Makna dari Kata Melepaskan

Mengobrol sebentar dengan Kakak tertua yang tinggal di Malang, tidak bisa lama karena perbedaan waktu yang cukup panjang, yang di Malang sudah lewat tengah malam yang di Swedia masih menikmati makan malam. Obrolan kali ini menjelaskan kembali lagi tentang suatu kata dan maknanya, melepaskan.

Terkadang kita tidak mengerti tentang keputusan yang diambil orang lain yang menurut kita suatu langkah bunuh diri atau mengejar mimpi semu. Saat kita sudah memberikan pendapat kita, saat kita sudah memberikan pertolongan yang maksimal, saat niat baik kita diabaikan begitu saja, saat itulah kita harus belajar melepaskan. Mendalami arti kata tersebut walau kadang hati kita ikut teriris, namun itulah yang harus kita lakukan. Dengan melepaskan sesuatu setelah kita berjuang mempertahankan, belajar mengerti jalan hidup masing-masing orang adalah berbeda dan memberikan yang terbaik, bukan saja memberikan pembelajaran baru kepada orang tersebut namun juga pembelajaran kepada diri kita sendiri. Melepaskan bukan berarti tidak ada rasa sayang lagi, malah rasa sayang inilah dasar kita untuk berani melepaskan dan memberikan kesempatan orang tersebut menjalani karmanya, baik itu karma buruk atau karma baik, sekalipun orang tersebut adalah bagian dari diri kita. Jika kita sudah mengerahkan segala kemampuan kita kepada seseorang namun keadaan tidak berubah, kita hanya bisa berharap (mungkin) Tuhan punya rencana lain untuknya. Tuhan ingin orang itu belajar tentang satu hal, belajar tentang hal yang mungkin selama ini belum dia lalui dengan sebuah kelulusan. Masih harus berkubang dengan keadaan yang sama sampai tersadar dengan sendirinya dan berubah ke arah yang lebih baik.

Jika kita sudah melakukan karma yang menurut kita memang sudah seharusnya dilakukan, kita tidak punya kontrol lagi terhadap karma orang yang akan kita tolong. Seperti yang pernah saya sampaikan di tulisan sebelumnya yang bisa dibaca di sini, kita hidup di dunia ini membawa karma masing-masing. Kita bertanggungjawab hanya untuk karma yang kita perbuat dan bukan orang lain, karma kita adalah karma yang kita lakukan dan reaksi kita akan tindakan orang lain. Apa yang orang lain lakukan bukanlah di jangkauan kontrol kita. Sebagai manusia tentu saja kita berusaha untuk menolong dengan cara kita masing-masing namun kita punya keterbatasan, kita tidak selamanya bisa memberikan bantuan kepada orang tersebut, apalagi jika ada pertalian darah di sana. Kita tidak membicarakan tentang hilangnya sayang dan cinta di sini, namun tentang bagaimana kita menolong orang tersebut dengan cara yang (mungkin) agak berbeda dengan orang lain lakukan pada umunya. Seperti memberikan ikan kepada teman atau saudara yang kesusahan atau membutuhkan, apakah kita harus selamanya memberikan dan menyuapi dengan ikan? Menurut saya, kita bisa memberikan satu atau dua kali ikan kepadanya namun pertolongan yang lebih tepat adalah dengan memberikan pancing sehingga orang tersebut bisa menghidupi dirinya sendiri dan (mungkin) nantinya bisa menghidupi orang lain ketika sudah bisa berdiri di kaki sendiri. Mengapa?

Bagi saya, dengan selalu memberikan ikan itu berarti kita tidak memberikan pertolongan yang sesungguhnya. Malah kita melemahkan kemampuan orang tersebut dan kita membantu orang tersebut menjadi malas, tidak menjadi orang yang bisa bertahan dalam badai. Nafas yang ada pada kita ini adalah pinjaman, jika kita hanya menyuapi dengan ikan tanpa mengajari bagaimana menjadi seorang ’survivor’ bagaimana nasib orang tersebut jika kita menghadap Sang Pemilik Kehidupan? Apakah dia atau mereka harus mengikuti kita ke liang kubur padahal waktu mereka mungkin tidak sama dengan kita? Terus terang, saya tidak ingin memiliki andil di sebuah keputusasaan seseorang, yang saya inginkan adalah mempunyai andil dimana orang tersebut bisa bertahan dan menuliskan perjalanan hidupnya walaupun sulit sekalipun. Walaupun adakalanya keputusan memberikan pancing itu akan melukai hati saya, namun dengan pilihan tersebut saya tidak membohongi hati nurani saya. Masalah sakit dan luka di hati, itu sudah merupakan karma yang harus saya jalani, jadi itu tanggung jawab saya bagaimana saya bereaksi terhadap rasa sakit, saya yakin saya bisa menemukan cara berdamai dengan rasa sakit jika ada kemauan.

