Saat Mata Belum Bisa Terpejam

saat-mata-belum-bisa-terpejam_2-kopia

Jam dinding belum menunjukkan pukul 12 tengah malam namun dua orang kesayangan sudah tertidur pulas. A sudah bermimpi indah sejak jarum jam menyentuh beberapa menit sebelum jam 9 malam dan Papa P menyusul 2 jam sebelumnya, saya? Masih berkutat dengan pikiran-pikiran yang berlalu lalang dan sepertinya belum mau menyilakan saya untuk berbaring merajut mimpi indah.

Saya pun merasa lapar, turun ke lantai bawah memanaskan tumis pare telur, makanan kesukaan waktu kecil dulu. Kebetulan saya sempat membeli 2 buah pare di toko Asia yang ada di dekat stasiun metro di kota. Entah kenapa tiba-tiba saja saya kangen masakan ibu yang sebenarnya bahan dan cara membuatnya sangat sederhana namun bisa membuat saya menghabiskan berpiring-piring nasi. Walaupun kali ini saya hanya ditemani pare dan telur saja karena terus terang malas memasak nasi saat sudah hampir memasuki tengah malam seperti kali ini.

saat-mata-belum-bisa-terpejam_3-kopia

Satu liter air di dalam botol Tupperware sudah hampir habis saya teguk dan piring sayapun hanya menyisakan setengah porsi pare telur yang saya tambahkan sedikit cabai kering dengan maksud menolong hidung saya yang kebetulan sedang dilanda sedikit pilek. Banyak sekali yang mampir di kepala saya malam ini, entah itu mimpi saya yang belum teraih dan juga aktifitas minggu depan yang ingin saya lakukan bersama anak-anak didik. Kalau boleh memilih mungkin saya akan mengatakan kepada hal-hal yang masih menari di kepala untuk berhenti sebentar dan sampai ketemu besok, tapi tentu saja hal ini bukan sesuatu yang bisa saya lakukan kali ini (bukan berarti saya tidak mencoba). Saya raih kembali botol minuman dan meneguk liter ketiga hari ini dan masih saja terasa haus. Padahal piring masih saja berisi porsi terakhir setelah suapan terakhir beberapa menit yang lalu.

saat-mata-belum-bisa-terpejam_4-kopia

Tadi sempat kawatir karena A masih batuk dan sepertinya harus memutar badannya beberapa kali untuk mengusir batuk yang sepertinya belum mau beranjak semenjak 4 hari yang lalu. Ingin rasanya berkata kepada batuk itu:

”Mau tidak tukar tempat? Kamu sudah 4 hari 3 malam bersama A, bagaimana kalau sekarang kamu bersama saya jadi A bisa tertidur nyenyak tanpa gangguanmu?!”

Mungkin dengan tambahan senyum termanis jika saja ia setuju untuk bertukar tempat.

Seharusnya saya tidur secepatnya karena besok (atau hari ini karena sudah lewat tengah malam) Papa P akan main golf dan saya akan bersama A seharian. Ingin rasanya mengajak A berenang namun sayang, putri kesayangan saya ini masih belum sehat betul seperti biasanya. Memang lagi musim sakit dan sebenarnya A sudah sempat pilek dan diam di rumah untuk beristirahat, habis pilek datanglah batuk. Anehnya, batuk hanya menyerang A ketika dia tertidur lelap, tidak saat A terbangun. Saya kawatir karena jika sudah berada di dalam air, A seperti putri duyung yang akan menolak keras jika saya mengatakan bahwa saatnya untuk beranjak pulang. Ah, nanti saya akan ajak A melukis saja di taman belakang dan bermain warna lagi. Atau mungkin membuat roti bersama di dapur. Setidaknya A bisa istirahat sebentar sebelum masuk sekolah lagi hari Senin, begitu juga saya yang harus menyiapkan diri menghadapi 13 anak yang hampir semuanya masih dirubung oleh pilek dan batuk. Tentu saja saya tidak sendirian, masih ada 3 teman kerja yang menangangi ke 13 anak ini tapi karena memang lagi musim sakit di negeri kulkas ini, seminggu kemarin salah satu dari kami absen selama 5 hari dan kami bertiga saling bahu membahu untuk menemani dan bermain bersama anak-anak didik yang terkadang suasana hatinya seperti naik roller coaster. Namun dasarnya saya suka anak kecil, jadi saat saya berhasil menenangkan seorang anak dan membalik keadaan menjadi aman damai itu seperti memenangkan perang Baratayuda (kalau ini mungkin agak berlebihan) dan biasanya anak tersebut akan memiliki hubungan yang lebih baik dengan saya di kemudian hari. Senang rasanya jika hubungan antara kami menjadi semakin dekat, karena ada kepuasan tersendiri bisa berkomunikasi dengan mereka yang masih berbicara dengan bahasa bayi yang saya harus pintar menebak apa maksud di setiap kata yang mereka ucapkan. Aaaaah, saat saya bermain bersama mereka, saya bisa merasakan kalau saya menjadi anak kecil lagi, yang tidak ada rasa takut untuk berekspresi.

