Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang Ibu

Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang Ibu“Melihat senyuman di bibir mungilnya saja, itu sudah cukup menghapus semua penat yang ada di tubuh ini.”

Putriku bukan bayi lagi, dia sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria. Gadis kecil yang selalu saja memberikan rasa damai ketika memeluknya, rasa cinta ketika menciumnya, rasa syukur ketika melihat binar di matanya, masih saja mulut ini tak henti berterima kasih, akan anugerah Tuhan pada kami untuk menjadi orang tua gadis kecil yang sekarang tertidur lelap di sampingku.

Menjadi seorang ibu sudah menjadi impianku sejak dulu, bahkan sejak sebelum menikah. Aku sering mendengar cerita dari ibuku, dari kakak-kakakku, dari temanku dan dari beberapa orang yang sempat melintas dalam kehidupanku bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah, butuh suatu pengorbanan yang besar. Namun impian itu sempat kami tunda, karena kami masih ingin menguatkan fondasi yang kami miliki. Setelah menikah 8 tahun, akhirnya kami memutuskan, bahwa kami sudah siap lahir dan bathin. Tahun lalu, saat kami merayakan 9 tahun hidup sebagai suami istri, ada bayi mungil di tengah-tengah kami, sebagai hadiah sebuah perjuangan untuk meletakkan dasar yang kami inginkan untuk diarungi bersama, saat peran kami berubah menjadi orang tua.

Ternyata, benar apa yang aku dengar selama ini, menjadi ibu bukanlah sebuah pekerjaan yang gampang, namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Seiring dengan kerja keras dan pengorbanan yang kita lakukan, ada kebahagiaan di setiap detik yang kita habiskan bersama. Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang IbuKebahagiaan yang buatku tidak akan pernah bisa terbeli dengan uang ataupun emas pertama sekalipun. Sebuah kebahagiaan yang ada karena hal-hal sederhana bahkan terkadang sebuah tindakan konyol atau sekedar mimik muka yang tak berdosa.

Bagiku, kesusahan yang ada terhapuskan dengan sebuah sentuhan tangan-tangan mungil yang mampu memberikan suntikan semangat untuk belajar lagi, untuk berusaha lagi, untuk berharap lagi dan untuk bangun lagi, mengibaskan lelah dan berjalan lagi.

Sebagai manusia, terkadang kelelahan itu menghampiri, terlebih saat salah satu dari kami sakit, atau bahkan semua dari kami sakit. Terkadang mendapat kesempatan tidur 10 menit saja seperti mendapat undian dengan hadiah uang berjuta-juta, atau kesempatan untuk mandi seperti kesempatan menang dalam lomba lari di Olimpiade. Namun, sekali lagi…ketika tangan mungil itu merangkul leherku, ketika kepala dengan wangi rambut yang khas ada di pundakku, ketika senyuman dan binar indah di matanya ada di hadapanku, entah kenapa…aku seperti terlahir sebagai manusia baru. Manusia yang mampu melakukan apapun, bahkan memindahkan gunung sekalipun. Saat kami tenggelam dalam tawa, pertanyaan seperti:

“Kelelahan? Apa itu lelah?”

Akan terjawab jelas:

“Aku tidak mengenal kata itu!”

Melihatnya tertidur nyenyak, kembali kata syukur terucap, siapakah kami hingga Tuhan berkenan menitipkan salah satu malaikat terbaiknya untuk kami jaga, Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang Ibuuntuk kami sayang, untuk kami didik, untuk kami hujani dengan pelukan dan ciuman kapanpun kami mau. Kami adalah manusia yang beruntung!

Menjadi seorang ibu, bagiku adalah sebuah prestasi dalam hidup. Apakah aku bangga? Tentu saja! Apakah aku akan berhenti setelah melahirkan? Tidak, karena menjadi seorang ibu diperlukan komitmen untuk mengutamakan putriku di atas segalanya. Menjadi seorang ibu, bagiku adalah pekerjaan yang aku pilih dan akan terus ada sampai saatnya aku menghadap kembali kepada Pencipta-ku. Pekerjaan yang harus aku berikan yang terbaik dari diriku jika ingin hasil dari pekerjaan itu sesuai dengan impian kami. Seperti pekerjaan yang lain, akan ada beberapa prestasi yang nantinya bisa aku ukir dan banggakan, walaupun prestasi tersebut nantinya tanpa piala atau piagam penghargaan. Prestasi yang akan menciptakan senyum dan membuat rasa bangga membuncah kepada siapa pun yang mengenal keluarga kami, terutama orang-orang tersayang di sekitar kami.

