Saat Mata Belum Bisa Terpejam

saat-mata-belum-bisa-terpejam_2-kopia

Jam dinding belum menunjukkan pukul 12 tengah malam namun dua orang kesayangan sudah tertidur pulas. A sudah bermimpi indah sejak jarum jam menyentuh beberapa menit sebelum jam 9 malam dan Papa P menyusul 2 jam sebelumnya, saya? Masih berkutat dengan pikiran-pikiran yang berlalu lalang dan sepertinya belum mau menyilakan saya untuk berbaring merajut mimpi indah.

Saya pun merasa lapar, turun ke lantai bawah memanaskan tumis pare telur, makanan kesukaan waktu kecil dulu. Kebetulan saya sempat membeli 2 buah pare di toko Asia yang ada di dekat stasiun metro di kota. Entah kenapa tiba-tiba saja saya kangen masakan ibu yang sebenarnya bahan dan cara membuatnya sangat sederhana namun bisa membuat saya menghabiskan berpiring-piring nasi. Walaupun kali ini saya hanya ditemani pare dan telur saja karena terus terang malas memasak nasi saat sudah hampir memasuki tengah malam seperti kali ini.

saat-mata-belum-bisa-terpejam_3-kopia

Satu liter air di dalam botol Tupperware sudah hampir habis saya teguk dan piring sayapun hanya menyisakan setengah porsi pare telur yang saya tambahkan sedikit cabai kering dengan maksud menolong hidung saya yang kebetulan sedang dilanda sedikit pilek. Banyak sekali yang mampir di kepala saya malam ini, entah itu mimpi saya yang belum teraih dan juga aktifitas minggu depan yang ingin saya lakukan bersama anak-anak didik. Kalau boleh memilih mungkin saya akan mengatakan kepada hal-hal yang masih menari di kepala untuk berhenti sebentar dan sampai ketemu besok, tapi tentu saja hal ini bukan sesuatu yang bisa saya lakukan kali ini (bukan berarti saya tidak mencoba). Saya raih kembali botol minuman dan meneguk liter ketiga hari ini dan masih saja terasa haus. Padahal piring masih saja berisi porsi terakhir setelah suapan terakhir beberapa menit yang lalu.

saat-mata-belum-bisa-terpejam_4-kopia

Tadi sempat kawatir karena A masih batuk dan sepertinya harus memutar badannya beberapa kali untuk mengusir batuk yang sepertinya belum mau beranjak semenjak 4 hari yang lalu. Ingin rasanya berkata kepada batuk itu:

”Mau tidak tukar tempat? Kamu sudah 4 hari 3 malam bersama A, bagaimana kalau sekarang kamu bersama saya jadi A bisa tertidur nyenyak tanpa gangguanmu?!”

Mungkin dengan tambahan senyum termanis jika saja ia setuju untuk bertukar tempat.

Seharusnya saya tidur secepatnya karena besok (atau hari ini karena sudah lewat tengah malam) Papa P akan main golf dan saya akan bersama A seharian. Ingin rasanya mengajak A berenang namun sayang, putri kesayangan saya ini masih belum sehat betul seperti biasanya. Memang lagi musim sakit dan sebenarnya A sudah sempat pilek dan diam di rumah untuk beristirahat, habis pilek datanglah batuk. Anehnya, batuk hanya menyerang A ketika dia tertidur lelap, tidak saat A terbangun. Saya kawatir karena jika sudah berada di dalam air, A seperti putri duyung yang akan menolak keras jika saya mengatakan bahwa saatnya untuk beranjak pulang. Ah, nanti saya akan ajak A melukis saja di taman belakang dan bermain warna lagi. Atau mungkin membuat roti bersama di dapur. Setidaknya A bisa istirahat sebentar sebelum masuk sekolah lagi hari Senin, begitu juga saya yang harus menyiapkan diri menghadapi 13 anak yang hampir semuanya masih dirubung oleh pilek dan batuk. Tentu saja saya tidak sendirian, masih ada 3 teman kerja yang menangangi ke 13 anak ini tapi karena memang lagi musim sakit di negeri kulkas ini, seminggu kemarin salah satu dari kami absen selama 5 hari dan kami bertiga saling bahu membahu untuk menemani dan bermain bersama anak-anak didik yang terkadang suasana hatinya seperti naik roller coaster. Namun dasarnya saya suka anak kecil, jadi saat saya berhasil menenangkan seorang anak dan membalik keadaan menjadi aman damai itu seperti memenangkan perang Baratayuda (kalau ini mungkin agak berlebihan) dan biasanya anak tersebut akan memiliki hubungan yang lebih baik dengan saya di kemudian hari. Senang rasanya jika hubungan antara kami menjadi semakin dekat, karena ada kepuasan tersendiri bisa berkomunikasi dengan mereka yang masih berbicara dengan bahasa bayi yang saya harus pintar menebak apa maksud di setiap kata yang mereka ucapkan. Aaaaah, saat saya bermain bersama mereka, saya bisa merasakan kalau saya menjadi anak kecil lagi, yang tidak ada rasa takut untuk berekspresi.

saat-mata-belum-bisa-terpejam_1-kopia

Melihat jam di dinding ternyata sudah memasuki hari baru dan saya, masih bergulat dengan huruf, air putih dan pare telur di hadapan saya. Sepertinya taktik untuk menuangkan beberapa hal yang ada di pikiran ke dalam tulisan tidak mampu membuat mata saya mengantuk. Kedua mata saya beralih dari barisan angka dan huruf menuju dua orang yang tertidur lelap dengan selimut menutupi hampir seluruh badan. Swedia sudah mulai dingin di musim gugur ini. Tidak sengaja mata saya memandang buku karya Harper Lee yang berjudul To Kill a Mockingbird. Sebuah buku yang sudah saya dengar tentangnya beberapa kali namun entah mengapa saya tidak pernah berkeinginan untuk membeli atau setidaknya meminjam di perpustakaan yang ada di kota. Seorang teman kebetulan bulan lalu memajang buku-buku yang ingin dia lungsurkan kepada siapa saja yang mau secara cuma-cuma karena kebetulan dia sudah selesai membaca dan tidak mau menyimpan buku-buku tersebut. Salah satu dari 6 buku yang saya dapatkan itu adalah buku Harper Lee ini. Beberapa kali saya melayangkan pandangan ke buku yang tergolek manis di samping mesin pencetak di meja kerja ini.

”Sebentar, saya akan menyelesaikan tulisan ini dahulu sebelum saya akan membaca kamu”.

Tidak terasa ternyata saya berbicara dengan sebuah buku dengan ilustrasi anak kecil bermain ayunan dengan menggunakan ban mobil bekas (sepertinya). Saya akan kembali lagi jika mungkin buku tersebut tidak mampu membuat saya tertidur juga.

Selamat menikmati hari Minggu!

Stockholm, dym18092016

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2016, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s