saat-mata-belum-bisa-terpejam_1-kopia

Melihat jam di dinding ternyata sudah memasuki hari baru dan saya, masih bergulat dengan huruf, air putih dan pare telur di hadapan saya. Sepertinya taktik untuk menuangkan beberapa hal yang ada di pikiran ke dalam tulisan tidak mampu membuat mata saya mengantuk. Kedua mata saya beralih dari barisan angka dan huruf menuju dua orang yang tertidur lelap dengan selimut menutupi hampir seluruh badan. Swedia sudah mulai dingin di musim gugur ini. Tidak sengaja mata saya memandang buku karya Harper Lee yang berjudul To Kill a Mockingbird. Sebuah buku yang sudah saya dengar tentangnya beberapa kali namun entah mengapa saya tidak pernah berkeinginan untuk membeli atau setidaknya meminjam di perpustakaan yang ada di kota. Seorang teman kebetulan bulan lalu memajang buku-buku yang ingin dia lungsurkan kepada siapa saja yang mau secara cuma-cuma karena kebetulan dia sudah selesai membaca dan tidak mau menyimpan buku-buku tersebut. Salah satu dari 6 buku yang saya dapatkan itu adalah buku Harper Lee ini. Beberapa kali saya melayangkan pandangan ke buku yang tergolek manis di samping mesin pencetak di meja kerja ini.

”Sebentar, saya akan menyelesaikan tulisan ini dahulu sebelum saya akan membaca kamu”.

Tidak terasa ternyata saya berbicara dengan sebuah buku dengan ilustrasi anak kecil bermain ayunan dengan menggunakan ban mobil bekas (sepertinya). Saya akan kembali lagi jika mungkin buku tersebut tidak mampu membuat saya tertidur juga.

Selamat menikmati hari Minggu!

Stockholm, dym18092016

Posted in 2016, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Hadiah Hari Pernikahan

Hadiah Hari Pernikahan

2 hari yang lalu kami merayakan hari pernikahan yang ke 11 dan sekaligus ulang tahun Papa P tersayang. Tidak ada perayaan istimewa, tidak juga hadiah, hanya ucapan dan peluk erat tanda sayang di pagi hari. Ini memang kebiasaan kami setiap merayakan hari yang buat kebanyakan orang termasuk istimewa dan kebiasaan ini sudah kami lakukan bertahun-tahun. Kami berpendapat bahwa tidak harus ada perayaan istimewa pada tanggal tertentu karena kami bisa merayakan kapan saja kami mau, seperti hari ini.

Walaupun sudah 2 hari lewat, tiba-tiba saja Papa P ingin merayakan sesuatu dengan istri dan anaknya, oleh karena itu Papa P memutuskan untuk pulang lebih cepat, membeli bahan makanan untuk barbeque dan membeli kue. Waktu bicara ditelepon, Papa P bilang ada yang aneh karena perasaan untuk merayakan sesuatu itu datangnya tanpa ada angin dan hujan. Anehnya lagi, dia tidak merasakan bahwa perayaan ini untuk hari ulang tahunnya atau hari pernikahan kami. Saya hanya tertawa saja dan Papa P merasa ada yang janggal di tawa saya lalu menanyakan kenapa, saya bilang saya bahwa saya sebenarnya punya berita bagus yang niat awalnya ingin saya berikan sebagai kejutan, tapi tidak apalah kalau saya bilang langsung lewat telepon. Iya, saya menandatangani kontrak kerja hari ini, saya pun tidak pernah menyangka akan mendapat pekerjaan secepat ini, Puji Tuhan, saya mendapat rejeki yang saya yakin memang jatah saya.

