihat setiap kita bertukar tanya satu sama lain. Ekspresi wajah yang sudah sangat saya kenal.

”Serius atau tidak suatu hal itu, kita yang menentukan. Itu adalah bagian dari pilihan tentang bagaimana kita bereaksi akan setiap tantangan yang ada di hadapan kita, tantangan yang akan selalu ada di setiap level kehidupan. Tentu saja setiap orang punya pandangan dan pilihan masing-masing akan suatu tantangan yang sama, terkadang bisa juga ada kesamaan namun biasanya kesamaan tersebut tidak sama secara rinci karena sejatinya, setiap manusia itu berbeda. Bahkan anak kembar yang berasal dari satu sel telur saja masih bisa ditemukan perbedaan yang membedakan mereka, bisa perbedaan fisik, tingkah laku, sikap atau yang lainnya.

Saya melihat cibiran dari orang lain itu biasa saja, bukan suatu hal yang harus saya tanggapi serius. Sebagai manusia, kadang saya masih lupa dan ada kesal atau amarah jika cibiran tersebut sudah menusuk terlalu dalam apalagi sudah memasuki daerah yang berbau fitnah. Namun kalaupun itu terjadi, bisa dipastikan itu tidak akan lama bertahan, karena saya akan diam dan berdiskusi dengan diri saya apakah saya mau menggunakan waktu saya untuk meladeni atau menyimpan amarah tersebut, menelaah apakah hal tersebut bermanfaat buat saya. Biasanya tidak, karena saya tahu bahwa saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Pasti selalu saja ada yang tidak puas atau tidak senang melihat apa yang sedang saya lakukan. Saya belajar bahwa yang bisa saya kontrol adalah karma saya dan bukan karma orang lain. Bagaimana saya bereaksi adalah bagian dari karma yang saya bisa pikirkan, bisa pilih dan bisa saya lakukan, sedangkan bagaimana orang-orang di sekitar saya bereaksi merupakan karma mereka dan saya tidak berhak mengaturnya, atau lebih jelasnya saya tidak mau ikut menentukan reaksi mereka, biarlah mereka belajar dari reaksi tersebut. Mungkin saya bisa berbagi reaksi-reaksi saya dari perjalanan sebelumnya, hanya itu yang bisa saya berikan sebagai sumbangsih kepada mereka, itupun jika mereka datang dan berbagi dengan saya.

Ada kalanya cibiran melecut semangat saya untuk membuktikan dalam diam bahwa apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar. Seringnya waktu akan membantu saya melakukan pembuktian tersebut, namun tentu saja untuk meyakinkan seseorang itu perlu waktu, niat dan proses dari kita. Biasanya jika saya sudah terlecut oleh pelecehan tersebut, itu artinya saya menilai dan rela meluangkan waktu saya untuk memperlihatkankan sebuah kebenaran. Itu tidak sering kok terjadi, karena menurut saya, waktu yang saya miliki lebih baik dipergunakan untuk mengejar mimpi-mimpi yang ingin saya capai bersama orang-orang kesayangan dan teman-teman yang ingin tumbuh bersama saya”

Teman saya terdiam, seperti memikirkan sesuatu dari pendapat saya. Raut mukanya lebih santai kali ini, namun matanya melihat keluar jendela, menerawang lebih jauh dari sekedar bangunan yang ada di seberang warung kopi yang berada di tengah kota tua kota ini.

”Namun, bukannya itu susah untuk bereaksi positif akan sebuah cibiran? Terutama jika cibiran dalam bentuk apapun tersebut tidak benar dan sangat menyakitkan. Bagaimana caranya bisa meredam emosi?”

Mata indahnya kembali menatap saya seolah masih ingin mendapatkan sebuah pandangan dari seorang teman diskusi. Saya tersenyum kembali, ini bukan pertama kalinya kami mendiskusikan satu hal seharian, mengupas, mencari solusi bersama, menuangkan ide saling bertukar ilmu, saling memahami kemampuan dan buah pikiran masing-masing.

”Saya tidak pernah bilang kalau memilih untuk bereaksi positif itu adalah suatu hal yang mudah. Diperlukan sebuah latihan dan banyak pembelajaran untuk mengerti, diperlukan berhari-hari bahkan bulan hingga tahun untuk bisa bisa berdamai dengan diri sendiri. Untuk bisa berbicara dengan gadis/pria kecil dalam diri yang biasanya dikenal orang sebagai kata hati, untuk bisa memilah hal-hal dalam hidup untuk berada di skala prioritas yang berhak menguasai waktu yang kita punya saat ini. Ini juga adalah sebuah proses pembelajaran, belajar untuk memilih, belajar untuk lebih sensitif dan mengenali mana yang hal yang penting dan mana yang perlu diacuhkan atau ditangguhkan. Saya bisa berkata begini karena saya juga masih belajar walaupun sudah bertahun-tahun mencoba mengendalikan yang namanya emosi dan belajar lagi tentang karma dan pengontrolan diri. Sampai hari ini saya bisa bilang saya sudah lebih baik dari saya beberapa tahun yang lalu, tapi bukan berarti saya sudah sempurna. Tidak ada hal yang sempurna, tidak ada yang abadi, semua akan berubah karena perubahan itu sendiri lah yang abadi. Arah perubahan lah yang bisa kita pilih, berubah untuk lebih baik atau lebih buruk. Saya juga masih suka lupa, masih suka terbawa perasaan, namun setidaknya saya bisa memperpendek waktunya. Contohnya, dulu ketika saya dihina atau dilecehkan, saya bisa berhari-hari bertarung dengan amarah dan diri saya sendiri, bahkan tidak jarang saya menangis. Tapi sekarang, amarah hanya bertahan beberapa menit saja, maksimal mungkin 1 atau 2 jam, setelah itu saya sudah bisa mengesampingkan perasaan dan bisa berbicara dengan kepala dingin dan menentukan apa reaksi saya selanjutnya.

