Reaksi Akan Sebuah Cibiran

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berbagi dengan seorang teman baik yang sudah hampir 1 tahun tidak bertemu. Kami bertemu sore setelah saya pulang dari kerja, hanya hari itu saya bisa bertemu dengannya karena dia pun harus kembali ke Inggris dan saya akan pulang liburan ke Bali. Teman ini yang sering saya ajak sebagai teman berdiskusi tentang banyak hal, terutama tentang hidup sebagai sebuah perjalanan untuk belajar. Seperti pertemuan setahun yang lalu, waktu begitu cepat berlalu sedangkan kami masih ingin saling bertukar pikiran tentang banyak pertanyaan yang ada di benak kami.

Ada satu pertanyaan yang dia ajukan pada saya yang membuat saya tersenyum,

”Pernahkah kamu dicibir oleh orang lain?”

”Pernah” jawab saya dengan senyum masih terbentuk di wajah saya.

”Sepertinya kamu menghadapinya sebagai sesuatu yang tidak serius” dahi teman Swedia saya ini berkerut keheranan dengan sorot mata keingintahuan yang sudah saya sering lihat setiap kita bertukar tanya satu sama lain. Ekspresi wajah yang sudah sangat saya kenal.

”Serius atau tidak suatu hal itu, kita yang menentukan. Itu adalah bagian dari pilihan tentang bagaimana kita bereaksi akan setiap tantangan yang ada di hadapan kita, tantangan yang akan selalu ada di setiap level kehidupan. Tentu saja setiap orang punya pandangan dan pilihan masing-masing akan suatu tantangan yang sama, terkadang bisa juga ada kesamaan namun biasanya kesamaan tersebut tidak sama secara rinci karena sejatinya, setiap manusia itu berbeda. Bahkan anak kembar yang berasal dari satu sel telur saja masih bisa ditemukan perbedaan yang membedakan mereka, bisa perbedaan fisik, tingkah laku, sikap atau yang lainnya.

Saya melihat cibiran dari orang lain itu biasa saja, bukan suatu hal yang harus saya tanggapi serius. Sebagai manusia, kadang saya masih lupa dan ada kesal atau amarah jika cibiran tersebut sudah menusuk terlalu dalam apalagi sudah memasuki daerah yang berbau fitnah. Namun kalaupun itu terjadi, bisa dipastikan itu tidak akan lama bertahan, karena saya akan diam dan berdiskusi dengan diri saya apakah saya mau menggunakan waktu saya untuk meladeni atau menyimpan amarah tersebut, menelaah apakah hal tersebut bermanfaat buat saya. Biasanya tidak, karena saya tahu bahwa saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Pasti selalu saja ada yang tidak puas atau tidak senang melihat apa yang sedang saya lakukan. Saya belajar bahwa yang bisa saya kontrol adalah karma saya dan bukan karma orang lain. Bagaimana saya bereaksi adalah bagian dari karma yang saya bisa pikirkan, bisa pilih dan bisa saya lakukan, sedangkan bagaimana orang-orang di sekitar saya bereaksi merupakan karma mereka dan saya tidak berhak mengaturnya, atau lebih jelasnya saya tidak mau ikut menentukan reaksi mereka, biarlah mereka belajar dari reaksi tersebut. Mungkin saya bisa berbagi reaksi-reaksi saya dari perjalanan sebelumnya, hanya itu yang bisa saya berikan sebagai sumbangsih kepada mereka, itupun jika mereka datang dan berbagi dengan saya.

Ada kalanya cibiran melecut semangat saya untuk membuktikan dalam diam bahwa apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar. Seringnya waktu akan membantu saya melakukan pembuktian tersebut, namun tentu saja untuk meyakinkan seseorang itu perlu waktu, niat dan proses dari kita. Biasanya jika saya sudah terlecut oleh pelecehan tersebut, itu artinya saya menilai dan rela meluangkan waktu saya untuk memperlihatkankan sebuah kebenaran. Itu tidak sering kok terjadi, karena menurut saya, waktu yang saya miliki lebih baik dipergunakan untuk mengejar mimpi-mimpi yang ingin saya capai bersama orang-orang kesayangan dan teman-teman yang ingin tumbuh bersama saya”

Teman saya terdiam, seperti memikirkan sesuatu dari pendapat saya. Raut mukanya lebih santai kali ini, namun matanya melihat keluar jendela, menerawang lebih jauh dari sekedar bangunan yang ada di seberang warung kopi yang berada di tengah kota tua kota ini.

”Namun, bukannya itu susah untuk bereaksi positif akan sebuah cibiran? Terutama jika cibiran dalam bentuk apapun tersebut tidak benar dan sangat menyakitkan. Bagaimana caranya bisa meredam emosi?”

Mata indahnya kembali menatap saya seolah masih ingin mendapatkan sebuah pandangan dari seorang teman diskusi. Saya tersenyum kembali, ini bukan pertama kalinya kami mendiskusikan satu hal seharian, mengupas, mencari solusi bersama, menuangkan ide saling bertukar ilmu, saling memahami kemampuan dan buah pikiran masing-masing.

