Tentang Kehilangan

Hilang… kata yang sering menjadi momok bagi beberapa orang, dan reaksi yang terkadang didapatkan pun beragam. Ada yang marah, kesal, sedih, bingung dan masih banyak rasa yang biasanya dikaitkan dengan sesuatu hal yang negatif. Jarang sekali ditemui kata hilang tersebut disandingkan dengan lega, senyum dan kata yang biasanya berkonotasi positif. Mengapa? Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa mengernyitkan dahi karena hampir sebagian besar tahu bahwa memang sudah seperti itu sejak dahulu kala.

Sebenarnya, jika kita mau belajar, kata hilang tidak selamanya bermakna jelek. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa kata tersebut bisa juga berarti positif, namun dasar yang membedakan adalah bagaimana kita memilih untuk bereaksi ketika dalam hidup kita dihadapkan pada kata tersebut. Sebagai manusia tentu saja reaksi pertama yang kita berikan adalah reaksi yang sudah kita ketahui dan pelajari sejak kecil, yang sudah kita tahu dan ada dalam diri kita. Tak jarang, ketika suatu kata yang kita jauhi mendekati kehidupan kita, maka kepanikan adalah jawabnya, amarah akan mengisi setiap ruang yang kita ijinkan mereka berada, sedih tidak bisa dihindari dan hal-hal ini bisa mempengaruhi tidak saja diri kita namun juga orang-orang di sekitar kita. Bahkan tak jarang bisa merusak suatu hubungan yang jika suatu hari di masa depan kita pertanyakan, bagaimana hal sepele bisa kita biarkan begitu saja merusak apa yang sudah kita punya.

Kehilangan sesuatu terkadang efeknya lebih sedikit daripada kehilangan seseorang, terutama jika orang-orang tersebut memberikan arti dalam hidup kita. Namun apakah kita harus terus menyalahkan kehilangan atas ketidakmampuan kita memilih untuk bereaksi dengan lebih baik? Setiap orang dalam hidup ini pasti pernah kehilangan, baik itu skala besar ataupun skala kecil, tetapi efeknya sangat berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Mengapa berbeda? ini kembali kepada bagaimana individu itu memutuskan untuk bersikap ketika kehilangan itu terjadi, bagaimana mengambil langkah dikala sebuah situasi yang dihindari banyak orang menghampiri. Apakah keputusan dan pengambilan langkah untuk bereaksi itu bisa dipelajari? Tentu saja bisa, karena kita sebagai manusia diberikan kemampuan untuk belajar dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menggali ilmu bagaimana caranya untuk menghadapi segala sesuatu dan tantangan yang ada di hadapan kita. Seperti yang saya sudah bahas sebelumnya bahwa menurut saya, kita sebagai manusia yang diberikan ijin untuk membayar karma di dunia adalah pelajar-pelajar di Universitas Kehidupan. Apakah tugas utama seorang pelajar? Menurut saya ya belajar, baik itu secara lahir dan bathin dan tidak terpaku pada satu hal saja, namun secara keseluruhan sebagai sebuah perjalanan yang akan ada akhir ketika raga sudah tidak bisa dilihat, namun perjalanan abadi setelahnya mengikuti.

Mungkin ada sebagian (atau bahkan semua) tidak setuju dengan perumpamaan yang saya tuliskan tentang kehidupan kita (sebagai pelajar di Universitas Kehidupan) di dunia ini dan saya kira itu hal yang wajar, karena setiap individu tentu saja memiliki hak untuk menggambarkan dan mencari sebuah perumpamaan sederhana yang nantinya bisa digunakan sebagai acuan untuk memudahkan kita untuk mengerti kejadian-kejadian yang kita alami selama diijinkan bernafas oleh Sang Maha Kuasa. Saya memilih menggambarkannya sebagai sebuah universitas, itu untuk memudahkan saja baik itu untuk diri saya sendiri (ketika saya kebingungan), keluarga dan kepada orang-orang yang ada di sekitar saya karena bagaimanapun setiap orang yang mampir, tinggal atau pergi di kehidupan saya, mengenal arti kata pelajar.

Kembali pada kata kehilangan, bagi saya ini adalah salah satu dari sekian banyak pelajaran yang bisa kita gali maknanya, mengerti dan menolong kita untuk menjadi pelajar (manusia) yang lebih baik lagi. Dengan belajar tentang kehilangan, tanpa kita sadari kita juga bisa (jika ada keinginan) mengambil mata pelajaran lain yaitu melepaskan. Belajar kehilangan dan belajar melepaskan adalah 2 mata kuliah yang saling berhubungan, namun apakah kita bisa mengambil satu persatu? Tentu saja bisa karena sekali lagi, kita dibebaskan untuk memilih mata pelajaran apa saja yang kita ijinkan diri kita sendiri untuk belajar. Terus bedanya dimana? Menurut saya, yang berbeda adalah proses belajar kedua hal tersebut, berapa lama kita bisa mengerti akan ilmu tersebut kembali lagi akan berlabuh pada kemampuan masing-masing individu. Kemauan dari diri sendiri untuk mengatakan bahwa ’saya bisa dan mampu’.

Kali ini saya ingin berbagi dengan menggunakan diri saya (lagi) sebagai contoh, mengapa? Karena saya mengetahui dengan pasti bagaimana proses yang sudah saya jalani. Saya pernah terpuruk dari beberapa kehilangan di kehidupan saya, terutama ketika saya kehilangan orang-orang yang saya hargai dan mempunyai nilai di kehidupan saya. Namun sedikit demi sedikit saya bisa mengatasi kesedihan akan kehilangan tersebut. Pertama kali, bisa dikatakan saya terpuruk bertahun-tahun, sampai ingin rasanya menanyakan pada Tuhan kenapa saya harus merasakan kehilangan yang dalam. Ketika di sebuah kehilangan, ego saya menyuruh saya menyalahkan Tuhan, di sanalah saya merasa tertampar dan mendapatkan kekuatan untuk memaafkan diri saya yang sempat lancang memiliki keinginan untuk mendengarkan ego dan memutuskan untuk belajar walaupun tertatih tentang sebuah kehilangan. Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa berada di jenjang ini, dimana saya bisa melepaskan tanpa keterpurukan. Pelajaran tentang karma pun sangat menolong saya untuk menjalani prosesnya dengan lebih lapang. Kalau dulu saya bisa menangis berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sekarang saya hanya bersedih beberapa menit saja dan ikhlas menerima bahwa ini bagian dari karma yang harus saya bayar. Semakin banyak karma yang saya bayar lunas, maka semakin saya terbebas dari hutang kehidupan.

Apakah dengan ini saya menjadi orang yang tega dan acuh? Saya kira tidak, saya hanya melepaskan hutang karma dan memberikan fokus saya kepada karma lain yang harus saya bayar. Keyakinan yang saya miliki, kehilangan akan datang saat karma kita sudah terbayar lunas, baik itu kita inginkan atau tidak. Kita tidak bisa mengikat orang lain untuk bersama kita seterusnya karena prinsip yang saya tuliskan sebelumnya. Saya dipertemukan oleh orang-orang di kehidupan saya ini karena ada karma yang harus saya bayar, namun begitu karma itu lunas maka orang-orang tersebut akan menghilang satu persatu baik dengan sebab atau tanpa sebab, baik itu saya inginkan atau tidak. Dulu saya masih akan mencoba untuk mempertahankan dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak kehilangan, namun sekarang saya sudah belajar melepaskan mereka dengan senyuman. Ini juga salah satu kelegaan yang pernah saya tuliskan di postingan saya sebelumnya, kelegaan yang saya rasakan karena saya telah berhasil melunasi salah satu karma saya. Namun saya tidak menutup kemungkinan orang-orang tersebut kembali lagi dalam kehidupan saya di masa depan, kenapa? Karena saya percaya, jika ada karma yang belum tuntas maka kami akan dipertemukan lagi dengan catatan Tuhan mengijinkannya itu terjadi.

Jujur saya masih harus banyak belajar tentang kehilangan, saya masih merasa bahwa ilmu saya masih dangkal dan masih banyak yang harus saya pelajari. Kemampuan saya untuk mengijinkan diri sendiri untuk bersedih dalam hitungan menit (dan bukan bulan atau tahun) dan kemudian tersenyum melepaskan merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang, proses yang melewati pahatan-pahatan serta sayatan yang terkadang membuat saya ingin menyerah, namun sekali lagi pelajaran-pelajaran saya (terutama tentang karma) sebelumnya menguatkan saya untuk menjalani dan menikmati setiap langkah hingga saya seperti sekarang ini. Saya yakin, mata kuliah kehilangan akan saya ambil lagi di masa depan, namun sebelum hal itu terjadi, saya akan membekali diri dengan beberapa mata kuliah lain yang nantinya menopang saya untuk menjalani proses kehilangan tersebut dengan lebih lapang hingga kelegaan bisa saya dapatkan (mungkin) tanpa kesedihan suatu saat nanti. Ini tugas saya selanjutnya sebagai pelajar di Universitas Kehidupan kali ini.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Kehilangan adalah sebuah pembelajaran yang nantinya akan menuntunmu untuk mengerti bahwa kamu akan sendiri pada akhirnya ketika Tuhan mengijinkanmu menghadapNYA untuk mempertanggungjawabkan kesempatan yang DIA berikan padamu di kehidupan kali ini”.

 

Haninge, 14082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Gadis Kecil dan Pembelaan Diri

Kota Stockholm pada musim pandemi corona ini terlihat sepi, jalan-jalan yang biasanya dipenuhi orang-orang yang lalu lalang sekedar untuk melihat-lihat di berbagai macam toko yang berjejer rapi di jalanan utama ibu kota negeri kulkas ini, sekarang terlihat lengang walaupun matahari bersinar dengan cerahnya. Kuajak kaki ini melangkah menelusuri jalan yang mungkin sudah aku lalui beribu-ribu kali, namun terasa begitu baru seperti aku pertama kali melewatinya. Memang semenjak pindah ke kampung di Haninge, saya jarang pergi ke pusat kota, selain karena kesibukan baik itu sebagai ibu dan istri, saya juga lebih memilih pergi ke hutan kecil di dekat rumah dimana saya bisa berjalan-jalan sambil ditemani burung, serangga dan binatang lainnya. Namun kali ini sebelum saya mengunjungi salah satu tempat favorit saya, kangen rasanya menelusuri sudut-sudut kota yang saya kenal sejak tahun 2008. Hari ini memang rencana saya menghabiskan waktu di Skansen, salah satu museum terbuka yang menyimpan rumah-rumah dari berbagai tahun yang diambil dari beberapa daerah di Swedia. Museum ini akan buka jam 10 pagi dan saya masih punya waktu 1 jam lagi sebelum menginjakkan kaki di sana. Dengan matahari yang menyapa dengan ceria, keinginan saya untuk berjalan kaki ke Skansen dari pusat kota semakin besar, hari yang begitu indah ini akan lebih nikmat jika benar-benar diresapi dalam setiap ayunan langkah.

”Boleh aku ikut?”

Tiba-tiba tangan mungil menggandeng tanganku dan aku sudah tahu pasti siapa pemilik tangan itu. Gadis kecil yang kini memakai celana pendek, baju kemeja lengan pendek dan rambut sebahunya tergerai indah ditiup angin.