Hadiah Hari Pernikahan

Tadi pagi, saya dan salah satu mentor saya di tempat saya praktik berbagi tentang keinginan saya untuk bekerja di sekolah ini. Pertimbangannya adalah, saya sudah mulai kenal dekat dengan anak-anak dan malah ada beberapa yang lengket dengan saya dan selalu mencari saya kalau ada yang ingin mereka lakukan seperti menari, membaca buku atau hanya sekedar bermain kejar-kejaran di taman. Selain itu sekolah ini jaraknya hanya 2 km dan membutuhkan waktu hanya 7 menit dengan mengendarai sepeda, praktis dan saya merasa betah. Saya dianjurkan untuk mengirim email malam ini dan saya pun berpikir akan menyusun kata-kata untuk surat pengantar di email saat istirahat makan siang. Setelah menidurkan anak-anak, saya pun pergi ke ruangan dimana biasanya para guru beristirahat sebelum kembali beraktifitas. Baru saja 10 menit berada di ruangan tersebut, salah satu kepala sekolah masuk dan menyapa saya. Menanyakan bagaimana praktik saya selama ini yang memasuki minggu ke 2. Setelah beliau tahu bahwa saya betah dan semua baik-baik saja, beliau langsung menyuruh saya ke ruangan beliau untuk membicarakan sesuatu. Saya pun merasa biasa saja, mungkin beliau ingin memberikan evaluasi, pikir saya. Setelah duduk, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar keinginan saya untuk bekerja di sana. Tanda ada tanda-tanda akan ada badai, beliau langsung menawarkan posisi sebagai pegawai tetap. Saya sempat berpikir sebelum akhirnya dengan amat sayang harus saya lepas karena saya lebih mementingkan untuk menyelesaikan sekolah asisten guru TK saya terlebih dahulu. Sebenarnya tawarannya sangat menggiurkan namun menurut saya, pendidikan ini nantinya akan lebih penting sebagai batu loncatan di masa depan. Setelah kami membicarakan lebih lanjut, akhirnya beliau menawarkan untuk bekerja paruh waktu sampai saya memutuskan sendiri kapan saya siap menjadi pegawai tetap. Kontrakpun akhirnya disetujui dan saya menandatangani saat istirahat, beberapa kali beliau menyatakan betapa senangnya beliau mengetahui saya ingin bekerja di sana. Saat ini saya masih kerja praktik sampai akhir bulan September dan kontrak saya mulai pada awal Oktober. Saya sangat berterima kasih dan bersyukur diberikan rejeki yang tidak semua orang mendapat tawaran yang sama. Mentor saya pun berteriak senang ketika saya beritahukan bahwa saya sudah menandatangani kontrak dan saya pun sangat berterima kasih atas bantuan mentor saya ini untuk memberitahukan pimpinan sekolah akan keinginan saya.

Hadiah Hari Pernikahan

Selain itu, ada hal yang menggembirakan juga yang membuat saya senang, ketika salah satu anak didik saya akhirnya mampu menyebut nama saya. Sebelumnya dia selalu memanggil saya dengan sebutan Mama dengan ekspresi yang selalu berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak saking lucunya. Hari ini hampir semua memeluk saya begitu saya memasuki ruangan kelas dan mendapat pelukan dari lengan-lengan kecil itu membuat saya meleleh dan tertawa bahagia. Sejak saya mulai praktik tanggal 5 September lalu, ada seorang gadis kecil yang amat sangat dekat dengan saya sejak hari pertama. Setelah bangun dari tidur siang, dia tidak mau duduk bersama yang lain, dia akan langsung menuju saya tanpa peduli kalau pangkuan saya sudah dipenuhi 2-3 anak yang lain. Semua tahu bahwa saya adalah guru favorit gadis kecil ini. Hari ini, sudah banyak kemajuan yang dicapai gadis kecil ini, dari bermain bola, bermain kejar-kejaran dan berhasil menunjuk setiap teman yang saya sebutkan namanya, gadis kecil ini baru berumur 1,5 tahun. Senang sekali melihat perkembangan anak-anak didik dan memperhatikan karakter tiap anak. Saya bersyukur saya bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar tanpa biaya sedikitpun di negara ini untuk selanjutnya bekerja dengan anak-anak seperti yang sekarang saya jalani, di negara ini juga saya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk menggali potensi yang saya miliki.

Hadiah Hari Pernikahan

Tidak saya pungkiri kalau tahun-tahun pertama di negara ini tidak sama seperti waktu saya tinggal di negara lain namun negeri kulkas ini banyak mengajarkan saya tentang hidup. Tentang bagaimana kita belajar memberikan semangat kepada diri sendiri ketika berada di bawah dan belajar banyak dari 4 musim yang ada di negeri ini, belajar dari alam jika bisa dikatakan secara sederhana.

Satu mimpi sudah saya raih hari ini dan masih banyak mimpi yang ingin saya bisa raih dengan kedua tangan ini. Hari ini kami merayakan sebuah rejeki dari Tuhan, rejeki yang kami sepakati sebagai hadiah di hari pernikahan kami dan sekaligus ulang tahun Papa P. Atas ijin Tuhan, ada banyak kebahagiaan yang akan menghampiri dan pantas menjadi milik kita, jika kita mau berusaha belajar akan segala hal, menghargai apapun yang ada di jalan kehidupan kita, baik dan buruk adalah pelajaran untuk menjadi manusia lebih baik.

Saatnya untuk merangkai mimpi yang lain, semoga bisa lebih rajin menulis lagi (salah satu mimpi saya) dan menuangkan cerita dalam bentuk tulisan.

Stockholm, dym 14092016

Posted in 2016, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, nature, photography | Tagged , , | 6 Comments

Bunny Egg Cover

Bunny Egg Cover

I join a craft club here in Stockholm called The Craft Lab and every month they have a challenge that every member could challenge their creativity and answer it. This August month is about ’Festival’ and when I heard it, the first time that came to my mind is Christmas. I tried to dig in and search what should I make when I came across a thought about Easter! Yes, Easter celebration and it would be quite cute for A later on to decorate her eggs. Then I search for some inspiration and I got it from Islaura blog  with some adjusment because when I tried to follow the pattern the shape was not that cute as in the picture😀

So this is my interpretation of ’Festival’ challenge host by The Craft Lab Stockholm.