Kadang, kata ‘kebebasan’ melintas dalam benak. Apakah aku rindu akan kebebasan yang aku punya sebelum putriku lahir? Tentu, terutama saat-saat penat dan lelah menghampiri. Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang IbuBerbagai perdebatan bahkan beberapa kali terjadi di dalam benak, namun perdebatan itu selalu saja dimenangkan oleh sebuah kenyataan dan pemikiran, bahwa kebebasan itu akan aku dapatkan lagi setelah putriku sudah bisa berkomunikasi dengan jelas. Sebentar lagi gadis kecilku akan memiliki teman-temannya sendiri, dia tidak akan selamanya mau menghabiskan waktu 24 jam sehari dengan kami, orang tuanya.

Sebentar lagi waktunya akan terbagi antara keluarga, teman, sekolah dan diri sendiri. Kesadaran ini selalu saja bisa menghapus kerinduan akan kebebasan yang aku punya sebelum memiliki anak kecil yang selalu ceria ini. Untuk saat ini aku puas dan bahagia menghabiskan waktuku bersamanya. Aku berharap bisa melakukannya selama yang aku mau, semoga saja Tuhan mengijinkan itu terjadi.

Aku bukan ibu yang sempurna. Setiap hari aku melakukan kesalahan, bukan satu atau dua, mungkin lebih atau bahkan puluhan. Aku masih belajar menjadi ibu yang terbaik, aku masih mencoba bagaimana mengendalikan diriku agar bisa memberikan contoh yang baik kepada anakku, aku masih harus mencari jalan bagaimana mengajarkan dia tentang banyak hal, dan aku masih harus banyak belajar tentang banyak hal, bahkan belajar menjadi manusia yang lebih baik. Sering, tanpa aku sadari, putri kecilku mengajari aku banyak hal yang sebelumnya tidak pernah aku tahu.

Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang IbuBiasanya, setelah malam tiba dan dia terlelap, aku akan punya waktu untuk melihat kembali apa saja yang kami lakukan, dan aku selalu saja menemukan celah yang harus diperbaiki. Di saat-saat inilah aku bisa menyadari bahwa gadis kecil kami yang baru saja menginjak 14 bulan, telah mengukir kami dengan caranya yang unik. Putri kami ternyata seorang pemahat ulung, pemahat yang menjadikan seonggok kayu seperti kami menjadi sebuah patung yang indah. Kami belajar banyak bersabar, belajar menahan emosi, belajar memilah kata, belajar, belajar dan belajar lagi.

“Aaaaaah, dia memang dikirim Tuhan untuk berada bersama kami, untuk mengajari kami tentang hidup lebih banyak lagi. Terima kasih Nak, jangan pernah bosan memahat kami dengan caramu yang unik dan indah. Kami bersyukur telah terpilih menjadi orang tuamu. Kepakkan sayapmu setinggi langit Nak, kami akan selalu ada buatmu! Kami sayang kamu, putriku!”

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2015, Being 38, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Aku dan Pemikiranku Tentang Menjadi Seorang Ibu

  1. Ria Angelina says:

    Waaah mau nangis rasanya baca tulisan kamU, jadi ingat ibu aku, aku belum menjadi ibu namun ku tahu 1hari 24jam rasanya masih kurang.
    Tidak ada rasa lelah kalau melihat senyum anak ya den…
    Salam ketcuuup untuk putrimu, btw namanya siapa?

    • dema1497 says:

      Aaaaah terima kasih udah mampir Ria 🙂
      Memang, senyuman anak itu ga bisa digantikan oleh apapun. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata seberapa bahagianya kali udah disenyumin hehehhe.
      Salam kecup balik buat tante Ria dari Agnes 🙂

  2. Mrs. Morrissey says:

    Very well written dek !!!! Agnes is one lucky little girl to have parents that very committed.

    • dema1497 says:

      Thank you for your kind words Kak 🙂 really appreciated. I am also a lucky one to have a friend like you and Agnes is lucky to have you around as her aunty 🙂

  3. Aah jadi mau nangis. Bener ya mbak, bersyukur banget rasanya dikirimin Arsa, dan aku pun banyak belajar dan berbuat salah T_T

    • dema1497 says:

      Iyaaaa, kita ternyata belajar banyak dari seorang anak yang kalau dilihat belum punya pengalaman hidup dan berkomunikasi dengan jelas. Itulah salah satu betapa bersyukurnya kita terpilih menjadi seorang ibu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s