”Kamu apa kabar? Memangnya kamu tadi darimana?”

Aku menjawab tanyanya dengan pertanyaan lain. Sampai saat ini masih saja aku dibuat bingung olehnya, karena aku tidak pernah mengetahui kapan aku akan bertemu dengan gadis kecil ini atau harus berapa lama aku menunggu dia datang. Jujur, kadang aku rindu kehadirannya namun seperti yang aku bilang, gadis ini tidak bisa disuruh atau diminta datang semauku. Aku menghargai kebebasan yang dia punya, jikapun rindu menumpuk ingin bercengkerama dengannya, aku hibur diriku bahwa dia baik-baik saja dan masih ingin terbang bebas, berkelana hingga suatu saat dia akan datang. Mungkin ketika dia datang, dia juga memiliki rindu yang sama denganku.

”Baik, lagi ada pertanyaan nih yang membuat penasaran. Kita mulai ngobrolnya sambil jalan ya, kan Skansen lumayan jauh, siapa tahu begitu masuk Skansen kita udah kelar sama satu topik.”

Seperti biasa, aku ijinkan dia mengambil keputusan karena sepertinya ide tersebut bagus untuk kami lakukan. Kayaknya topik kali ini berat, mungkin seberat tugu air dan udara yang ada di jalan menuju ke jembatan yang menghubungkan pulau ini ke pulau kecil dimana museum yang akan kami tuju berada.

”Kamu pernah ga dituduh atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan?”

”Sering. Memang ada yang menuduh kamu tanpa kamu melakukan kesalahan itu?”

”Iya nih, terus boleh berbagi ga gimana caramu membela diri?”

”Terkadang aku membela diri namun seringnya aku hanya membiarkan saja tanpa berusaha untuk menjelaskan apapun ataupun menyiapkan pembelaan.”

”Kenapa begitu?” Tanyanya dengan alis sedikit berkerut dan hampir menyatu di tengah satu sama lain.

Aku tersenyum sebelum melanjutkan apa maksudku dengan jawabanku sebelumnya. Geli melihat mukanya yang mungil itu penuh tanya dan menunggu jawaban dengan nada tak sabar di suaranya. Sengaja aku pelankan waktu untuk menjawabnya, keisenganku mulai muncul.

”Untuk membela diri, aku biasanya akan mempertimbangkan apakah pembelaanku dan waktu yang aku pakai membela diri itu akan berguna atau tidak. Apakah yang aku bela itu berharga di kehidupanku atau tidak, karena untuk apa aku menghabiskan waktu memberikan pembelaan kepada suatu hal yang tidak berharga dalam kehidupan? Bukankah lebih baik aku pakai waktuku untuk hal-hal yang lebih berharga. Lagian, pernah dengar kalimat… yang menyayangimu tidak memerlukannya, sedangkan yang membencimu tidak akan mempercayainya… nah begitu juga pembelaan. Yang menyayangimu akan mengerti kamu dan tidak memerlukan pembelaan darimu sedangkan yang membencimu tidak akan pernah mau mendengar ataupun mempercayai pembelaanmu itu. Aku belajar banyak beberapa tahun belakangan ini dan sudah bisa lebih melihat kapan aku harus membela diri dan kapan aku lepaskan saja.”

Mata kecilnya terbelalak, sepertinya dia kaget mendengar penjelasanku dan benar saja, tak lama aku dengar protesnya dalam tanya.

”Tapi, kalau kamu tidak membela diri, bukankah mereka yang menuduhmu akan punya bukti bahwa kamu memang salah sedangkan kamu tidak melakukan kesalahan tersebut!”

”Begini sayang, kalau aku sudah melepaskan itu artinya aku tidak akan pernah rasa lagi. Melepaskan bagiku adalah rasa yang sudah hilang, apapun yang nantinya terjadi setelah aku melepaskan tidak akan bisa dan tidak aku ijinkan untuk mempengaruhi hidupku lagi. Jadi, sederhananya ya aku sudah tidak peduli lagi apa kata orang-orang tersebut. Biarkan mereka punya opini, pendapat dan pandangan yang berbagai macam, itu hak mereka dan aku tidak punya hak dan kontrol akan reaksi mereka. Ijinkan mereka memilih karma mereka sendiri, jangan dihalangi. Apapun itu, baik atau buruk pikiran mereka bukan kita yang menentukan, kita pilih saja karma yang kita siap menerima konsekuensinya baik itu karma baik atau buruk. Kalaupun atas seijin Tuhan, kita dipertemukan lagi oleh karma, biarlah itu menjadi rahasia saat ini karena aku yakin, apapun reaksi kita saat itu adalah hasil pembelajaran dan hasil dari proses yang kita jalani sekarang. Aku biasanya akan menikmati dan menerima apapun keputusanku dan menghargai diriku dengan memberikan fokus ke hal-hal yang bisa aku kerjakan dan hal-hal yang aku bisa belajar tentang hidup ketika aku berada di jalan tersebut.”

”Ahaaaa, sekarang baru aku mengerti, terima kasih!”

Senyumnya melebar dan aku lihat binar matanya, sepertinya aku bisa melihat kalau dia mengerti lebih jelas akan maksudku tentang prinsip pembelaan diri.

Terkadang, kita memang dihadapkan oleh pilihan sulit antara keinginan untuk membela diri dan menjelaskan yang sesungguhnya atau melepaskan dan bersikap acuh serta siap menerima konsekuensi atas tidak adanya pembelaan diri. Sebagai manusia, tentu saja saya sering menghadapi hal seperti ini, namun saya sudah belajar banyak untuk berdamai dan tidak terlalu mengutamakan pembelaan diri dalam hal-hal yang tidak akan mempengaruhi hidup saya di masa depan. Belajar melepaskan, toh pada  akhirnya kita akan sendiri seperti saat kita lahir dan melihat dunia pertama kali. Aksi dan reaksi adalah yang kita ambil adalah tanggung jawab kita, baik kepada diri sendiri, pada karma dan pada Sang Pemilik Nafas. Saya tidak mau membuang-buang waktu, apalagi orang-orang sudah memiliki benci pada saya tidak akan mau mempercayai apa yang saya katakan, di mata mereka saya akan tetap salah. Jadi pantaskah saya berikan waktu saya yang berharga buat mereka? Jawaban saya jelas TIDAK!

Hidup ini milik saya, perjalanan membayar karma adalah jalan saya sendiri, orang-orang yang saya temui akan menjadi bagian namun bukan pengambil keputusan dan bukan orang yang bertanggungjawab di akhir nanti. Pengertian ini yang membuat saya bisa menerima jika orang-orang yang saya temui di pengembaraan kali ini, banyak yang membenci dan tidak suka dengan saya dan kehidupan yang saya jalani. Saya kira wajar karena sekali lagi, saya tidak bisa membahagiakan semua orang dan saya hidup bukan untuk menjalani karma orang lain, bukan untuk mendapat persetujuan orang lain untuk melangkah. Yang menjadi milik saya tidak akan pernah hilang atau meninggalkan saya, mereka mungkin kadang tidak nampak dan tidak ada di samping saya, namun mereka akan menerima saya dengan ketidaksempurnaan saya, begitu juga saya akan menerima mereka dengan ketidaksempurnaan mereka. Mencari bekal yang cukup adalah hal yang saya ingin capai dan kalau untuk mencapai itu saya harus dibenci, dijauhi, difitnah, dicaci atau apapun itu…saya akan menerimanya, saya akan menempuh jalan itu karena membawa bekal yang cukup untuk menghadapNYA lebih penting dari sebuah sapaan semu atau tikaman belati di punggung.

Tanpa saya sadari, gadis kecil itu sudah menghilang bahkan ketika langkah ini belum sampai di Skansen. Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya yang bukan pertama kali meninggalkan saya tanpa pamit, kebiasaan yang sebenarnya bisa saja menjengkelkan namun saya menikmatinya. Entahlah apakah saya sudah bisa dikategorikan orang yang aneh, saya sendiri tidak tahu… biarlah orang yang menilai.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Kamu sudah belajar untuk memilih pertempuran mana yang perlu kamu bela dan pertempuran mana yang harus kamu lepaskan. Aksi dan reaksimu ada di tanganmu dan bukan orang lain, jangan takut mengambil keputusan walaupun kamu sendirian nantinya. Tentukan langkah yang bisa kamu pertanggungjawabkan jika ragamu siap meninggalkan perjalanan karma untuk melanjutkan perjalanan untuk mempertanggungjawabkan apa yang kamu lakukan ketika diberi kepercayaan lahir sebagai manusia.”

 

Haninge, 13082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Bau Dupa dan Arti Mimpi

”Dul, gua kok mimpi dihias ya. Cantik kali gua nok di mimpi, katanya sih mau pentas nari tapi ga sampe pentas kok. Riasannya sudah lengkap. Kenapa je ya? Trus waktu gua baru bangun jeg hidung gua bauin dupa lagi nok, sampe ga bisa tidur lagi. Padahal itu mimpi 2 hari yang lalu eh bau dupanya masih aja ngejar gua sampe kemarin malam lu. Hihihihihi sekarang kiyap mata gua nok.”

”Badaaaah, ga bagus itu artinya, bakalana da masalah itu, lu dikasi peringatan biar siap-siap.”

Sepenggal percakapan dengan kakak tersayang di Bali, yang selama pandemi ini bisa saya telepon sesuka hati dan dia tidak pernah menolak kecuali saat sedang tidur atau lagi keluar rumah. Sering kami saling berbagi, berdiskusi dan mencoba untuk menguatkan masing-masing dikala kami butuh dukungan selain dari suami dan anak. Kakak saya ini sebenarnya secara pemikiran berada di tengah, tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Orangnya cuek, bertolak belakang dengan saya yang menurut dia, jelas-jelas menggambarkan kambing yang cepat panas dan keras kepala. Selama pandemi ini, saya belajar banyak dari dia, beberapa trik dan tips baru untuk tetap bisa berada di rel yang seharusnya dan yang sudah saya rencanakan pada perjalanan kali ini.

Sebenarnya bisa saja tidak ambil pusing dengan mimpi tersebut, namun karena disertai bau dupa yang kuat dan yang tidak mau pergi walaupun saya sudah memohon dengan sangat, saya akhirnya menyiapkan diri untuk sesuatu yang mungkin tidak akan saya sukai. Sepertinya saya sudah diperingatkan bahwa sakit, lagi dalam perjalanan untuk mampir ke tempat saya. Ternyata benar, apa yang diprediksi kakak menjadi kenyataan, untungnya saya sudah diijinkan menyiapkan diri sebelumnya. Benar saja sakit mengetuk pintu saya, seperti biasa, saya biarkan saja dia masuk sebentar karena ternyata pelajaran yang saya dapatkan hari itu sangat berharga, baik itu untuk saya saat ini dan juga di masa depan. Seperti biasa, sakit pamit setelah mata saya terbuka dan dalam diam saya menyusun kembali beberapa daftar yang tercecer kesana-kemari.

