Berbagi dengan Seorang Teman

”Den, boleh tanya ga?”

”Boleh, mau tanya apa?”

”Kamu pernah merasa takut ga untuk jadi berbeda?”

”Tidak, saya tidak pernah takut untuk berbeda.”

”Kenapa? Apa alasannya kamu tidak takut?”

”Begini, saya menyukai perbedaan karena perbedaan itu lah yang membuat hidup ini lebih berwarna, menurut saya perbedaan itu indah. Hidup adalah sebuah pembelajaran, dalam hidup kita harus selalu belajar dan dari perbedaan yang ada itulah saya banyak belajar tentang hidup itu sendiri, tentang bagaimana menggali potensi, bakat dan kemampuan yang saya punya, tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Contohnya begini, saya dan P berbeda. Kami dibesarkan dengan kultur yang sangat berbeda, tapi dari perbedaan itu kami saling belajar satu sama lain. Belajar menghargai, menghormati, kompromi dan beradaptasi. Kami mulai dari 2 titik yang berbeda dan dari perbedaan yang kami punya, kami berusaha berjalan bersama-sama untuk mencapai titik dimana kami berdua merasa nyaman, aman dan bisa berbagi apa saja dan menua bersama. Saya yakin, saya dipertemukan dan disatukan dengan P oleh Tuhan juga karena perbedaan tersebut, karena seperti yang sudah saya katakan, dari perbedaan tersebut kami belajar dan bathin kami menjadi kaya. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya tidak punya perbedaan dan 100 persen sama dengan suami saya, saya yakin kami tidak akan bisa belajar dari satu sama lain. Kehidupan kami (mungkin) akan membosankan dan kami akan merasa lelah dengan persamaan di setiap titik kehidupan.

Setiap manusia dilahirkan berbeda, bahkan anak kembar sekalipun tidak pernah saya dengar memiliki kesamaan 100 persen lahir dan bathin. Ini juga yang meyakinkan dan membuat saya mengerti bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah perbedaan. Kamu bisa bayangkan seandainya pelangi itu hanya memiliki satu warna, apakah kamu masih menganggapnya seindah ketika pelangi memiliki 7 warna? Kalau saya, saya lebih memilih pelangi memiliki 7 warna.

Menurut saya, yang paling penting dalam menghadapi sebuah perbedaan adalah bagaimana kita menyatukan perbedaan tersebut dalam harmoni dan menggunakannya sebagai dasar untuk memperkaya diri kita secara bathin. Sayang rasanya jika kebhinekaan itu dianggap sebagai sebuah masalah dan dipandang dari sisi negatif, padahal lebih banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari sebuah kebhinekaan. Kalau ada sisi positif, mengapa kita harus memilih sisi negatif? Tapi sekali lagi, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Kita memiliki pilihan dalam hidup, kamu menanyakan pandangan saya tentang perbedaan, ini jawaban yang saya punya.”

”Tapi apakah kamu akan tetap memilih berbeda ketika pilihanmu itu dijadikan sebagai dasar untuk menghinamu, menjauhimu dan tidak mengakuimu sebagai bagian dari sebuah kelompok?”