Percayalah, kita bisa memilih jika kita mau dan bersungguh-sungguh, jika ada niat dan keyakinan akan kemampuan diri sendiri. Pahamilah bahwa kamu mampu, saya percaya dan memiliki keyakinan, jika saya yang bukan siapa-siapa ini saja mampu, maka semua orang mampu. Mungkin yang membedakan kita adalah waktu untuk memulainya. Saya sudah memulainya lebih dulu dari kamu, bukan hanya karena perbedaan umur kita yang lumayan jauh namun juga karena saya dibesarkan dengan kondisi berbeda denganmu. Hanya masalah waktu saja yang membedakan dan mengertilah, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Sebenarnya saya beruntung diberikan cobaan dan tempaan lebih dulu, makanya saya bisa berbagi pengalaman ini, perjalanan yang sudah saya tempuh. Tapi ingatlah, itu bukan berarti saya lebih baik dari kamu, tidak sama sekali. Kita sama, namun cara bereaksilah yang membedakan kita tentu saja selain warna kulit dan asal usul”.

Kami pun tersenyum bersama, terlihat mulut mungilnya berkata riang,

”Terima kasih sudah berbagi pendapat denganku”

”Sama-sama, terima kasih juga sudah mau mendengarkan. Maaf jika mungkin pengalaman saya yang minim ini belum bisa menjawab semua pertanyaanmu”.

”Nooooo, jangan berkata begitu. Saya menghargai waktu dan apa yang sudah kamu bagi selama ini, hal ini juga yang selalu membuat saya harus bertemu setiap saya pulang ke Swedia. Saya yang harus berterima kasih. Saya ingin belajar bersamamu, berdiskusi lagi, berbagi lagi dan tumbuh bersama-sama. Sayang, untuk saat ini saya tinggal lumayan jauh dari Stockholm, kalau tidak mungkin kita bisa bertemu lebih sering dan menggali bersama-sama tentang banyak hal yang belum kita temukan jawabannya”.

Ya, saya setuju dengan gadis muda yang baru saja melewati kepala 3 dalam perjalanan hidupnya. Jarak dan waktu yang terkadang mengharuskan kami untuk belajar bersabar dan menunggu untuk berbicara, berbagi dan bertukar pikiran. Gadis yang pertama kali saya kenal di Skansen, Open Air Museum yang ada di ibukota Swedia ini, saat dia bekerja paruh waktu menjaga salah satu rumah dan siap menjelaskan tentang toko penjual obat dan bahan-bahan makanan dari tahun 1800-an. Seorang teman yang sudah pernah menginap di rumah kakak saya di Denpasar, saat dia pertama kali ke Bali dan jatuh cinta dengan tanah kelahiran saya. Teman yang sudah seperti keluarga sendiri, bahkan ketika saya sempat bertemu dengan keluarganya, mereka menerima saya apa adanya dengan aura kekeluargaan. Kami biarkan juga kali ini waktu menentukan saat kami harus berpelukan dan melambaikan tangan, bukan untuk menyampaikan salam perpisahan, namun… sebuah pernyataan, sampai bertemu lagi.

Haninge, demaodyssey 17032018

Posted in catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian | Tagged , | Leave a comment

Sebuah Penjelasan, Harap dan Doa

”Wooooiiiii kemana aja?”

Pertanyaan yang sering saya dapatkan, seperti yang sudah dijelaskan di postingan ini  saya masih berkutat dengan pekerjaan saya sebagai guru di salah satu preschool di kota Stockholm. Tempat kerja saya ini kalau di Indonesia mungkin bisa dilihat sebagai gabungan dari playgroup aka taman bermain dan taman kanak-kanak. Preschool ini kami memiliki 20 anak dimana kisaran umurnya antara 1 sampai 5 tahun, pendidikan non formal namun memiliki kurikulum tersendiri yang diatur oleh pemerintah. Ada 2 macam preschool  di negeri kulkas ini, yaitu ada yang dikelola oleh pemerintah daerah (kommun) dan ada yang dikelola oleh pribadi/perusahaan (privat). Saya bekerja penuh waktu di preschool yang dikelola oleh sebuah perusahaan yang berasal dari Norwegia dan sekolah ini letaknya sekitar 1 jam dari rumah jika saya naik kereta dan bis dari rumah, namun jika mobil kantor P nganggur di rumah atau P sedang tidak butuh, maka saya akan bisa menghemat waktu hampir lebih dari setengahnya. Perjalanan ini pula yang menyebabkan saya jarang berinteraksi dengan teman melalu Facebook atau Instagram karena biasanya kalau saya menggunakan alat transportasi kereta dan bis, waktu yang 1 jam itu saya gunakan untuk membaca buku atau merajut keranjang atau hal-hal lain, atau terkadang hanya duduk manis sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan yang kalau dalam hal ini yang lebih banyak didengarkan adalah lagu Indonesia (jangan tanyakan apa alasannya, karena saya sendiri tidak tahu… nyengir lebar).

Kangeeeeen sebenarnya menyapa teman-teman yang tidak bisa saya sapa lewat saluran telepon atau lewat Whatsapp (yang juga banyak ketinggalan karena sengaja disetting tanpa notifikasi, jadi begitu buka sudah ada ribuan chat aka pesan dari beberapa grup atau teman-teman lain). Sebenarnya sudah tahu resikonya kalau jarang buka dan menyapa, maka bisa dipastikan sekali buka pasti ada yang baru, bahkan mungkin yang sangat ekstrem palingan terhapus dari daftar teman beberapa kenalan hehehhehe. Tapi buat saya sih tidak masalah, lah ini kan salah saya yang jarang menyapa, jadi mungkin beberapa orang tidak suka dan memilih untuk mencoret nama saya (nyengir lebar). Namanya juga kehidupan selalu ada resiko yang mengikuti setiap keputusan, jadi diterima saja, jika memang Tuhan mengijinkan untuk bertemu lagi, ya pasti akan bertemu di lembaran atau halaman selanjutnya. Kalau tidak ya berarti memang hal tersebut sudah seijin Tuhan, gampang kan hehehhehe.