Menata kembali hati dari sebuah keterkejutan dan mencoba memahami bahwa Tuhan ingin saya belajar, perlahan saya mulai tersenyum. Saya berterima kasih diberikan ijin menerima mata kuliah tambahan yang tidak pernah saya rencanakan untuk mengambilnya saat ini. Saya disuruh berhenti sebentar, menarik nafas dan sebelum mengibaskan debu-debu yang hampir berada di seluruh bagian tubuh. Menulis dan menulis lagi, mempertimbangkan, berdiskusi dengan diri sendiri, langkah apa yang terbaik yang saya akan ambil setelah kejadian ini. Apakah ini sudah sesuai dengan nilai yang saya pegang, apakah saya mampu nantinya memperdalam mata kuliah ini di ke depannya? Menghitung efek apa yang nanti saya, suami dan putri kami dapatkan jika saya mengambil keputusan dari A, B, C dan seterusnya. Apakah saya siap nantinya dengan banyak pertanyaan dari luar? Apakah saya mampu untuk berkata ’cukup’ saat diperlukan? Masih banyak pertanyaan yang saya tanyakan pada diri sendiri…

Yang abadi adalah perubahan dan itu sudah dibuktikan berkali-kali. Apakah kita harus takut dengan perubahan? Tidak,…santai sajalah karena perubahan akan selalu ada, seperti bayangan yang akan mengikuti kita dan mengintai. Bahkan bayangan pun berubah sesuai dengan berubahnya arah matahari, jadi penerimaan adalah kuncinya sebelum melepaskan sesuatu yang memang kita tidak bisa pertahankan. Apakah itu artinya saya menyerah? Tidak, saya memilih untuk memohon maaf karena keacuhan saya kepada diri sendiri dan segala peringatan yang saya hiraukan, hingga keputusan untuk mengatakan cukup dan melangkah ke halaman baru di buku kehidupan. Lega karena saya sudah membayar lunas hutang karma saya, bukankah semakin banyak yang kita lunasi maka semakin banyak waktu untuk fokus kepada karma yang lain. Saya tersayat hari itu, namun saya yakin, sayatan itu yang akan membentuk saya menjadi patung yang nantinya siap untuk dipersembahkan kepada Sang Pemilik. Sepertinya ijin Tuhan sudah turun, berawal dari mimpi, bau dupa yang tak henti sampai akhirnya mata saya terbuka dan memutuskan untuk mengambil jalan lain kali ini. Kelihatannya terjal, namun di setiap kerikil yang ada, akan ada pelajaran yang bisa saya petik. Seperti setiap sayatan yang memberikan arti dalam walaupun tidak bisa saya prediksi kapan datangnya.

Ini bukan pertama kali saya dikepung bau dupa yang tidak berkesudahan dan diberikan peringatan lewat mimpi. Terkadang ingin meyakinkan diri bahwa mimpi adalah bunga tidur dan tidak berarti apa-apa. Namun jika saya tidak memiliki persiapan, apakah sakit akan diam lebih lama menemani saya? Atau…saya akan baik-baik saja seperti sekarang walaupun kenyataan pahit itu ada di depan mata? Saya tidak tahu jawabnya, yang saya tahu adalah saya beruntung diberikan kesempatan untuk menyiapkan diri, mengingat-ngingat mata kuliah tentang sakit, penerimaan dan keikhlasan yang akan membantu saya bagaimana untuk bereaksi. Rasa syukur ada suami dan anak saya yang memberikan pelukan damai mereka yang meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya, terima kasih juga pada kakak saya yang sudah membantu saya mengartikan mimpi yang saya punya. Bau dupa dan arti mimpi tidak selalu seperti yang kita harapkan namun darinya kita bisa belajar mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Saya sudah diberikan sebuah gambaran dari akhir salah satu bab dalam buku kehidupan kali ini dan bab baru sudah menanti saya. Saya yakin, di bab baru akan ada semakin banyak pembelajaran yang bisa dipetik baik itu dari manusia ataupun alam yang ada di sekitar saya. Ketika sakit sudah menutup pintu rumah saya untuk pergi, maka lega menggantikannya. Terima kasih sudah memberitahu saya dan menolong saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, terima kasih sudah mengijinkan saya membayar tunai karma saya.  Terima kasih sudah memberikan saya tambahan waktu lewat mimpi dan bau dupa untuk bisa bersiap akan mata kuliah hari itu.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Bersyukurlah jika mimpi dan dupa membantumu lewat caranya yang unik untuk mencari dan mempertimbangkan langkah kakimu jika debu itu sudah terbang dari tubuhmu. Tegakkan kepalamu karena perubahan tidak akan membunuhmu namun akan memberikan makna di perjalananmu kali ini.”

 

Haninge 12082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , , | Leave a comment

Gadis Kecil dan Pertemanan

Matahari bersinar cerah dan dengan indahnya menghiasi setiap hijau di pojok taman yang ada di belakang rumah. Taman dimana aku menghabiskan banyak waktu baik itu sendiri ataupun bersama keluarga. Seperti hari ini, aku duduk berjemur di tikar lipat yang sering kami pergunakan untuk piknik sambil tanganku sibuk merajut badan boneka dari salah satu perancang amigurumi kesukaanku. Suara dengung lebah yang ramai mengelilingi ungunya bunga lavender kesayangan, samar-samar kucium baunya yang menenangkan. Damai dalam kesendirian hari ini, sebelum…

”Hei, lagi sibuk?”

Seorang gadis kecil tiba-tiba duduk di sampingku sambil memainkan benang warna warni yang teronggok di sekitar tas merajutku. Apakah aku terlalu tenggelam dalam rajutanku sehingga kehadirannya tidak aku ketahui. Aku sendiri tidak bisa memprediksi kapan dan dimana gadis mungil ini ingin datang dan menyapaku, namun sepertinya kami akan mengobrol lagi, setelah aku melihat pancar keingintahuan yang maha besar dari matanya.

”Tidak juga, hanya menghabiskan waktu sebentar sekalian melemaskan tangan agar motorik halus tetap terlatih. Faktor umur, jadi banyak latihan yang harus dilakukan agar badan tidak kaku dan masih bisa digunakan sebaik-baiknya”.

Aku menjawabnya bersamaan dengan tanganku meletakkan benang dan jarum rajut yang ada di tangan. Senyum termanis aku berikan padanya, aku mengijinkan dia menanyakan apapun yang ingin dia ketahui. Toh kami sudah tahu satu sama lain berpuluh-puluh tahun lamanya, walaupun dia terkadang tidak sering aku jumpai namun akan muncul ketika kami saling membutuhkan.

”Aku dengar banyak yang tidak suka berteman denganmu karena kata mereka kamu bermulut pedas. Pastinya kamu sudah dengar tentang kabar itu, bukan? Tapi sejauh aku lihat, kamu tidak terpengaruh sama sekali dengan omongan mereka, bahkan kamu tidak kelihatan sedih ketika mereka memilih menjauh darimu. Boleh aku tahu kenapa?”

Kuberikan pelukan hangatku sebelum aku melanjutkan membuka mata gadis kecil ini tentang siapa aku.

”Aku seseorang yang tidak suka berpura-pura, dalam artian kalau aku tidak suka, aku akan mengatakan tidak suka secara jujur. Kalau menurutku itu salah dan tidak sesuai dengan nilai yang aku pegang, maka aku akan bersuara lantang. Tidak jarang aku berkata keras kepada orang yang dulunya menganggap aku teman, karena aku tahu mereka bisa, karena aku ingin mereka tumbuh bersamaku. Namun aku mengerti, sering kali kata keras yang aku lontarkan kepada orang-orang tersebut dinilai terlalu pedas, dinilai kasar, dinilai terlalu melewati dan menginjak harga diri mereka, terkadang kejujuran yang aku ungkapkan menjadi bom yang mereka tidak suka dan memilih untuk melemparkan bom itu kembali padaku. Niatku untuk tumbuh bersama mereka, niatku untuk memberikan semangat karena aku tahu mereka mampu, dinilai salah. Aku belajar bahwa menerima itu dengan hati lapang, menerima bahwa mereka tidak suka caraku, ikhlas melepaskan mereka untuk berjalan menjauh dari jalanku. Kabar itu sudah sering aku dengar, bagiku itu bukan kabar baru. Kenapa aku tidak sedih atau terpengaruh? Karena aku tahu mereka punya pilihan, sama seperti aku yang yakin akan pilihanku baik dalam bersikap dan aku tidak bisa memakai topeng hanya untuk menyenangkan mereka. Yang aku tawarkan adalah tumbuh bersama yang artinya kita bisa saling berdiskusi, saling mengingatkan dan saling menyangga satu sama lain dalam kondisi apapun. Namun jika bagi mereka itu tidak bisa mereka lakukan ya aku akan menghargai pilihan mereka. Jujur, bagiku tidak ada gunanya memaksa seseorang menjadi teman kita karena pada akhirnya nanti, sesuatu yang dipaksakan tidak akan bisa bertahan lama. Teman yang dikirim dan diijinkan oleh Tuhan menjadi teman sejatimu, akan mampu menerima kepedasan kata-katamu, begitu juga sebaliknya karena jika kita ditakdirkan berteman maka kita akan sanggup mengerti ada apa dibalik sebuah kepedasan, kekerasan kata atau kejujuran tersebut ”.

Aku melihat senyum tipis di bibirnya, membuat aku sedikit curiga, apa gadis ini sedang mengujiku atau sedang menyalurkan rasa ingin tahunya.

Seseorang yang kita temui dalam perjalanan kita ada 2 macam, antara mereka adalah berkat (blessing) atau pelajaran (lesson). Keduanya sama-sama memberikan makna yang dalam, keduanya mewakili karma baik dan karma buruk. Jika karma baik kita datang, maka orang tersebut akan menjadi berkat dalam kehidupan kita dimana pasti ada damai dan kebahagiaan di dalamnya. Namun jika karma buruk menghampiri dan pelajaran yang kita dapat, damai dan kebahagiaan juga ada di sana namun disertai dengan mata kuliah yang lain, terkadang sakit, melepaskan, ketidakadilan, dan sebagainya. Keduanya akan mendatangkan syukur dan terima kasih yang tidak terhingga (setidaknya buatku) dan akan memberi warna tersendiri di buku kehidupan kita, seperti pelangi yang indah karena paduan berbagai macam warna. Ibaratnya ketika orang yang kita temui itu adalah berkat maka orang tersebut seperti minyak/air yang digunakan untuk memoles atau membasuh patung sehingga terlihat lebih indah. Sedangkan ketika orang tersebut adalah sebuah pelajaran, ibaratnya mereka adalah sayatan yang juga akan membuat hasil patung yang indah, namun tentu saja ada bonus pelajaran lain di dalamnya. Semoga dari penjelasan ini kita mengerti bahwa hasil akhir adalah sebuah patung, namun proses yang membuatnya berbeda makna.

Jalan kehidupan ini hanyalah milikmu seorang (seperti kata kakakku tersayang di Bali sana) jadi kita yang menjalani dan kita juga lah yang nantinya akan mempertanggungjawabkannya, sendiri di alam pengadilan dimana hanya ada kita dan Sang Pencipta. Kita tidak bisa menyeret orang lain ke dalam langkah-langkah yang kita sudah ambil, kita tidak bisa menyalahkan mereka (yang datang sebagai pelajaran) sebagai biang keladi dari karma buruk kita. Hanya kita dan diri kita yang memegang tongkat dan menuliskan karma kita di kehidupan kali ini. Mereka, baik yang datang sebagai berkat maupun pelajaran adalah bagian dari sebuah proses kita dalam pembayaran karma dan bukan sebagai aktor pemeran utama ataupun pemeran pengganti. Mereka naskah yang dikirimkan Tuhan, namun reaksi kita yang dihitung akan naskah yang sudah ada di genggaman. Apakah kita bisa mengubah naskah? Saya kira bisa, jika kita mau, yakin dan berusaha namun yang terpenting adalah jika Tuhan mengijinkan. Tanpa ijin dariNYA, perjalanan kita tidak akan bermakna.

