Putri Kecil Kami

Namanya Agnes, putri kecil kami yang sebentar lagi akan menginjak 3 tahun. Waktu serasa cepat sekali berlalu terutama saat melihat A yang tumbuh menjadi gadis kecil dengan kemampuan yang semakin terasah. Kami masih sering dibuat kaget dan kagum melihat betapa cepatnya A menyerap hal-hal di sekitarnya, baik itu kami ajarkan secara sengaja ataupun tidak. Gadis kecil yang sudah bisa memilih kegiatan yang disukainya namun masih bisa diajak bernegosiasi dan berdiskusi untuk melakukan hal lain yang ada di dalam skala prioritas. Putri yang yang mengajarkan banyak hal baik itu sebagai orang tua maupun sebagai individu, putri yang selalu mengingatkan kami akan nilai dan prinsip yang kami pegang dalam hidup dan yang ingin kami A belajar nantinya, sehingga suatu saat jika dia ingin memiliki nilai dan prinsip yang baru, dia punya bahan pembanding yang bisa dijadikan acuan.

Pulang dari 9 minggu menghabiskan waktu di Bali, kemampuan berbahasa Inggris A berkembang sangat pesat. Bahkan Papanya sendiri terkejut dan kagum, bagaimana 9 minggu itu bisa membuat putrinya berkomunikasi dengan lancar dengan bahasa Inggris yang sebelumnya A hanya bisa menyebutkan kalimat yang pendek-pendek. A bahkan menunjukkan ke Papanya kalau dia bisa mengarang suatu cerita bersamaan dengan tangan mungilnya memainkan beberapa figur lego. Kami, tentu saja bersyukur dengan perkembangan tersebut dan berusaha mempertahankan apa yang kami lakukan selama ini. Di rumah, kami menggunakan 3 bahasa. Saya menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara berdua dengan A, Papanya menggunakan bahasa Swedia dan jika kami bersama-sama, kami menggunakan bahasa Inggris. Saya dengan suami sendiri memang masih menggunakan bahasa Inggris karena saya ingin melatih terus kemampuan bahasa Inggris saya sehingga tidak hilang. Alasan yang mungkin untuk orang lain tidak masuk akal tapi bagi saya itu sangat masuk akal karena dulu saya pernah bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang saat mendapat beasiswa dan bekerja di Singapore tahun 2000-2001 tapi karena sudah tidak pernah terpakai lagi, jadinya saya lupa dan sedikit ingat akan huruf Hiragana dan Katakana. Maka dari itu saya tidak mau lagi kehilangan kemampuan untuk berbahasa Inggris dengan lancar.

Waktu di Bali kemarin, bahkan ketika kakak dan keluarga menggunakan bahasa Bali, A sepertinya mengerti namun menjawabnya dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kami sebagai orang tua berharap A akan bisa setidaknya 2 bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Swedia. Kalau nantinya dia bisa bahasa Inggris dan bahasa Bali, itu adalah bonus. Kenapa saya sepertinya bersikeras agar A bisa bahasa Indonesia? Alasannya adalah, saya ingin A bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Bali. Alasan lain adalah saya ingin A mencintai akar Mamanya seperti A mencintai akar Papanya, karena bagaimanapun A adalah anak yang mempunyai 2 kebudayaan yang sama unik dan indahnya. Hanya dengan bahasa Indonesia, A akan bisa belajar, menyelami dan memperkuat ikatannya kepada Indonesia baik itu dalam hal kulturnya, tradisi, kekayaan alam dan semua hal tentang Indonesia. Kami ingin A mengerti bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain, Indonesia adalah negeri yang mengagumkan dan hebat dan memiliki keunikan yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Dalam lingkup kecil, sebagai orang tua, P dan saya ingin A mengerti tata krama dan adat istiadat Bali, tanah kelahiran Mamanya, karena nantinya A akan berhadapan dengan anggota keluarga dari pihak Ninik dan Kakiangnya yang tentu saja memiliki pandangan dan tata krama yang berbeda walaupun keduanya adalah orang Bali.

