Perenungan Akhir Tahun 2021

Nordmaling, 31 Oktober 2021

“Whatever you hear about me, please believe it.

I no longer have time to explain myself.

You can also add some if you want.”

“Dul… lu liat ga kata-kata yang gue kirim ke elu? Wkwkkwkw lu banget nok!”

“Buahhahah, gua bilang juga apa. Emang harus kayak gitu, biar aman hidup lu!”

Saya nemu kata-kata di atas yang memang sudah pernah saya dengar versinya Maming (kakak) dari dulu, dari sejak saya sadar bahwa kakak saya nyaris tidak punya teman sama sekali karena dia terkenal karena galak dan judes. Tapi karena dia sudah nyaman dengan dirinya sendiri, dia cuek bebek dan tidak peduli akan sekitarnya.

Seperti yang dia bilang, hanya satu dua orang yang memang menjadi teman baiknya dan bisa dipastikan orang-orang ini tidak menyerah walaupun dikasi tampang judes pertama kali. Setelah mereka benar-benar mengenal Maming, maka mereka kaget karena sebenarnya kakak saya ini berhati lembut dan suka menolong. Orangnya ga galak kayak saya, ga keras kepala dan ga emosian, bahkan bisa dibilang ga tegaan dia.

”Temen lu ini kayaknya ga cocok deh sama lu Cik, pokoknya ga aja.”

”Masak sih, tapi dia baik kok dul!”

Ini beberapa kali dia sampaikan setelah Maming bertemu beberapa teman. Saya sih ga percaya dan saya ga ambil terlalu serius omongan dia seperti yang jawaban yang saya berikan. Namun satu persatu kata-kata yang dikatakan kakak saya ini menjadi kenyataan dimana, akhirnya teman-teman ini mengajari saya akan banyak hal dan yang paling berharga adalah tempat saya membayar karma saya dengan lunas. Setiap saya ’dilepaskan’ oleh seorang teman, saya selalu bercerita padanya dan reaksi yang saya dapatkan…

”Ya, berarti hutang karma lu lunas. Apa yang memang menjadi milik lu ga bakalan pergi kok dari lu.”

Dia juga yang memberikan saya sebuah keyakinan bahwa saya bisa memulai satu jenjang yang saya ceritakan sebelumnya, Wanaprastha Asrama. Ternyata, apa yang dulu pernah dia katakan

Jadi ketika asik browsing internet dan menemukan kata-kata itu, langsung keinget sama kakak tersayang ini. Banyak yang saya pelajari dari dia, tentang  bagaimana kita harus nyaman dulu terhadap diri kita sendiri sebelum memasuki jenjang selanjutnya karena kenyamanan dengan diri sendiri akan sangat membantu di kehidupan, terutama saat-saat roda kehidupan sedang berada di bawah. Ketika kita berbeda sendiri diantara orang-orang yang melihat kita sebagai orang-orang aneh.

3 tahun yang lalu, saya masih suka sekali ,mencoba menjelaskan kepada orang-orang, membuktikan kalau mereka berpikir salah tentang saya, mencoba menyenangkan banyak orang dan tidak mendengarkan diri saya dan menelantarkannya. Namun ketika saya diberikan ijin untuk terakhir kalinya untuk membela diri saya, saya memilih diam karena  selain karma yang sudah lunas terbayar, mata saya terbuka tentang satu hal. Jangan pernah menjelaskan dirimu kepada orang lain yang tidak akan pernah mau memakai sepatumu dan mengerti akan niat baikmu. Santai saja, biarkan mereka memutuskan apa yang mereka mau tentang hidup mereka, jika mereka ingin meneruskan perjalanan mereka tanpamu, lambaikan tanganmu dan ucapkan selamat jalan.

Saya kemudian meminta maaf pada diri sendiri, memberikan sebuah komitment bahwa saya tidak akan membiarkannya tidak terdengar lagi, mulai mempelajari ke dalam diri dan bukan keluar. Menciptakan mantra demi mantra yang nantinya bisa saya wariskan, menggali dan terus menggali potensi diri, belajar lebih tekun lagi menikmati proses sebagai pelajar di Universitas Kehidupan tanpa harus menjelaskan tentang diri ini kepada orang lain. Tanpa harus berusaha untuk disukai, lebih menjadi diri sendiri dengan kebebasan yang pernah hampir terlupakan.

Pencapaian terbesar saya di tahun 2021 adalah semakin nyaman dengan diri sendiri. Saya bukan lagi Deni yang dulu yang punya sikap ’lu jual, gue beli’ dan selalu ingin menjelaskan jika ada kesalahpahaman, selalu ingin berbuat yang terbaik buat orang lain walaupun terkadang saya harus mengesampingkan apa yang diinginkan oleh gadis kecil dalam diri. Deni yang sekarang adalah saya yang tidak terlalu memikirkan apa pendapat orang selama saya berjalan sesuai dengan apa yang saya yakini dan tidak menyusahkan orang lain. Ini perjalanan saya dan saya yang memutuskan apa yang membuat saya nyaman belajar, menciptakan lingkungan yang nantinya membantu saya semakin fokus akan tujuan saya, baik itu dengan teman atau tidak. Jika Tuhan mengijinkan saya memiliki teman, maka saya mau teman tersebut mau saya ajak belajar bersama, tumbuh bersama tanpa ada persyaratan yang nantinya mengoyak kebebasan masing-masing. Hanya itu pinta saya pada Sang Pemilik Jiwa bukan hanya di akhir tahun ini namun juga setiap doa yang terpanjatkan.

Mengakhiri tahun 2021 ini… ijinkan saya mengucapkan,

”Selamat tahun baru 2022

Semoga kita semua diberikan ijin untuk bermimpi,

menggenggam mimpi-mimpi tersebut satu per satu,

dalam sehat dan lindungan Sang Pemilik Jiwa,

serta dibalut kasih yang tidak berkesudahan, amen.”

dengan pesan…

” Apapun yang kalian dengar tentang saya, tolong percaya saja. (karena) saya tidak lagi memiliki waktu untuk menjelaskan tentang siapa saya.

Kalau kalian mau, kalian bisa menambahkan sendiri (pendapat kalian).”

Haninge, 31 Desember 2021

Posted in 2021, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil | Tagged , , | Leave a comment

Wanaprastha Asrama Bagian 3

Nedersta, 25 November 2021

Tantangan terberat di jenjang ini (menurut saya dan Maming, kakak tersayang) adalah bagaimana mengurangi dan menyederhanakan keinginan atau kebutuhan yang sifatnya abstrak (harga diri dan aktualisasi diri) dimana kedua kebutuhan ini ada di tingkatan paling atas dalam segitiga Maslow.

Kenapa sulit? Karena secara sederhananya begini, berperang dengan musuh yang terlihat lebih gampang daripada menghadapi musuh yang tidak terlihat. Saya pakai contoh makanan lagi, suatu hari saya merasa lapar dan ingin makan babi guling, di Swedia sangat susah atau bahkan tidak ada sama sekali yang menjual. Bikin sendiri juga belum tentu berhasil, nah karena lapar menyerang ya sudah saya berperang dengan keinginan untuk makan babi guling dengan cara makan nasi berisi daging ‘bacon’. Setelah kenyang, keinginan makan babi guling pun hilang. Jadi di sini kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk menang karena kan berperangnya dengan rasa lapar, babi guling, nasi dan bacon. Menurut pengalaman saya, untuk memenangkan perang ini tidak perlu latihan terlalu banyak. Kita yang memegang kontrol penuh akan aksi dan reaksi.

Sekarang coba bayangkan dengan berperang dengan yang kebutuhan akan aktualisasi diri, pengakuan dari orang lain. Yang satu ini jenisnya abstrak dan susah dikontrol karena bagaimana kita memaksa orang untuk memberikan pendapat tentang kita. Iya kalau pendapatnya positif, tapi kalau pendapatnya negatif? Lebih parah lagi nanti perangnya, yang ada malah perangnya jadi lebih lama. Di sini kesempatan kita memenangkan perang berkurang karena bukan kita yang memegang penuh kontrol akan reaksi orang lain. Untuk memenangkan perang ini, maka lebih baik jika kita menyiapkan diri lebih mantap lagi, latihan lebih sering lagi, menyiapkan segala senjata yang berupa sabar, kesadaran diri, pengertian akan arti dan tujuan hidup, dll.

Perang dengan rasa ingin diakui, ingin dihargai dan hal abstrak lainnya menjadi sebuah proses yang lebih panjang, lebih rumit dari perang dengan bahan makanan, baju dan hal-hal sekunder lainnya. Dalam Catur Asrama, kita diberikan kesempatan untuk belajar sebaik-baiknya dalam setiap jenjang di dalamnya. Sudah diberikan petunjuk akan hal yang harus menjadi fokus kita dan ketika dilihat (menurut saya) ada hubungan dan kesamaan antara Catur Asrama, Segitiga Maslow dan ajaran kemelekatan oleh Buddha Gautama.