Pemahaman-pemahaman inilah yang menjadi dasar mengapa aku tidak pernah sedih, marah atau kecewa jika dijauhi teman. Landasan yang membuat aku kuat, bukan hanya terlihat kuat, namun kuat yang sesungguhnya walaupun banyak cemooh dan hinaan menghampiri. Kehilangan, diacuhkan, ditinggalkan, dijauhi teman bukanlah sebuah akhir dari perjalanan namun aku menganggapnya sebagai bab yang sudah tertutup dan berarti kita akan memasuki bab yang baru. Entah di bab baru itu akan ada teman ataupun tidak di dalamnya, satu hal yang pasti proses menjalani karma dan pembelajaran di Universitas Kehidupan akan terus berlangsung hingga kita mencapai bab terakhir, bab penutup yang bisa kita lihat seberapa bekal yang kita punya menghadap Sang Pemilik Jiwa.

Gadis kecil itu memberikan pelukan hangat padaku, senyum lebar terpampang di wajah kecoklatan miliknya. Bisik lirih di telingaku…

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Berkat dan pembelajaran yang akan kau dapatkan dari orang-orang yang kau temui di perjalanan karma kali ini akan sama-sama menghasilkan sebuah patung. Dirimu yang menentukan seberapa dalam sayatan dan polesan yang engkau inginkan dan ijinkan menyentuh tubuh dan hatimu. Di akhir nanti akan kau lihat sendiri, seberapa banyak bekal yang kau kumpulkan untuk perjalanan keabadianmu atas bantuan kedua hal itu. Engkau yang memegang kendali dalam kapal ini, engkau yang memegang pena untuk menuliskan kisah pembelajaranmu dan mata kuliah apa saja yang sudah dan ingin kamu tempuh di Universitas Kehidupan pada kesempatan ini”.

”Aku bangga padamu!”

Kalimat terakhir dari bibir mungilnya sebelum dia menghilang dari hadapanku. Kepergiannya diiringi senyuman lebar dan kerling mata nakal. Aaaaaahhh… kenapa aku merasa bahwa dia mengujiku ya?!

 

Haninge 11082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , | Leave a comment

Berteman dengan Sakit

Terkadang kita berusaha menghindar ketika rasa sakit menghampiri dan ingin duduk sejenak bersama, namun sejatinya rasa sakit mengajarkan banyak hal yang kita tidak ketahui sebelumnya. Dulu saya pernah marah dan tidak terima ketika sakit datang entah itu dari sesuatu yang saya ketahui sebelumnya ataupun sesuatu yang datang tiba-tiba, namun sedikit demi sedikit saya belajar. Seiring dengan belajar lebih dalam tentang karma itu sendiri yang mungkin sedang membayar buruk baik tingkah, laku dan ucap yang sudah saya perbuat sebelumnya. Butuh waktu bertahun-tahun dan sayatan demi sayatan yang akhirnya mengijinkan saya berteman dengan sakit, sehingga ketika sakit datang, saya sudah menerimanya dengan senyum dan juga kelegaan.

Kenapa kelegaan? Itu artinya saya sudah mengurangi karma buruk dengan jalan membayarnya lunas. Walaupun terkadang air mata masih menemani namun hanya sebentar saja karena ketika saya tahu bahwa saya membayar lunas karma saya maka kelegaan dengan sendirinya membuat saya tersenyum dan berterima kasih karena sudah diijinkan membayar sekarang, saat saya mampu. Entah kenapa, bagi saya selalu saja ada makna setiap sakit datang, menemani saya sejenak. Sakit mengingatkan saya bahwa saya masih harus banyak belajar, masih banyak salah, masih banyak yang harus diperbaiki. Saya akui kadang ego ingin membakar saya, mengajak saya memusuhi sakit dan marah, rasa tidak terima buncah dan ingin rasanya memuntahkan dan menyalahkan keadaan, namun beberapa tahun belakangan ini, saya sudah bisa berdamai dan memilih menerima sakit dengan segala pembelajaran di dalamnya. Mungkin orang akan menilai saya aneh, jika saya bilang kalau saya berteman dan berdamai dengan sakit, namun biarlah orang menilai saya, mereka berhak memiliki pikiran, nilai dan memilih reaksi apa yang mereka berikan pada saya, saya terima sebagai pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.

Saya tidak bisa membahagiakan semua orang dan saya masih manusia, sedih tentu saja hal pertama yang menghampiri ketika saya rasakan sakit berada di depan pintu rumah saya, bahkan tak jarang kaget pun mengikuti tapi sekali lagi saya belajar dari sakit bahwa tidak ada yang tersia-sia. Kadang tanya menghampiri dan ingin mencari jawabnya, namun saya (sering) memutuskan untuk melepaskan saja apa yang ada di luar kontrol saya. Bukan berarti saya tidak bisa membela diri, namun apakah dengan membela diri saya merasa lebih baik? Ataukah dengan melepaskan akan memberikan saya ketenangan. Hal yang selalu menenangkan saya adalah pikir tentang saya sedang menjalankan karma saya dan di balik semua kejadian yang saya alami, ada ijin Tuhan di baliknya dan ketika saya tahu dan menyadarinya, saya beryukur bahwa saya diberikan ijin untuk menempuh ujian lagi, diperingatkan lagi, dibukakan mata lagi. Yang saya bisa lakukan adalah memohon maaf dan jika maaf juga belum cukup maka saya serahkan semuanya kepada karma, saya akan berhenti sebentar sebelum saya bangkit dan melangkah lagi.

Seperti postingan saya sebelumnya akan belajar bertahan di pandemi ini, ketika sakit menghampiri saya juga diajarkan untuk bertahan, mengambil nafas dan mengajak kembali gadis kecil dalam diri saya untuk bangkit berdiri, mengibaskan debu yang saya dapatkan saat terjatuh dan melangkah lagi. Banyak pelajaran lain yang saya dapatkan dari sakit yaitu belajar melepaskan. Sebenarnya ini saling berkaitan antara pembelajaran lebih dalam akan karma, cara bertahan, melepaskan, berteman dengan rasa sakit dan akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Entah mengapa sepertinya ke 5 mata pelajaran ini saling silih berganti menghampiri saya beberapa tahun belakangan ini, baik itu mereka datang satu persatu, ataupun sekaligus dan saya beruntung karena sampai saat ini masih diijinkan untuk terus belajar lebih dalam lagi, lebih keras lagi. Saya beruntung ada P dan A disamping saya yang sangat mengerti kapan memberikan waktu bagi jemari saya untuk menari tanpa beban, menuliskan jejak-jejak saya, dengan harapan suatu saat nanti, A akan bisa membacanya dan bisa menelusuri jalan yang pernah saya lalui, belajar lebih dalam tentang perjalanan karma mamanya yang tidak sempurna ini.

Saya (mungkin) masih akan menuliskan banyak cerita tentang bagaimana saya mendalami 5 mata pelajaran yang saat ini saya ambil di Universitas Kehidupan dimana saya sebagai pelajar dengan ketidaksempurnaan yang menjadi dasarnya. Selama Tuhan masih mengijinkan saya untuk menggali ilmu tentang bidang-bidang tersebut, akan saya lanjutkan dengan rasa syukur yang tiada terhingga. Seperti yang saya yakini, setiap kejadian di jalan yang saya tempuh, sudah atas seijin Tuhan, dan sebagai ciptaanNYA, saya berusaha mengumpulkan bekal untuk perjalanan saya selanjutnya ketika raga saya sudah menunaikan tugasnya. Ini adalah bagian dari perjalanan karma di kehidupan saya kali ini.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Sakit tidak akan merendahkanmu namun ia akan membantumu mengerti dirimu dan menguatkanmu untuk bangkit dan melangkah lagi”

 

Haninge, 10082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , | 1 Comment

Gadis Kecil, Kesendirian dan Kesepian

Seorang gadis kecil duduk di depanku, menatapku saat aku asik menuliskan dan membiarkan jemariku menari di papan-papan huruf di depanku. Pikiranku tentu saja tidak terfokus ke wajah mungilnya, namun lebih mengembara bersama kata demi kata yang ingin aku rangkaikan. Aku hampir saja melupakan keberadaannya ketika dari bibirnya yang mungil kudengar…

”Kamu pernah merasa sendiri?”

”Sering” jawabku singkat masih mencoba untuk tidak kehilangan fokus tentang apa yang akan aku tulis di lembaran kosong di layar komputerku.

”Kalau merasa kesepian?” tanyanya lagi namun kali ini matanya menatapku lebih tajam.

Aku balas menatap bola matanya yang coklat kehitaman sembari menghentikan gerakan jemariku,

”Tidak pernah sekalipun” jawabku dengan senyuman.

Rasa berdosa menghampiri karena aku merasa telah mengacuhkannya sedangkan dia sepertinya ingin mengobrol lebih banyak lagi. Kututup saja layar komputerku dan bersiap memberikan waktuku untuknya, mungkin ada hal yang kami berdua harus pelajari berdua dengan diskusi dan obrolan ringan.

Dia menatapku acuh dan memperbaiki posisi duduknya. Memainkan rambutnya yang hampir menyentuh pundaknya, kelihatan sekali dia memberikan aku kesempatan untuk mengambil botol air yang berwarna kuning, mengisinya dengan air putih dari keran dan bersiap duduk di hadapannya. Benar saja, ketika aku sudah nyaman berada di salah satu kursi kayu yang sudah berumur pulhan tahun, si gadis kecil ini melanjutkan keingintahuannya.

”Katamu, tidak pernah sekalipun merasa kesepian walaupun kamu sering sendirian, bisa dijelaskan maksudmu karena sepertinya itu tidak masuk akal sama sekali. Bukankah kesendirian itu erat berhubungan dengan kesepian dan juga sebaliknya?”

”Kesepian itu amat sangat berbeda dengan kesendirian, ini menurutku yaaaa, ini pendapat pribadiku. Kita bisa saja sendiri namun tidak merasa sepi, namun kita bisa kesepian di tengah keramaian. Kesendirian itu biasanya pilihan yang kita ambil secara sadar dan terkadang kita menginginkan kesendirian tersebut sesekali dalam kehidupan yang kita jalani ini. Namun kesepian itu biasanya sesuatu yang tidak kita sadari sebelumnya, namun perlahan-lahan ada tanpa kita bisa cegah atau hindari. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kamu bisa saja merasa kesepian saat kamu berada diantara banyak orang, baik itu teman, saudara atau bahkan dalam sebuah konser musik sekalipun. Jadi aku sering dan menikmati saat aku sendiri karena biasanya dengan kesendirian aku bisa berhenti sejenak, melihat apa saja yang sudah aku lakukan dan hal-hal apa yang ingin aku lakukan. Bahkan dengan kesendirian biasanya aku mengisi lagi baterai dan semangat yang mungkin sudah terkuras sebelumnya dan berada di titik terbawah. Aku belum pernah merasa kesepian, aku sendiri tidak tahu kenapa. Hmmmm, mungkin karena aku nyaman sendiri? Mungkin juga ya, atau mungkin karena aku bahagia dengan apa yang aku miliki. Hidup, aku lihat bukan sebuah beban namun sebuah perjalanan seorang pelajar yang sedang menimba ilmu dengan melewati berbagai proses baik itu baik dan buruk di Universitas Kehidupan. Ini kemungkinan yang aku bisa pikirkan saat ini. Nanti deh, kalau aku menemukan kemungkinan lain, aku akan panggil kamu lagi dan akan aku kabarkan.”