Jangankan teman-teman, putri kami yang tersayang saja sempat menanyakan mengapa mamanya bekerja terlalu banyak (istilah yang dipakai A untuk menjelaskan bahwa dia ’jarang’ bertemu dengan saya, mamanya yang dulu sebelum kerja penuh waktu, setiap hari selalu menghabiskan beberapa jam melakukan kegiatan atau melakukan kerajinan tangan). Padahal bisa dibilang kalau saya selalu bertemu A setiap hari, pagi dan sore/malam (kecuali kalau saya bertugas membuka sekolah dimana saya berangkat dari rumah saat A masih tidur) Senin-Jumat dan akhir pekan itu bisa dipastikan seharian saya habiskan bersama keluarga. Tentu saja setelah dijelaskan, anak kami ini mengerti dan tidak pernah menanyakan hal tersebut lagi. Namun terkadang ini juga yang membuat saya memikirkan untuk mengurangi jam kerja saya, untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan A dan mengajarinya banyak hal, belajar tentang hidup bersama.

Ada beberapa yang saat ini ada di dalam rencana saya dan terus terang saya belum tahu mana yang terbaik. Saya ingin melanjutkan sekolah di perguruan tinggi sebagai guru di sekolah dasar untuk kelas 0-3 (mengajar anak-anak didik dari umur 6-9 tahun) yang nantinya akan membutuhkan waktu 4-5 tahun karena pendidikan tersebut adalah tingkat sarjana dan saya harus siap untuk belajar lagi untuk mendapatkan ijin mengajar yang menghabiskan waktu 1 tahun. Namun kelebihannya adalah, jika saya bisa menyelesaikan pendidikan ini dan mendapat pekerjaan, maka saya nantinya akan bisa mempunyai libur yang sama dengan putri kesayangank ami. Hal ini yang sejujurnya saya kejar, karena itu artinya saya bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak dengan keluarga terutama A. Juga kesempatan yang nantinya terbuka untuk lebih lama pulang liburan ke Bali. Sebagai guru di preschool bisa saja saya mendapatkan libur yang bersamaan dengan A namun ada kemungkinan saya tidak bisa mendapatkannya, hal ini dikarenakan preschool di Swedia, jadual liburnya tidak diatur oleh pemerintah (tidak bersamaan dengan sekolah tingkat lainnya) melainkan diatur oleh sekolah masing-masing. Memang ada aturan yang menyatakan bahwa sebagai pekerja, berhak mendapat libur 4 minggu berkelanjutan namun ada beberapa kasus dimana guru-guru preschool harus bergantian dengan teman sejawat untuk mendapatkan kesempatan libur musim panas. Terutama jika preschool tersebut memiliki banyak cabang, itu artinya para pekerja harus bertoleransi dan bergantian mengambil liburan musim panas. Hal ini yang membuat saya harus berpikir lagi untuk kebaikan A dan keluarga kami, karena P bisa mengatur libur musim panasnya sesuai keinginannya sendiri, tinggal saya yang harus menyesuaikan dan berkompromi.

Rencana yang lain adalah bekerja paruh waktu jadi saya masih bisa mengatur pekerjaan mana saja yang akan saya ambil dan apakah sesuai dengan jadual A. Ini dijadikan salah satu alternatif karena saya berpikir bukan untuk selamanya, mungkin hanya saya lakukan 3-4 tahun saja sampai A masuk sekolah dan mandiri dengan berbagai kegiatan dan teman-temannya dan tentu saja tidak menutup kemungkinan A masih ingin melakukan kerajinan tangan bersama saya. Namun tentu saja, ada kemungkinan gaji yang saya dapatkan akan lebih kecil, dimana bagi kami hal ini bukan akhir dari segalanya. Juga kemungkinan saya harus berpindah-pindah dari satu sekolah ke sekolah lain, yang menurut saya tidak jadi masalah karena toh saya tidak akan bekerja 8,5 jam setiap hari. Jadi saya sekali lagi menentukan waktu kerja saya sendiri dan memiliki lebih banyak kebebasan dalam mengatur kegiatan saya dengan A. Pertimbangan kami yang lain adalah siapa tahu dengan bekerja berpindah-pindah saya bisa melebarkan jaringan pertemanan saya dan mengenal lingkungan lain selain daerah dimana saya tinggal.

Ada keinginan juga untuk pindah ke negara lain, bukan karena kami bosan di Swedia namun kami ingin mengajak A mengalami hidup di negara lain sebelum dia wajib sekolah yaitu berumur 6 tahun. Saya tahu, beberapa orang mungkin berpendapat bahwa pendidikan di Swedia bukanlah yang terbaik namun sebagai orang tua, kami ingin A masuk sekolah di negara dimana P berasal. Alasan yang lain adalah kami ingin kakek neneknya di Swedia bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan A karena A adalah cucu satu-satunya. Iya, keluarga saya di Swedia ini memang keluarga kecil dimana P adalah anak tunggal. Jadi ketika A lahir, mereka bahagia bukan kepalang dan mereka rela menempuh lebih dari 600 km menyetir mobil setiap 6 minggu sekali untuk bertemu cucu kesayangan mereka. Bahkan, kemarin sempat mereka datang 2 kali dalam sebulan karena kebetulan P harus bekerja di luar Swedia selama 1 minggu dan mereka dengan senang hati datang untuk membantu saya mengantar dan menjemput A dari preschool-nya. Hal ini pula yang kami pikirkan tentang niat pindah untuk beberapa tahun, setidaknya kami mencari negara yang tidak jauh dari Swedia. Saat ini kemungkinan terbesar adalah Berlin, Jerman. Kenapa kota Berlin? Karena kebetulan P bekerja di perusahaan yang memiliki pasar dan kantor pusat kedua yang terbesar selain Stockholm di Berlin. Kemungkinan untuk diijinkan pindah ke sini bisa dikatakan terbuka lebar, namun sekali lagi itu tergantung dengan situasi yang bisa dilihat setelah musim panas tahun ini. Harapan kami sih semoga saja bisa tercapai, namun kalaupun tidak ya tidak apa-apa.