Sekarang semuanya dikembalikan kepada kita sebagai manusia yang akan memilih jalan mana yang akan diambil dalam kehidupan kali ini. Sebagai pelajar di UK (Universitas Kehidupan, istilah yang saya dan Maming pakai untuk menjelaskan dan berbagi kejadian dalam hidup di lingkup keluarga), maka kita lah yang bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil. Di sini kita akan dipertemukan dengan yang namanya hukum karma, hukum tabur tuai, hukum aksi dan reaksi, yang (sayangnya) banyak berusaha untuk menghindari namun pada akhirnya akan menyadari bahwa ini adalah bagian dari hukum alam, yang tidak melihat agama atau kepercayaan apa yang kita anut.

Hukum alam ini berlaku di seluruh dunia, tidak peduli warna kulit, warna mata, pendidikan, materi, dll. Begitu kita melakukan aksi maka akan ada reaksi yang akan mengikuti. Tidak perlu penelitian untuk membuktikannya. Kamu berusaha dan tidak diam, maka alam akan membantumu. Kalau usaha maka akan ada hasil yang tidak pernah jauh dari seberapa usaha yang kita lakukan. Sudah berusaha namun belum terlihat hasilnya? Artinya jangan diam, terus berusaha, ganti haluan, gali potensi diri karena kita tidak pernah tahu kapan atau sedekat mana kita dengan tujuan kita. Kalau kita menyerah, apakah tidak sakit hati kalau tahu setelahnya bahwa kesempatan yang kita idamkan sudah sangat dekat dengan kita. Namun karena kita memilih menyerah, maka kesempatan itu hilang pada akhirnya.

Kemarin sempat berbicara sama Maming seperti biasa dan membahas (lagi) tentang Wanaprastha Asrama ini dan menyamakan pemahaman yang kami punya. Pada akhirnya kami ingin seperti Tetsuya, seorang pemanah di Buku Paulo Coelho terbaru yang bernama ’The Archer’. Tetsuya yang menurut kami sudah mencapai berhasil keluar sebagai pemenang di jenjang ini, berhasil membebaskan diri dari kemelekatan, bebas memilih yang dia inginkan dan menjalankan hidup dengan damai. Tetsuya, seorang pemanah yang sudah selesai dengan dirinya.

Siapa lagi yang menurut kami sudah selesai dengan diri mereka sendiri? Kami berdua sepakat bahwa Bapak Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana adalah Tetsuya dalam wujud nyata dan menjadi orang yang kami jadikan contoh bagaimana usaha, niat, konsisten dan keyakinan akan bisa menghantarkan kita berproses di setiap jenjangnya hingga mencapai sebuah titik dimana kita sudah selesai dengan diri kita sendiri. Bahkan alam pun sepertinya selalu siap sedia memenuhi kebutuhan batin kedua orang idola kami tersebut, dua orang yang lakunya patut kami teladani dan mengingatkan kami akan Tetsuya.

Ini bagian terakhir dari sebuah renungan akhir tahun yang terinspirasi oleh postingan Mbak Nana Padmo tentang kemelekatan. Panjang ya? Ya iyalah…kan pengalaman selama 2 tahun lebih mencoba menapaki jenjang ke-3 dalam Catur Asrama. Huaaaaa, bagaimana kalau lebih dari 10 tahun? Apakah penjelasannya lebih panjang lagi? Bisa iya bisa saja tidak. Saya akhiri tulisan kali ini seperti ajakan Mbak Nana,

‘Yuk ke sana yuuk, bareng-bareng. Enak kok nanti…!’

Åre, 27 Desember 2021

Posted in 2021, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil | Tagged , | Leave a comment

Wanaprastha Asrama Bagian 2

Nedersta, 25 November 2021

Wanaprastha memang biasanya dilakukan saat kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, entah itu karena anak sudah mapan dan mandiri, atau alasan lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan seseorang mulai menapaki jenjang ini saat masih memiliki tanggung jawab yang sama atau bahkan bertambah. Maka tulisan selanjutnya, saya akan mencoba menjelaskan sesuai dengan pemahaman dan pengalaman saya menjalaninya selama 2 tahun ini.

Kita bisa saja mulai menapaki jenjang Wanaprastha dengan cara mengurangi atau menyederhanakan keinginan. Contohnya, kalau dulu kita membeli baju baru walaupun yang lama masih bagus dan bisa dipakai (ini biasanya karena ego, ingin mendapat pengakuan dari orang lain, mengikuti mode, status, dll), nah kalau sekarang kita menyederhanakannya dengan mencoba memakai baju yang masih ada tanpa takut akan prasangka atau pendapat dari orang lain. Menurut saya selama baju bisa memberikan fungsinya dengan baik dan dalam keadaan bersih, maka merk atau label tidak menjadi masalah. Tidak perlu membeli berlebihan hanya untuk dipandang atau menyenangkan orang lain.

Hal lain yang bisa dijadikan contoh adalah, makanan, dulu bisa membeli segala macam makanan dan kalau tidak kesampaian bisa sakit hati dan sedih, nah kalau di jenjang ini, maka menikmati makanan yang ada tanpa merasa sedih, jengkel atau marah jika keinginan untuk membeli makanan lain tidak kesampaian. Dulu, setiap ingin makan bakso seperti yang ada di Bali dan tidak kesampaian, ada rasa sedih dan kangen yang panjang. Namun sekarang, perasaan itu sudah tidak ada lagi. Kalau tidak kesampaian makan bakso seperti yang ada di Bali, ya membuat sendiri, kalau tidak sempat dan tidak ada persediaan di lemari pembeku, ya makan yang ada di lemari pendingin, santai…tanpa harus sedih dan kecewa.


Kedua contoh di atas hanyalah sebagian kecil banyak hal dalam keseharian kita yang bisa kita sederhanakan atau intinya mengurangi keinginan dan menyederhanakan kehidupan. Baju, makanan dan hal-hal yang diperlukan tubuh itu tidak harus mewah, cukup bersih dan sesuai fungsinya. Dengan mengerti inti dari jenjang ini maka jika ada keinginan yang tidak sampai (entah itu membeli baju, makanan, rumah, mobil, dll) maka rasa sakit hati, sedih dan kecewa akan berkurang, bahkan bisa tidak ada sama sekali.

Penerimaan yang tulus dan rasa syukur akan apa yang kita punyai akan tercapai di jenjang ini. Cobalah menghargai hal-hal sederhana yang kita sudah punya saat ini dan memberdayakannya sesuai fungsinya. Hidup yang tidak berlebihan dan tidak memberikan ego tempat untuk berkembang dalam diri sendiri. Bahagia dengan apa yang kita miliki. Seperti yang dijelaskan sama Mbak Nana dalam 4 video akhir tahunnya, bahwa jangan memberi makan ego, namun berikan makanan kepada jiwa lah yang terpenting. Jiwa tidak butuh kebutuhan-kebutuhan yang berlebihan, jiwa butuh secukupnya, kebutuhan-kebutuhan yang sesuai dengan fungsinya dan bukan dengan label, merk atau omongan orang lain. Kebahagiaan jiwa tidak terpengaruh oleh hal-hal yang terlihat dengan adanya materi namun pada sebuah kesederhanaan dan pelepasan diri dari hal-hal yang mengikat.

Jika sudah bisa mengurangi dan menguasai keinginan dan menyederhanakan pada kebutuhan paling dasar (kebutuhan fisiologi, seperti makanan, dll) maka kemampuan tersebut bisa ditingkatkan ke kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang lainnya, seperti yang ada pada segitiga Maslow. Prosesnya tentu saja berbeda setiap orangnya namun akan butuh waktu dan tidak bisa instant. Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Tentu saja tegantung dari niat, keyakinan dan kemampuan kita memahami hidup itu sendiri karena sebagai manusia kita memiliki banyak kebutuhan dasar baik yang pokok ataupun yang abstrak (5 kebutuhan dasar manusia menurut Maslow) dan untuk bisa mengurangi dan membuatnya lebih sederhana maka akan membutuhkan waktu dan proses. Kita mungkin tidak bisa meniadakan sama sekali kebutuhan tersebut secara penuh, namun dengan cara mengurangi, menyederhanakan maka kita sudah dalam proses melepaskan diri dari ikatan-ikatan keduniawian sehingga bisa menerima sebuah kesedihan dan kekecewaan sebagai pembelajaran dan bukan lagi sebagai sebuah petaka yang harus dihindari.

Contoh lain yang bisa saya tuliskan dan sudah saya bagikan adalah keinginan untuk berpetualang ke negara lain atau bahasa gaulnya ngebolang. Di tahapan Wanaprastha, inti dari bepergian ke negara atau tempat lain itu sudah bergeser. Kalau dulu ingin mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan gambar diri di setiap gambar, ingin posting setiap hari, ingin mendapat reaksi dan komentar dari orang-orang, dll. Tapi kalau sekarang inti dari ngebolang itu karena saya ingin menikmati, mengerti, belajar dan mengetahui apa yang ada di tempat tersebut baik itu itu yang bersejarah maupun yang tidak, yang terutama adalah pelajaran apa yang bisa saya petik dari perjalanan ngebolang itu dan tentu saja menikmati makanan khas daerah tersebut.