Dia masih terdiam, namun matanya menerawang sepertinya dia berada di dunianya. Apakah dia mengerti apa yang sudah aku jabarkan? Melihatnya seperti itu, ada keinginan untuk memberinya lebih banyak pengertian akan makna kesendirian dan kesepian bagiku, setidaknya. Mungkin saja dia mendengar penjelasan yang lain dan sekarang berada dalam pertimbangan yang mana yang harus dia dengar dan simpan. Semoga saja dia bisa mengerti apapun informasi yang nanti diputuskannya untuk dipakai dan diterapkan di perjalanannya menuntaskan tugas.

Aku termasuk orang yang sebenarnya suka menyendiri, bukan sekarang saja namun sejak aku kecil. Mengapa aku bilang aku tidak pernah merasa kesepian, karena ada alam yang selalu siap menemaniku. Dulu, laut di dekat rumah adalah teman sejati yang menemaniku mencari jawab setiap tanya yang ada, teman yang menghapus air mataku dengan caranya sendiri, teman yang terkadang menolong aku menemukan makna yang sedang aku cari, teman yang menerimaku tanpa persyaratan apapun. Aaaahhh… aku jadi kangen laut itu! Di rumah keduaku, tanaman adalah pengganti laut yang tidak aku dapatkan. Terkadang aku bisa menghabiskan waktuku bercerita dengan tanaman yang aku punya, begitu juga jarum rajut yang dengan setia menemaniku mengembara dalam benak, walaupun aku sering berada sendirian di rumah, aku tidak pernah kesepian. Pernah aku dengar bahwa kesepian itu adalah suatu kondisi yang tidak mengenakkan, merasa sepi walaupun berada dalam keramaian. Merasa sepi walaupun memiliki banyak teman dan saudara, mungkin keadaan itu lebih susah daripada kesendirian itu sendiri. Jujur, dalam kesendirian aku belajar banyak, berusaha memperbaiki kesalahan dan dosa yang aku buat, mencoba mencari jalan terbaik untuk mengumpulkan tulisan-tulisan pertanggungjawaban yang nantinya akan aku bawa menghadapNYA. Aku menikmati keberadaanku dalam kesendirian, tidak sepi karena selalu saja ada teman (laut, air, tanaman, jarum rajut dan benang) yang bisa aku andalkan dimana komunikasi yang kami punya unik dan tidak tergantikan. Sendiri bukan berarti sepi, karena menurutku toh nantinya aku akan sendiri saat liang lahat atau lautan mengantarkanku ke gerbang awal perjalananku selanjutnya.

Gadis kecil itu masih tampak merenungkan apa yang aku katakan, raut wajahnya masih datar namun matanya mengatakan hal lain. Aku ambil botol minum di depanku dan menenggak setengah dari isinya. Ada bimbang dalam diri, apakah harus aku diam atau aku buyarkan keasikannya berkelana dalam diam?

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Jangan takut akan kesendirian karena sejatinya dalam kesendirian engkau akan temukan dirimu seutuhnya. Walaupun suatu saat kesepian menyapamu, yakinlah bahwa kamu bisa berteman dan mampu melepas kesepian itu dengan mudah, jika waktunya tepat dan ada mau dalam niatmu”

 

Haninge 08082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020 | Tagged , , | Leave a comment

Belajar Untuk Bertahan Bagian Kedua

Bagian pertama bisa dilihat di sini yaaaaa…

Lanjut lagi, sisi positif yang lainnya adalah saya jadi banyak waktu untuk mencoba hal-hal baru seperti berkebun dengan hidroponik yang sebelumnya belum kepikiran untuk mencoba walaupun sudah sering mendengar. Bagaimana awalnya? Begini, selama pandemi corona, saya susah menemukan kangkung dan tauge yang biasanya saya bisa beli di Toko Thailand yang berlokasi di dekat rumah. Lumayan bingung juga pertama kali, iseng melihat di YouTube dan akhirnya mendapatkan inspirasi ketika ke gudang dan menemukan bibit kangkung yang dibeli beberapa tahun yang lalu. Daripada bibir tersebut dibuang percuma, maka keisengan saya berlanjut dan mencoba menanam walaupun saya tidak yakin bahwa bisa tumbuh. Ternyata bisa dan walaupun kangkungnya tidak tumbuh sempurna namun cukup untuk dimakan 1 kali makan malam. Dari kangkung, keisengan saya berlanjut dengan membuat Eco Enzyme, sebuah inovasi yang baru saya ketahui akhir-akhir ini yang sebenarnya sangat mudah pembuatannya. Setelah membaca sana sini, saya jadi tahu bahwa kegunaan Enzo (sebutan saya buat Eco Enzyme yang saya buat) sangat banyak yaitu selain bisa sebagai pupuk tanaman, bisa juga digunakan untuk pembersih lantai, dll. Semakin semangatlah saya membuatnya, walaupun terus terang saya tidak tahu apakah percobaan Enzo saya bisa berhasil atau tidak. Ini tinggal sebulan lagi, maka saya bisa memanen Enzo tahap pertama saya. Keisengan saya semakin merambah, jadi selain kangkung saya juga membuat tauge dari kacang hijau dan dari kedelai, hasilnya sangat memuaskan. Dari hasil ngobrol ngalur ngidul sama Maming (kakak saya nomor 3) kami menemukan beberapa resep bumbu yang mengingatkan kami akan masakan ibu dan masakan favorit masa kecil kami (nanti saya akan ceritakan terpisah). Sampai saat tulisan ini dibuat, saya rutin membuat kecambah kedelai yang dipanen setiap 3-4 hari sekali dan belum putus karena saya sangat suka akan satu sayur masa kecil yang bernama rambanan.

2 bulan yang lalu, taman di bagian depan rumah kami ditumbuhi banyak lumut sehingga tidak ada rumput yang tersisa. Kami memutuskan untuk mengganti saja keseluruhan taman dengan rumput baru. Biasanya kami bisa membeli rumput yang sudah jadi dan dijual gulungan, namun karena setelah menelepon toko tempat membeli dan ternyata harus menunggu beberapa minggu karena mereka kehabisan persediaan, maka kami memberanikan diri untuk mencoba menanam rumput dari benih. Ini pertama kali kami mencoba, mengapa berani? Karena kebetulan saya punya banyak waktu untuk menjaga dan memperhatikan pertumbuhan benih-benih tersebut dan perhitungan lain adalah, kalaupun gagal kami selalu bisa kembali membeli rumput jadi. Kami kerjakan bersama-sama, pertama-tama Papa P dan saya mencabut semua lumut yang ada, kemudian saya, A dan Indira (keponakan saya, anaknya kakak nomor 3 yang bekerja di Swedia) memberikan pupuk, menebarkan benih rumput dan menutup permukaan seluruh taman dengan tanah baru. Hasilnya? Rumput di taman depan sangat bagus dan kami sangat puas walaupun di minggu-minggu pertama, saya harus menyiram di malam hari setiap 2 hari sekali karena cuaca sangat panas dan tanah menjadi kering. Kenapa menyiram malam hari? Karena kalau menyiram sebelum jam 9 malam, air akan cepat menguap dan itu artinya membuang banyak air. Atas pertimbangan itu pula, jam 9 malam adalah rutinitas untuk memberikan minum kepada benih-benih rumput baru tersebut. Ini juga menjadi salah satu nilai positif, karena kalau kami masih bekerja, mungkin kami akan membeli rumput jadi dan melewatkan kebahagiaan ketika kami melihat rumput-rumput baru tumbuh dengan suburnya. Percayalah, kebahagiaan itu sederhana kok, melihat rumput baru tumbuh (A menyebutnya bayi rumput) saja sudah membuat kami tersenyum dan berteriak bahagia, eh…atau ini cuma kami aja yang receh ya, yang sudah bahagia hanya melihat rumput *nyengir lebar*.

Apalagi hal positif lainnya? Saya jadi punya banyak waktu untuk merajut *ketawa lebar* yang dulunya saya harus berbagi antara pekerjaan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai guru dan baru sebagai Deni yang terkadang porsi sebagai Deni akan menjadi bagian terakhir setelah beberapa peran di atas. Namun di masa pandemi ini, porsi sebagai Deni naik menjadi peringkat ketiga dan memiliki jatah waktu lebih banyak yang artinya saya bisa merajut lebih banyak dan melakukan hal-hal yang selama ini masih hanya dalam daftar tunggu. Berkebun yang dulunya seadanya, sekarang saya bisa sedikit berlama-lama. Mencoba resep baru terutama makanan Bali juga merupakan sebuah kenikmatan yang saya sangat hargai. Bahkan saya mendapatkan masukan dan ide untuk mencoba tanaman liar yang rasanya seperti bayam untuk dimasak dan ternyata bikin ketagihan apalagi tanaman liar yang bernama ’Kirskål’ aka Ground Elder ini banyak sekali saya temukan di sekitar tempat saya tinggal terutama di hutan kecil di dekat taman bermain. Hampir setiap hari saya memetik dan lumayan untuk menambah kalau mau masak sayur urab Bali atau masakan yang lainnya.

Saya beruntung diijinkan untuk melihat lebih banyak sisi positif selama pandemi ini dan diberikan banyak waktu untuk belajar menggali potensi diri yang dulu tidak pernah saya pikirkan kalau saya bisa lakukan. Bagi saya, untuk dapat belajar bertahan dan memilih bereaksi positif itu merupakan pelajaran yang sangat berharga, baik itu bagi saya sendiri, bagi suami saya dan juga menjadi contoh bagi putri kami. A juga akhirnya ketularan belajar bertahan dan reaksinya diluar dugaan saya. Contohnya?

Saat A tahu bahwa waktu bermain dengan temannya di sekolah berkurang, dia sempat protes namun setelah dijelaskan dan melihat bahwa ada sisi positif (lebih banyak waktu sama Mama dan Papa) di balik berkurangnya jam main dengan teman, A menerima dengan senang hati dan bahkan terkadang dia meminta ijin untuk tidak sekolah untuk bisa membantu saya di kebun atau hanya sekedar ke hutan mencari bayam liar dan bersepeda sambil piknik. Begitu pula saat A tahu kalau ada kemungkinan dia tidak bisa ketemu Farmor dan Farfar lama (sekitar hampir 8 bulan dan yang biasanya kami bertemu setiap 4-6 minggu sekali), sempat sedih tapi setelah diberi penjelasan dia menerima dan menikmati sekali saat berbicara lewat telepon atau ketemu lewat video call saja. Bahkan ketika rencana pesta ulang tahunnya bulan lalu harus dibatalkan, tanpa diberi penjelasan dia sudah mengerti dan melihat sisi positifnya, yaitu setelah dirayakan dengan bernyanyi bersama di kelas, dilanjutkan dengan menghabiskan waktu berdua sama mamanya dari membeli hadiah yang diinginkan, makan siang dan diajak membuat kue kesukaannya sambil ngobrol ngalur ngidul. Permintaannya pun sederhana untuk ukuran anak kecil ultah, pancake berbentuk monyet. Walaupun mamanya bukan orang yang pintar membuat kue, pancake buatan saya sudah cukup membuatnya tertawa bahagia karena bagi dia keinginannya tercapai mendapatkan tema monyet untuk ultahnya.