”Saya tidak pernah bilang kalau memilih untuk bereaksi positif itu adalah suatu hal yang mudah. Diperlukan sebuah latihan dan banyak pembelajaran untuk mengerti, diperlukan berhari-hari bahkan bulan hingga tahun untuk bisa bisa berdamai dengan diri sendiri. Untuk bisa berbicara dengan gadis/pria kecil dalam diri yang biasanya dikenal orang sebagai kata hati, untuk bisa memilah hal-hal dalam hidup untuk berada di skala prioritas yang berhak menguasai waktu yang kita punya saat ini. Ini juga adalah sebuah proses pembelajaran, belajar untuk memilih, belajar untuk lebih sensitif dan mengenali mana yang hal yang penting dan mana yang perlu diacuhkan atau ditangguhkan. Saya bisa berkata begini karena saya juga masih belajar walaupun sudah bertahun-tahun mencoba mengendalikan yang namanya emosi dan belajar lagi tentang karma dan pengontrolan diri. Sampai hari ini saya bisa bilang saya sudah lebih baik dari saya beberapa tahun yang lalu, tapi bukan berarti saya sudah sempurna. Tidak ada hal yang sempurna, tidak ada yang abadi, semua akan berubah karena perubahan itu sendiri lah yang abadi. Arah perubahan lah yang bisa kita pilih, berubah untuk lebih baik atau lebih buruk. Saya juga masih suka lupa, masih suka terbawa perasaan, namun setidaknya saya bisa memperpendek waktunya. Contohnya, dulu ketika saya dihina atau dilecehkan, saya bisa berhari-hari bertarung dengan amarah dan diri saya sendiri, bahkan tidak jarang saya menangis. Tapi sekarang, amarah hanya bertahan beberapa menit saja, maksimal mungkin 1 atau 2 jam, setelah itu saya sudah bisa mengesampingkan perasaan dan bisa berbicara dengan kepala dingin dan menentukan apa reaksi saya selanjutnya.

Percayalah, kita bisa memilih jika kita mau dan bersungguh-sungguh, jika ada niat dan keyakinan akan kemampuan diri sendiri. Pahamilah bahwa kamu mampu, saya percaya dan memiliki keyakinan, jika saya yang bukan siapa-siapa ini saja mampu, maka semua orang mampu. Mungkin yang membedakan kita adalah waktu untuk memulainya. Saya sudah memulainya lebih dulu dari kamu, bukan hanya karena perbedaan umur kita yang lumayan jauh namun juga karena saya dibesarkan dengan kondisi berbeda denganmu. Hanya masalah waktu saja yang membedakan dan mengertilah, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Sebenarnya saya beruntung diberikan cobaan dan tempaan lebih dulu, makanya saya bisa berbagi pengalaman ini, perjalanan yang sudah saya tempuh. Tapi ingatlah, itu bukan berarti saya lebih baik dari kamu, tidak sama sekali. Kita sama, namun cara bereaksilah yang membedakan kita tentu saja selain warna kulit dan asal usul”.

Kami pun tersenyum bersama, terlihat mulut mungilnya berkata riang,

”Terima kasih sudah berbagi pendapat denganku”

”Sama-sama, terima kasih juga sudah mau mendengarkan. Maaf jika mungkin pengalaman saya yang minim ini belum bisa menjawab semua pertanyaanmu”.

”Nooooo, jangan berkata begitu. Saya menghargai waktu dan apa yang sudah kamu bagi selama ini, hal ini juga yang selalu membuat saya harus bertemu setiap saya pulang ke Swedia. Saya yang harus berterima kasih. Saya ingin belajar bersamamu, berdiskusi lagi, berbagi lagi dan tumbuh bersama-sama. Sayang, untuk saat ini saya tinggal lumayan jauh dari Stockholm, kalau tidak mungkin kita bisa bertemu lebih sering dan menggali bersama-sama tentang banyak hal yang belum kita temukan jawabannya”.

Ya, saya setuju dengan gadis muda yang baru saja melewati kepala 3 dalam perjalanan hidupnya. Jarak dan waktu yang terkadang mengharuskan kami untuk belajar bersabar dan menunggu untuk berbicara, berbagi dan bertukar pikiran. Gadis yang pertama kali saya kenal di Skansen, Open Air Museum yang ada di ibukota Swedia ini, saat dia bekerja paruh waktu menjaga salah satu rumah dan siap menjelaskan tentang toko penjual obat dan bahan-bahan makanan dari tahun 1800-an. Seorang teman yang sudah pernah menginap di rumah kakak saya di Denpasar, saat dia pertama kali ke Bali dan jatuh cinta dengan tanah kelahiran saya. Teman yang sudah seperti keluarga sendiri, bahkan ketika saya sempat bertemu dengan keluarganya, mereka menerima saya apa adanya dengan aura kekeluargaan. Kami biarkan juga kali ini waktu menentukan saat kami harus berpelukan dan melambaikan tangan, bukan untuk menyampaikan salam perpisahan, namun… sebuah pernyataan, sampai bertemu lagi.

Haninge, demaodyssey 17032018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s