Dalam hal mengambil foto dulunya untuk aktualisasi dan diakui sama orang, kalau sekarang ambil fotonya tanpa ada diri sendiri di dalamnya, sebagai kenangan jika ingin menuliskan perjalanan itu kembali akan tempat tersebut dan berbagi pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau postingan tersebut dibaca atau tidak, itu sudah bukan jadi acuan saya lagi. Saya mencoba terlepas dari ikatan untuk mendapatkan aktualisasi dari orang lain. Saya menulis dan membagikan pengalaman karena saya ingin, bukan untuk mendapat pujian. Jika postingan saya bermanfaat bagi orang lain, saya bersyukur karenanya. Jika tidak ada satu pun yang membaca, maka tulisan-tulisan itu bisa dijadikan acuan oleh anak dan cucu saya kelak untuk mengenal saya lebih dalam terutama saat saya tidak lagi ada secara fisik.

Jadi kembali lagi bukan berarti kita tidak boleh atau meniadakan jiwa ngebolang namun mencoba menguranginya dan melatih diri untuk tidak kecewa dan sedih jika belum/tidak bisa pergi ke satu tempat yang diinginkan. Kalau belum bisa bepergian jauh, solusinya ya pergi ke daerah sekitar rumah saja. Jadi penerimaan akan menjadi lebih gampang jika kita sudah belajar mengurangi dan menyederhanakan kehidupan tersebut. Semakin sering kita melatih diri untuk melepaskan, maka diharapkan kita akan bisa mencapai tahapan selanjutnya yaitu Bhiksuka Asrama.

Bagian terakhir dari postingan ini akan diunduh setelah postingan ini 🙂

Åre, 27 Desember 2021

Posted in 2021, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil | Tagged , | Leave a comment

Wanaprastha Asrama

Nedersta, 25 November 2021

Melihat video-video renungan akhir tahun Mbak Nana Padmo di Facebook (yang membahas tentang kemelekatan yang pernah diajarkan oleh Buddha Gautama) jadi teringat saat dulu sering diajak sama almarhum Kakiang Sumberkima untuk menggali tingkatan atau jenjang kehidupan manusia. Dalam Hindu, ada 4 tingkatan atau jenjang kehidupan yang dijadikan dasar untuk mencapai keharmonisan dalam hidup sekarang ini. 4 tingkatan atau jenjang kehidupan tersebut disebut Catur Asrama. Nah kemelekatan yang dibahas sama Mbak Nana itu bisa dikatakan ada kesamaan dengan salah satu Catur Asrama yang itu Wanaprastha Asrama, salah satu bahasan paling lama yang (seingat saya) dibahas bersama Kakiang saat itu.

Saya tidak pernah mengenal kakek saya dari pihak Ajik (Bapak) karena beliau sudah wafat jauh sebelum Ajik bertemu dengan Ibu. Jadi, Kakiang Sumberkima adalah sepupu kakek yang sudah saya anggap sebagai kakek sendiri dan dari beliau lah saya mendapatkan wejangan dan banyak pelajaran hidup. Pada beliau lah saya mengadu dan mencari penjelasan saat saya berada di titik terendah dalam kehidupan saya dan setelah menghabiskan waktu dengan beliau,energi saya terbarukan dan siap untuk menempuh perjalanan lagi, seberat apapun itu.

Selain dari sekolah, dari Kakiang inilah saya mendapatkan penjelasan lebih dalam tentang beberapa ajaran dalam agama Hindu dan salah satunya Catur Asrama yang terdiri dari Brahmacari Asrama, Grhasta Asrama, Wanaprastha Asrama dan Bhiksuka Asrama (Sanyasin). Seperti yang saya bilang bahwa video Mbak Nana membawa ingatan saya akan percakapan kami tentang Wanaprastha dan saat ketika saya memutuskan 2 tahun lalu untuk memulai perjalanan saya di jenjang ini.

Mudah? Tidak mudah karena sebelum saya memutuskan, saya diberikan beberapa tantangan yang sempat membuat saya kecewa dan sedih. Saya pernah ceritakan di sini dan beberapa postingan setelahnya. Namun setelah saya berdiskusi dengan kakak tersayang di Bali, saya seperti dibawa kembali ke masa dimana di depan saya Kakiang duduk bersila dengan senyuman khasnya. Bercerita kepada saya tentang jenjang kehidupan yang nantinya akan kita lalui sampai tuntas (jika kita mau dan berusaha) dimana pada pada tiap jenjang tersebut kita akan mencoba melaksanakan tahapan hidup semestinya untuk dijadikan sebagai bekal untuk ke tahapan hidup selanjutnya. Seperti yang sekarang, tahapan dimana saya mencoba melepaskan diri dari hal-hal keduniawian, melepaskan diri dari segala hal yang mengikat, baik itu hubungan antara teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, jenjang yang menjadi pembahasan yang paling lama buat saya yang saat itu masih terselimuti ego dan masih terasa jauuuuhhhh sekali dari jenjang ini. Namun Tuhan memberikan ijinnya 2 tahun yang lalu ketika saya mendapatkan kesempatan untuk belajar melepaskan, menapaki jenjang Wanaprastha.

Mungkin tiap orang memiliki pemahaman tersendiri mengenai jenjang ini. Hal yang akan saya tulis di sini adalah pemahaman saya tentang tingkatan ini, bukan sebagai acuan mutlak atau kebenaran tentang salah satu Catur Asrama. Sekali lagi ini adalah interpretasi saya tentang jenjang ini dan saya mohon maaf sebelumnya jika ada yang kurang setuju tentang apa yang akan saya tuliskan.

Sebelum memutuskan untuk menjejakkan kaki di tingkatan ini, sebetulnya saya ragu dan kurang yakin apakah saya mampu. Sebagai manusia, saya menyadari bahwa saya masih melekat dan tidak bebas dari segala hal, salah satunya pertemanan. 2 tahun lalu, satu per satu saya ‘dilepaskan’ dari ikatan pertemanan. Ketika ini terjadi saya sempat sedih namun akhirnya ketika pikiran tentang karma yang sudah selesai datang menghampiri, saya tidak bersedih lagi dan malah kedamaian yang saya dapatkan. Dari pelepasan demi pelepasan inilah yang akhirnya saya memutuskan untuk menapaki jenjang Wanaprastha. Tingkatan dimana saya mulai melepaskan diri pelan-pelan dari ikatan dunia, hitung-hitung saya memperbaiki diri ke dalam dan memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk lebih menggali apa arti hidup sebenarnya.

Awalnya saya kira saya akan berjuang habis-habisan, namun setelah berjalan beberapa bulan, saya terkejut sendiri akan apa yang saya capai. Damai, nyaman,bebas dan tenang adalah 3 kata yang bisa saya pakai untuk menggambarkan apa yang saya rasakan. Jujur, ini bukan yang saya harapkan sebelumnya. Saya kira akan ada tangis, akan ada kecewa, akan ada amarah, akan ada banyak pertanyaan yang akan membuat saya tidak bisa tidur dan masih banyak ketakutan yang lain, namun…saya mendapatkan hal sebaliknya, karenanya saya bersyukur.

Banyak yang mempertanyakan keputusan saya, menganggap saya aneh akan kehidupan saya yang bisa dibilang ’hilang dari peredaran’ namun bagi saya ini adalah salah satu tantangan dalam jenjang ini. Bagaimana saya bisa tersenyum ketika saya mendapat pertanyaan, ketika ada yang menyikapi lain, ketika ada komentar-komentar heran dari orang-orang di sekitar saya, sampai akhirnya memberikan jawaban yang sepantasnya. Saya tidak dipusingkan lagi tentang apakah mereka terima atau tidak jawaban saya, tidak ada kekawatiran sama sekali tentang kemungkinan mereka mengerti atau tidak. Salah satu keputusan besar dalam hidup yang pernah saya ambil.

Wanaprastha Asrama bukannya dilakukan saat tanggung jawab kepada keluarga sudah berkurang?

Bagaimana caranya bisa dilakukan terutama saat anak masih kecil dan masih banyak tanggung jawab lain sebagai ibu, istri, anak, menantu, dll?

Jawabannya nanti saya tulis di unduhan selanjutnya yaaaaa….

Åre, 27 Desember 2021

Posted in 2021, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil | Tagged , , | Leave a comment

26 Desember 2021

Åre, 24 Desember 2021

Duduk di ruang tamu sambil mendengarkan Ebiet yang bersenandung menemani saat salju turun perlahan di luar sana. Tahun 2021 ini sebentar lagi akan berakhir dan aku merasakan kalau waktu berjalan sangat cepat. Ada banyak hal yang harus diperbaiki, ditata lagi dan dijalankan. Perlu lebih konsisten lagi pada banyak hal, belajar lagi mengatur yang seharusnya diatur dan melepaskan yang tidak bisa lagi terpegang baik karena waktu dan juga karena sudah memang harus dilepaskan.

Tahun ini banyak rejeki dan pelajaran yang dipetik. Rejeki yang sangat disyukuri karena mendapatkan pekerjaan yang bisa dikatakan ideal untuk saat ini, dimana tempat kerja hanya 10-15 menit naik sepeda dan teman-teman yang menerima aku apa adanya. Tentu saja di setiap langkah ada saja tantangan dan pelajaran yang terhampar di tengah jalan, namun dengan tekad baik bisa diselesaikan dengan senyuman. Emosi sudah bisa lebih dikontrol lagi dan hasilnya membuat aku sendiri hampir tidak percaya bahwa aku semakin mampu mengolah yang namanya emosi terutama yang negatif.