Jadi sebenarnya reaksi yang kita pilih bisa menular atau menyebar ke orang-orang di sekitar kita terutama keluarga dekat yang bersama kita setiap harinya. Jika kita memilih bereaksi positif maka secara tidak langsung anggota keluarga kita akan merasakannya dan akan merasa tenang dan akhirnya bereaksi positif juga tanpa kita paksakan. Seperti contoh di atas, bahkan A yang baru saja berulang tahun ke 6 sudah bisa melihat sisi positif dari sebuah situasi yang menimbulkan rasa sedih. Jadi yakinlah, selalu ada sinar terang di ujung terowongan yang gelap, tentu saja jika kita mau mencari dan mau berusaha mencari sumber cahaya tersebut.

Kita semua tidak pernah tahu dan yakin kapan pastinya virus corona ini bersama kita dan kapan kehidupan kembali berjalan mendekati sebelum adanya pandemi ini, namun kita diberi pilihan untuk belajar bertahan, belajar menjadi petarung dan bukan pecundang (jika kita mau dan yakin) dan belajar banyak hal serta belajar bagaimana bereaksi terhadap situasi yang tidak menentu ini. Belajar melihat sisi positif dari setiap situasi bahkan yang keadaan yang menyedihkan sekalipun. Jika kita berhasil lulus dari cobaan ini maka niscaya kita akan mendapatkan bekal yang bisa kita gunakan di masa depan. Saat ini Tuhan memberikan kita waktu yang banyak untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya teronggok dalam daftar karena terbatasnya waktu, maka manfaatkan lah sebelum Tuhan mengijinkan kita sibuk kembali dengan pekerjaan yang kita punya sebelum wabah ini ada. Mungkin Tuhan sedang menjawab keluhan yang mungkin kita lontarkan, bukankah kata-kata seperti…

”Waaaah, aku ga ada waktu nih buat…..”

”Duuuuh, andaikan 1 hari itu bisa lebih dari 24 jam jadi bisa….”

”Cepet banget sih waktu berjalan, gua kan belum sempat melakukan….”

”….bla…bla…bla…”

….dan masih banyak lagi, sering kita dengar atau bahkan katakan, seolah-olah waktu yang diberikan selama ini kurang untuk melakukan semua yang kita ingin lakukan. Sekarang Tuhan sudah secara tidak langsung menjawab doa/harapan kita maka pergunakanlah sebelum nantinya kesempatan kita berkurang untuk menyenangkan diri sendiri.

Mungkin juga Ibu Pertiwi sedang memulihkan kondisinya yang sudah dirusak oleh manusia. Ini mungkin salah satu cara Tuhan mengijinkan Ibu Pertiwi untuk beristirahat yang cukup, memulihkan energi, memberikan pelajaran pada semua mahluk bahwa kita harus saling menjaga. Virus ini ada karena Tuhan mengijinkan dia ada, seperti Tuhan mengijinkan setiap kejadian yang baik dan buruk terjadi dalam kehidupan kita. Jika sudah seijinNYA, siapakah kita bisa menolak dan mempertanyakan keputusan Sang Maha Kuasa. Kita sudah diberikan kesempatan, pergunakanlah untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik atau yang terbaik dari yang terburuk. Hargailah setiap kesempatan yang kita punya, sesakit apapun itu karena selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dan kita ambil sebagai bekal untuk mengambil keputusan di masa depan.

Di masa pandemi corona…bertahan adalah pelajaran berharga yang kita dapatkan untuk melanjutkan langkah kita di perjalanan selanjutnya. Untuk menetapkan langkah apa yang harus kita ambil, jika Tuhan mengijinkan corona mereda dan kita kembali menikmati hal-hal yang sempat hiatus selama wabah ini melanda. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan Tuhan. Selamat berkarya dan menggali potensi diri lebih dalam lagi, kita pasti bisa 😊

Haninge, 07082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Jejak 2020 | Tagged , | Leave a comment

Belajar Untuk Bertahan

Di masa pandemi corona, banyak pelajaran yang kita dapatkan dalam segala hal di perjalanan kali ini. Kita semua sama-sama belajar satu hal penting, pelajaran paling berharga yang sering kita acuhkan atau mencoba untuk mengesampingkannya, pelajaran bagaimana caranya bertahan.

Bertahan dalam segala bentuk keadaan yang kehidupan sodorkan di depan kita. Pelajaran bagaimana bertahan dalam guncangan badai, baik itu badai kecil ataupun badai besar di masa dimana ketidakpastian adalah sesuatu yang kita mencoba untuk berdamai. Di masa dimana virus bernama corona diijinkan Tuhan untuk memberikan kita waktu untuk belajar, memberikan kita waktu untuk berhenti sejenak, memberikan Ibu Pertiwi waktu untuk memulihkan kesehatannya yang telah turun merosot seiring waktu. Pelajaran yang membuat kita sedikit bingung pada awalnya bagaimana harus bereaksi dan sampai sekarang pun masih ada keraguan bagi mereka yang belum menemukan reaksi apa yang bisa mereka berikan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bertahan dengan sisi negatif atau bertahan di sisi positif? Pilihan itu ada pada setiap individu yang memperoleh kesempatan kali ini untuk mengalami pandemi yang bukan saja mendera di satu atau dua negara, namun telah menjejakkan kakinya di hampir seantero dunia.

Bukan hanya kita sebagai individu yang harus belajar bertahan, namun organisasi, perusahaan bahkan negara pun dipaksa untuk belajar bersama kita, bagaimana bertahan kali ini. Kita lihat betapa setiap negara memiliki kebijakan masing-masing yang terkadang sama atau bahkan berbeda satu sama lain. Benar dan tidaknya tentu saja dikondisikan dengan keadaan tiap negara dan tentu saja tidak ada yang 100 persen puas akan keputusan yang sudah diambil. Menurut saya itu wajar saja, karena bukankah kita semua tahu bahwa kita tidak bisa membahagiakan semua orang. Dalam kehidupan pasti selalu saja ada orang-orang yang tidak puas dan akan menjadi oposisi, karena apa? Karena Tuhan mengijinkan, sehingga kita tetap diberikan kesempatan untuk waspada dan selalu belajar untuk memperbaiki diri di setiap harinya, di setiap tindakan dan langkah yang kita ambil. Mereka ada untuk membuat kita mempertimbangkan setiap reaksi kita untuk menentukan kemana langkah kita tujukan selanjutnya. Apakah kita harus selalu mendengarkan oposisi? Itu kembali pada diri kita, dimana kita diberikan waktu untuk belajar memilah, kapan kita mendengarkan, mana yang penting yang harus didengarkan dan diikuti, mana yang hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri atau bahkan mana yang harus kita acuhkan. Banyak pelajaran yang Tuhan ingin kita belajar dan mengerti.

Seperti mata uang, saya juga mendapatkan dampak negatif dan positif dari pandemi corona kali ini. Namun, kalau boleh saya bilang, dampak negatifnya sangat sedikit dibandingkan dampak positif yang lebih banyak saya dan keluarga rasakan. Saya bahas dampak negatif dulu yaaaa…

Kehilangan pekerjaan adalah salah satu dampak negatif yang saya terima. Untuk mencari pekerjaan pengganti pun sangat sulit karena banyak perusahaan mencoba untuk berhemat dan mengurangi pegawai mereka. Apakah saya sedih? Tidak juga, tapi ini bukan berarti saya sombong atau takabur namun saya melihatnya dari sisi positif bahwa saya menjadi punya lebih banyak waktu bersama keluarga terutama kesempatan untuk melakukan berbagai aktifitas bersama putri kami yang sebentar lagi akan memasuki perjalanan yang baru di sekolah peralihan sebelum masuk sekolah dasar. Namun bukan berarti saya tidak mencoba mencari kerja sama sekali, tentu saja saya tetap berusaha mengirim lamaran ke berbagai Taman Kanak-kanak namun saya tidak ’ngoyo’ atau ngotot karena saya mengerti bahwa dalam situasi yang spesial ini, saya belajar untuk bertahan. Sisi negatif lainnya adalah kami tidak bisa bertemu dengan mertua karena biasanya kami bertemu setiap 4-6 minggu sekali dan kali ini perjumpaan itu sudah tertunda lebih dari 8 bulan. Tentu saja ada kerinduan yang sangat dalam namun kami harus bersabar, bertahan dan mengerti bahwa keputusan untuk tidak bertemu adalah demi kebaikan kedua sisi. Mertua berada dalam grup dimana kemungkinan untuk tertular cukup tinggi dan sampai akhirnya kami bisa bertemu beberapa minggu yang lalu dengan kondisi yang tidak seperti biasanya (nanti saya ceritakan khusus di postingan sendiri) Kami masih berharap virus ini cepat menuntaskan tugasnya dan memberikan ruang kepada kita semua untuk menjalani kehidupan seperti biasa walaupun nantinya tidak akan sama seperti sebelum corona menyapa.

Seperti saya bilang sebelumnya bahwa banyak sisi positif yang saya ambil dari pandemi ini. Pelajaran demi pelajaran yang berharga yang nantinya bisa menolong saya di kehidupan saya di masa depan. Apa saja sisi positif tersebut?

Kesempatan untuk meluangkan waktu bersama baik itu dengan suami, anak dan bahkan keluarga saya di Bali, terutama dengan kakak nomor 3. Papa P biasanya bekerja lebih banyak di luar negeri dibandingkan dengan di Swedia karena memang kebetulan pekerjaannya saat ini lebih banyak mengharuskan dia menghabiskan waktu di negara-negara selain Swedia. Saat ini Papa P jadi lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya di rumah dengan artian walaupun bekerja, kami masih bisa makan siang dan makan malam bersama, atau bahkan dia masih sempat bermain dengan A walaupun hanya 10-30 menit setelah makan siang atau saat ada waktu jeda. Membantu saya di taman atau hanya sekedar minum kopi bersama sambil mendiskusikan hal-hal apa saja yang akan kami lakukan, baik itu kegiatan bersama A atau merapikan bagian rumah yang harus dibenahi. Waktu bersama Papa P sangat berharga bagi kami terutama untuk A, karena dia yang selama ini sering kangen kalau Papa P lagi tidak ada di rumah. Karena saya berstatus sebagai pengangguran, maka A hanya boleh berada di Taman Kanak-kanak selama 15 jam per minggu yang sebelumnya 40 jam. Kami jadi lebih banyak meluangkan waktu lebih banyak dari biasanya, saya pun berkesempatakan untuk berbincang dengan A, menjawab pertanyaannya, berbagi tentang masa kecil saya, hingga berdiskusi tentang hal-hal yang bagi saya cukup mengejutkan. A juga berkesempatan membantu saya lebih banyak di rumah, dari membersihkan kamarnya dan kamar kami, ruang tamu hingga kamar Farmor/Farfar yang kali ini sering menjadi kamar dimana saya dan A menonton TV program kesayangannya yaitu Beast Master di Netflix. Kesempatan ini tidak bisa kami beli dengan uang karena terlalu berharga untuk bisa tergantikan dengan materi. Nilai positif terbesar yang nantinya akan kami kenang dan kami yakin sangat berarti bagi A dalam melanjutkan perjalanannya di masa depan.