Mungkin teman-teman yang membaca ini akan melihat bahwa apa yang saya tuangkan di sini terdengar kejam, namun ini bagian dari berani menjadi melawan arus, berani berbeda sesuai dengan nilai dan prinsip hidup yang saya pegang. Jujur, membohongi hati nurani itu amat sangat tidak nyaman, karena kita akan dihantui rasa bersalah atau rasa-rasa yang lain yang terkadang mengganggu kita dalam tidur dan saat-saat yang tidak kita inginkan. Yang lebih parah lagi, rasa tersebut bisa datang kapan saja tanpa kita pernah kita tahu. Saya bisa berkata begini karena saya pernah mengalaminya, namun setelah saya belajar menguatkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya, saat itu saya terlepas dari belenggu sebuah kebohongan. Memang tidak mudah, namun bukan berarti hal itu mustahil dilakukan. Terkadang kita harus menoleh ke samping, mencari inspirasi akan kekuatan diri dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Setiap orang memiliki kemampuan masing-masing, bisa mencapai hal tertinggi dengan satu syarat, jika ada kemauan, kemauan dalam segala hal terutama mau untuk belajar, karena hidup adalah sebuah pembelajaran. Kita tidak akan pernah berhenti belajar bahkan dalam hal sederhana pun kita bisa memetik sebuah pelajaran, sekali lagi jika kita memiliki tekad, memiliki kemauan, memiliki kedahagaan akan sebuah ilmu baik untuk lahir dan bathin.

Kakak masih terlelap di belahan ujung dunia yang satunya dan di sini saya masih berkutat dengan pemikiran dan mencari celah untuk berteman dengan rasa sakit. Berharap yang terbaik, berharap bahwa pancing yang kami berikan itu bisa digunakan dan bukan diletakkan saja di pojok rumah. Sebuah harapan tentang satu perubahan ke arah yang lebih baik yang (mungkin) belum terlihat sebagai sebuah kebaikan. Mata bisa saja tertutup dan berbeda, satu orang melihat itu sebagai sebuah kebaikan sedangkan yang satunya melihat sebagai sesuatu yang tidak tepat. Tapi siapakah kita bisa menentukan mana yang paling benar? Tidak ada kebenaran yang sejati karena hanya perubahan lah yang abadi. Mungkin apa yang saya dan kakak anggap baik belum bisa terlihat sebagai sebuah jalan keluar, namun kami bertahan karena kami yakin inilah yang kami inginkan. Biarlah waktu yang nantinya membantu kami untuk melihat kehidupan manakah yang memberikan senyuman dan kehidupan mana yang memberikan sebuah kepalsuan, hal semu. Sebenarnya sudah bisa kami rasakan sendiri namun sekali lagi, ini keputusan kami untuk melepaskan, belajar melepaskan (lagi).

Dari pilihan melepaskan kami belajar ikhlas, belajar berbincang dengan rasa sakit dan tidak nyaman, menerima bahwa ini bagian dari karma. Ada rencana Tuhan yang kami tidak tahu dan tidak seorangpun tahu namun kami yakin ini yang terbaik dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang umatnya tidak bisa menyelesaikan. Ini hanya tentang waktu, kami hanya akan menjadi penonton kali ini tanpa beradu akting lagi di dalam sebuah pementasan. Sebuah mimpi bahwa panggung itu tidak roboh sebelum pentas selesai dimainkan, mimpi tentang sebuah akhir yang bisa membuat semuanya tersenyum dan mengerti sekali lagi tentang inilah karma yang selalu menyertai kita dalam setiap langkah yang kita ambil di perjalanan kali ini, di buku kehidupan yang kita bawa saat lahir yang bertuliskan kisah-kisah tentang pencarian sebuah keseimbangan.

Stockholm, demaodyssey 08062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s