Berdamai Dengan Diri Sendiri

Seperti judul di atas, berdamai dengan diri sendiri itu tidak mudah karena banyak sekali godaan yang menanti kita begitu memutuskan untuk belajar berdamai bahkan dengan diri sendiri. Dibutuhkan keberanian untuk mengalahkan ego yang selalu saja siap menanti celah dimana kita lengah dan lemah. Tak jarang kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sesuai dengan apa yang kita pegang seperti prinsip hidup. Ketidakadilan contohnya bisa menimbulkan amarah yang sesekali atau berkali-kali susah untuk kita kontrol. Sehari pun tidak cukup waktu untuk kita untuk memulai dan menyelesaikan pelajaran satu ini, pelajaran untuk berdamai dalam skala kecil.

Sebagai manusia, kita masih dipenuhi oleh nafsu dalam segala hal dan jika kita tidak mulai dari sekarang mengenali nafsu tersebut, tidak mustahil suatu saat nanti nafsu tersebut akan menjadi tuan sedangkan kita sebagai pelayannya. Nafsu akan hal-hal yang berbau keduniawian dan juga akan hal-hal yang tidak bisa kita lihat dan jelaskan secara nyata. Nafsu ini pula yang biasanya menjadi godaan terberat setelah ego ketika kita membuat sebuah keputusan untuk melepaskan dan mempelajari tentang betapa nikmatnya hidup dalam kedamaian, terutama damai yang ada dalam diri kita. Terlahir dengan segala nafsu tentu saja kita tidak bisa dengan mudah menghilangkannya, nafsu akan tetap ada di sana seperti hewan memburu mangsanya dan menantikan waktu yang tepat untuk menyerang. Tapi setidaknya kita bisa mempelajari bagaimana caranya meredam kekuatan nafsu dan ego tersebut sehingga kalaupun mereka melintas suatu hari, bisa kita menahan lajunya agar tidak memberikan dampak yang bisa merusak, baik itu diri kita ataupun orang lain.

Dalam hidup ini, kita tidak bisa menyenangkan setiap orang yang ada di sekitar kita. Akan selalu ada orang-orang yang tersakiti tanpa sengaja, orang-orang yang marah dan kesal akan tingkah laku kita, orang-orang yang berusaha menjatuhkan kita atau orang-orang yang sekedar iseng mencoba mengetes sejauh mana pertahanan kita, sejauh mana kemampuan kita untuk bereaksi atas sebuah peristiwa. Namun jangan kawatir, akan selalu ada penyeimbang dimana kita akan bertemu dengan orang-orang yang bahagia bersama kita, menerima kita apa adanya, mampu tertawa tulus bersama kita tanpa kita harus berusaha melakukan sesuatu melampaui batas kemampuan kita. Hidup itu seperti timbangan, ada keseimbangan yang sempurna antara baik dan buruk, yin dan yang, tangis dan tawa, dingin dan panas. Keseimbangan inilah yang nantinya akan kita pelajari dari karma, yang juga bisa menjadi pengingat dan sebuah sarana untuk membantu kita berdamai dengan diri sendiri.

Rasa iri adalah rasa yang terkadang mencuat begitu saja tanpa alasan dan kalau kita tidak siap efeknya bisa lebih besar dari sekedar letusan gunung yang mengeluarkan lava panas. Menyelinap saat sepi datang dan perlahan memasuki ruang-ruang terdalam hingga memenuhi setiap sudutnya. Dari pembelajaran selama ini, rasa iri ini berhasil ditepis dengan satu kata, syukur. Ketika iri yang sebenarnya hanya terdiri dari 3 huruf ini menghampiri, cobalah tanya pada diri kita sendiri,

”Sudahkah kau beryukur untuk apa yang kau miliki saat ini?”

Satu tanya yang bisa menampar kesadaran kita akan karunia yang kita miliki saat ini sudah cukup, cukup untuk membuat kita bahagia, cukup untuk memberikan tantangan kepada kita, cukup untuk mengajarkan kita untuk menunduk dan mengucap syukur atas Sang Maha Pengasih. Tanya yang membangunkan kita dari mimpi semu dan membuka mata kita bahwa diijinkan bernafas hari ini saja sudah menjadi sebuah anugerah yang agung, jadi buat apa menghabiskan waktu untuk memberi makan nafsu yang menjelma menjadi rasa iri. Bukankah detik yang kita gunakan untuk merasa iri, lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, setidaknya mengucap syukur yang tak terkira atas keberadaan kita di bumi saat ini.

Berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah awal dari sebuah perjalanan ke sebuah fase dimana kita selesai dengan diri sendiri. Fase dimana kita terlepas dan menempel kepada satu tujuan, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Proses pendekatan ini bisa berwujud dalam banyak hal, seperti berbuat baik, menolong orang-orang yang kesusahan, mendalami ilmu agama, berbagi kasih dengan orang-orang yang kurang beruntung, melakukan karma baik sebanyak-banyaknya dan masih banyak lagi contoh tingkah laku dan peristiwa yang bisa digunakan sebagai acuan untuk menikmati proses tersebut. Di fase ini, kita tidak akan lagi terpesona oleh hal-hal keduniawian seperti halnya status dan materi, bukan pula penampilan luar yang terpenting, namun kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki lah yang dicari. Tentu saja untuk mencapai fase ini dibutuhkan sebuah keberanian, sebuah penyerahan, sebuah keinginan dan keyakinan akan sebuah proses pembelajaran. Tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan akan apa yang kita peroleh dari usaha kita, sebuah hasrat, dahaga akan setiap penerimaan yang nantinya kita dapatkan di setiap langkah dalam proses tersebut. Seperti mendaki sebuah gunung, nikmati saja proses pendakiannya tanpa memikirkan apa yang akan kita peroleh ketika kita mencapai puncaknya.

Hidup adalah pembelajaran, pengkajian akan bakat yang kita punya, akan makna hidup itu sendiri, akan sebuah tujuan dimana nantinya kita harus pertanggungjawabkan bukan saja kepada Sang Pencipta tapi juga kepada orang-orang yang nantinya kita tinggalkan. Seperti menyerahkan buku yang kita tulis saat helaan nafas terakhir, apakah buku tersebut selesai? Atau hanya terisi setengahnya? Atau bahkan kosong? Apakah cerita bermakna di dalamnya? Atau hanya sebuah fiksi yang semu belaka? Isi buku tersebut kita yang menorehkan, kita yang memutuskan bagaimana kita bereaksi di setiap babaknya, warna apa yang kita ingin coretkan sebagai penghiasnya. Jangan sampai, buku kehidupan kita sendiri ditulis oleh orang lain, karena jika itu terjadi, bagaimana kita mempertanggungjawabkannya nanti? Sanggupkah kita melihat efek yang nantinya timbul dari tersebarnya buku tersebut, sanggupkah kita berkata ”Saya penulisnya” ketika hal-hal yang orang lain tuliskan dalam buku kehidupan kita berdampak negatif terutama ke keluarga dan keturunan kita? Berusahalah menulisnya sendiri, walaupun terkadang itu berat, namun hasilnya akan lebih manis.

Saya sudah memulai pembelajaran tentang berdamai dengan diri sendiri sejak lama dan masih terus belajar karena masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, masih terkadang harus bergulat dengan nafsu yang ada dalam diri, terkadang masih lupa. Namun seperti yang saya niatkan, apapun tantangan yang akan saya hadapi ke depannya, saya tidak akan berbalik dan memutuskan untuk berhenti belajar. Saya sedang belajar menikmati setiap langkah dalam proses pembelajaran tersebut, akankah tahun ini saya belajar lebih banyak? Saya ikuti saja kemana arahnya, yang terpenting bagi saya adalah saya menerima keputusan ini dan berniat menyelesaikannya. Kesiapan untuk tergores, terluka, menangis, tertawa, tersenyum, terjatuh atau bahkan tersungkur sudah saya tekadkan sebelum detik jam melewati angka 12 terakhir di tahun 2017, ketika saya memeluk orang-orang kesayangan dan tersenyum bersama menyaksikan pendaran kembang api di halaman belakang sarang kami di negeri kulkas ini.

Sebuah pengingat untuk diri sendiri.

Haninge, demaodyssey 02012018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, JejakdiJanuari and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s