Meminta maaf pada diri sendiri juga lebih sering aku lakukan karena sudah lama aku tidak menghiraukan apa yang diriku sendiri rasakan dan kemauan apa yang ada. Bisa dikatakan tahun ini aku semakin mendapatkan kebebasan dan kedamaian yang dulu sempat naik turun keberadaannya. Bahagia lebih dalam dan bukan lagi tentang materi dan apa yang terlihat di permukaan, semakin mengerti bahwa hal-hal yang dulu sempat mendapat bagian waktu yang cukup banyak ternyata bukan lagi menjadi bagian yang penting lagi untuk diperjuangkan. Hidup yang aku jalani tahun ini lebih mengikuti air yang mengalir, tenang namun terus bergerak tanpa harus lelah memikirkan hasilnya.

Tahun ini pula aku belajar dari orang-orang yang ada di sekitarku yang ternyata merasakan nilai positif yang aku pelajari. Aku belajar bahwa jika kita bahagia maka akan terpancar tanpa kita berusaha, seperti air, akan mengalir begitu saja dan tanpa kita sadari, kebahagiaan itu menyebar dan memberikan energi positif kepada orang lain. Bukan saja kepada orang dewasa namun kepada anak-anak yang aku percaya lebih sensitif dalam menangkap energi yang kita punya. Kebahagiaan tersendiri bagiku saat orang-orang di sekitarku mengatakan bahwa kehadiranku memberikan mereka ketenangan dan keceriaan, padahal aku sendiri tidak berusaha apapun selain menjadi diriku sendiri di setiap harinya.

Tahun ini bukan lagi pembelajaran keluar, namun lebih ke dalam. Aku beruntung dipertemukan oleh Tuhan kepada orang-orang yang memberikan sebuah gambaran akan apa yang ingin aku capai ke depannya. Bahwa ada tujuan hidup yang harus aku tekuni, sebuah konfirmasi bahwa aku harus terus bermimpi dan menangkap mimpi-mimpi itu dalam genggaman, bukan saja demi kebaikanku namun kebaikan orang-orang yang nantinya bisa melihat bahwa pencapaianku bisa mereka jadikan sandaran ataupun sebuah gambaran akan sebuah perjuangan. Perlu waktu memang, namun aku siap menjalankan itu.

Aku siap menutup tahun ini dengan senyum dan terima kasih. Ungkapan syukur akan nafas yang masih diberikan untuk lebih menggali potensi diri, untuk belajar lagi, untuk mengenal jalan yang aku lalui di depanku dengan kerikil, bunga, rumput, batu dan berbagai macam pemandangan baik itu yang indah maupun yang tidak sedap dipandang mata. Namun semua itu memberikan sebuah makna dalam hidup, ada banyak arti dibalik semua peristiwa, ada tujuan mengapa hal itu ada di depan kita. Apakah kita mau belajar dari apa yang kita temukan dalam perjalanan kali ini atau tidak? Jawabnya hanya kita dan diri sendiri yang tahu. Aku? Tentu saja sudah tahu jawaban akan pertanyaan itu dan ketika saat tahun 2021 akan berakhir, aku ucapkan pada diri sendiri…

”Yuk berbenah lagi, yuk belajar lagi yuuuuukkk…!”

Posted in catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Dema Menulis | Tagged , , | Leave a comment

Tentang Kehilangan

Hilang… kata yang sering menjadi momok bagi beberapa orang, dan reaksi yang terkadang didapatkan pun beragam. Ada yang marah, kesal, sedih, bingung dan masih banyak rasa yang biasanya dikaitkan dengan sesuatu hal yang negatif. Jarang sekali ditemui kata hilang tersebut disandingkan dengan lega, senyum dan kata yang biasanya berkonotasi positif. Mengapa? Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa mengernyitkan dahi karena hampir sebagian besar tahu bahwa memang sudah seperti itu sejak dahulu kala.

Sebenarnya, jika kita mau belajar, kata hilang tidak selamanya bermakna jelek. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa kata tersebut bisa juga berarti positif, namun dasar yang membedakan adalah bagaimana kita memilih untuk bereaksi ketika dalam hidup kita dihadapkan pada kata tersebut. Sebagai manusia tentu saja reaksi pertama yang kita berikan adalah reaksi yang sudah kita ketahui dan pelajari sejak kecil, yang sudah kita tahu dan ada dalam diri kita. Tak jarang, ketika suatu kata yang kita jauhi mendekati kehidupan kita, maka kepanikan adalah jawabnya, amarah akan mengisi setiap ruang yang kita ijinkan mereka berada, sedih tidak bisa dihindari dan hal-hal ini bisa mempengaruhi tidak saja diri kita namun juga orang-orang di sekitar kita. Bahkan tak jarang bisa merusak suatu hubungan yang jika suatu hari di masa depan kita pertanyakan, bagaimana hal sepele bisa kita biarkan begitu saja merusak apa yang sudah kita punya.

Kehilangan sesuatu terkadang efeknya lebih sedikit daripada kehilangan seseorang, terutama jika orang-orang tersebut memberikan arti dalam hidup kita. Namun apakah kita harus terus menyalahkan kehilangan atas ketidakmampuan kita memilih untuk bereaksi dengan lebih baik? Setiap orang dalam hidup ini pasti pernah kehilangan, baik itu skala besar ataupun skala kecil, tetapi efeknya sangat berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Mengapa berbeda? ini kembali kepada bagaimana individu itu memutuskan untuk bersikap ketika kehilangan itu terjadi, bagaimana mengambil langkah dikala sebuah situasi yang dihindari banyak orang menghampiri. Apakah keputusan dan pengambilan langkah untuk bereaksi itu bisa dipelajari? Tentu saja bisa, karena kita sebagai manusia diberikan kemampuan untuk belajar dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menggali ilmu bagaimana caranya untuk menghadapi segala sesuatu dan tantangan yang ada di hadapan kita. Seperti yang saya sudah bahas sebelumnya bahwa menurut saya, kita sebagai manusia yang diberikan ijin untuk membayar karma di dunia adalah pelajar-pelajar di Universitas Kehidupan. Apakah tugas utama seorang pelajar? Menurut saya ya belajar, baik itu secara lahir dan bathin dan tidak terpaku pada satu hal saja, namun secara keseluruhan sebagai sebuah perjalanan yang akan ada akhir ketika raga sudah tidak bisa dilihat, namun perjalanan abadi setelahnya mengikuti.

Mungkin ada sebagian (atau bahkan semua) tidak setuju dengan perumpamaan yang saya tuliskan tentang kehidupan kita (sebagai pelajar di Universitas Kehidupan) di dunia ini dan saya kira itu hal yang wajar, karena setiap individu tentu saja memiliki hak untuk menggambarkan dan mencari sebuah perumpamaan sederhana yang nantinya bisa digunakan sebagai acuan untuk memudahkan kita untuk mengerti kejadian-kejadian yang kita alami selama diijinkan bernafas oleh Sang Maha Kuasa. Saya memilih menggambarkannya sebagai sebuah universitas, itu untuk memudahkan saja baik itu untuk diri saya sendiri (ketika saya kebingungan), keluarga dan kepada orang-orang yang ada di sekitar saya karena bagaimanapun setiap orang yang mampir, tinggal atau pergi di kehidupan saya, mengenal arti kata pelajar.

Kembali pada kata kehilangan, bagi saya ini adalah salah satu dari sekian banyak pelajaran yang bisa kita gali maknanya, mengerti dan menolong kita untuk menjadi pelajar (manusia) yang lebih baik lagi. Dengan belajar tentang kehilangan, tanpa kita sadari kita juga bisa (jika ada keinginan) mengambil mata pelajaran lain yaitu melepaskan. Belajar kehilangan dan belajar melepaskan adalah 2 mata kuliah yang saling berhubungan, namun apakah kita bisa mengambil satu persatu? Tentu saja bisa karena sekali lagi, kita dibebaskan untuk memilih mata pelajaran apa saja yang kita ijinkan diri kita sendiri untuk belajar. Terus bedanya dimana? Menurut saya, yang berbeda adalah proses belajar kedua hal tersebut, berapa lama kita bisa mengerti akan ilmu tersebut kembali lagi akan berlabuh pada kemampuan masing-masing individu. Kemauan dari diri sendiri untuk mengatakan bahwa ’saya bisa dan mampu’.