Masih ada beberapa alternatif lain namun 3 hal diatas yang paling atas saat ini. Bukan berarti saya harus mendapatkan salah satu dari ketiga tersebut karena kami hanya bisa merencanakan namun Tuhan tahu yang terbaik buat kami. Tidak menutup kemungkinan ada rencana atau keinginan kami yang lainnya yang lebih dulu menjadi kenyataan, seperti saya mendapat pekerjaan yang dekat dengan rumah yang bisa ditempuh dengan jalan kaki atau menaiki sepeda. Atau mungkin rencana lainnya yang Tuhan tahu lebih kami butuhkan, kami akan terima apapun yang nantinya terjadi setelah musim panas tahun ini. Kami yakin, apapun yang terjadi sudah seijin Tuhan dan kami yakin apapun yang nantinya saya dapatkan, itu yang terbaik.

Untuk saat ini, kami menikmati apa yang kami dapatkan dan berusaha memaksimalkan hal yang menurut kami paling utama dan yang terpenting. Fokus saya untuk saat ini tetap A dan keluarga nomor 1, kedua adalah pekerjaan saya dan ketiga adalah hal-hal yang berhubungan dengan kreatifitas yang bisa menyeimbangkan diri saya dari pekerjaan yang (seperti hal lainnya) ada hari yang saya membutuhkan sebuah tenaga tambahan untuk bisa tetap dalam lingkup kewajaran, positif dan tetap tersenyum menghadapi tantangan yang ada. Tentu saja pertemanan saya dengan yang lain juga menjadi salah satu yang ada dalam kehidupan saya, namun mungkin untuk saat ini saya belum bisa meluangkan waktu yang banyak untuk bersosialisasi karena keterbatasan waktu dan penempatan skala prioritas kami. Tapi bukan artinya saya anti-sosial karena saya dan beberapa teman masih sempat untuk bertemu dan bertukar cerita walaupun tidak sering. Bagi saya, pertemuan yang sering tidak bisa menjamin bahwa pertemanan itu akan baik-baik saja, yang terpenting adalah penerimaan apa adanya dan pengertian antara kami yang nantinya bisa membuat pertemanan tersebut bisa dinaikkan statusnya menjadi persaudaraan. Saya bersyukur sudah diijinkan Tuhan untuk bertemu dengan teman-teman tersebut yang bisa saya ajak berbagi dan tertawa tanpa ada niat terselubung. Saya masih percaya, saya akan diberikan kesempatan untuk bertemu teman-teman baru yang bisa diajak tumbuh bersama dalam susah dan senang. Sekali lagi, jika Tuhan mengijinkan.

Mungkin tulisan ini (dan tulisan yang lainnya) bisa menjawab sedikit kenapa saya jarang muncul dan menyapa walaupun saya tahu mungkin yang merindukan kehadiran saya tidak banyak, namun bagi mereka yang sudah meluangkan waktu untuk saya, saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Semoga saya bisa melakukan hal yang sama secepatnya dan membalas perhatian kalian. Terima kasih sudah menerima saya dengan ketidaksempurnaan saya sebagai manusia dan sebagai seorang teman. Sekali lagi, tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan dan ungkapkan selain…

”Terima kasih”.

Haninge, demaodyssey 16032018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian | Tagged , | 2 Comments

Menulis dan Ebiet G. Ade

Suhu di luar sana tepat menunjukkan nol derajat Celcius dan terdengar suara Ebiet G. Ade menemani saya membiarkan jari jemari menari di papan huruf-huruf yang sudah lama tidak saya sentuh. Keinginan selalu ada untuk menuliskan apa saja, namun ternyata belum ada kerelaan dari diri saya untuk meluangkan waktu duduk diam dan menuangkan apa yang ada di kepala. Selalu saja ada perang antara waktu buat A, waktu untuk merapikan rumah, waktu untuk menyiapkan setiap kegiatan untuk dibawa ke sekolah tempat saya bekerja keesokan harinya atau waktu untuk merangkai kata-kata. Pilihan terakhir selalu saja tertinggalkan dengan alasan,

”Nanti saja, masih ada akhir pekan!”

Namun ternyata kalimat itu tidak terjadi sampai 2018 menginjak bulan ketiga. Hari ini saya punya waktu karena tidak berada di sekolah, A masih sakit dan saya memutuskan untuk meminta ijin untuk tidak bekerja untuk menemani putri tersayang di rumah. Melihat A sedang tenggelam dengan Lego, saya melangkahkan kaki untuk merapikan dapur dan ruang tamu sebelum akhirnya memutuskan duduk dan menulis di meja makan saat Ebiet mulai terdengar menyanyi. Ada sekilas terpikir dalam benak, mungkin saya harus membiarkan Ebiet setiap hari mengingatkan saya akan keinginan saya untuk bermain dengan kata-kata dan membiarkan jari-jari ini menari seiring dengan musik yang terdengar nyaman di telinga.