Bunny Egg Cover

Material : Schachemayr Nomotta Catania yarn ( 3 different colours)

Crochet hook : number 3

Abbreviations: sc (single crochet), sts (stiches), increase 2à1 ( work 2 single crochet in 1 stich), decrease 1à2 (work 2 stiches in one sc)

Cap

Round 1: Start with a magic circle, work 8 sc into the circle. (8 sts)

Round 2: 2à1 (16 sts)

Round 3 and 4: Work one round of sc. (16 sts)

Round 5: *1 sc, then 2 sc in the next stich.* Repeat it for the whole round. (24 sts)

Round 6: Work one round of 1 sc. (24 sts)

Round 7: *1 sc, then 2 sc in the next stich.* Repeat it for the whole round. (32 sts)

Round 8-13: Work one round of 1 sc. (32 sts)

Slip stich, fasten off and weave in the yarn ends.

Bunny Egg Cover

Bunny’s Ear

I made two of this.

Make 13 chain and work  1 sc around it with 2à1 the end of those 13 sts, so your round would have 25 sts. Change your yarn and work 1 sc one more round and with 2à1 at half way you make the round. So you will have 26 sts in your round.

Earmuff

I made two of this.

Round 1: Work 5 chain.

Round 2: Work 5 sc in the chain. (5 sts)

Round 3: *3 sc, 1à2* Decrease (4 sts)

Roung 4: *2 sc, 1à2* Decrease (3 sts)

Round 5: *1 sc, 1à2* Decrease (2 sts)

Round 6: 1à2 Decrease (1 st)

Round 7. Make 7 chain

Fasten off.

Note: you can adjust or add the round of the cap depend on the size of your egg.

Bunny Egg Cover

I am apologize for the pattern if you found it difficult to understand. This is the first time I wrote a pattern by myself. If you happen to live in Stockholm and has questions about this, we could meet up and I could show you how to make these bunny egg covers. Or, you could join us in The Craft Lab community which also has an Instagram account with the same name @thecraftlab  and Facebook group . See you there🙂

Stockholm, dym17082016

Posted in 2016, Craft, Crochet, delights, Hobby, photography | Tagged , , , | 2 Comments

Dandelion: a Silent Dancer Who Wears Tutu

Dandelion a Silent Dancer Who Wears Tutu_1 kopia

One fine day on the way home from my morning walk, my eyes caught this beautiful Dandelion flower stood alone in the field near our home. It was located quite far away from the other dandelions and when I took a look closely, it told me a story. I could see that it looks like a dancer who wears tutu skirt, suddenly I said to myself, Dandelion: a silent dancer who wears tutu. After that… I found myself spent more than one hour just to capture it from many different angles to be able to tell you the same story as it told me.

As we know that dandelion is a flower that no body wants to have in their garden, even though this beauty has so many benefits. One of them is you can use as a tea and more about what are hidden in a dandelion you could read it here. I wouldn’t say that I want to have them in my garden, in fact I take them off as soon as I see the leaves on the grass. Honestly, I myself never try to make something of it but I know couple of friends use this yellow flower as herbs or salad in their meal. Maybe next year, I should begin to try to use them in our daily life. Why not this year? I didn’t see any fresh flowers around us anymore, only flowers that left as you see on pictures on this post.

Dandelion a Silent Dancer Who Wears Tutu_4 kopia

Maybe you see that dandelion on my pictures are not the perfect one but its imperfection that made me enjoy taking shot after shot. Through my eyes and camera, I could see the beauty from the imperfection that this flower has. As you read on the tittle of this blog that the story is about a silent dancer who is brave enough to stand alone in the field. I could sense that this dancer doesn’t really care what others think about her, she keeps dancing with the wind which blows slowly and help her to more her body. She was fine even though she is separated with others dandelions which stood in the other side of the field. Around her was lots of higher plants such as maple trees, lilac bushes, grass and many other wild plantation. The dancer showed me that it is okay to be different, it gave me understanding that you still can give something even though you are not perfect. Dandelion never expect something in return, she loves to give and give and make people who stop by feel the joy of her dance and smile is definitely there for those who is able to capture the story. I was there and I felt joy and peaceful feeling and wanted to dance with dandelion. Therefore… I would like to say thank you to the silent dancer who wears tutu.

Dandelion a Silent Dancer Who Wears Tutu_3 kopia

I know, it sounds weird but that was the story that played in my head on those minutes I spent in the field. Some people who walked with their dogs passed me with smile, no chat this time, just exchange some gleam to each other. As if they understand that I am in another world and they don’t want to disturb my conversation with dandelion. Or maybe they just getting used to see me with my camera, going around the area and stay for sometimes in one spot. I am so happy to make a decision to bring my camera that morning. Maybe if I didn’t have my eyes extension, I would missed the great story behind a Dandelion flower. When I took my step away from there, I found myself said softly to the dancer…

”See you next year silent dancer with another story to tell, another joy to share!”