Secara fisik, saya memang tidak ada di Bali namun karena corona, saya merasa kalau saat ini Bali sangat dekat, kenapa? Karena saya bisa mengobrol dengan kakak saya nomor 3 hampir setiap hari. Biasanya kami hanya bisa bersapa seminggu sekali dan itu pun kalau kami tidak berhalangan, kalau masing-masing lagi keluar rumah, maka obrolan kami akan tertunda hingga beberapa minggu. Bukan hanya karena perbedaan waktu, kesibukan masing-masing juga kadang menjadikan waktu menjadi sedikit sulit untuk didapatkan untuk saling bersua walaupun hanya di dunia maya, kami sudah puas. Corona memberikan kami kesempatan untuk lebih sering mengobrol, dari hal-hal yang konyol sampai hal-hal yang serius. Berbagi sedih dan tawa bahkan bersama anak, keponakan-keponakan dan sepupu, kami mendapatkan waktu untuk saling menggoda satu sama lain. Sebuah nilai positif yang nantinya mungkin sulit kami dapatkan saat kegiatan kami kembali normal, bersamaan dengan kewajiban sebagai murid dan pekerja di bidang masing-masing. Maka selama situasi masih mengijinkan, kami akan menikmati kebersamaan ini.

Nilai positif lain? Saya lanjutkan ke postingan selanjutnya yaaaa….takutnya ini kepanjangan kalau dituliskan jadi satu *nyengir lebar*

 

Haninge, 06082020

Posted in 2020, catatan perjalanan, Jejak 2020 | Tagged , | 1 Comment

Kegiatan Harian Ketika Wabah Corona Melanda

Hari ke 5 kami berada di Stockholm dalam situasi yang masih terasa tidak biasa, dimana virus yang bernama corona masih ingin memperlihatkan bahwa kita tidak boleh jumawa. Jika Tuhan mengijinkan maka tidak ada seorang manusiapun bisa menghalangi kehendakNYA, walaupun dalam situasi seperti ini masih saja ada manusia yang mengira bahwa dia mengetahui lebih dari Sang Maha Pencipta.

Miris? Iya, namun sebagai manusia saya hanya bisa menghela nafas dan mengingatkan diri sendiri bahwa setiap orang berbeda dan saya sebaiknya memilih bagaimana saya bereaksi. Apa yang bisa saya bagikan, akan saya tuliskan dan ceritakan, apakah akan diterima atau tidak? Itu sudah menjadi bagian dari sesuatu yang tidak bisa saya kontrol karena setiap manusia akan mengintepretasikan berbeda sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Kali ini saya ingin berbagi, apa saja yang kami lakukan sehari-hari ketika wabah kali ini menyapa hampir setiap penjuru dunia.

Di Swedia, dalam situasi tak biasa ini, bisa dibilang masih normal. Tidak ada yang namanya lockdown namun hanya anjuran untuk social distancing, mengurangi kegiatan yang tidak perlu di luar rumah dan juga menjaga kebersihan dan kesehatan. Hanya SMA dan Universitas saja yang sudah ditutup dan diberlakukan pembelajaran online, selebihnya masih buka. Kami (saya dan A) yang baru saja datang dari Bali hari Selasa kemarin memutuskan bahwa A tidak akan masuk ke pre-school nya minimal 2 minggu sejak kami menjejakkan kaki kembali di Stockholm. Ini kesadaran kami sebagai bagian dari masyarakat untuk mendengarkan, mengerti dan melaksanakan apa yang menjadi anjuran pemerintah. Kebetulan saya juga sudah selesai bekerja sebelum kami pulang liburan ke Bali, jadi kemungkinan saya akan berkegiatan di rumah saja sampai nanti setelah hari raya Paskah seperti yang kami rencanakan sebelumnya.

Social distancing, mengenai hal ini kami sudah memberitahukan A mengenai hal ini dan Puji Tuhan dia mengerti mengapa dia tidak bisa langsung pergi bertemu dengan teman-temannya di sekolah yang sudah dia rindukan selama ini. Namun, setiap hari kami masih berjalan-jalan di luar rumah sekedar untuk mencari udara segar dan tentu saja kami pergi ke tempat-tempat dimana orang-orangnya sedikit atau tidak ada orang sama sekali. Kebetulan kami tinggal di daerah dimana ada hutan kecil di belakang rumah dan tempat bermainnya pun lumayan luas, jadi ketika kami menghabiskan waktu di luar, kami hanya bertemu sekali saja dengan tetangga yang juga menghirup udara segar. Kami masih berbicara namun dengan jarak kira-kira 2 meter antara 1 dengan yang lainnya, karena kami sama-sama mengerti apa yang seharusnya kami lakukan dalam situasi seperti ini.

Seperti hari ini, hutan kecil sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali. Kebetulan saya mengetahui bahwa organisasi Friluftsfrämjandet  aka Swedish Outdoor Association punya tantangan untuk tetap aktif dan sehat di alam untuk segala usia. Tantangan itu sudah memasuki hari ke 5 maka dari itu, kami melakukan semua tantangan hari ini. Apa saja tantangannya? Berjalan sambil menjada keseimbangan di sebuah batu atau pohon yang sudah tumbang dan tergeletak di tanah, diam dan tidak bersuara sambil mendengarkan apa saja yang bisa di dengar ketika berada di alam terbuka, membuat permainan tick-tack-toe mempergunakan kayu/ranting yang sudah jatuh di tanah atau melempar batu atau ranting ke ember untuk anak yang lebih kecil, menemukan 3 hal yang berawalan dengan huruf B dan masih banyak lagi. Kalau memang tertarik, bisa melihat di Instagram saya @demaodyssey bagaimana kami melakukan tantangan tersebut.

Pasti ada yang penasaran, katanya diam di rumah kok masih keluar? Begini, di Swedia, dianjurkan setiap hari kami keluar rumah untuk menghirup udara segar, apalagi setelah seharian berada di rumah. Tiada hari tanpa keluar rumah dan udara segar menjadi salah satu bagian terpenting yang bisa menambah daya tahan tubuh apalagi saat matahari bersinar cerah seperti hari ini. Tidak peduli cuaca apapun, kami pasti keluar rumah setidaknya 30 menit setiap hari. Namun dalam situasi sekarang ini, kami memikirkan dan memilih bagaimana kami menerapkan social distancing ketika kami berada di luar. Apakah tidak cukup berada di halaman belakang rumah saja? Sebenarnya cukup, tapi seperti yang saya jelaskan di atas bahwa kami tinggal di area dimana ada hutan kecil dan taman yang lumayan besar, jadi kemungkinan untuk berada di kerumunan itu sangat kecil. Jadi masih aman untuk tidak menulari atau tertulari oleh orang lain, tentu saja kami mencuci tangan sebelum keluar dan sesudah sampai di rumah.

P bekerja dari rumah sudah beberapa minggu sebelum kami tiba dan untuk saat ini memang dia yang bertugas untuk membeli beberapa bahan seperti susu, sayur dan buah karena saya masih memutuskan untuk tidak pergi ke tempat ramai selama 2 minggu setelah kepulangan kami. Puji Tuhan, di 2 toko bahan makanan di dekat rumah masih lengkap semuanya dan sepertinya tidak ada yang menimbun makanan kering atau sejenisnya. Namun, saya mendengar dari P bahwa supermarket terbesar tempat dimana kami biasanya belanja sudah ada yang memborong tissue toilet dan bahan kering, jadi ada beberapa rak yang terlihat kosong. Kami kebetulan masih punya persediaan sebelum wabah corona ini dan terus terang kami tidak begitu kawatir dan tidak panik untuk memborong bahan makanan. Kebetulan kami punya bahan makanan seperti daging moose hasil dari perburuan tahun lalu, begitu pula ikan salmon hasil tangkapan mertua. Jadi bisa dibilang kami memiliki persediaan cukup untuk mengantipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami punya beberapa bibit sayur mayur seperti kangkung, salad dan wortel yang bisa kami tanam dan panen pada waktunya.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu berubah dalam keseharian kami, kecuali melihat P ada di rumah setiap hari, hal ini kami syukuri karena dengan begitu dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kami. Seperti yang kami yakini, setelah wabah ini berlalu maka kegiatan P diluar negeri akan banyak dan dia akan bepergian seperti biasa, 2-3 minggu per bulan. Makanya kami ambil dan nikmati sisi positif wabah ini yaitu bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama baik itu di dalam atau di luar rumah dibandingkan sebelum ada wabah. Selalu ada pelajaran dan hal-hal yang positif yang bisa diambil dan dipelajari dari setiap kegiatan.

Mari kita bersama ambil dan jalani tugas kita sebagai bagian dari masyarakat dengan mendengarkan, mentaati dan menjalankan anjuran pemerintah dimana kita tinggal. Jangan saling menyalahkan namun mari saling berpegangan tangan untuk bersama-sama menjadi pemutus rantai penyebaran virus corona dengan harapan bahwa wabah ini akan segera berakhir. Lakukan apa yang bisa kita lakukan tanpa membahayakan orang lain baik itu keluarga, teman atau pun orang-orang yang ada di sekitar kita. Jaga kesehatan ya teman-teman semua dimanapun kalian berada dan jaga kebersihan, bersama kita bisa melewati cobaan kali ini.

 

Haninge, demaodyssey 21032020

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pertama di Tahun 2019

Tinggal 2 hari lagi, maka Januari sudah setengah terlewati. Tidak terasa betapa waktu cepat sekali berlalu dan hari ini ingin saja menulis, tentang apa saja yang nantinya muncul di benak. Tadi iseng melihat postingan terakhir di tahun 2018 dan tanggal yang tertera adalah 31 Agustus, itu berarti sudah 4,5 bulan tidak menulis di blog ini sama sekali. Kangen sih sebenarnya ada, ide pun banyak tapi ya itu bisa dibilang kesempatan dan waktu digerus oleh keinginan untuk mencoba hal-hal baru dan juga dihabiskan untuk menemani putri kami terkasih selain juga dihabiskan untuk kerja dan mempersiapkan banyak hal untuk Natal kemarin yang bisa dibilang lumayan ambisius.

