Kreatifitas, Nilai Lebih Kehidupan

”Papaaaaa, look. Mama makes a dollhouse for me!”

”Oh wow… Mama is very good. Do you like your dollhouse?”

”Yes, I love my dollhouse!”

”Aaaaah, thank you Agnes, thank you Papa”

Percakapan ini terjadi ketika kami menyambut Papa pulang dari kantor. Hati saya penuh dengan kebahagiaan melihat kedua orang yang saya sayangi suka dengan apa yang saya buat. Terlebih A mengerti bahwa rumah boneka itu adalah buatan Mamanya. Dari sejak pulang sekolah dia sudah bermain dengan asik dan cerita tentang keluarga Peppa Pig mengalir lancar di mulutnya. Seperti yang sudah saya pernah tulis sebelumnya bahwa putri kami sangat suka dengan karakter Peppa Pig dan Om Alit, menolong kami untuk membelikan karakter Peppa Pig lengkap dengan teman-teman sekolahnya. Ketika saya memberikan karakter tersebut kepada A, matanya berbinar dan bibir mungilnya tidak henti-hentinya berbicara dan menyebut nama di setiap boneka-boneka kecil tersebut. Ditambah sekarang keluarga Peppa Pig sudah memiliki rumah yang digunakan untuk bermain bersama, minum teh dan juga piknik. Melihatnya tenggelam dalam dunianya dan mengarang cerita baru dengan rumah boneka hasil buatan saya, membuat saya tersenyum oleh luapan kegembiraan dan kepuasan.

Ada banyak alasan mengapa saya membuatkan rumah boneka itu untuk A dan tidak membelinya, salah satunya karena rumah boneka yang saya lihat sangat mahal walaupun itu hanya bekas. Alasan lainnya adalah desain rumah boneka yang dijual tidak ada yang sesuai dengan apa yang saya mau. Namun alasan utamanya adalah, mengajarkan A untuk menjadi kreatif dan bukan konsumtif. Kami bisa saja membelikannya dan saya tidak usah susah-susah menggunakan waktu saya untuk berkutat dengan barang-barang bekas yang kami punya di rumah, tapi apakah kami bisa mengajarkan nilai lebih di kehidupan pada A yaitu kreatifitas? Menurut saya tidak bisa, alih-alih mengajarkan kreatifitas, saya takut kalau saya malah mengajarkan A untuk konsumtif.

Saya mengerti dan sadar bahwa kreatifitas akan bisa membantu kita dalam segala hal dan situasi yang ada di kehidupan kita. Kreatifitas juga mengajarkan kita bahwa dengan sedikit uang atau tanpa uang sama sekali kita bisa bahagia dan menikmati hidup. Nilai lain yang diajarkan oleh kretifitas adalah apa yang kita ciptakan dari tangan kita sendiri akan lebih lama tersimpan daripada kita membelinya. Jika jika kreatif, kita akan terus menantang otak kita untuk belajar dan memperbaiki hasil yang sudah kita wujudkan, terus menggali ide-ide baru yang nantinya bisa kita gunakan untuk membahagiakan diri kita dan bahkan orang lain. Orang yang kreatif tidak akan kehabisan akal untuk membunuh waktu jika berhadapan dengan yang namanya kebosanan. Kreatifitas adalah salah satu unsur utama yang harus kita miliki untuk menjadi seorang survivor. Hal yang paling penting adalah tidak ada seorangpun yang bisa mengambil kreatifitas yang kita miliki dalam diri kita.

Harta bisa saja hilang, kecantikan bisa saja pudar namun kreatifitas akan terus terasah dan semakin tajam jika kita menggunakannya. Ini juga yang membuat saya dan suami ingin A belajar dan mengerti bahwa menjadi seseorang yang kreatif lebih baik daripada menjadi orang yang konsumtif. Dalam jangka panjang kreatifitas lebih diutamakan daripada sifat konsumtif. Contohnya, jika kita melamar pekerjaan, perusahaan akan lebih memilih karyawan yang kreatif daripada yang konsumtif. Itu hal penting karena menurut kami, orang yang kreatif akan puas dan bahagia dengan apa yang dia miliki, namun orang konsumtif tidak akan pernah puas walaupun barang-barang sudah bertumpuk di rumahnya. Biasanya, orang yang kreatif tidak akan mempersoalkan penampilan, selama apa yang dipakai adalah bersih dan layak pakai. Sedangkan, kami banyak menemui orang-orang yang konsumtif tidak akan pernah puas dengan penampilan atau barang yang dimilikinya. Sekali lagi kami tidak ingin A menjadi seperti itu, kami ingin A tahu dan mengerti bahwa penampilan bukanlah hal yang paling utama dalam hidup. Mengapa?