Kali ini saya ingin berbagi dengan menggunakan diri saya (lagi) sebagai contoh, mengapa? Karena saya mengetahui dengan pasti bagaimana proses yang sudah saya jalani. Saya pernah terpuruk dari beberapa kehilangan di kehidupan saya, terutama ketika saya kehilangan orang-orang yang saya hargai dan mempunyai nilai di kehidupan saya. Namun sedikit demi sedikit saya bisa mengatasi kesedihan akan kehilangan tersebut. Pertama kali, bisa dikatakan saya terpuruk bertahun-tahun, sampai ingin rasanya menanyakan pada Tuhan kenapa saya harus merasakan kehilangan yang dalam. Ketika di sebuah kehilangan, ego saya menyuruh saya menyalahkan Tuhan, di sanalah saya merasa tertampar dan mendapatkan kekuatan untuk memaafkan diri saya yang sempat lancang memiliki keinginan untuk mendengarkan ego dan memutuskan untuk belajar walaupun tertatih tentang sebuah kehilangan. Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa berada di jenjang ini, dimana saya bisa melepaskan tanpa keterpurukan. Pelajaran tentang karma pun sangat menolong saya untuk menjalani prosesnya dengan lebih lapang. Kalau dulu saya bisa menangis berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sekarang saya hanya bersedih beberapa menit saja dan ikhlas menerima bahwa ini bagian dari karma yang harus saya bayar. Semakin banyak karma yang saya bayar lunas, maka semakin saya terbebas dari hutang kehidupan.

Apakah dengan ini saya menjadi orang yang tega dan acuh? Saya kira tidak, saya hanya melepaskan hutang karma dan memberikan fokus saya kepada karma lain yang harus saya bayar. Keyakinan yang saya miliki, kehilangan akan datang saat karma kita sudah terbayar lunas, baik itu kita inginkan atau tidak. Kita tidak bisa mengikat orang lain untuk bersama kita seterusnya karena prinsip yang saya tuliskan sebelumnya. Saya dipertemukan oleh orang-orang di kehidupan saya ini karena ada karma yang harus saya bayar, namun begitu karma itu lunas maka orang-orang tersebut akan menghilang satu persatu baik dengan sebab atau tanpa sebab, baik itu saya inginkan atau tidak. Dulu saya masih akan mencoba untuk mempertahankan dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak kehilangan, namun sekarang saya sudah belajar melepaskan mereka dengan senyuman. Ini juga salah satu kelegaan yang pernah saya tuliskan di postingan saya sebelumnya, kelegaan yang saya rasakan karena saya telah berhasil melunasi salah satu karma saya. Namun saya tidak menutup kemungkinan orang-orang tersebut kembali lagi dalam kehidupan saya di masa depan, kenapa? Karena saya percaya, jika ada karma yang belum tuntas maka kami akan dipertemukan lagi dengan catatan Tuhan mengijinkannya itu terjadi.

Jujur saya masih harus banyak belajar tentang kehilangan, saya masih merasa bahwa ilmu saya masih dangkal dan masih banyak yang harus saya pelajari. Kemampuan saya untuk mengijinkan diri sendiri untuk bersedih dalam hitungan menit (dan bukan bulan atau tahun) dan kemudian tersenyum melepaskan merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang, proses yang melewati pahatan-pahatan serta sayatan yang terkadang membuat saya ingin menyerah, namun sekali lagi pelajaran-pelajaran saya (terutama tentang karma) sebelumnya menguatkan saya untuk menjalani dan menikmati setiap langkah hingga saya seperti sekarang ini. Saya yakin, mata kuliah kehilangan akan saya ambil lagi di masa depan, namun sebelum hal itu terjadi, saya akan membekali diri dengan beberapa mata kuliah lain yang nantinya menopang saya untuk menjalani proses kehilangan tersebut dengan lebih lapang hingga kelegaan bisa saya dapatkan (mungkin) tanpa kesedihan suatu saat nanti. Ini tugas saya selanjutnya sebagai pelajar di Universitas Kehidupan kali ini.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Kehilangan adalah sebuah pembelajaran yang nantinya akan menuntunmu untuk mengerti bahwa kamu akan sendiri pada akhirnya ketika Tuhan mengijinkanmu menghadapNYA untuk mempertanggungjawabkan kesempatan yang DIA berikan padamu di kehidupan kali ini”.

 

Haninge, 14082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Gadis Kecil dan Pembelaan Diri

Kota Stockholm pada musim pandemi corona ini terlihat sepi, jalan-jalan yang biasanya dipenuhi orang-orang yang lalu lalang sekedar untuk melihat-lihat di berbagai macam toko yang berjejer rapi di jalanan utama ibu kota negeri kulkas ini, sekarang terlihat lengang walaupun matahari bersinar dengan cerahnya. Kuajak kaki ini melangkah menelusuri jalan yang mungkin sudah aku lalui beribu-ribu kali, namun terasa begitu baru seperti aku pertama kali melewatinya. Memang semenjak pindah ke kampung di Haninge, saya jarang pergi ke pusat kota, selain karena kesibukan baik itu sebagai ibu dan istri, saya juga lebih memilih pergi ke hutan kecil di dekat rumah dimana saya bisa berjalan-jalan sambil ditemani burung, serangga dan binatang lainnya. Namun kali ini sebelum saya mengunjungi salah satu tempat favorit saya, kangen rasanya menelusuri sudut-sudut kota yang saya kenal sejak tahun 2008. Hari ini memang rencana saya menghabiskan waktu di Skansen, salah satu museum terbuka yang menyimpan rumah-rumah dari berbagai tahun yang diambil dari beberapa daerah di Swedia. Museum ini akan buka jam 10 pagi dan saya masih punya waktu 1 jam lagi sebelum menginjakkan kaki di sana. Dengan matahari yang menyapa dengan ceria, keinginan saya untuk berjalan kaki ke Skansen dari pusat kota semakin besar, hari yang begitu indah ini akan lebih nikmat jika benar-benar diresapi dalam setiap ayunan langkah.

”Boleh aku ikut?”

Tiba-tiba tangan mungil menggandeng tanganku dan aku sudah tahu pasti siapa pemilik tangan itu. Gadis kecil yang kini memakai celana pendek, baju kemeja lengan pendek dan rambut sebahunya tergerai indah ditiup angin.

”Kamu apa kabar? Memangnya kamu tadi darimana?”

Aku menjawab tanyanya dengan pertanyaan lain. Sampai saat ini masih saja aku dibuat bingung olehnya, karena aku tidak pernah mengetahui kapan aku akan bertemu dengan gadis kecil ini atau harus berapa lama aku menunggu dia datang. Jujur, kadang aku rindu kehadirannya namun seperti yang aku bilang, gadis ini tidak bisa disuruh atau diminta datang semauku. Aku menghargai kebebasan yang dia punya, jikapun rindu menumpuk ingin bercengkerama dengannya, aku hibur diriku bahwa dia baik-baik saja dan masih ingin terbang bebas, berkelana hingga suatu saat dia akan datang. Mungkin ketika dia datang, dia juga memiliki rindu yang sama denganku.

”Baik, lagi ada pertanyaan nih yang membuat penasaran. Kita mulai ngobrolnya sambil jalan ya, kan Skansen lumayan jauh, siapa tahu begitu masuk Skansen kita udah kelar sama satu topik.”

Seperti biasa, aku ijinkan dia mengambil keputusan karena sepertinya ide tersebut bagus untuk kami lakukan. Kayaknya topik kali ini berat, mungkin seberat tugu air dan udara yang ada di jalan menuju ke jembatan yang menghubungkan pulau ini ke pulau kecil dimana museum yang akan kami tuju berada.

”Kamu pernah ga dituduh atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan?”

”Sering. Memang ada yang menuduh kamu tanpa kamu melakukan kesalahan itu?”

”Iya nih, terus boleh berbagi ga gimana caramu membela diri?”

”Terkadang aku membela diri namun seringnya aku hanya membiarkan saja tanpa berusaha untuk menjelaskan apapun ataupun menyiapkan pembelaan.”

”Kenapa begitu?” Tanyanya dengan alis sedikit berkerut dan hampir menyatu di tengah satu sama lain.

Aku tersenyum sebelum melanjutkan apa maksudku dengan jawabanku sebelumnya. Geli melihat mukanya yang mungil itu penuh tanya dan menunggu jawaban dengan nada tak sabar di suaranya. Sengaja aku pelankan waktu untuk menjawabnya, keisenganku mulai muncul.

”Untuk membela diri, aku biasanya akan mempertimbangkan apakah pembelaanku dan waktu yang aku pakai membela diri itu akan berguna atau tidak. Apakah yang aku bela itu berharga di kehidupanku atau tidak, karena untuk apa aku menghabiskan waktu memberikan pembelaan kepada suatu hal yang tidak berharga dalam kehidupan? Bukankah lebih baik aku pakai waktuku untuk hal-hal yang lebih berharga. Lagian, pernah dengar kalimat… yang menyayangimu tidak memerlukannya, sedangkan yang membencimu tidak akan mempercayainya… nah begitu juga pembelaan. Yang menyayangimu akan mengerti kamu dan tidak memerlukan pembelaan darimu sedangkan yang membencimu tidak akan pernah mau mendengar ataupun mempercayai pembelaanmu itu. Aku belajar banyak beberapa tahun belakangan ini dan sudah bisa lebih melihat kapan aku harus membela diri dan kapan aku lepaskan saja.”

Mata kecilnya terbelalak, sepertinya dia kaget mendengar penjelasanku dan benar saja, tak lama aku dengar protesnya dalam tanya.

”Tapi, kalau kamu tidak membela diri, bukankah mereka yang menuduhmu akan punya bukti bahwa kamu memang salah sedangkan kamu tidak melakukan kesalahan tersebut!”