Bagi kami, bahasa adalah salah satu dari beberapa hal penting yang harus A kuasai karena kami tidak mau ketika A pulang ke Bali, dia akan merasa seperti orang luar dan bukan bagian dari keluarga. Kami (terutama saya) mungkin bisa dibilang agak keras kalau dalam satu hal ini, karena saya pernah merasakan bagaimana rasanya tidak bisa mengikuti secara utuh ketika pertama kali bertemu dengan anggota keluarga dari pihak suami ketika mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Swedia. Mereka sebenarnya baik dan selalu menyediakan waktu bagi P untuk menterjemahkan apa yang mereka bicarakan, namun saya merasa seperti orang luar dan merasakan bahwa saya memperlambat alur percakapan tersebut. Sejak kejadian itu saya bertekad berusaha sebaik mungkin belajar bahasa Swedia dan tidak merepotkan P dan anggota keluarga yang lain. Pengalaman itu pula yang membuat saya berkerja keras untuk mengajarkan A untuk bis aberbahasa Indonesia walaupun saya sadar dan tahu tantangan apa yang ada di hadapan saya, namun saya sudah siap.

Bahasa Indonesia A tidak berkembang seperti bahasa Inggris nya, hal ini sempat membuat kami heran. Tapi saya belum menyerah, saya hanya perlu melanjutkan apa yang saya sudah lakukan sebelumnya. Saat ini A terkadang masih berbicara dalam bahasa Inggris kepada saya, seperti minggu lalu ketika A mengajukan pertanyaan ’mengapa’ untuk pertama kalinya.

”Mama, why Papa has to work?”

”Maksud Agnes, why does Papa have to work? Mengapa Papa harus bekerja? Work bahasa Indonesianya kerja (saya berusaha menterjemahkan langsung kepada A kata-kata yang dia ucapkan dalam bahasa lain selain bahasa Indonesia). Papa bekerja karena kita perlu uang untuk makan, untuk beli baju, buku dan lain-lain. Seperti waktu kita pergi liburan ke bali, naik pesawat, terus waktu Agnes main dan ketemu sama Maming, Mbok Ayes, Om Alit, biang Ira dan semua kakak-kakak di Bali dan Malang, itu uangnya hasil Papa kerja. Agnes ingat saat beli kue waktu Mama ulang tahun? Itu juga dari Papa. Nanti bulan Agustus, Mama juga harus bekerja dan Agnes sekolah agak lama, tidak apa-apa kan?!”

”Mama tidak kerja, Mama sekolah”

”Dulu Mama sekolah tapi kan sudah selesai sebelum kita pergi ke Bali. Setelah selesai sekolah, Mama bekerja sama seperti Papa.”

”Hmmm, oke Mama.”

Ada rasa yang tidak bisa saya ungkapkan ketika pertama kali A menggunakan kata ’mengapa’ yang membuat saya tersenyum, mengelus kepala putri kami dan memberikannya ciuman sayang. Putri saya sudah semakin besar, sudah bisa diajak berkomunikasi, bercerita dan mengenang masa-masa kecil saya setiap malam. Seperti anak kecil lainnya, A juga terkadang keras kepala dan berteriak jika keinginannya tidak dipenuhi, namun hal itu biasanya tidak berlangsung lama karena A akan duduk di pangkuan saya untuk mendengarkan penjelasan Mamanya yang panjang kali lebar. Jika A sedih dan menangis, biasanya saya akan menjelaskan bahwa saya juga pernah kesal dan menangis seperti dia waktu saya kecil. Saya biasanya berbicara dengan A dan memberitahukan bahwa saya juga pernah berada di posisi yang sama, dan menceritakan bagaimana sebaiknya kalau kita kesal atau sedih atau marah. Seperti contohnya kalau marah, saya akan ajak A untuk berhitung 1 sampai 10 perlahan-lahan dan menanyakan apakah A masih marah ketika kami berdua sudah menghitung sampai angka 5. Cara yang saya pergunakan ini berhasil meredam rasa marah, kesal dalam diri putri kami ini. Semoga dia bisa menerapkan cara yang sama ketika berhadapan dengan rasa kesal dan marah dan juga rasa yang lainnya.