Jawabannya adalah perlu waktu yang lebih lama untuk belajar menjadi orang yang kreatif dibanding menjadi orang yang konsumtif atau orang yang modis. Saya membuktikan sendiri bahwa perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menjadi pintar dan cermat dalam membuat origami, namun untuk menjadi konsumtif tidak diperlukan waktu lama, selama itu ada kemampuan untuk membeli. Malah terkadang ada beberapa kasus yang pernah saya temui, orang yang konsumtif akan sulit menghentikan kebiasaannya walaupun sudah tidak memiliki dana untuk menjadi konsumtif, hasilnya? Akan terbelit hutang dan penyesalan. Saya mengerti bahwa banyak hal yang tidak bisa diolah dari barang bekas, tapi kami mencoba mengajarkan pada A kalau berbelanja menggunakan skala prioritas, mana hal yang terpenting dan mana yang bisa menunggu atau bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita. Seperti yang saya pernah bilang di tulisan terdahulu, kalau masalah buku, saya tidak segan membeli yang baru kalau memang tidak saya dapatkan di toko barang bekas, karena bagi saya buku adalah ilmu yang bisa meluaskan wawasan dan bisa dipakai oleh A sampai beberapa tahun. Sebentar lagi saya akan bekerja dengan anak-anak, buku-buku yang dimiliki A bisa saya gunakan untuk menunjang pekerjaan saya. Lagipula memiliki buku (harapan kami) bisa menumbuhkan niat membaca A, karena jika saya memiliki waktu luang dan A lebih memilih bermain sendiri, saya akan berada di sebelah A sambil membaca kembali buku-buku koleksi saya. Sepertinya A tanpa sadar melihat kebiasaan saya ini dan dia tahu mana buku yang sering saya baca dan mana buku sering dibaca kakek neneknya. Bahkan A sudah mengklaim salah satu buku bahasa Swedia saya padahal dia belum bisa membaca novel tersebut. Kalau saya ingin membaca buku novel tersebut, maka saya harus meminta ijin sama A apakah saya boleh meminjam atau tidak. Semoga saja, niat membaca A terus berkembang ke depannya.

Mendengar A memberi tahu Papanya tentang rumah boneka tersebut membuat saya bangga. Setidaknya dia mengerti kalau mainan tersebut hasil karya Mamanya, karena saya memang terus menceritakan selama proses pembuatannya, bahwa rumah boneka itu berasal dari kardus bekas jagung bakar yang saya dapatkan dari toko bahan makanan ICA secara cuma-cuma, bantal dan bahan selimut saya bilang ke A kalau itu berasal dari baju Papanya yang sudah tidak terpakai lagi (tentu saja sambil menunjukkan wujud kemeja yang sudah saya potong sana sini) dan tempat tidur dari es krim yang saya kumpulkan selama 3-4 bulan. Sempat A berniat untuk membantu saya menempel kertas kado bekas Natal tahun lalu, namun saya sarankan untuk belajar menempel di sebuah kardus sepatu dulu dan memberitahukan bahwa kardus sepatu itu sebagai ajang untuk latihan dan kalau sudah bisa maka A bisa membantu saya di proyek besar selanjutnya. Putri kami menurut dan dia dengan asik menggunting kertas kado dan menempelkannya di kotak sepatu di samping saya sambil terkadang ada nyanyian kecil dari mulutnya. Mengerjakan sesuatu bersama A adalah sesuatu yang menyenangkan walaupun setelah kita membuat kerajinan, saya harus membersihkan extra tempat kami berkarya. Tapi itu tidak menjadi soal, menurut saya, kalau kami ingin A nantinya menjadi kreatif maka kami harus rela dan dengan senang hati membersihkan tempat setelah A melatih otot-otot motoriknya. Kami rela berkorban tenaga untuk mengajarkan A nilai-nilai dan prinsip yang kami pegang untuk menjalani hidup.

Kreatifitas tidak akan pernah lekang oleh waktu, kreatifitas dalam diri akan terus berkembang jika diberikan stimulasi yang tepat. Saya yakin setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi kreatif, namun pertanyaannya adalah, apakah ada niat, ada kemauan untuk berlatih dan meluangkan waktu? Sebagai orang tua, kami bertanggungjawab untuk meluangkan waktu untuk A, tidak perduli selelah apapun kami. Beruntung saya dan P sudah terbiasa membuat skala prioritas dan lebih mudah bagi kami untuk mengubah kebutuhan kami dan menyesuaikan dengan kebutuhan A saat ini. Kami sudah sama-sama berkomitmen bahwa kebebasan kami adalah nomor 2 setelah A, sampai A benar-benar bisa berdiri sendiri barulah kami akan perlahan melepaskan A untuk mengepakkan sayapnya dan menjelajahi bumi yang indah ini, namun kami akan selalu ada buat A jika dia ingin beristirahat sejenak dan menginginkan pelukan orang tua.

Saya memang menghabiskan waktu cukup lama untuk membuat rumah boneka tersebut, beberapa jam dalam 2 hari namun melihat reaksi putri kami, waktu itu seimbang dengan harapan saya dan suami. Saya sudah memikirkan proyek yang hampir sama, menggunakan kardus bekas dari ICA namun lebih besar, cuma saya belum menemukan waktu yang tepat untuk memulai. Ada beberapa hal dalam daftar yang harus saya selesaikan dulu karena hal-hal tersebut lebih mendesak. Tentu saja saya akan tulis di sini jika proyek tersebut selesai berserta beberapa foto bagaimana penampakan proyek tersebut. Untuk saat ini, saya bisa berkata bahwa kami puas akan hasil proyek rumah boneka dan bangga melihat reaksi A yang mengerti dan dengan bangga memberitahukan tentang apa yang Mamanya kerjakan dengan sayang, untuk saya bahagia ini tidak bisa terbayar dengan uang sekalipun. Semoga saja saya masih diijinkan untuk terus berkarya untuk putri saya dan orang lain, amen.

Stcokholm, demaodyssey 13062017

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kreatifitas, Nilai Lebih Kehidupan

  1. Lulu says:

    Wah keren banget! bener ketrampilan harus diasah setuju!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s