Buku Kesayangan A

A, putri kami memiliki beberapa koleksi buku yang bertambah setiap kami pulang ke Bali, Indonesia atau saat mendekati hari ulang tahun A. Buku-buku tersebut tidak semuanya baru terutama yang berbahasa Swedia karena di Swedia, kami bisa membeli buku anak-anak bekas dengan harga yang sangat murah. Biasanya saya pergi ke toko barang bekas khusus anak-anak yang menjual buku seharga 10 kronor (sekitar 15 ribu rupiah) yang sebenarnya kalau beli buku yang sama dengan keadaan masih baru, harganya bisa mencapai 8-15 kali lipat. Kondisi bukunya pun banyak yang bagus dan bahkan ada beberapa buku yang kami beli kondisinya sangat baru dan tidak terlihat kalau buku tersebut sudah dapat digunakan.

Di Swedia, membeli barang bekas bukanlah hal yang baru, tidak saja bagi anak-anak tapi juga untuk orang dewasa. Saya sering membeli baju di toko second hand yang ada di dekat rumah dan juga di kota. Begitu juga ketika membeli baju dan barang-barang perlengkapan A seperti kereta dorong, baju musim dingin, meja, kursi, rak buku dan masih banyak lagi. Pernah gara-gara hal ini saya sempat ditegur oleh teman karena segala hal yang dipunyai A bisa dikatakan 95 persen barang second hand karena menurut dia, kasihan A, lagipula A kan anak pertama di keluarga jadi seharusnya semua barang yang dimiliki A adalah barang baru. Saya tersenyum saja mendengarkan teguran tersebut karena bagi saya, membelikan segala hal yang baru hanya karena anak pertama adalah sesuatu yang tidak wajib. Saya lebih melihat secara praktis saja, apalagi kami tinggal di negeri kulkas yang kebudayaan untuk daur ulang sudah mendarah daging. Membeli barang second hand adalah salah satu dari kebudayaan daur ulang tersebut terutama ketika anak masih di bawah 5-6 tahun. Mengapa begitu? Anak-anak sangat cepat pertumbuhannya, baju musim dingin terkadang hanya bisa dipakai satu musim saja dan harus membeli ukuran yang lebih besar di musim dingin berikutnya. Harga baju dan jaket musim dingin bisa ratusan kronor, daripada membuang-buang uang hanya untuk membeli sesuatu yang hanya terpakai sekali saja, lebih baik uang tersebut kami belikan hal-hal yang bisa menstimulasi perkembangan otak A seperti buku. Well, sebenarnya adalah alasan utama mengapa kami sampai saat ini masih berburu barang-barang bekas baik itu buat A atau saya karena hal-hal tersebut baik untuk mengajarkan A agar bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak.

Maksudnya seperti ini, kalau suatu saat nanti A melamar pekerjaan, bos perusahaan tersebut tidak akan menanyakan apakah baju dan barang yang A miliki waktu bayi adalah barang bekas atau barang baru. Mereka akan melihat kemampuan yang A miliki dan sikap serta tingkah laku sebagai individu dan bagian dari masyarakat. Setidaknya saya tidak pernah mengalami hal tersebut ketika mendapat kesempatan wawancara. Jadi saya ingin menanamkan kepada A bahwa ada hal-hal yang bisa kita kompromikan dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kompromikan seperti menggali potensi dan bakat yang kita punya, ini adalah yang utama. Bagaimana kita menggunakan kemampuan, bakat dan potensi yang ada untuk memberika arti kepada diri sendiri, keluarga dan orang lain. Selama masih bisa dan masih ada toko yang menjual barang bekas, saya akan berusaha mencari barang tersebut terlebih dahulu di toko barang bekas, jika barang tersebut tidak ada, baru saya akan mencoba mencari yang baru. Begitu juga dengan kebutuhan A, ada satu hal yang kami beli baru yaitu sepatu karena sepatu itu sangat penting terutama dalam pembentukan kaki anak. Karena hal inilah kami selalu membeli sepatu yang baru buat A walaupun Mamanya selalu berusaha menunggu ada penurunan harga atau beli di outlet nya sekalian (iyaaaa Mamanya A emang pelit hihihihi).

Kalau buku, saya tidak segan-segan membeli baru terutama buku yang berbahasa Inggris, berbahasa Indonesia dan berbahasa Bali. Karena memang sepertinya mustahil menemukan buku-buku tersebut terjual di toko barang bekas, terutama buku dalam bahasa ibu saya, yaitu bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Buku bahasa Inggris untuk anak-anak bisa dibilang lumayan mahal harganya di Swedia, maka dari itu saya membeli buku-buku tersebut di Inggris karena ada sebuah website yang menjual buku anak-anak murah. Website tersebut bernama The Book People. Kebanyakan buku bahasa Inggris yang A miliki itu hasil koleksi Mamanya ketika sempat tinggal di UK selama 2 tahun. Jadi belinya pun dicicil dan hemat ongkos kirim. Walaupun begitu kami juga masih akan membeli buku di website tersebut karena walaupun sudah ditambah ongkos kirim, buku-buku tersebut masih jauh lebih murah harganya dibanding kalau saya membeli di toko buku di Swedia.