Dandelion a Silent Dancer Who Wears Tutu_2 kopiaAfter a couple of meters, I look back and I could see that my dancer was dancing along with the fresh wind and birds which were flying low while they chirp happily. Smile was still on my face until I turn in the corner of the road towards our house. The story is stay with me and it plays everytime I see these photos. I don’t know if you are agree with me but hopefully you would enjoy to see these shots as I do. If you happen to have a similar story, do share with me…because I would be more than happy to sit down and listen to it. Good bye for now and would see you again in another tale.

Stockholm, dym12062016

Posted in 2016, flower, nature, photography, Stockholm, Sweden, thought | Tagged , , , , , , , | 2 Comments

Saya Kangen Bali

Aku Kangen Bali_4

Jangan tanya saya kenapa? Karena saya sendiri tidak tahu apa sebabnya!

Jujur, saya belum pernah merasa kangen yang begitu dalamnya seperti beberapa bulan terakhir ini. Saya sudah merantau sejak tahun 2000 dan sejauh saya ingat, tidak pernah saya terjebak dalam lautan rasa rindu seperti sekarang ini. Dulu, kalau saya kangen, cukup dengan berbicara dengan keluarga di Bali sudah cukup membuat saya terlepas tanpa beban dan menjalani kehidupan saya tanpa ada rasa kangen yang mengganggu pikiran ataupun mengganggu aktivitas saya selama ini. Namun kali ini berbeda… dan yang membuat saya kesal adalah saya tidak bisa menhentikannya seperti dulu. Berkali-kali saya berbicara dengan keluarga dan beberapa teman sepermainan dulu, namun rasa rindu itu tetap melekat…erat!!! Sayapun harus mengaku kalah kali ini, tanpa sebab… tanpa tahu apa yang bisa membantu saya untuk setidaknya menghalau sedikit rasa kangen ini. Saya terjebak!!! (kalau saya boleh gambarkan bagaimana keadaan saya sekarang).

Aku Kangen Bali_5_tonemapped kopia_2

Ini bermulai sejak bulan Maret kemarin, semakin saya berusaha mengatakan pada diri sendiri bahwa rasa kangen ini akan berlalu, semakin rasa itu mengikat saya. Ketika saya mencoba untuk menerima dan menganggap hal ini serius, rasa itu bukannya berkurang, malah tetap memberangus saya dalam kebingungan mencari alasan apa yang sebenarnya yang membuat rasa rindu itu ada. Seperti saya bilang, jangan tanyakan apa yang membuat saya begini, karena saya sendiri masih dalam proses menemukan jawabannya. Sampai saya akhirnya mengakui dan mencoba mencari sudut pandang lain baik itu dari suami tersayang, kakak dan teman namun jawaban itu belum saya genggam. Saya masih berkubang di ketidaktahuan ini. Bahkan rasa kangen ini sempat membuat saya bermimpi beberapa malam tentang Bali, tentang perjalanan yang sebelumnya tidak ada dalam pikiran. Tentang sebuah keinginan untuk diam, hanya dengan diam menyusuri setiap sudut pulau kecil tempat saya dilahirkan. Terkadang saya seperti mendengar suara-suara yang semakin jelas memanggil saya untuk datang, walaupun terkadang saya mencoba menepisnya dengan menyibukkan diri dengan segala kegiatan sebagai ibu, istri, menantu, murid dan berbagai kegiatan dalam keseharian saya. Namun kali ini saya tetap gagal dan saya masih bergelut dengan berbagai tanya dalam diri.

Aku Kangen Bali_3

Anehnya, kali ini saya ingin pergi sendiri. Kalaupun dengan A dan P, dalam pikiran saya terbersit untuk menitipkan A dengan kakak saya dan P mungkin saya carikan kesibukan sendiri seperti bermain golf atau kegiatan lain. Keinginan untuk menjelajah pelosok Bali hanya sendiri saja sudah saya utarakan pada P dan seperti biasa suami tersayang saya ini mengerti dan bahkan menganjurkan saya untuk pergi bersama A saja. Dia tahu bahwa hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, hal dimana saya yang meminta untuk pulang (biasanya P yang meminta untuk bisa pulang ke Bali, sedangkan saya yang biasanya enggan untuk pulang). Bahkan saya sudah sempat mencari tiket pesawat untuk ke Bali, namun niat itu belum bisa terlaksana hingga saat ini tertulis. Ada beberapa hal yang lebih penting yang harus saya dahulukan walaupun itu artinya saya harus rela merasakan kangen yang terus terang cukup mengganggu. Saya masih berharap dalam waktu dekat rasa ini akan hilang, atau…setidaknya berkurang sampai kesempatan untuk mencium tanah air saya dapatkan lagi.