”Saya hidup bukan untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Hidup saya adalah untuk belajar dan membayar karma dengan menjalankan nilai-nilai dan prinsip hidup yang saya (dan suami saya) punya dan berusaha untuk tidak merugikan orang lain sama sekali. Kami tidak memaksakan orang lain untuk memiliki dan menggunakan nilai dan prinsip tersebut di dalam kehidupan mereka. Jika mereka ingin menjadikannya sebagai pembanding dengan prinsip dan nilai yang mereka pakai, ya silahkan saja. Kami tidak pernah takut dikucilkan karena perbedaan yang kami punya karena kami yakin di luar sana ada banyak orang yang juga menghargai dan menghormati sebuah perbedaan. Bagi saya, alangkah tidak nyaman hidup saya jika saya selalu menginginkan pengakuan dari orang lain karena saya tidak akan bisa menjadi diri sendiri dan akan selalu membandingkan diri saya dengan orang lain. Saya tidak akan bisa bebas tanpa rasa takut untuk melakukan apa yang saya sukai, mencari kedamaian diri dan kepuasan bathin dengan melakukan hal-hal yang (mungkin) berbeda dengan yang lain lakukan. Kalau saya karena perbedaan saya tidak diterima sebagai bagian dari sebuah kelompok, saya akan bilang ’It’s completely fine for me’ karena lebih baik saya sendiri namun saya tidak membohongi hati nurani saya dan merendahkan nilai-nilai dan prinsip hidup kami, daripada saya menjadi bagian dari sebuah kelompok dengan perasaan tertekan dan tidak nyaman. Pengakuan orang lain tidak bisa saya jadikan sebagai bagian dari pertanggungjawaban saat saya menghadap Tuhan, namun tingkah laku dan perbuatan sayalah yang bisa saya masukkan dalam pertanggungjawaban tersebut. Karma, apakah saya sudah berbuat baik, apakah saya berbuat buruk, apakah saya sudah mencapai keseimbangan dari karma itu sendiri ataukah saya masih harus belajar lagi, menebus lagi dan membayar karma yang saya buat sebelumnya. Seperti kata pepatah, apa yang orang lain lakukan terhadap kita, itu adalah karma mereka, namun bagaimana kita bereaksi adalah karma kita. Di sini kita dihadapkan pada sebuah pilihan lagi, apakah kita bereaksi negatif, netral atau positif? Itu diserahkan ke masing-masing individu. Karma tidak mengenal agama, karma tidak mengenal suku dan ras, karma akan menghidangkan apa yang pantas kita dapatkan. Biarkan saja orang menghina kita, biarkan saja orang menjauhi kita, seiring waktu akan terlihat dan terbuka dengan jelas karakter seseorang. Pengakuan orang lain hanya akan membelenggu kita sehingga kita tidak bisa mengepakkan sayap kita untuk menjelajah bumi dan langit, menggali potensi dan kemampuan kita, memahami bakat yang sudah Tuhan berikan sejak kita lahir ke dunia. Melepaskan diri dari pengakuan orang lain bisa kita jadikan suatu pijakan untuk berdamai dengan diri dan akhirnya selesai dengan diri sendiri dimana kita akan menemukan hakikat hidup itu sendiri.

Namun tentu saja sebagai manusia biasa, terkadang amarah masih ada dan sulit dikontrol. Ini tugas kita untuk belajar, belajar dan belajar lagi bagaimana mengontrol dan mengendalikan amarah kita sehingga kita tidak membuat karma buruk lagi karena reaksi kita tersebut. Maksudnya begini, sebagai manusia tentu saja akan ada banyak kemungkinan kita marah jika kita ditindas, namun bagaimana caranya mengurangi kemarahan tersebut yang mungkin harusnya 2 hari menjadi hanya 2 jam dan selanjutnya menjadi hanya 2 menit saja. Tentu saja tidak mudah, saya juga terkadang belum bisa mengontrol dengan baik tapi saya terus belajar dan berlatih sehingga saya bisa mencapai titik dimana saya bisa mencapai standar kontrol yang saya inginkan. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang, namun jika saya sudah menjalankan nilai-nilai dan prinsip hidup saya (kami) dengan baik, saya menyerahkan penilaiannya kepada karma dan saya akan bersyukur jika diijinkan untuk memperbaiki setiap kesalahan yang saya lakukan.”

”Aku tahu kamu banyak tidak disukai orang dan bahkan ada beberapa orang yang saya tahu bisa dikatakan membencimu. Bagaimana bisa kamu bisa kuat dan menjalani apa yang mereka buat atau katakan dan tetap memegang nilai-nilai dan prinsip hidup kalian? Bagaimana bisa kamu bisa bersabar dan tetap menjadi berbeda?”

”P pernah mengatakan kalau istrinya ini unik, karena menurut suami tersayang, saya ini tidak 100 persen orang Bali, Indonesia dan tidak juga 100 persen orang Swedia (walaupun paspor saya sudah berubah warna), P bilang saya berada di tengah-tengah. Saya terus terang tersenyum bangga karena saya merasa saya bisa menggabungkan yang terbaik dari 2 kultur yang berbeda, tentu saja ini hal-hal tersebut adalah hal-hal yang sesuai dengan nilai dan prinsip hidup kami. Keunikan ini juga yang terkadang membuat saya terbuang dari sebuah kelompok, karena mereka pikir saya terlalu melawan arus. Seperti saya sudah bilang sebelumnya, saya tidak terlalu peduli apa penilaian orang kepada saya selama saya tidak merugikan mereka. Saya memilih untuk menggunakan waktu saya untuk menggali potensi diri dan bakat yang (mungkin) terpendam dan belum saya temukan daripada saya memikirkan mengapa orang-orang membenci saya. Kalau mereka memilih untuk membenci saya, itu karma mereka dan saya tidak memiliki hak untuk mengatur dan mencampuri keputusan mereka tersebut.