”Begini sayang, kalau aku sudah melepaskan itu artinya aku tidak akan pernah rasa lagi. Melepaskan bagiku adalah rasa yang sudah hilang, apapun yang nantinya terjadi setelah aku melepaskan tidak akan bisa dan tidak aku ijinkan untuk mempengaruhi hidupku lagi. Jadi, sederhananya ya aku sudah tidak peduli lagi apa kata orang-orang tersebut. Biarkan mereka punya opini, pendapat dan pandangan yang berbagai macam, itu hak mereka dan aku tidak punya hak dan kontrol akan reaksi mereka. Ijinkan mereka memilih karma mereka sendiri, jangan dihalangi. Apapun itu, baik atau buruk pikiran mereka bukan kita yang menentukan, kita pilih saja karma yang kita siap menerima konsekuensinya baik itu karma baik atau buruk. Kalaupun atas seijin Tuhan, kita dipertemukan lagi oleh karma, biarlah itu menjadi rahasia saat ini karena aku yakin, apapun reaksi kita saat itu adalah hasil pembelajaran dan hasil dari proses yang kita jalani sekarang. Aku biasanya akan menikmati dan menerima apapun keputusanku dan menghargai diriku dengan memberikan fokus ke hal-hal yang bisa aku kerjakan dan hal-hal yang aku bisa belajar tentang hidup ketika aku berada di jalan tersebut.”

”Ahaaaa, sekarang baru aku mengerti, terima kasih!”

Senyumnya melebar dan aku lihat binar matanya, sepertinya aku bisa melihat kalau dia mengerti lebih jelas akan maksudku tentang prinsip pembelaan diri.

Terkadang, kita memang dihadapkan oleh pilihan sulit antara keinginan untuk membela diri dan menjelaskan yang sesungguhnya atau melepaskan dan bersikap acuh serta siap menerima konsekuensi atas tidak adanya pembelaan diri. Sebagai manusia, tentu saja saya sering menghadapi hal seperti ini, namun saya sudah belajar banyak untuk berdamai dan tidak terlalu mengutamakan pembelaan diri dalam hal-hal yang tidak akan mempengaruhi hidup saya di masa depan. Belajar melepaskan, toh pada  akhirnya kita akan sendiri seperti saat kita lahir dan melihat dunia pertama kali. Aksi dan reaksi adalah yang kita ambil adalah tanggung jawab kita, baik kepada diri sendiri, pada karma dan pada Sang Pemilik Nafas. Saya tidak mau membuang-buang waktu, apalagi orang-orang sudah memiliki benci pada saya tidak akan mau mempercayai apa yang saya katakan, di mata mereka saya akan tetap salah. Jadi pantaskah saya berikan waktu saya yang berharga buat mereka? Jawaban saya jelas TIDAK!

Hidup ini milik saya, perjalanan membayar karma adalah jalan saya sendiri, orang-orang yang saya temui akan menjadi bagian namun bukan pengambil keputusan dan bukan orang yang bertanggungjawab di akhir nanti. Pengertian ini yang membuat saya bisa menerima jika orang-orang yang saya temui di pengembaraan kali ini, banyak yang membenci dan tidak suka dengan saya dan kehidupan yang saya jalani. Saya kira wajar karena sekali lagi, saya tidak bisa membahagiakan semua orang dan saya hidup bukan untuk menjalani karma orang lain, bukan untuk mendapat persetujuan orang lain untuk melangkah. Yang menjadi milik saya tidak akan pernah hilang atau meninggalkan saya, mereka mungkin kadang tidak nampak dan tidak ada di samping saya, namun mereka akan menerima saya dengan ketidaksempurnaan saya, begitu juga saya akan menerima mereka dengan ketidaksempurnaan mereka. Mencari bekal yang cukup adalah hal yang saya ingin capai dan kalau untuk mencapai itu saya harus dibenci, dijauhi, difitnah, dicaci atau apapun itu…saya akan menerimanya, saya akan menempuh jalan itu karena membawa bekal yang cukup untuk menghadapNYA lebih penting dari sebuah sapaan semu atau tikaman belati di punggung.

Tanpa saya sadari, gadis kecil itu sudah menghilang bahkan ketika langkah ini belum sampai di Skansen. Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya yang bukan pertama kali meninggalkan saya tanpa pamit, kebiasaan yang sebenarnya bisa saja menjengkelkan namun saya menikmatinya. Entahlah apakah saya sudah bisa dikategorikan orang yang aneh, saya sendiri tidak tahu… biarlah orang yang menilai.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Kamu sudah belajar untuk memilih pertempuran mana yang perlu kamu bela dan pertempuran mana yang harus kamu lepaskan. Aksi dan reaksimu ada di tanganmu dan bukan orang lain, jangan takut mengambil keputusan walaupun kamu sendirian nantinya. Tentukan langkah yang bisa kamu pertanggungjawabkan jika ragamu siap meninggalkan perjalanan karma untuk melanjutkan perjalanan untuk mempertanggungjawabkan apa yang kamu lakukan ketika diberi kepercayaan lahir sebagai manusia.”

 

Haninge, 13082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Bau Dupa dan Arti Mimpi

”Dul, gua kok mimpi dihias ya. Cantik kali gua nok di mimpi, katanya sih mau pentas nari tapi ga sampe pentas kok. Riasannya sudah lengkap. Kenapa je ya? Trus waktu gua baru bangun jeg hidung gua bauin dupa lagi nok, sampe ga bisa tidur lagi. Padahal itu mimpi 2 hari yang lalu eh bau dupanya masih aja ngejar gua sampe kemarin malam lu. Hihihihihi sekarang kiyap mata gua nok.”

”Badaaaah, ga bagus itu artinya, bakalana da masalah itu, lu dikasi peringatan biar siap-siap.”

Sepenggal percakapan dengan kakak tersayang di Bali, yang selama pandemi ini bisa saya telepon sesuka hati dan dia tidak pernah menolak kecuali saat sedang tidur atau lagi keluar rumah. Sering kami saling berbagi, berdiskusi dan mencoba untuk menguatkan masing-masing dikala kami butuh dukungan selain dari suami dan anak. Kakak saya ini sebenarnya secara pemikiran berada di tengah, tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Orangnya cuek, bertolak belakang dengan saya yang menurut dia, jelas-jelas menggambarkan kambing yang cepat panas dan keras kepala. Selama pandemi ini, saya belajar banyak dari dia, beberapa trik dan tips baru untuk tetap bisa berada di rel yang seharusnya dan yang sudah saya rencanakan pada perjalanan kali ini.

Sebenarnya bisa saja tidak ambil pusing dengan mimpi tersebut, namun karena disertai bau dupa yang kuat dan yang tidak mau pergi walaupun saya sudah memohon dengan sangat, saya akhirnya menyiapkan diri untuk sesuatu yang mungkin tidak akan saya sukai. Sepertinya saya sudah diperingatkan bahwa sakit, lagi dalam perjalanan untuk mampir ke tempat saya. Ternyata benar, apa yang diprediksi kakak menjadi kenyataan, untungnya saya sudah diijinkan menyiapkan diri sebelumnya. Benar saja sakit mengetuk pintu saya, seperti biasa, saya biarkan saja dia masuk sebentar karena ternyata pelajaran yang saya dapatkan hari itu sangat berharga, baik itu untuk saya saat ini dan juga di masa depan. Seperti biasa, sakit pamit setelah mata saya terbuka dan dalam diam saya menyusun kembali beberapa daftar yang tercecer kesana-kemari.

Menata kembali hati dari sebuah keterkejutan dan mencoba memahami bahwa Tuhan ingin saya belajar, perlahan saya mulai tersenyum. Saya berterima kasih diberikan ijin menerima mata kuliah tambahan yang tidak pernah saya rencanakan untuk mengambilnya saat ini. Saya disuruh berhenti sebentar, menarik nafas dan sebelum mengibaskan debu-debu yang hampir berada di seluruh bagian tubuh. Menulis dan menulis lagi, mempertimbangkan, berdiskusi dengan diri sendiri, langkah apa yang terbaik yang saya akan ambil setelah kejadian ini. Apakah ini sudah sesuai dengan nilai yang saya pegang, apakah saya mampu nantinya memperdalam mata kuliah ini di ke depannya? Menghitung efek apa yang nanti saya, suami dan putri kami dapatkan jika saya mengambil keputusan dari A, B, C dan seterusnya. Apakah saya siap nantinya dengan banyak pertanyaan dari luar? Apakah saya mampu untuk berkata ’cukup’ saat diperlukan? Masih banyak pertanyaan yang saya tanyakan pada diri sendiri…

Yang abadi adalah perubahan dan itu sudah dibuktikan berkali-kali. Apakah kita harus takut dengan perubahan? Tidak,…santai sajalah karena perubahan akan selalu ada, seperti bayangan yang akan mengikuti kita dan mengintai. Bahkan bayangan pun berubah sesuai dengan berubahnya arah matahari, jadi penerimaan adalah kuncinya sebelum melepaskan sesuatu yang memang kita tidak bisa pertahankan. Apakah itu artinya saya menyerah? Tidak, saya memilih untuk memohon maaf karena keacuhan saya kepada diri sendiri dan segala peringatan yang saya hiraukan, hingga keputusan untuk mengatakan cukup dan melangkah ke halaman baru di buku kehidupan. Lega karena saya sudah membayar lunas hutang karma saya, bukankah semakin banyak yang kita lunasi maka semakin banyak waktu untuk fokus kepada karma yang lain. Saya tersayat hari itu, namun saya yakin, sayatan itu yang akan membentuk saya menjadi patung yang nantinya siap untuk dipersembahkan kepada Sang Pemilik. Sepertinya ijin Tuhan sudah turun, berawal dari mimpi, bau dupa yang tak henti sampai akhirnya mata saya terbuka dan memutuskan untuk mengambil jalan lain kali ini. Kelihatannya terjal, namun di setiap kerikil yang ada, akan ada pelajaran yang bisa saya petik. Seperti setiap sayatan yang memberikan arti dalam walaupun tidak bisa saya prediksi kapan datangnya.