Aku Kangen Bali_6

Saya cengeng kali ini, menuliskan keinginan ini saja sudah cukup membuat mata saya berair, duduk sendiri di kamar kosong dimana biasanya mertua tidur saat mereka mengunjungi kami di Stockholm. Sebenarnya ingin rasanya menyembunyikan ini hanya untuk keluarga terdekat saja, namun hari ini saya memutuskan untuk menuliskannya dengan harapan ini akan menolong saya. Mungkin dengan mengatakannya pada semesta, maka saya akan menemukan sebuah kedamaian yang bisa saya pakai sebagai pegangan untuk menunggu beberapa bulan lagi, sampai tugas yang ada di hadapan saya selesai. Dalam hal ini, saya tidak takut mencoba walaupun mungkin ini akan terlihat seperti sebuah kelemahan, saya pun tidak ragu mengatakan kalau saya lemah kali ini.

Aku Kangen Bali_7

Tadi sempat berdiskusi tentang kemungkinan untuk saya dan A pulang, pada bulan-bulan dimana P memilih untuk tinggal di Swedia dan memberikan saya kesempatan untuk menikmati Bali hanya dengan putri kami. Memberikan saya waktu untuk mencari jawaban itu sendiri, mungkin ada sesuatu yang harus saya selesaikan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Saya merasa seperti ada yang menunggu saya di pulau kecil itu, suara-suara yang nantinya bisa saya ajak diskusi dan mencari jalan terbaik untuk ke depannya. Jujur, saya tidak mau berlama-lama berada di situasi seperti ini. Saya sadari, ada tugas yang belum saya sempat saya selesaikan ketika saya pulang tahun lalu. Mungkin tugas inilah yang menghantui saya untuk dijalani, untuk diresapi dan untuk dihadapi sendirian saja.

Aku Kangen Bali_6

Lagu-lagu Indonesia dari Chrisye, Iwan Fals, Padi, Dewa 19, Sheila on 7 menemani saya perlahan mengetik kata-kata terakhir untuk kali ini. Saya merasa lebih baik walaupun kangen itu masih ada. Setidaknya airmata ini sudah terhenti dan saya siap menikmati sisa hari kali ini. Menemani A bermain dan memanfaatkan sisa liburan musim panas yang hanya tinggal beberaa hari. Minggu depan kami sudah kembali ke kegiatan masing-masing, P kembali bergelut dengan pekerjaannya, A kembali ke pre-school dan saya kembali sibuk dengan buku-buku dan bertemu dengan teman-teman yang hampir 2 bulan ini tidak saling bersua walaupun komunikasi masih kami lakukan lewat aplikasi Whatsapp.

Aku Kangen Bali_1

Terima kasih teman, sudah mau mendengarkan saya kali ini. Saya akan baik-baik saja *tersenyum samar penuh harap*.

Stockholm, dym02082016

Aku Kangen Bali_2

Posted in 2016, Bali, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , , | 6 Comments

The Girl Who Always Brings Rainbow

The Girl Who Always Brings Rainbow_6

Two years ago, there was a little girl born on one rainy day in the summer time. She wasn’t crying at all but smile to her mom who held her for the first time. Beside them, there was her dad, standing with no words but his eyes show some tears and full of happiness and pride for his little girl who finally he met in person. Three of them promise to each other to love and support each other in their new journey together. New capital in their book of life was just begun with a new member of a team, a solid and unbeatable team.

The other part of Sweden, there were two lovely people who were with them from the minute they arrived in hospital until the new face of the future was born. Two people who had been waiting for this moment for quite sometimes, two people who we believe in tears of happiness to read a sms from their son about a little girl who came to the world to complete them as a family. Farmor and Farfar were not sleeping to wait for the news and they couldn’t wait to meet their princess.

The Girl Who Always Brings Rainbow_1

While far far away…in the other continent of this world, in Bali, Indonesia…there were beloved ones who were also excited to hear the new beginning. There were all awake to get some message on their phone, a photo of a little angel that will bring another story in our big family. A girl whom they will spend time to explore the beauty of not only Bali but Indonesia. They wished to see little miss Sunshine for real but because of the distance they had to wait and happy to receive one or two or more pictures of her every day, every week, month and year till finally got chance to hold her.

We have been blessed to be her parents. A girl who is never give us any trouble, the girl who sleep through the night since she was 5 days old. A baby who behaves so well till now. Her name is combination of our grandma’s names. I dreamt of the complete name when we lived in the UK back in 2006. Woke up with a little bit confusion how I recognized only one name, Kartika, which was one of my grandma’s name. I asked Papa P that time and yes…the other names, Agnes and Linnea, were his grandma’s name. Weird…that was a word in my mind at the time because it was like happen in reality that five of us (Farmor and Farfar was there too) inside the hospital bed where I was lying and holding a baby girl. We discussed about a name and we all agreed that we use this beautiful name for our little precious. At that time, we hadn’t thinking to have a baby in our married life yet. We decided to enjoy each other company, getting to know the real us and at the same time to prepare how we could be a great parents, a good example for our next generation. In our mind, being a parent is not an easy task but joyful for sure. We think that we have to be ready before we could build our nest with one or two mini us whom we will give our full attention and love unconditionally. Being a parent is fulltime job, a challenging job which could test our strength, patience, ego, knowledge, our commitment and how far we are willing to sacrifice our life to serve our kids, especially when our kids still small and need us the most.

