Sebuah Penjelasan, Harap dan Doa

”Wooooiiiii kemana aja?”

Pertanyaan yang sering saya dapatkan, seperti yang sudah dijelaskan di postingan ini  saya masih berkutat dengan pekerjaan saya sebagai guru di salah satu preschool di kota Stockholm. Tempat kerja saya ini kalau di Indonesia mungkin bisa dilihat sebagai gabungan dari playgroup aka taman bermain dan taman kanak-kanak. Preschool ini kami memiliki 20 anak dimana kisaran umurnya antara 1 sampai 5 tahun, pendidikan non formal namun memiliki kurikulum tersendiri yang diatur oleh pemerintah. Ada 2 macam preschool  di negeri kulkas ini, yaitu ada yang dikelola oleh pemerintah daerah (kommun) dan ada yang dikelola oleh pribadi/perusahaan (privat). Saya bekerja penuh waktu di preschool yang dikelola oleh sebuah perusahaan yang berasal dari Norwegia dan sekolah ini letaknya sekitar 1 jam dari rumah jika saya naik kereta dan bis dari rumah, namun jika mobil kantor P nganggur di rumah atau P sedang tidak butuh, maka saya akan bisa menghemat waktu hampir lebih dari setengahnya. Perjalanan ini pula yang menyebabkan saya jarang berinteraksi dengan teman melalu Facebook atau Instagram karena biasanya kalau saya menggunakan alat transportasi kereta dan bis, waktu yang 1 jam itu saya gunakan untuk membaca buku atau merajut keranjang atau hal-hal lain, atau terkadang hanya duduk manis sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan yang kalau dalam hal ini yang lebih banyak didengarkan adalah lagu Indonesia (jangan tanyakan apa alasannya, karena saya sendiri tidak tahu… nyengir lebar).

Kangeeeeen sebenarnya menyapa teman-teman yang tidak bisa saya sapa lewat saluran telepon atau lewat Whatsapp (yang juga banyak ketinggalan karena sengaja disetting tanpa notifikasi, jadi begitu buka sudah ada ribuan chat aka pesan dari beberapa grup atau teman-teman lain). Sebenarnya sudah tahu resikonya kalau jarang buka dan menyapa, maka bisa dipastikan sekali buka pasti ada yang baru, bahkan mungkin yang sangat ekstrem palingan terhapus dari daftar teman beberapa kenalan hehehhehe. Tapi buat saya sih tidak masalah, lah ini kan salah saya yang jarang menyapa, jadi mungkin beberapa orang tidak suka dan memilih untuk mencoret nama saya (nyengir lebar). Namanya juga kehidupan selalu ada resiko yang mengikuti setiap keputusan, jadi diterima saja, jika memang Tuhan mengijinkan untuk bertemu lagi, ya pasti akan bertemu di lembaran atau halaman selanjutnya. Kalau tidak ya berarti memang hal tersebut sudah seijin Tuhan, gampang kan hehehhehe.

Jangankan teman-teman, putri kami yang tersayang saja sempat menanyakan mengapa mamanya bekerja terlalu banyak (istilah yang dipakai A untuk menjelaskan bahwa dia ’jarang’ bertemu dengan saya, mamanya yang dulu sebelum kerja penuh waktu, setiap hari selalu menghabiskan beberapa jam melakukan kegiatan atau melakukan kerajinan tangan). Padahal bisa dibilang kalau saya selalu bertemu A setiap hari, pagi dan sore/malam (kecuali kalau saya bertugas membuka sekolah dimana saya berangkat dari rumah saat A masih tidur) Senin-Jumat dan akhir pekan itu bisa dipastikan seharian saya habiskan bersama keluarga. Tentu saja setelah dijelaskan, anak kami ini mengerti dan tidak pernah menanyakan hal tersebut lagi. Namun terkadang ini juga yang membuat saya memikirkan untuk mengurangi jam kerja saya, untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan A dan mengajarinya banyak hal, belajar tentang hidup bersama.