Ini bukan pertama kali saya dikepung bau dupa yang tidak berkesudahan dan diberikan peringatan lewat mimpi. Terkadang ingin meyakinkan diri bahwa mimpi adalah bunga tidur dan tidak berarti apa-apa. Namun jika saya tidak memiliki persiapan, apakah sakit akan diam lebih lama menemani saya? Atau…saya akan baik-baik saja seperti sekarang walaupun kenyataan pahit itu ada di depan mata? Saya tidak tahu jawabnya, yang saya tahu adalah saya beruntung diberikan kesempatan untuk menyiapkan diri, mengingat-ngingat mata kuliah tentang sakit, penerimaan dan keikhlasan yang akan membantu saya bagaimana untuk bereaksi. Rasa syukur ada suami dan anak saya yang memberikan pelukan damai mereka yang meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya, terima kasih juga pada kakak saya yang sudah membantu saya mengartikan mimpi yang saya punya. Bau dupa dan arti mimpi tidak selalu seperti yang kita harapkan namun darinya kita bisa belajar mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Saya sudah diberikan sebuah gambaran dari akhir salah satu bab dalam buku kehidupan kali ini dan bab baru sudah menanti saya. Saya yakin, di bab baru akan ada semakin banyak pembelajaran yang bisa dipetik baik itu dari manusia ataupun alam yang ada di sekitar saya. Ketika sakit sudah menutup pintu rumah saya untuk pergi, maka lega menggantikannya. Terima kasih sudah memberitahu saya dan menolong saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, terima kasih sudah mengijinkan saya membayar tunai karma saya.  Terima kasih sudah memberikan saya tambahan waktu lewat mimpi dan bau dupa untuk bisa bersiap akan mata kuliah hari itu.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Bersyukurlah jika mimpi dan dupa membantumu lewat caranya yang unik untuk mencari dan mempertimbangkan langkah kakimu jika debu itu sudah terbang dari tubuhmu. Tegakkan kepalamu karena perubahan tidak akan membunuhmu namun akan memberikan makna di perjalananmu kali ini.”

 

Haninge 12082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , , | Leave a comment

Gadis Kecil dan Pertemanan

Matahari bersinar cerah dan dengan indahnya menghiasi setiap hijau di pojok taman yang ada di belakang rumah. Taman dimana aku menghabiskan banyak waktu baik itu sendiri ataupun bersama keluarga. Seperti hari ini, aku duduk berjemur di tikar lipat yang sering kami pergunakan untuk piknik sambil tanganku sibuk merajut badan boneka dari salah satu perancang amigurumi kesukaanku. Suara dengung lebah yang ramai mengelilingi ungunya bunga lavender kesayangan, samar-samar kucium baunya yang menenangkan. Damai dalam kesendirian hari ini, sebelum…

”Hei, lagi sibuk?”

Seorang gadis kecil tiba-tiba duduk di sampingku sambil memainkan benang warna warni yang teronggok di sekitar tas merajutku. Apakah aku terlalu tenggelam dalam rajutanku sehingga kehadirannya tidak aku ketahui. Aku sendiri tidak bisa memprediksi kapan dan dimana gadis mungil ini ingin datang dan menyapaku, namun sepertinya kami akan mengobrol lagi, setelah aku melihat pancar keingintahuan yang maha besar dari matanya.

”Tidak juga, hanya menghabiskan waktu sebentar sekalian melemaskan tangan agar motorik halus tetap terlatih. Faktor umur, jadi banyak latihan yang harus dilakukan agar badan tidak kaku dan masih bisa digunakan sebaik-baiknya”.

Aku menjawabnya bersamaan dengan tanganku meletakkan benang dan jarum rajut yang ada di tangan. Senyum termanis aku berikan padanya, aku mengijinkan dia menanyakan apapun yang ingin dia ketahui. Toh kami sudah tahu satu sama lain berpuluh-puluh tahun lamanya, walaupun dia terkadang tidak sering aku jumpai namun akan muncul ketika kami saling membutuhkan.

”Aku dengar banyak yang tidak suka berteman denganmu karena kata mereka kamu bermulut pedas. Pastinya kamu sudah dengar tentang kabar itu, bukan? Tapi sejauh aku lihat, kamu tidak terpengaruh sama sekali dengan omongan mereka, bahkan kamu tidak kelihatan sedih ketika mereka memilih menjauh darimu. Boleh aku tahu kenapa?”

Kuberikan pelukan hangatku sebelum aku melanjutkan membuka mata gadis kecil ini tentang siapa aku.

”Aku seseorang yang tidak suka berpura-pura, dalam artian kalau aku tidak suka, aku akan mengatakan tidak suka secara jujur. Kalau menurutku itu salah dan tidak sesuai dengan nilai yang aku pegang, maka aku akan bersuara lantang. Tidak jarang aku berkata keras kepada orang yang dulunya menganggap aku teman, karena aku tahu mereka bisa, karena aku ingin mereka tumbuh bersamaku. Namun aku mengerti, sering kali kata keras yang aku lontarkan kepada orang-orang tersebut dinilai terlalu pedas, dinilai kasar, dinilai terlalu melewati dan menginjak harga diri mereka, terkadang kejujuran yang aku ungkapkan menjadi bom yang mereka tidak suka dan memilih untuk melemparkan bom itu kembali padaku. Niatku untuk tumbuh bersama mereka, niatku untuk memberikan semangat karena aku tahu mereka mampu, dinilai salah. Aku belajar bahwa menerima itu dengan hati lapang, menerima bahwa mereka tidak suka caraku, ikhlas melepaskan mereka untuk berjalan menjauh dari jalanku. Kabar itu sudah sering aku dengar, bagiku itu bukan kabar baru. Kenapa aku tidak sedih atau terpengaruh? Karena aku tahu mereka punya pilihan, sama seperti aku yang yakin akan pilihanku baik dalam bersikap dan aku tidak bisa memakai topeng hanya untuk menyenangkan mereka. Yang aku tawarkan adalah tumbuh bersama yang artinya kita bisa saling berdiskusi, saling mengingatkan dan saling menyangga satu sama lain dalam kondisi apapun. Namun jika bagi mereka itu tidak bisa mereka lakukan ya aku akan menghargai pilihan mereka. Jujur, bagiku tidak ada gunanya memaksa seseorang menjadi teman kita karena pada akhirnya nanti, sesuatu yang dipaksakan tidak akan bisa bertahan lama. Teman yang dikirim dan diijinkan oleh Tuhan menjadi teman sejatimu, akan mampu menerima kepedasan kata-katamu, begitu juga sebaliknya karena jika kita ditakdirkan berteman maka kita akan sanggup mengerti ada apa dibalik sebuah kepedasan, kekerasan kata atau kejujuran tersebut ”.

Aku melihat senyum tipis di bibirnya, membuat aku sedikit curiga, apa gadis ini sedang mengujiku atau sedang menyalurkan rasa ingin tahunya.

Seseorang yang kita temui dalam perjalanan kita ada 2 macam, antara mereka adalah berkat (blessing) atau pelajaran (lesson). Keduanya sama-sama memberikan makna yang dalam, keduanya mewakili karma baik dan karma buruk. Jika karma baik kita datang, maka orang tersebut akan menjadi berkat dalam kehidupan kita dimana pasti ada damai dan kebahagiaan di dalamnya. Namun jika karma buruk menghampiri dan pelajaran yang kita dapat, damai dan kebahagiaan juga ada di sana namun disertai dengan mata kuliah yang lain, terkadang sakit, melepaskan, ketidakadilan, dan sebagainya. Keduanya akan mendatangkan syukur dan terima kasih yang tidak terhingga (setidaknya buatku) dan akan memberi warna tersendiri di buku kehidupan kita, seperti pelangi yang indah karena paduan berbagai macam warna. Ibaratnya ketika orang yang kita temui itu adalah berkat maka orang tersebut seperti minyak/air yang digunakan untuk memoles atau membasuh patung sehingga terlihat lebih indah. Sedangkan ketika orang tersebut adalah sebuah pelajaran, ibaratnya mereka adalah sayatan yang juga akan membuat hasil patung yang indah, namun tentu saja ada bonus pelajaran lain di dalamnya. Semoga dari penjelasan ini kita mengerti bahwa hasil akhir adalah sebuah patung, namun proses yang membuatnya berbeda makna.