Saya bisa kuat begini karena saya memiliki keluarga yang sama-sama memegang teguh nilai dan prinsip hidup yang kami punya, saya juga kuat karena saya memiliki teman yang mempunyai nilai dan prinsip yang berbeda namun bisa diselaraskan dengan apa yang kami punya. Saya bisa kuat karena dilingkari oleh orang-orang yang bisa saya ajak untuk terus belajar saling menghargai, menghormati dan belajar tentang banyak hal dalam hidup dengan melihat sisi positif sebuah perbedaan. Kekuatan dan kesabaran ini juga saya dapatkan ketika saya melakukan perjalanan ke beberapa Pura yang ada di Bali dan Jawa, terlebih saat saya dan A berlibur selama 9 minggu di awal tahun ini. Perjalanan mendaki ke Pura Lempuyang Luhur memberikan saya banyak pelajaran bagaimana hidup itu harus dijalankan dan memberikan saya kesempatan untuk merenungkan banyak hal. Nanti lah kalau sudah ada waktu, saya akan cerita perjalanan spiritual saya menaiki 1700 tangga untuk mencapai puncak. Saya sebagai pribadi jauh dari sempurna, ada ratusan bahkan ribuan aspek dalam hidup yang harus saya pelajari, dan saya dengan berbagi saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang hidup, tentang orang lain, tentang diri saya dan tentang segala hal. Saya masih manusia biasa yang melakukan kesalahan, saya pernah marah, kecewa dan mengumbar kata-kata yang mungkin menyakiti orang lain baik itu sengaja maupun tidak, namun saya belajar memperbaikinya. Saya mungkin masih sulit melupakan perlakuan beberapa orang yang pernah menyakiti saya, namun saya bisa katakan saya memaafkan mereka dan saya berharap mereka, orang-orang yang pernah saya sakiti juga memaafkan saya. Belajar melupakan juga satu hal yang harus saya pelajari karena saya menyadari bahwa kepala saya tidak akan bisa menampung ilmu yang baru jika masih ada beban dan hal-hal yang sudah tidak relevan dengan babak kehidupan yang sekarang saya jalani. Mengosongkan kepala itu perlu sesekali untuk menyediakan tempat untuk pemikiran baru, untuk ilmu baru yang bisa kita gunakan sebagai dasar untuk melangkah lagi.

Sekali lagi, jangan pernah takut berbeda karena perbedaan itu indah, perbedaan itu sarat dengan pelajaran-pelajaran yang bisa kita petik, perbedaan itu memiliki banyak sisi positif yang bisa kita gunakan dalam hidup dengan manusia lain di bumi ini dan perbedaan itu bisa kita jadikan sebagai acuan untuk belajar dan melatih diri untuk menjadi lebih baik lagi. Saya juga masih belajar, mari sama-sama belajar dan mengingatkan, jika saya salah katakan salah sehingga saya memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan tersebut. Saya lebih baik ditegur jika melakukan kesalahan daripada didiamkan saja karena bagi saya teguran tersebut adalah tanda sayang dari orang lain yang ingin saya belajar dan tumbuh. Entahlah, saya merasa jika saya melakukan sesuatu yang tidak benar dan didiamkan begitu saja, itu bagi saya adalah orang tersebut sudah tidak peduli tentang saya. Jadi jika saya masih kamu anggap sebagai teman, tegurlah saya jika saya berbuat salah atau melewati batas tanpa saya sadari dan saya akan lakukan hal yang sama karena kamu adalah teman saya dan saya peduli sama kamu.”

”Will do Den, terima kasih sudah berbagi.”

”Terima kasih kembali, sudah mengijinkan saya berbagi.”

Percakapan kami usai karena waktu sudah mengingatkan kami bahwa ada kewajiban yang harus kami lakukan untuk orang-orang tersayang dengan janji jika ada waktu luang yang lain, kami akan berbagi lagi tentang hal-hal lain, tentang hidup, tentang segala hal. Aaaahhhh…indahnya berbagi!

Stockholm, demaodyssey 03062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography, thought and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Berbagi dengan Seorang Teman

  1. Pingback: Makna dari Kata Melepaskan | One step at a time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s