The Girl Who Always Brings Rainbow_5

So far we did it well even though there are always something that we could do better but no regrets att all. A is a happy little miss Sunshine who eats all kind of vegetables since she was 6 months. She never have trouble to sleep through the night and never been a cranky baby. Of course she could get tantrum too but it is easy to handle and it won’t last so long. With hugs and calm explanation, she would be fine again. She is very understanding in many different occasion and many people amazed how well she behaved in the crowd or any given time. Sometimes, she surprised us with her knowledge and how she observed the information and able to deliverer it to us and others. She is the one who always finding a way to make us laugh, sometimes just with a simple act or expression of her cheeky face. (Not so baby) A loves to cuddle and being cuddled by us or other family member even some friends. She is an easy going little girl, loves nature, couldn’t sit still for long time and has a very curious mind. No one could stop her if she decide to fokus to do something that interest her. I call her my beatiful dancer because she will dance as soon as she hears music and own the move she made.

The Girl Who Always Brings Rainbow_2

Our baby favorit drink is still water. Sometimes she amazed me by choosing water rather than any other drink that kids usually love to drink. A never afraid to try any kind of food that we offer to her, the matter of she like it or not is not important to us and we are grateful she has this ability. She is definitely not a picky eater and for us this is another key point because she would be travel quite a lot in many different continents and we are never worried about bringing food from home. When we were in Bali last year, she ate a fruit/vegetable called ’Belimbing Wuluh/Sayur’ which has latin name Averrhoa Bilimbi which made her uncle (who took her to a neighbour) freak out and amazed because this fruit/vegetable is very sour and even adult is finding hard to eat it fresh. Yet again, this is A, a little girl who is unique and willing to try every fruits and vegetables.

The Girl Who Always Brings Rainbow_4

A teaches us a lot about life, from a simple thing till the most complicated one. Spending time with her give us deeper understanding that we can create our own happiness, we can choose either being happy or being miserable since we open our eyes in the morning. As a adult, we are quite good in compromise on any kind of things or situation but A taught us since she was born and now we even more understand and willing to compromise even more to anything. This little angel also showed us that we able to do something that we never ever thought that we are able to do. She is the one who always brings rainbow in our cloudy day, she is the one who could turn our frustation become power to get up and make it better. A is the one who makes us never lose hope for everything, even when we think that there is no way out. She is complete us in her unique way, therefore we are forever grateful for this gift from God, to have chance to be A’s parent.

The Girl Who Always Brings Rainbow_3

”Happy birthday Sunshine, be yourself and don’t be afraid of the challenges that life throw at you. Dream big, our precious one! Be a dream catcher, be kind to others, be anything you want to be and be the one who never lose faith in humanity. As your Dad ever said to me, the sky is the limit. May God showers you with health and his blessing on you in every step you make. Mom and Dad will be here for you and we love you unconditionally girl! ”

Stockholm, dym 30062016

Posted in 2016, photography, Stockholm, Tentang A, thought | Tagged , , | 4 Comments

Di Kala Hujan Menyapa Bumi

Di Kala Hujan Menyapa Bumi_5 kopia

Hujan seharian di luar sana, sempat keluar sebentar mengantar putri tersayang untuk main air dan berlari di bawah hujan. Mengingatkan aku akan masa kecil, dimana berada di bawah hujan itu adalah suatu momen yang sangat ditunggu-tunggu. Tidak perduli apakah badan sudah basah kuyup dan mulai kedinginan, yang ada hanya sebuah harmoni ketika hujan menyentuh permukaan kulit.

Ketika cuaca seperti ini menghampiri, ada banyak pikir yang mampir di kepala ini. Tentang hidup, tentang langkah yang sudah diambil, tentang mimpi yang sudah tercapai dan bahkan tentang mimpi yang masih belum ada di dalam genggaman. Terlebih hari ini, banyak pikir tentang sebuah pertemanan dan orang-orang di sekitarku.

Di Kala Hujan Menyapa Bumi_1 kopia

Terkadang, kita merasa bimbang juga kala melihat ke belakang, memutar lagi peristiwa-peristiwa yang beberapa masih menimbulkan tanya yang kembali menyeruak bersamaan dengan mendung yang menutupi langit. Terbersit suatu harapan untuk bisa kembali dan melihat apa sebenernya yang bisa diperbaiki, tapi… ada bisikan pelan,

”Kamu tidak bisa membahagiakan semua orang Deni! Sebaik apapun kamu berusaha, pasti selalu saja ada yang tidak sempurna, pasti ada saja orang yang akan tidak suka denganmu. Namun dari situ kamu belajar, belajar jadi manusia yang lebih baik lagi hari ini”

Ya… aku tersadar! Aku tidak akan bisa membuat semua orang tersenyum dan tertawa. Pasti selalu saja ada cibiran dan omongan negatif di sekitarku. Aku hanya seorang manusia, pasti saja akan melakukan banyak kesalahan. Kesalahan yang nantinya bisa mengajarkan aku apa yang benar, kesalahan yang nantinya bisa aku jadikan salah satu batu pijakan untuk melangkah lagi. Kesalahan yang mengingatkan aku untuk tidak melakukan hal yang sama lagi.