Ada beberapa yang saat ini ada di dalam rencana saya dan terus terang saya belum tahu mana yang terbaik. Saya ingin melanjutkan sekolah di perguruan tinggi sebagai guru di sekolah dasar untuk kelas 0-3 (mengajar anak-anak didik dari umur 6-9 tahun) yang nantinya akan membutuhkan waktu 4-5 tahun karena pendidikan tersebut adalah tingkat sarjana dan saya harus siap untuk belajar lagi untuk mendapatkan ijin mengajar yang menghabiskan waktu 1 tahun. Namun kelebihannya adalah, jika saya bisa menyelesaikan pendidikan ini dan mendapat pekerjaan, maka saya nantinya akan bisa mempunyai libur yang sama dengan putri kesayangank ami. Hal ini yang sejujurnya saya kejar, karena itu artinya saya bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak dengan keluarga terutama A. Juga kesempatan yang nantinya terbuka untuk lebih lama pulang liburan ke Bali. Sebagai guru di preschool bisa saja saya mendapatkan libur yang bersamaan dengan A namun ada kemungkinan saya tidak bisa mendapatkannya, hal ini dikarenakan preschool di Swedia, jadual liburnya tidak diatur oleh pemerintah (tidak bersamaan dengan sekolah tingkat lainnya) melainkan diatur oleh sekolah masing-masing. Memang ada aturan yang menyatakan bahwa sebagai pekerja, berhak mendapat libur 4 minggu berkelanjutan namun ada beberapa kasus dimana guru-guru preschool harus bergantian dengan teman sejawat untuk mendapatkan kesempatan libur musim panas. Terutama jika preschool tersebut memiliki banyak cabang, itu artinya para pekerja harus bertoleransi dan bergantian mengambil liburan musim panas. Hal ini yang membuat saya harus berpikir lagi untuk kebaikan A dan keluarga kami, karena P bisa mengatur libur musim panasnya sesuai keinginannya sendiri, tinggal saya yang harus menyesuaikan dan berkompromi.

Rencana yang lain adalah bekerja paruh waktu jadi saya masih bisa mengatur pekerjaan mana saja yang akan saya ambil dan apakah sesuai dengan jadual A. Ini dijadikan salah satu alternatif karena saya berpikir bukan untuk selamanya, mungkin hanya saya lakukan 3-4 tahun saja sampai A masuk sekolah dan mandiri dengan berbagai kegiatan dan teman-temannya dan tentu saja tidak menutup kemungkinan A masih ingin melakukan kerajinan tangan bersama saya. Namun tentu saja, ada kemungkinan gaji yang saya dapatkan akan lebih kecil, dimana bagi kami hal ini bukan akhir dari segalanya. Juga kemungkinan saya harus berpindah-pindah dari satu sekolah ke sekolah lain, yang menurut saya tidak jadi masalah karena toh saya tidak akan bekerja 8,5 jam setiap hari. Jadi saya sekali lagi menentukan waktu kerja saya sendiri dan memiliki lebih banyak kebebasan dalam mengatur kegiatan saya dengan A. Pertimbangan kami yang lain adalah siapa tahu dengan bekerja berpindah-pindah saya bisa melebarkan jaringan pertemanan saya dan mengenal lingkungan lain selain daerah dimana saya tinggal.

Ada keinginan juga untuk pindah ke negara lain, bukan karena kami bosan di Swedia namun kami ingin mengajak A mengalami hidup di negara lain sebelum dia wajib sekolah yaitu berumur 6 tahun. Saya tahu, beberapa orang mungkin berpendapat bahwa pendidikan di Swedia bukanlah yang terbaik namun sebagai orang tua, kami ingin A masuk sekolah di negara dimana P berasal. Alasan yang lain adalah kami ingin kakek neneknya di Swedia bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan A karena A adalah cucu satu-satunya. Iya, keluarga saya di Swedia ini memang keluarga kecil dimana P adalah anak tunggal. Jadi ketika A lahir, mereka bahagia bukan kepalang dan mereka rela menempuh lebih dari 600 km menyetir mobil setiap 6 minggu sekali untuk bertemu cucu kesayangan mereka. Bahkan, kemarin sempat mereka datang 2 kali dalam sebulan karena kebetulan P harus bekerja di luar Swedia selama 1 minggu dan mereka dengan senang hati datang untuk membantu saya mengantar dan menjemput A dari preschool-nya. Hal ini pula yang kami pikirkan tentang niat pindah untuk beberapa tahun, setidaknya kami mencari negara yang tidak jauh dari Swedia. Saat ini kemungkinan terbesar adalah Berlin, Jerman. Kenapa kota Berlin? Karena kebetulan P bekerja di perusahaan yang memiliki pasar dan kantor pusat kedua yang terbesar selain Stockholm di Berlin. Kemungkinan untuk diijinkan pindah ke sini bisa dikatakan terbuka lebar, namun sekali lagi itu tergantung dengan situasi yang bisa dilihat setelah musim panas tahun ini. Harapan kami sih semoga saja bisa tercapai, namun kalaupun tidak ya tidak apa-apa.

