Bertemu dengan Si Elang Jawa

Saya tidak pernah bermimpi untuk bertemu dengan si burung Elang Jawa yang dulu pernah saya baca diidentikkan dengan Burung Garuda Pancasila, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti mendapat durian runtuh ketika saya mendapatkan kesempatan tersebut tanpa sengaja.

Pulang berlibur kemarin saya sempatkan untuk mengunjungi kakak pertama saya yang berdomisili di Malang, Jawa Timur. Selain untuk memberikan A kesempatan untuk bertemu dan bermain dengan sepupunya yang kebetulan tidak bisa pulang ke Bali saat kami menghabiskan waktu berlibur kami, dikarenakan pada saat itu tidak ada libur sekolah, saya juga sudah berniat untuk sembahyang ke beberapa Pura yang ada di daerah tersebut. Dalam kesempatan ini, hanya 2 Pura yang bisa saya datangi dan melakukan upacara persembahyangan. Kedua Pura tersebut yaitu Pura Luhur Dwijawarsa yang letaknya di daerah Sawojajar dan Pura Luhur Giri Arjuno yang letaknya di daerah Batu.

Kami sempat berlibur bersama saat akhir pekan tiba dan memutuskan untuk datang ke Eco Green Park, tempat wisata terbaru di Malang. Terus terang saya tidak mempunyai harapan apapun sebelum ke sana dan mengira tempat wisata ini akan menyerupai tempat-tempat wisata yang lainnya seperti Jatim Park 1 dan 2. Namun ternyata saya salah. Banyak sekali yang bisa dilihat dan dipelajari di sini, mungkin jika saya memiliki waktu luang akan saya buat blog post tersendiri mengenai tempat wisata ini yang menurut saya sangat spesial. Kenapa begitu berkesan? Karena di tempat inilah saya berkenalan dan melihat langsung si Elang Jawa, burung yang memiliki ciri dan tubuh mirip dengan burung Garuda yang menjadi lambang NKRI.

Saya sempat terkesima dan tidak percaya ketika petugas mengatakan bahwa di dalam sangkar yang dibuat mendekati habitat asli para burung Elang tersebut, ada sepasang burung Elang Jawa, si burung Garuda (menirukan Mas petugas yang menjaga sangkar tersebut). Bergegas dan berharap bahwa si Elang Jawa akan berada cukup dengan saya sehingga saya bisa mengabadikannya dengan kamera. Saya beruntung karena si Elang Jawa yang berjenis kelamin betina terbang mendekati jalan dimana saya berdiri dan berusaha mencari dimana si Elang yang perkasa ini. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya bidikkan kamera saya beberapa kali ketika Elang tersebut bertengker di sebatang kayu yang ada di sebelah kanan saya. Sepertinya si Elang tahu kalau saya mengaguminya, karena dengan gagahnya burung cantik ini berpose dan memperlihatkan betapa dia pantas untuk diidentikkan dengan lambang NKRI tercinta. Melalui lensa kamera saya menikmati keindahan burung Elang ini dan selalu berdecak kagum menyaksikan setiap gerakan burung ini. Saya bagaikan anak kecil berada di sebuah toko mainan dan diperbolehkan memilih mainan apa saja yang ingin saya ambil. Masih bermimpi rasanya berada cukup dekat dengan si Elang Jawa.

Elang Jawa yang terkenal dengan nama Javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi) adalah spesies asli pulau Jawa. Yang menarik dari burung ini adalah fakta yang menyatakan bahwa burung ini adalah burung yang monigami, yang artinya memiliki satu pasangan seumur hidup. Bagi saya burung ini sangat unik, memiliki tubuh sedang sekitar 60-70 cm dengan bulu yang menutup hampir seluruh bagian kaki dan dengan jambul yang kita bisa lihat hampir sama dengan jambul yang dimiliki burung Garuda Pancasila. Si Elang di mata saya adalah burung yang gagah, itu terlihat ketika si Elang berdiri tegap. Tatapan matanya yang tajam sanggup membuat saya berdecak kagum dan terpesona. Tidak salah jika dengan ciri-ciri tersebut, burung Elang Jawa ini disebut-sebut mirip dengan burung Garuda, tunggangan Dewa Wisnu yang menjadi inspirasi lambang NKRI. Namun sayangnya, seperti yang pernah saya baca beberapa kali, nasib burung ini tidak sama gagah dengan penampakannya. Elang Jawa adalah salah satu spesies yang terancam punah, itu dikarenakan habitat asli burung tersebut berkurang dan juga karena perburuan liar. Pemerintah sudah mengusahakan penangkaran burung Elang ini dan membuat peraturan untuk satwa langka Indonesia. Saya berharap populasi burung ini bisa berkembang pesat dan jika A sudah mengerti, akan saya ajak ke Eco Green Park malang lagi untuk melihat secara nyata burung Elang Jawa, si anggun yang gagah perkasa. Mas penjaga sangkar menceritakan kepada saya bahwa sepasang burung Elang yang dimiliki tempat wisata ini didapatkan dari koleksi pribadi seseorang. Mereka disita dan dipindahkan ke Malang karena burung ini adalah termasuk salah satu burung yang dilindungi oleh pemerintah. Bahkan pemerintah RI mengukuhkan burung Elang Jawa ini sebagai wakil satwa satwa langka dirgantara melalui Keputusan Presiden nomor 4 tahun 1993.

Saya berada di sangkar itu lebih dari 30 menit dan saat itu saya tidak berkesempatan mengabadikan si Elang jantan karena bertengker di puncak pohon yang tinggi dan tidak terjangkau jelas dengan lensa kamera saya. Sekali lagi saya beruntung, karena si Elang betina bersedia terbang dan bertengger megah di jarak yang lumayan dekat dan memberikan saya kesempatan untuk terpesona akan kecantikan burung ini. Foto-foto ini sudah saya tunjukkan ke A dan menceritakan secara sederhana bahwa burung ini adalah endemis pulau Jawa dan saya mengatakan pada A, jika tahun depan kami berkesempatan ke Malang lagi, akan saya bawa A bertemu dengan si Elang secara nyata dan berharap kami mendapatkan kesempatan yang sama untuk terpukau dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan A berpendapat bahwa burung ini beautiful ketika saya perlihatkan beberapa hasil bidikan saya, A menyukai ketika si Elang Jawa bertengger dengan kepala menoleh namun bisa dilihat matanya memandang ke arah kami yang menikmati foto lewat layar laptop.

”Semoga ya Nak, nanti saat kita pergi ke Eco Green Park lagi, si burung Elang mau datang menghampiri sehingga A bisa liat dari dekat, amen. A mau lihat burung Elang Jawa yang cantik ini?”

”Iya, Mama”.

Jawaban yang keluar dari bibir mungil itu membuat saya tersenyum. Saya tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak bahwa jawaban itu menumbuhkan harapan di hati saya bahwa A akan mencintai tanah kelahiran Mamanya sebesar dia mencintai tanah kelahiran Papanya. Semoga…

Stockholm, demaodyssey 02062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, Indonesia, Jejak 2017, photography and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Bertemu dengan Si Elang Jawa

  1. nyonyasepatu says:

    Aku belon pernah liat elang ini tapi setuju elang emang gagah ya

    • dema1497 says:

      Iya Mbak Nik, makanya saya seneng banget bisa berkesempatan melihat dan memfoto buat nanti ditunjukkan sama A kalau sudah mengerti dan mulai nanya tentang Garuda Pancasila 🙂

  2. Pingback: Kegiatan Hari Minggu dan Burung Turaco | One step at a time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s