Entahlah, sering sekali terjadi saat saya mendengarkan lagu-lagu Indonesia, banyak ide berlomba-lomba memenuhi kepala ini bahkan terkadang kalimat demi kalimat terangkai dengan indah dan sayangnya, saya sepertinya tidak punya waktu untuk merekamnya sehingga bisa terbaca lagi saat saya sudah punya waktu untuk duduk bersantai. Pernah suatu kali saya berharap, saya memiliki alat perekam yang bisa menolong saya menyimpan apa rangkaian rangkaian tersebut. Saya selalu memiliki buku kecil dan pena yang ada di tas saya kemanapun saya pergi, ada beberapa kali saya berusaha untuk menuliskan ide atau cerita singkat itu, namun hampir lebih banyak terkalahkan oleh ketidaknyamanan menulis di dalam kereta yang penuh dengan orang-orang. Saya masih kalah dengan ketidaknyamanan itu dan memilih untuk menuliskan singkat saja, tanpa ada penjelasan atau bagan-bagan yang bisa saya sambungkan saat komputer ada di depan saya. Bisa terlihat, di buku kecil saya banyak sekali ide-ide tertulis, namun ketika saya membacanya lagi, saya berharap saya bisa merangkai kata sebagus ketika ide tersebut dituliskan.

Yang paling sering terjadi itu ketika saya menyetir mobil dan lagu-lagu dengan bahasa ibu saya berkumandang. Beberapa kali saya kesal sendiri karena ingin rasanya berhenti dan menulis, namun tentu saja saya tidak bisa melakukan itu terutama ketika berada di jalan E4 dimana kecepatan mobil antara 110 dan tempat untuk berhenti itu bisa dikatakan tidak ada. Apakah saya jera setelah pengalaman ini? Nyatanya saya tidak jera, setiap saya menyentuh pintu depan mobil, yang pertama saya lakukan adalah mencari aplikasi Spotify dan memilih sebuah album yang saya namakan Indonesia, dimana saya kumpulkan penyanyi-penyanyi favorit saya seperti Ebiet G. Ade, Chrisye, Padi, Iwan Fals dan masih banyak lagi. Sepertinya yang namanya kesal juga sudah meninggalkan saya dan membiarkan saya terdiam dengan lamunan saya. Tentang masa lalu, tentang impian yang belum tercapai, tentang masa depan dan pembelajaran tentang hidup baik yang sudah saya lewati atau yang bisa saja saya hadapi di masa depan.

Ebiet masih belum terganti dan saya memalingkan wajah saya kepada A yang masih saya bercerita dengan para figur-figur kecil Lego yang entah sudah beberapa kali berganti cerita. Saya bersyukur, anak kami ini memiliki imajinasi yang sepertinya tidak pernah habis. Dia bisa duduk lama dan bibir mungilnya tidak habis-habis mengarang cerita dan memainkan karakter-karakter yang dia inginkan. Cukup jika dia melihat saya atau papanya atau orang dewasa berada di sekitarnya, maka aliran kisah baru akan berlanjut dengan sendirinya. Jika saya harus meninggalkannya sendiri dengan Lego nya, saya akan memberi tahu bahwa saya mengerjakan sesuatu dan akan berada di suatu tempat (seperti dapur atau ruang cuci baju atau area lain di rumah kami) maka putri kecil kami ini akan asik sendiri tanpa harus ditemani. Ada yang unik dengan A, dia tidak suka kalau dia sendiri tanpa tahu dimana para orang dewasa berada. Ini mungkin kebiasaan yang saya tanamkan sejak kecil, saya selalu bilang ke A kalau saya (atau papanya) harus meninggalkannya bermain sendiri. Walaupun saya hanya ke dapur untuk memasak atau melakukan hal yang lain, saya selalu memberitahunya, dengan tujuan jika putri kesayangan ini butuh bantuan, dia tahu dimana mencari saya atau papanya berada (atau orang dewasa lainnya seperti kakek neneknya).

Melihat ke arah taman belakang yang masih tertutup si putih salju, melihat awan yang menutupi sebagian awan yang membiru hari ini, tiba-tiba lagu ’Menjaring Matahari’ Ebiet melemparkan saya ke sebuah tempat di tanah kelahiran saya. Di pinggir pantai, ditemani deburan ombak, duduk termenung dengan kertas putih dan pena, saya menuliskan puisi demi puisi akan sebuah keresahan dan kepasrahan. Ohhhhh, lagu ini membuat saya ingin pulang, mengunjungi tempat itu, masihkah ada pohon kokoh tersebut? Masihkan ada kenyamanan yang sama yang bisa saya nikmati seperti dulu? Saya ingin pulang…

Saya arahkan jari untuk melihat berapa lagu Ebiet lagi yang terpampang di layar komputer saya dan saya memilih untuk menghentikannya, saya memilih untuk menggantinya dengan Katon Bagaskara yang berada beberapa nomor di bawahnya. Keinginan untuk menangis karena rindu harus saya tangguhkan saat ini, mungkin nanti saja, saat saya merasa waktunya lebih tepat. Saya harus beranjak sekarang ke dapur, menyelesaikan tugas saya memasak untuk orang-orang tersayang. Setidaknya saya sudah berhasil menuangkan beberapa pikiran yang ada, merekamnya hingga bisa saya baca lagi suatu saat nanti dan belajar tentang diri sendiri pada saat saya menuliskan ini.

Sebelum menutup komputer saya, ingin rasanya tahu… adakah yang ingin menemani saya menelusuri kembali jalan yang sudah terlalui saat saya diberi kesempatan berada di Bali lagi?

Haninge, demaodyssey 14032018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian | Tagged , , | Leave a comment

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Seperti judul di atas, berdamai dengan diri sendiri itu tidak mudah karena banyak sekali godaan yang menanti kita begitu memutuskan untuk belajar berdamai bahkan dengan diri sendiri. Dibutuhkan keberanian untuk mengalahkan ego yang selalu saja siap menanti celah dimana kita lengah dan lemah. Tak jarang kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sesuai dengan apa yang kita pegang seperti prinsip hidup. Ketidakadilan contohnya bisa menimbulkan amarah yang sesekali atau berkali-kali susah untuk kita kontrol. Sehari pun tidak cukup waktu untuk kita untuk memulai dan menyelesaikan pelajaran satu ini, pelajaran untuk berdamai dalam skala kecil.