Masih ada beberapa alternatif lain namun 3 hal diatas yang paling atas saat ini. Bukan berarti saya harus mendapatkan salah satu dari ketiga tersebut karena kami hanya bisa merencanakan namun Tuhan tahu yang terbaik buat kami. Tidak menutup kemungkinan ada rencana atau keinginan kami yang lainnya yang lebih dulu menjadi kenyataan, seperti saya mendapat pekerjaan yang dekat dengan rumah yang bisa ditempuh dengan jalan kaki atau menaiki sepeda. Atau mungkin rencana lainnya yang Tuhan tahu lebih kami butuhkan, kami akan terima apapun yang nantinya terjadi setelah musim panas tahun ini. Kami yakin, apapun yang terjadi sudah seijin Tuhan dan kami yakin apapun yang nantinya saya dapatkan, itu yang terbaik.

Untuk saat ini, kami menikmati apa yang kami dapatkan dan berusaha memaksimalkan hal yang menurut kami paling utama dan yang terpenting. Fokus saya untuk saat ini tetap A dan keluarga nomor 1, kedua adalah pekerjaan saya dan ketiga adalah hal-hal yang berhubungan dengan kreatifitas yang bisa menyeimbangkan diri saya dari pekerjaan yang (seperti hal lainnya) ada hari yang saya membutuhkan sebuah tenaga tambahan untuk bisa tetap dalam lingkup kewajaran, positif dan tetap tersenyum menghadapi tantangan yang ada. Tentu saja pertemanan saya dengan yang lain juga menjadi salah satu yang ada dalam kehidupan saya, namun mungkin untuk saat ini saya belum bisa meluangkan waktu yang banyak untuk bersosialisasi karena keterbatasan waktu dan penempatan skala prioritas kami. Tapi bukan artinya saya anti-sosial karena saya dan beberapa teman masih sempat untuk bertemu dan bertukar cerita walaupun tidak sering. Bagi saya, pertemuan yang sering tidak bisa menjamin bahwa pertemanan itu akan baik-baik saja, yang terpenting adalah penerimaan apa adanya dan pengertian antara kami yang nantinya bisa membuat pertemanan tersebut bisa dinaikkan statusnya menjadi persaudaraan. Saya bersyukur sudah diijinkan Tuhan untuk bertemu dengan teman-teman tersebut yang bisa saya ajak berbagi dan tertawa tanpa ada niat terselubung. Saya masih percaya, saya akan diberikan kesempatan untuk bertemu teman-teman baru yang bisa diajak tumbuh bersama dalam susah dan senang. Sekali lagi, jika Tuhan mengijinkan.

Mungkin tulisan ini (dan tulisan yang lainnya) bisa menjawab sedikit kenapa saya jarang muncul dan menyapa walaupun saya tahu mungkin yang merindukan kehadiran saya tidak banyak, namun bagi mereka yang sudah meluangkan waktu untuk saya, saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Semoga saya bisa melakukan hal yang sama secepatnya dan membalas perhatian kalian. Terima kasih sudah menerima saya dengan ketidaksempurnaan saya sebagai manusia dan sebagai seorang teman. Sekali lagi, tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan dan ungkapkan selain…

”Terima kasih”.

Haninge, demaodyssey 16032018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sebuah Penjelasan, Harap dan Doa

  1. nyonyasepatu says:

    Jauh jg 600 km yaa, tapi demi cucu 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s