Buku-buku yang ada di blog post ini adalah buku kesayangan A. Hampir semuanya akan dibawa kemanapun A pergi, bahkan ketika kemarin kami pulang liburan ke Indonesia, kami membawa buku-buku tersebut. Seperti terlihat Buku Pustaka Dongeng Nusantara kondisinya tidak seperti buku-buku yang lain karena buku itulah yang paling sering saya baca untuk A dan ketika A berpura-pura membaca buku, maka Dongeng Nusantara lah yang dia buka berkali-kali. Jika dilihat isinya, setiap cerita di buku ini sebenarnya lumayan panjang, namun biasanya saya membacanya saat saya menemani A bermain. Jadi A akan bermain sendiri dengan mainannya dan saya akan membaca cerita ini dengan suara yang agak keras sehingga A akan mendengar. Sesekali, A akan menghampiri saya dan bertanya serta menunjuk gambar yang ada terutama cerita yang dia dengar menarik seperti Ketimun Emas (mungkin) karena suara Mamanya yang aneh ketika menirukan suara raksasa yang mengejar Ketimun Emas. Buku yang lainnya, ceritanya pendek sehingga biasanya A akan duduk di samping atau duduk di pangkuan saat pembacaan buku tersebut. A biasanya akan meminta Farmor dan Farfar untuk membaca buku Swedia, Papa untuk buku dalam bahasa Swedia dan Inggris sedangkan Mama untuk segala buku.

Membaca buku juga salah satu kegiatan saat kita bepergian terutama saat mengendarai mobil. Sampai saat ini saya masih duduk di belakang bersama A karena saya biasanya beraktifitas dengannya saat Papa menyetir. Entah itu bermain dengan beberapa figur boneka atau membaca buku, bisa dikatakan amat sangat jarang saya duduk di depan menemani Papa kecuali tentu saja ketika saya harus menyetir, A akan duduk sendiri di belakang. Khusus untuk buku berjudul Monkey Could Waterski, A hampir bisa menebak apa yang akan terjadi dan menceritakan kepada saya tentang isi halaman tersebut, hal ini mungkin disebabkan karena buku ini sangatlah sering kami baca baik itu di rumah, di pesawat, di kereta atau bahkan di tempat-tempat yang kami kunjungi. Kalau bisa dibilang buku ini menempati peringkat pertama di daftar buku kesayangan putri kami ini dan menurut saya isi buku inipun sangat menarik dan mengajarkan hal-hal yang bisa dilakukan seekor monyet dan hal-hal yang tidak bisa dilakukan. Penulisnya menuangkan fakta tentang seekor binatang dengan cara yang asik untuk didengar atau dibaca seorang anak tanpa merasa terpaksa belajar fakta-fakta tersebut. Buku ini adalah bagian sebuah seri yang terdapat 10 judul buku di dalamnya dan semua buku tersebut berkisah tentang binatang.

A juga memiliki banyak buku di kamar dan di pojok bermainnya, dan akhir pekan ini, saya rencananya ingin menata ulang ruang tamu kami dan membuat pojok yang lebih nyaman lagi buat A untuk bermain dan ada beberapa proyek yang akan saya kerjakan setelah penataan tersebut. Semoga saja bisa terselesaikan dalam waktu 2 hari sehingga saya bisa perlihatkan di blog ini hasil sebelum dan sesudahnya.  Inilah sedikit cerita tentang buku kesayangan A, saya akhiri dulu untuk saat ini. Sebelum pamit, saya ingin mengucapkan, selamat berakhir pekan ya teman-teman semuanya, sampai bertemu lagi di post selanjutnya.

Stockholm, demaodyssey 09062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Buku Kesayangan A

  1. zbethz says:

    Buku Dongeng Nusantara itu Mila juga punya Den, beli di Fankfurt Book Fair pas sama mbakyurop kapan itu 😄

    • dema1497 says:

      Waaah tooosssss dulu kakak Mila 🙂 Aku kemarin mencoba mencari lagi buku yang sama karena maunya biar ada cadangan karena yang ini sudah dedel duel hehhe tapi sayangnya belum ketemu, semoga saja nanti Kakak di Denpasar bisa cek lagi di Gramedia. Kakak Mila pasti senang dibacain buku ini ya Beth 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s