Sebagai manusia, kita masih dipenuhi oleh nafsu dalam segala hal dan jika kita tidak mulai dari sekarang mengenali nafsu tersebut, tidak mustahil suatu saat nanti nafsu tersebut akan menjadi tuan sedangkan kita sebagai pelayannya. Nafsu akan hal-hal yang berbau keduniawian dan juga akan hal-hal yang tidak bisa kita lihat dan jelaskan secara nyata. Nafsu ini pula yang biasanya menjadi godaan terberat setelah ego ketika kita membuat sebuah keputusan untuk melepaskan dan mempelajari tentang betapa nikmatnya hidup dalam kedamaian, terutama damai yang ada dalam diri kita. Terlahir dengan segala nafsu tentu saja kita tidak bisa dengan mudah menghilangkannya, nafsu akan tetap ada di sana seperti hewan memburu mangsanya dan menantikan waktu yang tepat untuk menyerang. Tapi setidaknya kita bisa mempelajari bagaimana caranya meredam kekuatan nafsu dan ego tersebut sehingga kalaupun mereka melintas suatu hari, bisa kita menahan lajunya agar tidak memberikan dampak yang bisa merusak, baik itu diri kita ataupun orang lain.

Dalam hidup ini, kita tidak bisa menyenangkan setiap orang yang ada di sekitar kita. Akan selalu ada orang-orang yang tersakiti tanpa sengaja, orang-orang yang marah dan kesal akan tingkah laku kita, orang-orang yang berusaha menjatuhkan kita atau orang-orang yang sekedar iseng mencoba mengetes sejauh mana pertahanan kita, sejauh mana kemampuan kita untuk bereaksi atas sebuah peristiwa. Namun jangan kawatir, akan selalu ada penyeimbang dimana kita akan bertemu dengan orang-orang yang bahagia bersama kita, menerima kita apa adanya, mampu tertawa tulus bersama kita tanpa kita harus berusaha melakukan sesuatu melampaui batas kemampuan kita. Hidup itu seperti timbangan, ada keseimbangan yang sempurna antara baik dan buruk, yin dan yang, tangis dan tawa, dingin dan panas. Keseimbangan inilah yang nantinya akan kita pelajari dari karma, yang juga bisa menjadi pengingat dan sebuah sarana untuk membantu kita berdamai dengan diri sendiri.

Rasa iri adalah rasa yang terkadang mencuat begitu saja tanpa alasan dan kalau kita tidak siap efeknya bisa lebih besar dari sekedar letusan gunung yang mengeluarkan lava panas. Menyelinap saat sepi datang dan perlahan memasuki ruang-ruang terdalam hingga memenuhi setiap sudutnya. Dari pembelajaran selama ini, rasa iri ini berhasil ditepis dengan satu kata, syukur. Ketika iri yang sebenarnya hanya terdiri dari 3 huruf ini menghampiri, cobalah tanya pada diri kita sendiri,

”Sudahkah kau beryukur untuk apa yang kau miliki saat ini?”

Satu tanya yang bisa menampar kesadaran kita akan karunia yang kita miliki saat ini sudah cukup, cukup untuk membuat kita bahagia, cukup untuk memberikan tantangan kepada kita, cukup untuk mengajarkan kita untuk menunduk dan mengucap syukur atas Sang Maha Pengasih. Tanya yang membangunkan kita dari mimpi semu dan membuka mata kita bahwa diijinkan bernafas hari ini saja sudah menjadi sebuah anugerah yang agung, jadi buat apa menghabiskan waktu untuk memberi makan nafsu yang menjelma menjadi rasa iri. Bukankah detik yang kita gunakan untuk merasa iri, lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, setidaknya mengucap syukur yang tak terkira atas keberadaan kita di bumi saat ini.

Berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah awal dari sebuah perjalanan ke sebuah fase dimana kita selesai dengan diri sendiri. Fase dimana kita terlepas dan menempel kepada satu tujuan, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Proses pendekatan ini bisa berwujud dalam banyak hal, seperti berbuat baik, menolong orang-orang yang kesusahan, mendalami ilmu agama, berbagi kasih dengan orang-orang yang kurang beruntung, melakukan karma baik sebanyak-banyaknya dan masih banyak lagi contoh tingkah laku dan peristiwa yang bisa digunakan sebagai acuan untuk menikmati proses tersebut. Di fase ini, kita tidak akan lagi terpesona oleh hal-hal keduniawian seperti halnya status dan materi, bukan pula penampilan luar yang terpenting, namun kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki lah yang dicari. Tentu saja untuk mencapai fase ini dibutuhkan sebuah keberanian, sebuah penyerahan, sebuah keinginan dan keyakinan akan sebuah proses pembelajaran. Tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan akan apa yang kita peroleh dari usaha kita, sebuah hasrat, dahaga akan setiap penerimaan yang nantinya kita dapatkan di setiap langkah dalam proses tersebut. Seperti mendaki sebuah gunung, nikmati saja proses pendakiannya tanpa memikirkan apa yang akan kita peroleh ketika kita mencapai puncaknya.

