Menulis dan Ebiet G. Ade

Suhu di luar sana tepat menunjukkan nol derajat Celcius dan terdengar suara Ebiet G. Ade menemani saya membiarkan jari jemari menari di papan huruf-huruf yang sudah lama tidak saya sentuh. Keinginan selalu ada untuk menuliskan apa saja, namun ternyata belum ada kerelaan dari diri saya untuk meluangkan waktu duduk diam dan menuangkan apa yang ada di kepala. Selalu saja ada perang antara waktu buat A, waktu untuk merapikan rumah, waktu untuk menyiapkan setiap kegiatan untuk dibawa ke sekolah tempat saya bekerja keesokan harinya atau waktu untuk merangkai kata-kata. Pilihan terakhir selalu saja tertinggalkan dengan alasan,

”Nanti saja, masih ada akhir pekan!”

Namun ternyata kalimat itu tidak terjadi sampai 2018 menginjak bulan ketiga. Hari ini saya punya waktu karena tidak berada di sekolah, A masih sakit dan saya memutuskan untuk meminta ijin untuk tidak bekerja untuk menemani putri tersayang di rumah. Melihat A sedang tenggelam dengan Lego, saya melangkahkan kaki untuk merapikan dapur dan ruang tamu sebelum akhirnya memutuskan duduk dan menulis di meja makan saat Ebiet mulai terdengar menyanyi. Ada sekilas terpikir dalam benak, mungkin saya harus membiarkan Ebiet setiap hari mengingatkan saya akan keinginan saya untuk bermain dengan kata-kata dan membiarkan jari-jari ini menari seiring dengan musik yang terdengar nyaman di telinga.

Entahlah, sering sekali terjadi saat saya mendengarkan lagu-lagu Indonesia, banyak ide berlomba-lomba memenuhi kepala ini bahkan terkadang kalimat demi kalimat terangkai dengan indah dan sayangnya, saya sepertinya tidak punya waktu untuk merekamnya sehingga bisa terbaca lagi saat saya sudah punya waktu untuk duduk bersantai. Pernah suatu kali saya berharap, saya memiliki alat perekam yang bisa menolong saya menyimpan apa rangkaian rangkaian tersebut. Saya selalu memiliki buku kecil dan pena yang ada di tas saya kemanapun saya pergi, ada beberapa kali saya berusaha untuk menuliskan ide atau cerita singkat itu, namun hampir lebih banyak terkalahkan oleh ketidaknyamanan menulis di dalam kereta yang penuh dengan orang-orang. Saya masih kalah dengan ketidaknyamanan itu dan memilih untuk menuliskan singkat saja, tanpa ada penjelasan atau bagan-bagan yang bisa saya sambungkan saat komputer ada di depan saya. Bisa terlihat, di buku kecil saya banyak sekali ide-ide tertulis, namun ketika saya membacanya lagi, saya berharap saya bisa merangkai kata sebagus ketika ide tersebut dituliskan.

Yang paling sering terjadi itu ketika saya menyetir mobil dan lagu-lagu dengan bahasa ibu saya berkumandang. Beberapa kali saya kesal sendiri karena ingin rasanya berhenti dan menulis, namun tentu saja saya tidak bisa melakukan itu terutama ketika berada di jalan E4 dimana kecepatan mobil antara 110 dan tempat untuk berhenti itu bisa dikatakan tidak ada. Apakah saya jera setelah pengalaman ini? Nyatanya saya tidak jera, setiap saya menyentuh pintu depan mobil, yang pertama saya lakukan adalah mencari aplikasi Spotify dan memilih sebuah album yang saya namakan Indonesia, dimana saya kumpulkan penyanyi-penyanyi favorit saya seperti Ebiet G. Ade, Chrisye, Padi, Iwan Fals dan masih banyak lagi. Sepertinya yang namanya kesal juga sudah meninggalkan saya dan membiarkan saya terdiam dengan lamunan saya. Tentang masa lalu, tentang impian yang belum tercapai, tentang masa depan dan pembelajaran tentang hidup baik yang sudah saya lewati atau yang bisa saja saya hadapi di masa depan.

Ebiet masih belum terganti dan saya memalingkan wajah saya kepada A yang masih saya bercerita dengan para figur-figur kecil Lego yang entah sudah beberapa kali berganti cerita. Saya bersyukur, anak kami ini memiliki imajinasi yang sepertinya tidak pernah habis. Dia bisa duduk lama dan bibir mungilnya tidak habis-habis mengarang cerita dan memainkan karakter-karakter yang dia inginkan. Cukup jika dia melihat saya atau papanya atau orang dewasa berada di sekitarnya, maka aliran kisah baru akan berlanjut dengan sendirinya. Jika saya harus meninggalkannya sendiri dengan Lego nya, saya akan memberi tahu bahwa saya mengerjakan sesuatu dan akan berada di suatu tempat (seperti dapur atau ruang cuci baju atau area lain di rumah kami) maka putri kecil kami ini akan asik sendiri tanpa harus ditemani. Ada yang unik dengan A, dia tidak suka kalau dia sendiri tanpa tahu dimana para orang dewasa berada. Ini mungkin kebiasaan yang saya tanamkan sejak kecil, saya selalu bilang ke A kalau saya (atau papanya) harus meninggalkannya bermain sendiri. Walaupun saya hanya ke dapur untuk memasak atau melakukan hal yang lain, saya selalu memberitahunya, dengan tujuan jika putri kesayangan ini butuh bantuan, dia tahu dimana mencari saya atau papanya berada (atau orang dewasa lainnya seperti kakek neneknya).

Melihat ke arah taman belakang yang masih tertutup si putih salju, melihat awan yang menutupi sebagian awan yang membiru hari ini, tiba-tiba lagu ’Menjaring Matahari’ Ebiet melemparkan saya ke sebuah tempat di tanah kelahiran saya. Di pinggir pantai, ditemani deburan ombak, duduk termenung dengan kertas putih dan pena, saya menuliskan puisi demi puisi akan sebuah keresahan dan kepasrahan. Ohhhhh, lagu ini membuat saya ingin pulang, mengunjungi tempat itu, masihkah ada pohon kokoh tersebut? Masihkan ada kenyamanan yang sama yang bisa saya nikmati seperti dulu? Saya ingin pulang…

Saya arahkan jari untuk melihat berapa lagu Ebiet lagi yang terpampang di layar komputer saya dan saya memilih untuk menghentikannya, saya memilih untuk menggantinya dengan Katon Bagaskara yang berada beberapa nomor di bawahnya. Keinginan untuk menangis karena rindu harus saya tangguhkan saat ini, mungkin nanti saja, saat saya merasa waktunya lebih tepat. Saya harus beranjak sekarang ke dapur, menyelesaikan tugas saya memasak untuk orang-orang tersayang. Setidaknya saya sudah berhasil menuangkan beberapa pikiran yang ada, merekamnya hingga bisa saya baca lagi suatu saat nanti dan belajar tentang diri sendiri pada saat saya menuliskan ini.

Sebelum menutup komputer saya, ingin rasanya tahu… adakah yang ingin menemani saya menelusuri kembali jalan yang sudah terlalui saat saya diberi kesempatan berada di Bali lagi?

Haninge, demaodyssey 14032018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s