Jalan kehidupan ini hanyalah milikmu seorang (seperti kata kakakku tersayang di Bali sana) jadi kita yang menjalani dan kita juga lah yang nantinya akan mempertanggungjawabkannya, sendiri di alam pengadilan dimana hanya ada kita dan Sang Pencipta. Kita tidak bisa menyeret orang lain ke dalam langkah-langkah yang kita sudah ambil, kita tidak bisa menyalahkan mereka (yang datang sebagai pelajaran) sebagai biang keladi dari karma buruk kita. Hanya kita dan diri kita yang memegang tongkat dan menuliskan karma kita di kehidupan kali ini. Mereka, baik yang datang sebagai berkat maupun pelajaran adalah bagian dari sebuah proses kita dalam pembayaran karma dan bukan sebagai aktor pemeran utama ataupun pemeran pengganti. Mereka naskah yang dikirimkan Tuhan, namun reaksi kita yang dihitung akan naskah yang sudah ada di genggaman. Apakah kita bisa mengubah naskah? Saya kira bisa, jika kita mau, yakin dan berusaha namun yang terpenting adalah jika Tuhan mengijinkan. Tanpa ijin dariNYA, perjalanan kita tidak akan bermakna.

Pemahaman-pemahaman inilah yang menjadi dasar mengapa aku tidak pernah sedih, marah atau kecewa jika dijauhi teman. Landasan yang membuat aku kuat, bukan hanya terlihat kuat, namun kuat yang sesungguhnya walaupun banyak cemooh dan hinaan menghampiri. Kehilangan, diacuhkan, ditinggalkan, dijauhi teman bukanlah sebuah akhir dari perjalanan namun aku menganggapnya sebagai bab yang sudah tertutup dan berarti kita akan memasuki bab yang baru. Entah di bab baru itu akan ada teman ataupun tidak di dalamnya, satu hal yang pasti proses menjalani karma dan pembelajaran di Universitas Kehidupan akan terus berlangsung hingga kita mencapai bab terakhir, bab penutup yang bisa kita lihat seberapa bekal yang kita punya menghadap Sang Pemilik Jiwa.

Gadis kecil itu memberikan pelukan hangat padaku, senyum lebar terpampang di wajah kecoklatan miliknya. Bisik lirih di telingaku…

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Berkat dan pembelajaran yang akan kau dapatkan dari orang-orang yang kau temui di perjalanan karma kali ini akan sama-sama menghasilkan sebuah patung. Dirimu yang menentukan seberapa dalam sayatan dan polesan yang engkau inginkan dan ijinkan menyentuh tubuh dan hatimu. Di akhir nanti akan kau lihat sendiri, seberapa banyak bekal yang kau kumpulkan untuk perjalanan keabadianmu atas bantuan kedua hal itu. Engkau yang memegang kendali dalam kapal ini, engkau yang memegang pena untuk menuliskan kisah pembelajaranmu dan mata kuliah apa saja yang sudah dan ingin kamu tempuh di Universitas Kehidupan pada kesempatan ini”.

”Aku bangga padamu!”

Kalimat terakhir dari bibir mungilnya sebelum dia menghilang dari hadapanku. Kepergiannya diiringi senyuman lebar dan kerling mata nakal. Aaaaaahhh… kenapa aku merasa bahwa dia mengujiku ya?!

 

Haninge 11082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , | Leave a comment

Berteman dengan Sakit

Terkadang kita berusaha menghindar ketika rasa sakit menghampiri dan ingin duduk sejenak bersama, namun sejatinya rasa sakit mengajarkan banyak hal yang kita tidak ketahui sebelumnya. Dulu saya pernah marah dan tidak terima ketika sakit datang entah itu dari sesuatu yang saya ketahui sebelumnya ataupun sesuatu yang datang tiba-tiba, namun sedikit demi sedikit saya belajar. Seiring dengan belajar lebih dalam tentang karma itu sendiri yang mungkin sedang membayar buruk baik tingkah, laku dan ucap yang sudah saya perbuat sebelumnya. Butuh waktu bertahun-tahun dan sayatan demi sayatan yang akhirnya mengijinkan saya berteman dengan sakit, sehingga ketika sakit datang, saya sudah menerimanya dengan senyum dan juga kelegaan.

Kenapa kelegaan? Itu artinya saya sudah mengurangi karma buruk dengan jalan membayarnya lunas. Walaupun terkadang air mata masih menemani namun hanya sebentar saja karena ketika saya tahu bahwa saya membayar lunas karma saya maka kelegaan dengan sendirinya membuat saya tersenyum dan berterima kasih karena sudah diijinkan membayar sekarang, saat saya mampu. Entah kenapa, bagi saya selalu saja ada makna setiap sakit datang, menemani saya sejenak. Sakit mengingatkan saya bahwa saya masih harus banyak belajar, masih banyak salah, masih banyak yang harus diperbaiki. Saya akui kadang ego ingin membakar saya, mengajak saya memusuhi sakit dan marah, rasa tidak terima buncah dan ingin rasanya memuntahkan dan menyalahkan keadaan, namun beberapa tahun belakangan ini, saya sudah bisa berdamai dan memilih menerima sakit dengan segala pembelajaran di dalamnya. Mungkin orang akan menilai saya aneh, jika saya bilang kalau saya berteman dan berdamai dengan sakit, namun biarlah orang menilai saya, mereka berhak memiliki pikiran, nilai dan memilih reaksi apa yang mereka berikan pada saya, saya terima sebagai pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.

Saya tidak bisa membahagiakan semua orang dan saya masih manusia, sedih tentu saja hal pertama yang menghampiri ketika saya rasakan sakit berada di depan pintu rumah saya, bahkan tak jarang kaget pun mengikuti tapi sekali lagi saya belajar dari sakit bahwa tidak ada yang tersia-sia. Kadang tanya menghampiri dan ingin mencari jawabnya, namun saya (sering) memutuskan untuk melepaskan saja apa yang ada di luar kontrol saya. Bukan berarti saya tidak bisa membela diri, namun apakah dengan membela diri saya merasa lebih baik? Ataukah dengan melepaskan akan memberikan saya ketenangan. Hal yang selalu menenangkan saya adalah pikir tentang saya sedang menjalankan karma saya dan di balik semua kejadian yang saya alami, ada ijin Tuhan di baliknya dan ketika saya tahu dan menyadarinya, saya beryukur bahwa saya diberikan ijin untuk menempuh ujian lagi, diperingatkan lagi, dibukakan mata lagi. Yang saya bisa lakukan adalah memohon maaf dan jika maaf juga belum cukup maka saya serahkan semuanya kepada karma, saya akan berhenti sebentar sebelum saya bangkit dan melangkah lagi.

Seperti postingan saya sebelumnya akan belajar bertahan di pandemi ini, ketika sakit menghampiri saya juga diajarkan untuk bertahan, mengambil nafas dan mengajak kembali gadis kecil dalam diri saya untuk bangkit berdiri, mengibaskan debu yang saya dapatkan saat terjatuh dan melangkah lagi. Banyak pelajaran lain yang saya dapatkan dari sakit yaitu belajar melepaskan. Sebenarnya ini saling berkaitan antara pembelajaran lebih dalam akan karma, cara bertahan, melepaskan, berteman dengan rasa sakit dan akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Entah mengapa sepertinya ke 5 mata pelajaran ini saling silih berganti menghampiri saya beberapa tahun belakangan ini, baik itu mereka datang satu persatu, ataupun sekaligus dan saya beruntung karena sampai saat ini masih diijinkan untuk terus belajar lebih dalam lagi, lebih keras lagi. Saya beruntung ada P dan A disamping saya yang sangat mengerti kapan memberikan waktu bagi jemari saya untuk menari tanpa beban, menuliskan jejak-jejak saya, dengan harapan suatu saat nanti, A akan bisa membacanya dan bisa menelusuri jalan yang pernah saya lalui, belajar lebih dalam tentang perjalanan karma mamanya yang tidak sempurna ini.

Saya (mungkin) masih akan menuliskan banyak cerita tentang bagaimana saya mendalami 5 mata pelajaran yang saat ini saya ambil di Universitas Kehidupan dimana saya sebagai pelajar dengan ketidaksempurnaan yang menjadi dasarnya. Selama Tuhan masih mengijinkan saya untuk menggali ilmu tentang bidang-bidang tersebut, akan saya lanjutkan dengan rasa syukur yang tiada terhingga. Seperti yang saya yakini, setiap kejadian di jalan yang saya tempuh, sudah atas seijin Tuhan, dan sebagai ciptaanNYA, saya berusaha mengumpulkan bekal untuk perjalanan saya selanjutnya ketika raga saya sudah menunaikan tugasnya. Ini adalah bagian dari perjalanan karma di kehidupan saya kali ini.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Sakit tidak akan merendahkanmu namun ia akan membantumu mengerti dirimu dan menguatkanmu untuk bangkit dan melangkah lagi”

 

Haninge, 10082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , | 1 Comment