Hidup adalah pembelajaran, pengkajian akan bakat yang kita punya, akan makna hidup itu sendiri, akan sebuah tujuan dimana nantinya kita harus pertanggungjawabkan bukan saja kepada Sang Pencipta tapi juga kepada orang-orang yang nantinya kita tinggalkan. Seperti menyerahkan buku yang kita tulis saat helaan nafas terakhir, apakah buku tersebut selesai? Atau hanya terisi setengahnya? Atau bahkan kosong? Apakah cerita bermakna di dalamnya? Atau hanya sebuah fiksi yang semu belaka? Isi buku tersebut kita yang menorehkan, kita yang memutuskan bagaimana kita bereaksi di setiap babaknya, warna apa yang kita ingin coretkan sebagai penghiasnya. Jangan sampai, buku kehidupan kita sendiri ditulis oleh orang lain, karena jika itu terjadi, bagaimana kita mempertanggungjawabkannya nanti? Sanggupkah kita melihat efek yang nantinya timbul dari tersebarnya buku tersebut, sanggupkah kita berkata ”Saya penulisnya” ketika hal-hal yang orang lain tuliskan dalam buku kehidupan kita berdampak negatif terutama ke keluarga dan keturunan kita? Berusahalah menulisnya sendiri, walaupun terkadang itu berat, namun hasilnya akan lebih manis.

Saya sudah memulai pembelajaran tentang berdamai dengan diri sendiri sejak lama dan masih terus belajar karena masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, masih terkadang harus bergulat dengan nafsu yang ada dalam diri, terkadang masih lupa. Namun seperti yang saya niatkan, apapun tantangan yang akan saya hadapi ke depannya, saya tidak akan berbalik dan memutuskan untuk berhenti belajar. Saya sedang belajar menikmati setiap langkah dalam proses pembelajaran tersebut, akankah tahun ini saya belajar lebih banyak? Saya ikuti saja kemana arahnya, yang terpenting bagi saya adalah saya menerima keputusan ini dan berniat menyelesaikannya. Kesiapan untuk tergores, terluka, menangis, tertawa, tersenyum, terjatuh atau bahkan tersungkur sudah saya tekadkan sebelum detik jam melewati angka 12 terakhir di tahun 2017, ketika saya memeluk orang-orang kesayangan dan tersenyum bersama menyaksikan pendaran kembang api di halaman belakang sarang kami di negeri kulkas ini.

Sebuah pengingat untuk diri sendiri.

Haninge, demaodyssey 02012018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, JejakdiJanuari | Tagged , | Leave a comment

Hari Pertama di Tahun 2018

Tidak banyak yang dikerjakan pada hari pertama di tahun baru ini. Selain membersihkan rumah, kami bersantai dan mencoba untuk menyiapkan segala sesuatu untuk memulai kegiatan seperti biasanya besok, dimana saya akan kembali bekerja penuh waktu sebagai guru TK, P akan bekerja kembali ke kantornya dan gadis kecil kami akan kembali menikmati hari-hari bersama teman-teman dan guru-gurunya di TK (preschool kalau mau lebih spesifik).

Tidak banyak yang berubah di keseharian kami di awal tahun 2018, masih menjalankan rutinitas yang sama, atau mungkin masih terlalu awal untuk membuat sebuah perubahan atau langkah baru. Beberapa rencana dan keinginan sudah kami tulis, setidaknya untuk melihat secara garis besar, tahun 2018 apa saja mimpi yang ingin kami raih dalam genggaman. Seperti tahun lalu, kami tidak membuat resolusi yang harus kami laksanakan, kami ikuti saja kemana air mengalir dan tetap berusaha meneruskan daftar mimpi dan pengharapan yang kami ingin wujudkan dalam bentuk nyata.

Tahun 2017 bisa dikatakan banyak pembelajaran yang saya sebagai individu dapatkan, baik itu yang menyenangkan atau pun yang kurang menyenangkan. Saya mendapat tantangan yang cukup sehingga saya semakin belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Terkadang masih lupa tapi ada banyak hal yang mengingatkan saya, jadi emosi yang biasanya dalam hitungan jam saya bisa kurangi dalam hitungan menit. Masih harus belajar banyak di tahun ini dan berharap nantinya saya bisa menguranginya dalam bentuk detik dan terakhir mungkin dalam bentuk senyum, karena saya ingin memberi contoh yang baik kepada A, putri tersayang kami.

Saya mendapat rejeki dan kesempatan untuk bekerja penuh waktu lagi yang dimulai bulan September tahun lalu. Setelah lama vakum dari pekerjaan penuh waktu, saya mendapat tantangan baru, baik itu dalam hal administrasi dan juga berinteraksi dengan berbagai macam persoalan dan karakter. Menjadi guru adalah pekerjaan yang saya nikmati sekali prosesnya, dari berinteraksi dengan anak didik, dengan orang tua mereka, dengan sesama rekan sejawat dan juga dengan atasan. Banyak ilmu yang saya dapatkan sekaligus melatih kesabaran dan selalu berusaha menemukan metode-metode atau cara bagaimana saya bisa menjadi pelengkap orang tua dan membantu anak didik saya tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya. Bisa saya katakan, saya mempunyai anak lebih dari satu sekarang karena 5 hari seminggu saya menghabiskan waktu 40 jam bersama 17 anak didik di TK. Sekali lagi, saya menikmati waktu saya bersama mereka dan kami bersama-sama mengenyam prosesnya dan belajar dari kebersamaan kami.

Ada beberapa teman yang menanyakan keberadaan saya baik itu di Facebook, Instagram atau di blog ini karena memang saya agak jarang menulis dan mengunduh foto lagi. Kalau Facebook, memang sudah lama saya jarang membuka atau sekedar menyapa teman-teman karena alasannya adalah waktu yang saya punya, saya pakai lebih banyak untuk bermain dengan A. Jadi sejak putri saya semakin besar, saya lebih banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama di keseharian kami, namun saya masih aktif di Instagram dan blog karena saat itu status saya masih pelajar dan belum bekerja. Sesekali saya masih menulis dan menyapa teman-teman ketika A berada di TK dan saya mempunyai waktu luang dan tugas sekolah sudah saya kerjakan semua. Namun sejak saya bekerja penuh waktu, bisa dibilang kegiatan saya di sosial media berkurang drastis karena waktu saya untuk A ditujukan ke pekerjaan, jadi saya pergunakan waktu untuk bersosial media untuk bermain bersama A. Itu alasan mengapa saya jarang berinteraksi dengan dunia maya. Bagi saya, yang utama adalah pemenuhan waktu untuk bersama keluarga yang paling utama, setelah itu pekerjaan saya, dan untuk hal-hal lain bisa menunggu saat saya benar-benar mempunyai waktu luang terutama untuk dihabiskan di Facebook dan Instagram.

