Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius

Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius_1 kopia

Kejadiannya hari Selasa 2 minggu yang lalu, sejak pagi hari A seperti tidak ingin pergi ke sekolah. Tapi setelah melihat mamanya siap menyandang ransel sekolah, A pun akhirnya berjalan ke mobil. Hari Selasa dan Kamis adalah hari saya pergi ke sekolah dan A biasanya akan berangkat diantar papa P. Kami berangkat bersama-sama dari rumah, saya menuju ke stasiun kereta api sedangkan Agnes dan papa P naik mobil karena setelah mengantar A, papa P akan langsung berangkat bekerja. Saat berada di kereta, papa P menelepon dan memberitahukan bahwa A tidak mau sama sekali ke sekolah. Dia menangis dan menolak untuk berjalan kaki dari tempat parkir ke gerbang sekolah. Merajuk dan walaupun sudah digendong tetap tidak mau ke sekolah. Aneh, menurut kami karena A biasanya sangat suka ke sekolah. Tapi pikir kami mungkin karena sudah mau berumur 2 tahun makanya A mulai melakukan hal-hal yang tidak seperti biasanya.

Ketika saya pulang sekolah, kebetulan papa P juga sudah dalam perjalanan pulang, kami menjemput A bersama-sama. Saat di jemput A sangat gembira dan tidak ada yang aneh selama dia di sekolah. Namun saat sudah sampai di rumah, papa P merasa kalau A sedikit hangat ketika mencium keningnya. Namun kami mengira mungkin hanya kepanasan atau capek saja karena seperti biasa hari Selasa dan Kamis, A berada di pre-school nya selama 8 jam dan kebetulan hari Selasa yang lalu tersebut, matahari sangat cerah dan hampir mencapai 26 derajat di tempat kami tinggal.

Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius_5 kopiaSaat menjelang tidur barulah kami yakin kalau A terkena demam karena badannya semakin panas. A sendiri sih tidak rewel namun hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda capek dan tidak mau menaiki tangga untuk ke lantai atas. Papa P akhirnya menggendong A sampai tertidur. Kami mencoba mengukur suhu badan A dan ternyata sudah mencapai angka 39 derajat. Tentu saja kami kawatir karena ini pertama kali A terkena demam yang melebihi suhu 38 derajat terlebih lagi tanpa ada alasan yang jelas. Namun Papa P meyakinkan saya kalau A akan baik-baik saja dan suhu badannya akan turun dengan sendirinya. Kami mencoba membuka semua jendela karena menurut kami suhu di dalam rumah lumayan panas. Namun saat kami akan tidur, saya memutuskan untuk tidur di tempat tidur yang sama bersama A dimana tempat tidur tersebut masih berada di kamar tidur kami. Saat saya akan berbaring, A mulai mengigau dan ketika saya sentuh ternyata badannya panas sekali, seketika saya ambil termometer dan angka digital menunjukkan angka 40 dan tentu saja saya kawatir, namun Papa P masih meyakinkan saya kalau A baik-baik saja. Semalaman saya tidak tidur karena A sering mengigau sambil menyebut nama saya, entah itu meminta buah apel, tertawa dan menyebut nama serial anak-anak favoritnya yaitu Bing sambil matanya tertutup. Saya terus terang kawatir sekali karena A tidak pernah seperti ini. Keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak mengijinkan A pergi ke pre-school nya dan benar saja karena panas badan A naik lagi hingga 39,9 yang membuat saya meminta papa P untuk pulang lebih awal. Begitu papa P ada di rumah, kami memutuskan untuk memberikan obat penurun panas kepada A dan ternyata obat tersebut lumayan membantu. Panas badan A turun dan membuat kami lega.

Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius_4 kopia

Sebenarnya, anaknya sendiri tidak rewel sama sekali. Masih mau lahap makan dan minum, masih aktif bermain, masih cerewt, lari sana-sini, lompat-lompatan di sofa dan masih melakukan aktifitas seperti biasa. Jadi kalau dilihat dari jauh A tidak kelihatan seperti sedang sakit, namun saat kita menyentuhnya maka kita akan tahu kalau panas badan A lumayan tinggi. Saya menelepon 1177, nomor dimana kita bisa menghubungi perawat untuk meminta nasihat atau informasi yang lebih banyak tentang suatu penyakit atau gejala-gejala sesuatu penyakit. Perawat menanyakan apakah A masih bisa minum dan buang air kecil, perawat juga menanyakan apakah A punya gejala-gejala sebelumnya seperti flu, bersin-bersin atau batuk. Itu juga salah satu yang membuat kami (saya) kawatir karena biasanya jika A kena demam pasti ada gejala sebelumnya, seperti habis imunisasi atau mau terkena influensa. Karena tidak ada gejala sama sekali makanya perawat meminta kami untuk memeriksakan A ke dokter dan mengetahui apa sebab dari demam tingginya. Setelah sempat turun ke 37,5 derajat suhu badan A naik lagi pada hari Rabu malam dan hampir menyentuh angka 40 lagi. Tentu saja ini membuat saya tidak sabar untuk menunggu pagi untuk bisa mengetahui apa penyebabnya.

Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius_3 kopia

Kamis pagi kami menemui dokter dan setelah dilakukan pengecekan ternyata A baik-baik saja dan demam tinggi disebabkan oleh virus. Dokter tidak melihat ada sesuatu yang harus dikawatirkan dan meminta kami untuk tetap memantau A agar tetap minum sebanyak-banyaknya dan makan sesuatu agar perutnya tidak kosong. Puji Tuhan, walaupun badannya panas, nafsu makan A hanya sedikit sekali berkurang, namun tidak terlihat begitu kentara. Hari itu sehabis dari dokter, saya menyiapkan sejenis soft drink dari Elder flower namun anak kami ini lebih memilih meminum air putih. A memang tidak terbiasa minum soft drink karena memang di rumah tidak pernah ada minuman sejenis di hari-hari biasa, namun jika ada tamu berkunjung atau hari perayaan seperti Midsummer atau Natal, maka akan tersedia satu atau dua macam soft drink. Biasanya A minum air putih, susu atau saya bikinkan jus dari buah beku yang selalu ada di freezer.

Merasakan panas badan A yang tidak biasa ini membuat saya sedih dan kawatir. Bahkan saya sempat berpikir, andaikan saya bisa menggantikan A untuk menerima sakit itu. Namun saya tepiskan karena mungkin ini salah satu cara badan A membangun sistem kekebalan tubuh. Seperti kata salah satu guru A bahwa anak kami ini adalah yang paling jarang bolos sekolah karena sakit. Memang mungkin sudah saatnya A istirahat di rumah dan menikmati beberapa hari extra bersama mama. Kami membuat beberapa prakarya bersama yang bisa dilihat di sini.

Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius_2 kopia

Untung saja semenjak bertemu dengan dokter, panas A berangsur-angsur turun dan anaknya semakin aktif. Bahkan semenjak dia sembuh, A semakin cerewet dan sudah bisa mengomel dan berargumentasi dengan bahasa bayinya. Mungkin benar kata Maming (kakak saya nomor 3) yang menyebutkan kalau A akan memiliki kemampuan baru karena sakit demam yang tidak beralasan. Dulu waktu saya masih kecil, di keluarga saya ada anggapan kalau kita sakit tanpa alasan yang jelas itu artinya kemampuan kita akan bertambah, entah itu kemampuan berbicara, berjalan atau kemampuan yang lainnya. Tentu saja ketika saya katakan ini pada Papa P, suami tersayang ini hanya bisa tersenyum simpul. Apapun alasan di balik sakitnya A, kami sangat bersyukur bahwa gadis kecil kami ini sudah sehat dan kembali berpetualang dan melatih daya imajinasinya lagi.

”Sehat terus ya A, sebentar lagi musim panas dan kita akan berpetualang bersama-sama dan menulis lembar-lembar buku kehidupan dengan cerita kita. Mama dan Papa sayang A”.

Stockholm, dym 09062016

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2016, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography, Tentang A and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Ketika Suhu Badan Mencapai 40 Derajat Celcius

  1. denaldd says:

    Semoga selalu sehat ya A. Anak Indonesia sekali ya dia Den, sakitpun tetap nafsu makan tidak berkurang haha.

    • dema1497 says:

      Ameeeen, terima kasih tante Deny *peluk*. Hehhehe iya, nafsu makannya fotokopi mamanya *komen papanya A* hihihihi *nyengir lebar bangga* hihihi

  2. nyonyasepatu says:

    semoga A sehat2 aja ya….jangan sakit2

  3. Di' says:

    Memang hal yang paling menyusahkan hati adalah saat anak sakit. Kita jadi tidak bisa menutup mata sedikit pun, karena kita tidak mau kehilangan sedetik saja perubahan yang terjadi. Dulu Bayu sempat panas tinggi, cuma itu saja, selama 2-3 hari. Aku berikan obat turun panas dan tidak kubawa ke dokter karena tidak ada keluhan lainnya. Lalu sesudah itu Bayu baik2 saja, sampai suatu hari aku melihat di perut dan punggungnya ada bintik2 meraj. Ah, dia kena campak! Untungnya karena Bayu sudah diimunisasi, campaknya tidak muncul sampai parah dan menguatirkan. Tiap anakku punya cerita sendiri tentang demam tiba2 dan itu jadi tambahan pelajaran buatku. Syukurlah Agnes sudah membaik dan semoga sehat terus. Kisses buat si kenes.

    • dema1497 says:

      Oya Mbak? Kemarin Agnes tidak ada tanda-tanda campak atau sakit yang lain, makanya kami lumayan kawatir. Puji Tuhan hanya beberapa hari dan tahu dari dokter bahwa itu virus saja, kami agak tenang. Kami juga tidak diberikan apa-apa oleh dokter, kemarin disarankan untuk ke dokter karena ditakutkan ada penyebab lain dan hanya ingin tahu sebabnya saja. Seperti biasa, dokter di sini tidak memberikan obat apapun selain disuruh istirahat saja hehehhehe. Terima kasih doanya Tante Di, peluk cium sayang dari A. Semoga Tante Di dan keluarga juga sehat selalu yaaaa, ameeen.

  4. Gloria Owusu Asiedu says:

    And you are good at what you do, because you do it with all your heart. You are the best

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s