Agustus 2018, saya harus berhenti dari tempat kerja saya karena kebetulan perusahaan memutuskan untuk menutup pre-school tersebut. Sebenarnya perusahaan memberikan saya kesempatan untuk bekerja di salah satu pre-school lain di bawah bendera perusahaan namun saya harus menolaknya karena kebetulan pre-school tersebut kebanyakan ada di daerah Utara Stockholm dan saya tinggal di daerah Selatan dan di Kabupaten yang berbeda. Kalaupun saya ambil maka saya harus menghabiskan waktu 3 jam untuk pergi dan pulang nantinya. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan saya ketika mencari pekerjaan yang lain dan Puji Tuhan, 2 minggu sebelum saya selesai di tempat kerja saya yang lama, saya diijinkan untuk mengabdi di salah satu pre-school lumayan dekat dari rumah. Tempat kerja saya yang sekarang hanya berjarak 9,6 km saja dan bisa dicapai dengan mudah baik itu dengan kendaraan umum seperti kereta dan bis, juga bisa dijangkau dengan sepeda ataupun kendaraan pribadi. Tahun 2018 kemarin, kami juga memutuskan bahwa saya akan mengurangi jam kerja saya yang dulunya 100% menjadi 75% saja karena kebetulan P sering bepergian keluar kota, jadi kami ingin A tidak terlalu lama berada di pre-school. Sebenarnya P sudah mulai sering tugas keluar negeri itu sejak awal tahun 2018 dan kami sempat berdiskusi tentang jadual A. Saat itu kami memutuskan untuk mencoba menjalaninya dan ternyata ada banyak kekurangannya karena jika P sedang tidak ada di Stockholm, A harus berada di pre-school nya sejak jam 7 pagi dan kadang saya menjemputnya sekitar jam 5 sore bahkan lebih jika ada gangguan baik itu di transportasi publik ataupun macet di jalan. Ternyata hal ini terasa sekali pada A dan menimbulkan banyak tanya di benak putri kami ini. Saat kami punya kesempatan menjenguk keluarga dari bulan Maret-Juni 2018 kemarin, hampir tiap hari ada diskusi antara A dan saya mengenai keharusan saya bekerja terlalu lama dan perasaan A yang harus tinggal di sekolah lebih lama jika Papa P tidak ada di rumah. Terus terang, kejujuran putri saya mengiris hati saya yang terdalam, saya merasa bersalah telah menghilangkan banyak waktu bersama dia. Maka dari itu, akhir bulan Maret 2018, saya memutuskan untuk mengurangi waktu kerja saya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama A.

Tuhan sepertinya mengerti doa kami karena di bulan Mei 2018, saya mendapat kabar dari kepala sekolah bahwa tempat kerja saya akan ditutup bulan Agustus, itu artinya saya tidak usah mengajukan pengunduran diri. Kami sangat bersyukur akan hal ini dan ketika saya beritahukan A tentang hal ini, saya melihat betapa senangnya dia mendapatkan kesempatan bermain lebih lama sama saya. Sebenarnya setelah berdiskusi, putri kami mengerti kenapa saya bekerja 40 jam per minggu, dia mengatakan bahwa dia hanya ingin mengungkapkan bagaimana perasaan dia yang harus tinggal di sekolah cukup lama setiap harinya. Kami sangat menghargai kejujurannya dan hal ini pula yang menjadi alasan mengapa kami sepakat untuk saya bekerja 75% saja. Saya mulai bekerja di tempat baru bulan September 2018 dan benar saja, ketika saya pertama kali menjemput A jam 3 sore, anak kami ini berlari penuh menyambut saya dengan pelukannya dan senyum lebar. Di rumah kami langsung melakukan prakarya bersama seperti dulu ketika saya masih sekolah dan bekerja hanya paruh waktu. Hati saya meleleh ketika A menatap mata saya dan berkata:

”Mama, den här som jag saknar att göra med dig”

(Mama, hal ini yang saya kangeni untuk dilakukan denganmu)

Saya tersenyum dan memeluknya dan tangan kamipun kembali sibuk bermain dengan warna dan kertas yang ada di meja dapur. Ketika saya kabarkan hal ini kepada P, kami berdua mengerti dan bersyukur bahwa kami mengambil keputusan yang benar. Kebahagiaan A adalah yang utama bagi kami dan sebagai orang tua kami akan melakukan yang terbaik dan berusaha menyesuaikan jadual kami untuk dia, setidaknya sampai A bisa mandiri dan mempunyai kegiatannya sendiri. Kami berpendapat bahwa 6 tahun pertama di kehidupan A adalah tahun emas dimana kami punya kesempatan sepenuhnya untuk meletakkan landasan yang kuat bagi dia untuk berjalan, menjawab tantangan yang ada dan yang paling penting adalah dasar untuk menjadi anak yang bahagia. Kami lega ketika pertemuan orang tua terakhir di tahun ajaran 2018, kami mendapat kabar dari guru-guru A bahwa anak kami adalah anak yang bahagia dan cepat belajar, menuruti aturan dan pengertian, punya timbang rasa yang tinggi terhadap teman-temannya. Bahkan guru-guru A menanyakan kepada kami bagaimana kami mendidik A sehingga A bisa bermain baik itu bersama temannya ataupun sendirian, karena menurut mereka tidak semua anak bisa bermain sendiri dan memiliki fantasi dan bisa mengarang cerita dengan permainan/alat peraga yang ada. Mendengar bagaimana guru-gurunya menjelaskan keseharian A di pre-school nya, ada bangga yang menyusup ke relung yang paling dalam. Kami lega dan bersyukur sejauh ini bisa mendidik A menjadi anak yang bahagia dan pengertian. Ini memberi kami semangat untuk melanjutkan apa yang kami terapkan selama ini.

Tahun 2018, waktu saya di dunia maya bisa dikatakan amat sangat berkurang baik itu di Facebook, Instagram ataupun menulis di blog ini. Alasannya ya seperti yang sudah saya tulis di atas, kesibukan saya sebagai ibu, istri dan guru membuat saya mengesampingkan keinginan saya untuk berinteraksi di dunia maya. Kadang ada rasa kangen menyapa teman-teman yang saya kenal yang berada di berbagai tempat. Namun biasanya rasa kangen itu datang saat saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau saat saya merencanakan kegiatan apa yang akan saya lakukan dengan A setelah pulang sekolah dan kegiatan apa yang saya lakukan dengan anak didik saya di pre-school. Jadi umumnya rasa kangen itu akan terabaikan begitu saja dengan kesibukan tersebut dan saya akan sadar ketika sudah lewat beberapa hari atau berminggu-minggu setelahnya. Mungkin karena itu juga banyak teman yang merasa saya tidak hiraukan, memilih untuk tidak berteman lagi dengan saya. Untuk hal ini, saya mengerti mereka sepenuhnya dan saya tidak menyalahkan mereka sama sekali. Hal ini saya tuangkan ke tulisan terakhir saya yang bisa dibaca di sini  jika teman-teman berkenan membacanya. Bisa disimpulkan teman saya banyak berkurang di tahun 2018 karena satu dan lain hal dan saya tidak menyesalinya ataupun menyalahkan siapapun atau apapun dalam keadaan ini karena saya mengerti bahwa ini bagian dari kehidupan dan karma.

Namun saya banyak belajar di tahun 2018 dan menemukan bahwa saya mampu mempelajari hal yang dulunya saya kira akan butuh waktu lama. Saya berhasil membuat boneka amigurumi saya yang pertama dan bisa dilihat di Instagram saya . Ketika saya menyadari bahwa saya memiliki kemampuan ini, maka saya memutuskan untuk membuat satu persatu isi Advent Calendar buat A di tahun 2018 yang temanya adalah buatan tangan Mama. Maka saya mulai menyiapkan diri dengan menggali sisa benang dan barang-barang bekas yang bisa saya pergunakan untuk membuat 24 barang yang nantinya akan dibuka setiap hari dari tanggal 1 Desember hingga Natal. Jadilah saya membuat sofa dari kotak sisa es krim dan sisa kain batik, tempat tidur, lemari dan perlengkapan kamar dari buku/koran/majalah bekas yang ada di tas daur ulang di dapur, baju, tas, selimut dan boneka rajut dari sisa benang yang tersimpan di gudang, dan masih banyak lagi. Menyiapkan setiap hal tersebut tidak lah mudah karena A selalu berada di samping saya dan menanyakan apa yang saya buat sedangkan barang-barang tersebut tidak seharusnya terlihat. Puji Tuhan saya berhasil menghindari A melihat hasil akhirnya walaupun dia melihat seluruh prosesnya. Hasil-hasil tersebut bisa dilihat di Instagram yang saya miliki yang bernama @demaodyssey . Selama proses menyiapkannya ada semangat yang mengisi setiap detiknya dan percakapan dengan A pun menjadi lebih dalam. Dengan membuat dan menyiapkan Advent Calendar tersebut, saya ingin A mengerti bahwa kami bisa memanfaatkan barang-barang daur ulang yang ada di rumah dan membuat mainan sendiri seperti yang kita inginkan. Ketika melihat mata A membuka tas nomor 1, saya tahu bahwa ada yang sangat bahagia menerima boneka rajutan buatan Mamanya. Meluncur kata sayang dari bibir mungilnya dan apresiasi yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata, cukup membuat saya bersyukur sudah diberikan kesempatan untuk mencoba hal baru yang dulunya tidak pernah saya yakini kalau saya bisa. Setelah Natal, efek dari pembuatan 24 hal tersebut mulai terlihat. Ketika A melihat ada kotak atau kardus bekas, dia akan menyuruh siapa saja yang di dekatnya untuk membantunya menyimpan kardus/kotak tersebut dan berkata bahwa dia dan mama akan menciptakan karya baru bersama. Ketika dia melihat mainan yang ada di majalah ataupun di layar laptop/Ipad, dia akan bertanya apakah saya bisa membuatnya dan jawaban saya hampir selalu sama, bisa dan kita akan membuatnya bersama-sama. Ketika akhir pekan, selalu saja ada waktu untuk duduk berdua dan melihat di Youtube, berbagai macam prakarya dari yang mudah hingga agak susah untuk nantinya kami coba bersama.

Tahun 2018 sekali lagi tahun pembelajaran bagi saya baik sebagai sebuah keluarga maupun sebagai individu dengan kekurangan dan kelebihannya. Tahun 2019 juga tetap menjadi pembelajaran karena bagaimanapun saya masih menjadi murid, pelajar di Universitas Kehidupan. Bahkan 2019 ada niat dan mimpi yang ingin saya kejar dan tangkap, saya sudah mulai menyiapkannya dari sekarang. Namun tidak terlalu berambisi karena fokus kami berdua masih A yang akan menginjak angka 5 musim panas nanti. Salah satu niat saya bahkan mengurangi lagi kerja dari 75% hingga menjadi 50% saja, ada beberapa alasan mendasar di balik keputusan itu. Seperti saya bilang, ambisi tidak terlalu tinggi untuk mewujudkannya, hanya berusahak arena saya yakin jika kita memiliki keinginan dan kita berusaha mewujudkannya, maka alam aka menolong kita. Saya tidak kawatir kalaupun hal tersebut tidak terwujud, selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Semua yang terjadi itu adalah seijin Tuhan dan jika memang hal tersebut adalah hak saya, maka saya akan mendapatkannya, jika tidak itu berarti bukan hak saya namun hak orang lain. Sesederhana itu… salah satu prinsip yang ingin saya tanamkan kepada A.

Semoga teman-teman melalui tahun 2018 dengan baik dan mari kita jalani semua proses di tahun 2019 ini, ijinkan saya mengucapkan Selamat Tahun Baru….walaupun bisa dibilang telat untuk melakukannya. Lebih baik telat daripada tidak sama sekali bukan hehehhe…. Semoga kita bisa berjumpa lagi dalam bentuk tulisan.

 

Tungelsta, dym13012019

Posted in 2019, catatan perjalanan, Januari2019 | Tagged , , , | 2 Comments