Sebenarnya A sudah terbiasa bermain sendiri dan menggunakan imajinasinya untuk mengarang cerita dengan Lego atau beberapa mainannya. Kalau melihat kemampuan gadis kecil ini, yang sudah bisa bermain berjam-jam tanpa harus ditemani, bisa dilihat saya mempunyai waktu untuk bersosial media, tapi kenapa saya tidak melakukannya? Karena saya lebih memilih membaca buku di sebelah tempat A bermain atau melakukan kegiatan yang saya tekuni saat ini yaitu origami, paper wicker art atau mencari ide-ide baru untuk kegiatan yang nantinya akan saya lakukan dengan A atau dengan anak didik saya. Bagi saya, dengan duduk bersama A, saya bisa memantau sejauh mana putri kami mampu berimajinasi dan melihat perkembangannya secara lebih dekat dan detail. Terkadang saya memberikan beberapa pertanyaan dalam bahasa Indonesia, menolongnya jika ada sesuatu hal yang tidak bisa A lakukan atau sekedar melatih kesabarannya dan menuntun dia terutama saat dia kesal tidak bisa melakukan sesuatu (sudah mencoba beberapa kali namun belum berhasil). Seperti saat ini, saya menulis ini sambil duduk di satu meja dengan A yang sibuk bermain dengan Lego Friends hadiah Natal dari kami dan sepupunya. Terkadang A meminta saya berbicara di salah satu karakter di ceritanya, saya dengan senang hati melakukannya, seperti beberapa saat yang lalu, A meminta saya berperan sebagai Mama dari Marshall (salah satu karakter Paw Patrol) yang akan pergi menolong Marshall yang tersesat. Saya berhenti sejenak menulis dan bermain untuk beberapa menit memenuhi permintaan putri kami sebagai pelengkap cerita fantasinya.

Namun ada keinginan merekam kembali jejak dan aktif menulis lagi setidaknya di blog ini. Saya akan berusaha setidaknya meluangkan waktu untuk menuliskan beberapa patah kata, setidaknya ada sesuatu yang saya bisa wariskan kepada A dan sebagai pemicu semangat putri saya untuk berbicara bahasa Indonesia. Terus terang ada rasa kangen menuangkan buah pikiran dan bermain dengan kata-kata sekaligus mendengarkan bunyi huruf-huruf yang tertekan oleh jari saya untuk menghasilkan kalimat demi kalimat, seperti saat ini. Ada kebahagiaan menyusup di dalam sana saat mata saya membaca lagi baris demi baris yang tersusun di depan saya. Mungkin memang saya harus lebih pintar membagi waktu antara origami, pencarian ide, membaca buku dan menulis saat saya menemani A bermain setiap harinya. Saya tidak berjanji namun seperti yang saya sudah katakan di atas, saya akan berusaha.

A masih asyik bermain di samping saya dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore. Saya pamit dulu, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan sebelum rutinitas bersama A yang artinya membaca beberapa buku sebelum tidur. Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya.

Haninge, demaodyssey 01012018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, JejakdiJanuari, Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Spending Time with Papa

”A note that I wrote long time a go when A was 1 year old but I completely forgot about it. When I read it, I feel that I have to posted here because this is a part of memories that I would like my daughter to read when she is able to. The other reason is, the love between them even stronger now and I have not been able to record it in one or two blog post. So here you are, a memory when we have our quality time with our precious one, A!”

Everyday we try to have walk together since we know that our little miss loves being outside. This year we have quite okay summer with some rainy days here and there. We try to stay inside if we have heavy rain outside and usually we will have walk after that.

Since P takes his parental leave from job, he could join us to have our everyday exercise. For A, it is always fun when papa walks beside her and watches her along the way. Me? Usually I bring my phone to capture the moment but sometimes I bring my camera and being the photographer of the day for them 😀 There is always joy when I push the shutter and preserve what is happening in front of me, the activities of my loved ones.

When the rain comes, A would choose to walk a bit slower and find the water pool along the road that we pass through. She was so excited to jump on it and getting water in her trouser and her small feet. Actually we had wellington boots but at that time it is still quite big and heavy for her. We didn’t have long walk anyway so wed cleaned her as soon as we arrived home. Lately, A loves to hold papa’s hand everytime we have our every day walk. A moment that I try to capture that I could show to A later on when she is understand about life more.

Spending time with papa is something fun for A. Beside having a walk, they will watch cartoon or listening to the music and dance together. For baby A, papa is always someone to have so much fun with. The same thing when farmor and farfar are around. While with mama, A needs to follow some rules and of course we also have so much fun but with some restriction LOL!! Hahaha. But I have tried to play with her as much as I can, reading books, singing together, doing some silly movement or maybe just cudlling together in the sofa. I know that our Sunshine will have lots of fans too in Bali later on when she has chance to get to know the whole family from mama’s side. I can’t wait for that to happen 😀

Papa and A are best friends I could say, they loves to tease mama a lot and sometimes they laugh together when they are succeed to make mama get annoyed of their silly act. I can’t get mad if I see those cheeky faces. I love them both soooo much and yeah, I can not imagine to live without them. They are the reason why I feel happiness in every single second of my life.

Stockholm, demaodyssey 11092015 (post 15062017)

Posted in #NulisRandom2017, Being 40, photography | Tagged , , , | Leave a comment