Tata bahasa Inggris A memang belum sempurna dan saya berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya walaupun mungkin terkadang saya harus melihat lagi di buku tata bahasa yang saya punya atau bahkan di internet. Bahasa Inggris saya jauh dari sempurna namun Papanya A biasanya akan mengoreksi jika menemukan saya menggunakan kata atau tata bahasa yang tidak sesuai. Kalau dalam berbahasa Indonesia, saya berusaha berbicara dengan tata bahasa yang agak baku walaupun hal ini membuat keponakan saya yang bekerja di Swedia tertawa mendengarnya. Menurut dia, saya terdengar aneh ketika saya berbicara sesuai EYD dengan A dan semakin aneh lagi karena saya selalu menjelaskan panjang lebar dengan A dan menggunakan pengalaman masa kecil saya dulu sebagai pembanding. Entahlah, saya termasuk cerewet dan sangat senang berbicara dengan A, menceritakan pengalaman yang saya punya. Terus terang, saya tidak tahu apakah A menyerap semuanya namun sepertinya dia juga senang mendengarnya, karena bisa dipastikan dia akan duduk manis di pangkuan Mamanya atau berada di pelukan Mamanya ketika saya menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu.

Kami memang sudah sepakat akan menggunakan gabungan dari yang terbaik dari 2 kebudayaan yang berbeda, yang terbaik dari Bali, Indonesia dan yang terbaik dari Swedia. Sebagai orang tua yang mempunyai latar belakang berbeda, kami berusaha menselaraskan kedua kultur ini sehingga nantinya bisa berjalan dalam harmoni dan memberikan sumbangsih yang sama banyak porsinya ke dalam hidup putri kami. Mungkin sekarang porsi penggunaan bahasa Swedia akan lebih besar terutama saat A berada di sekolahnya 5 hari seminggu, namun saya yakin saya bisa memberikan stimulasi yang cukup buat A untuk bisa mempertahankan kemampuan bahasa Indonesia nya. Ini sebuah pekerjaan rumah buat saya, mencari cara bagaimana saya bisa tetap konsisten, menggali, mencoba dan selalu memperbaiki cara yang paling ampuh untuk bisa membantu A meningkatkan keterampilan A berbahasa Indonesia terutama penambahan kosa katanya. Ini sebuah tantangan yang saya tahu akan datang dan saya sudah siap akan hal itu.

Cerita singkat mengenai putri kami, sejujurnya masih banyak hal yang ingin saya tuangkan melalui tulisan. Nanti jika saya ada waktu lagi, saya akan ceritakan lagi tentang A, tentang saya dan P, sebagai orang tua dan sebagai sebuah team yang saling membantu satu sama lain, tentang satu keluarga kecil yang menorehkan kisah-kisah keseharian dalam kata-kata. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saya ingin A bisa menguasai bahasa Indonesia, karena secara pribadi saya berharap nantinya A bisa membaca dan mengerti apapun yang saya tuangkan dalam blog ini, siapa tahu A akan mengikuti jejak saya, belajar menuliskan kegiatannya dan menjadikan menulis itu sebuah kebutuhan. Semoga…

Stockholm, demaodyssey 07062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Indonesia, photography, Tentang A and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Putri Kecil Kami

  1. nyonyasepatu says:

    Ngajarin banyak bahasa gitu susah susah gampang juga ya. Mesti disiplin

    • dema1497 says:

      Yang paling penting konsisten Mbak Nik 🙂 Saya dan Patrik punya keinginan yang sama yaitu A bisa minimal 2 bahasa, makanya kami jadi saling men-support satu sama lain dan berusaha berkomitmen dengan keputusan yang kami berdua ambil, apalagi dengan bahasa ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s