Kamboja dan Bali

Matahari di luar sana sepertinya ingin menebus 2 hari yang terselimuti awan hujan, terang menyentuh setiap sudut taman di belakang rumah. Menikmati secangkir teh, beberapa buku dan laptop ditemani oleh semilir angin yang membuat hawa panas bukanlah suatu halangan untuk duduk di luar pagi ini. Anak kecil bernama A, berlarian dan sibuk dengan cerita yang dia buat bersama boneka dan alat-alat masak yang dibeli di Bali.

2 Minggu lalu kami menginjakkan kaki kembali di Swedia setelah 9 minggu menghabiskan waktu bersama keluarga dan menikmati sebuah perjalanan bathin yang tidak pernah terlaksana sebelumnya. Ada banyak cerita yang ingin disampaikan namun baru kali ini bisa duduk dengan santai dan menuliskannya. Kebetulan pre-school A hari ini tutup karena ada pertemuan guru-guru dan kami masih mengajarkan A untuk tidak memakai popok lagi. Sebenarnya waktu kami di Bali, beberapa minggu sebelum pulang, A sudah tidak memakai popok lagi. Namun ketika akan pulang ke Swedia, saya memakaikan popok lagi selama di pesawat karena A masih tidak bisa duduk di toilet untuk orang dewasa dan saya lupa untuk membawa potty kecil yang biasanya untuk tambahan di toilet duduk ukuran dewasa. A sempat menolak ketika popoknya kami lepas dan kami memutuskan untuk membiarkan A memakai popok lagi karena kebetulan kami berlibur lagi bersama Farfar (kakek dari pihak bapak dalam bahasa Swedia) dan Farmor (nenek dari pihak bapak dalam bahasa Swedia) menaiki mobil 4-5 jam ke arah selatan Swedia, ke pulau yang bernama Öland untuk bertemu dengan sanak saudara yang sudah hampir lebih dari 45 tahun tidak pernah kami temui.  Kemarin, A berhasil seharian tanpa popok dan hari ini masih berlanjut sampai nanti diajarkan untuk duduk di toilet biasa. One step at a time.

Memiliki kesempatan untuk melihat lagi beberapa foto yang saya ambil ketika berada di Bali, membuat saya ingin segera menuliskan dan berbagi perjalanan saya selama berada di Bali. Ketika mata saya tertuju ke beberapa foto yang saya ambil ketika hujan dan saya mengamati beberapa bunga Kamboja koleksi kakak yang berjatuhan di taman kecil di tengah rumah, saya kangen Bali (lagi). Kamboja adalah salah satu bunga yang bisa dilihat menghiasi hampir setiap rumah dan ada di sepanjang jalan di Bali. Di rumah kakak, saya bisa dengan puas menikmati keindahan bunga cantik ini karena kakak memiliki lebih dari 10 macam jenis bunga ini. Saat itu hanya Kamboja putih yang sempat saya abadikan dengan kamera saya sedangkan bunga Kamboja jenis lainnya saya abadikan dengan menggunakan kamera telefon genggam saya dan bisa dilihat di Instagram saya. Mengamati satu persatu foto yang terpampang di layar laptop, saya seperti bisa melihat kegiatan hari itu. Kami duduk di ruang keluarga, bercengkrama sambil menikmati kudapan khas Bali. A asyik bermain dengan sepupunya sambil sesekali berjalan dengan hati-hati untuk mengambil mainannya yang ada di ruangan rumah kakak. Taman yang dimiliki kakak cukup terbuka dan dikala hujan, lantai di sekitar taman basah oleh air dan licin sehingga siapapun yang berjalan harus berhati-hati karena saat belum dikeringkan, lantai rumah bisa dibilang licin. Namun hal itu tidak bisa menghentikan kami untuk bersyukur dan menikmati saat hujan menyapa bumi Bali.

Untuk kali ini, bunga kamboja sangat menarik perhatian saya (entah kenapa) maka saya mengutarakan keinginan saya untuk memiliki bunga ini di rumah di Swedia. Kakak memotong 4 jenis batang bunga kamboja untuk saya bawa dan potongan-potongan batang tersebut sekarang sudah saya tempatkan di pot bersama dengan batang bunga Wijaya Kusuma yang diberikan oleh sepupu saya. Sejauh ini sepertinya batang-batang tersebut bertahan dan sudah terlihat beberapa tunas daun yang menyembul di ujung batang, ya…semoga saja bunga tersebut bisa menampakkan keindahannya seperti di habitat aslinya, di pulau Bali nun jauh di sana. Saya menginginkan setidak bunga Kamboja tersebut menjadi obat kangen ketika saya belum berkesempatan mengunjungi Bali lagi. Aaaaahhh… memikirkan dapat menikmati bunga Kamboja di Swedia saja sudah membuat saya tersenyum.

Seperti saya bilang sebelumnya bahwa saya tidak mengerti mengapa bunga Kamboja ini memikat hati saya teramat dalam. Saya pulang berlibur sudah beberapa kali selama saya tinggal di luar Bali, dan ini bukan pertama kali saya melihat bunga Kamboja koleksi kakak. Namun baru kali ini ada keinginan dan ketertarikan yang sangat kuat pada bunga ini dan bahkan setiap mengingat bunga ini, saya teringat Bali. Akankah perjalanan spiritual saya kemarin yang ditemani oleh bunga ini yang membuat saya melihat bunga ini identik dengan Bali? Terus terang saya tidak tahu jawabnya. Bagi saya, bunga ini (bahkan batang Kamboja yang saya punya) sangat kuat mengingatkan saya setiap kisah perjalanan 9 minggu saya bersama keluarga. Bersamaan dengan kerinduan yang ada, rasa damai menyelip di tengah-tengahnya, saya jatuh cinta untuk pertama kali dengan bunga Kamboja. Mungkin cinta yang terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Sinar matahari membuat saya mengalihkan pandangan ke jendela ruang makan yang dihiasi oleh jejeran bunga Anggrek Bulan koleksi saya. Ada 6 jenis yang bertengger manis dan menunjukkan keindahannya masing-masing dengan bunga yang beraneka ragam. Anggrek-anggrek tersebut tidak pernah berhenti berbunga sepanjang tahunnya, tidak perduli itu musim dingin atau musim gugur. Kami selalu bisa menikmati bunga di dalam rumah, bahkan ketika kami menginjakkan kaki (lagi) di rumah, kami sudah disambut oleh 3 anggrek yang berbunga amat sangat banyak. Ini juga salah satu alasan saya tidak pernah membeli bunga potong untuk diletakkan di atas meja. Cukup duduk di ruang makan, ruang tamu atau di taman belakang, pemandangan bunga Anggrek tersebut bisa dilihat dengan jelas. Saya berharap, ketika batang-batang bunga Kamboja sudah memiliki akar…mereka akan menambah keindahan dan kenyamanan rumah saya, memberi suasana Bali di tanah dimana saya mengabdikan diri saya saat ini.

Untuk saat ini saya harus bersabar dan merawat 4 batang bunga Kamboja tersebut. Mungkin akhir pekan nanti saya akan pergi untuk membelikan pot bunga putih untuk bisa saya gunakan nantinya ketika mereka sudah menunjukkan saatnya untuk bisa bertahan hidup dengan akar-akar mereka yang kuat. Angin berhembus semakin kencang dan hawa dingin semakin terasa. Sepertinya harus saya sudahi dulu untuk kali ini, semoga nanti bisa mendapat waktu untuk menuangkan satu dua kata lagi.

Stockholm, demaodyssey 01062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Bali, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, Jejak 2017, photography and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s