Banyak orang akan datang dan pergi di kehidupanku. Ada yang akan tinggal selamanya, ada yang hanya mampir untuk satu halaman saja, ada juga yang mungkin bersamaku untuk menyelesaikan satu bab dalam buku perjalananku. Setiap orang akan memberikan aku pelajaran tentang hidup, sekarang yang terpenting adalah bagaimana aku bersikap dan belajar dari setiap orang tersebut.

Di Kala Hujan Menyapa Bumi_2 kopia

Aku yakin, orang-orang yang datang untuk membuatku sedih, sakit hati, kecewa bahkan menangis, adalah orang-orang yang dikirimkan Tuhan buatku untuk belajar. Aku harus membayar karma yang aku buat. Mungkin tanpa sengaja aku menyakiti orang-orang di sekitarku, mungkin saja aku melakukan kesalahan yang aku harus bayar, atau mataku tergelapkan sehingga lupa bahwa aku menjadi sebuah kerikil tajam di kehidupan seseorang. Maka itu, karma akan datang padaku, tanpa bisa aku tolak. Yang aku bisa lakukan adalah membayar lunas, menerima bahwa itu adalah bagian dari sebuah perjalananku. Ada harapan bahwa lebih baik karma itu datang sekarang, saat aku masih kuat dan masih diijinkan untuk bernafas, berpikir dan memperbaiki diri, ameeen. Namun aku hanya manusia, terkadang aku marah dan tidak terima ketika orang-orang menyakitiku. Aku berusaha agar kemarahan itu tidak berlangsung lama, mencoba untuk melepaskan kegundahan itu dan membaca habis halaman itu, untuk bisa menulis lagi di halaman baru. Hari ini, ketika aku mencoba berdiskusi dengan diri sendiri, mencoba melihat apakah ada amarah yang tersisa, aku tidak temukan satu pun. Dan… akupun tersenyum dan siap dengan halaman baru dengan ucapan syukur dan terima kasih.

Di Kala Hujan Menyapa Bumi_3 kopia

Dalam perjalananku, banyak sekali aku bertemu dengan orang-orang yang bisa aku ajak duduk bersama, menangis bersama, tertawa bersama berbagi suka dan duka. Orang-orang yang menerima aku apa adanya, orang-orang yang sudah tahu kelemahanku namun tetap memilih untuk menemaniku mengisi lembar demi lembar halaman di bukuku. Orang-orang yang tidak segan akan memperingatkan aku jika aku salah melangkah, jika aku salah berucap, ketika aku lupa. Bahagia itu sederhana, bahagia itu bukan memiliki harta yang berlimpah, bahagia itu adalah memiliki orang-orang hebat ini di kehidupanku. Ucapan terima kasih tidak cukup buat menggambarkan betapa aku bersyukur bertemu mereka di jalanku. Doa dan harapan, mereka akan ada bersamaku sampai saat aku menghembuskan nafas terakhirku. Ada kalanya, aku tidak bisa bersama orang-orang tersayang ini setiap saat, terkadang berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak ada sapaan beberapa dari mereka, namun hati kita tahu, kita selalu ada buat satu sama lain saat dibutuhkan. Bagiku hal itu yang terpenting, bukan kebersamaan yang tiada henti, bukan pertemuan setiap detik, bukan sapaan setiap hari, bukan tumpukan hadiah ataupun ratusan pujian. Orang-orang ini adalah harta karunku yang aku akan lakukan apapun untuk membuat mereka tersenyum bahagia.

Di Kala Hujan Menyapa Bumi_4 kopia

Aku masih harus terus belajar dan mengasah diri, masih ada ratusan bahkan ribuan celah yang masih bisa diperbaiki, masih ada tempat untuk menampung ilmu dalam bidang apapun. Aku akan melakukan banyak kesalahan, namun aku tahu kesalahan itu ada untuk jadi sebuah pelajaran, sebuah cambuk, sebuah pengingat untuk bisa lebih kuat dan lebih bijak dalam berbuat, berbicara, berpikir dan mengambil arah kemana kaki ini ingin dilangkahkan, dengan cara apa aku menyambut pagi dan menggapai mimpi. Akan banyak kerikil di depanku, terkadang besar terkadang kecil, sekarang aku yang memutuskan bagaimana aku bersikap ketika kerikil itu ada di depanku. Semoga aku masih diberikan kesempatan lagi untuk membuka mata, mengucap syukur dan menulis dalam lembar-lembar halaman buku kehidupanku. Semoga akan masih banyak pagi, siang dan malam yang aku jumpai dan nikmati bersama yang tersayang dalam hidupku, amen.

Stockholm, dym10062016

Posted in 2016, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, nature, photography, Spring, Stockholm, Sweden, thought, Uncategorized | Tagged , , , , , , , | 4 Comments