Menulis?

Mengapa kamu menulis?

Sebuah tanya dari seorang teman yang ternyata sering mampir dan membaca blog yang saya punya selama ini. Dia, seorang Silence Reader yang tidak pernah saya tahu sebelumnya bahwa dia mengikuti dan menjadi tahu lebih jauh siapa saya dengan membaca apa yang saya tulis. Teman yang akhirnya menanyakan kenapa saya suka menulis, mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya ke sebuah tulisan yang saya bagikan di sini.

Saya menulis tujuan sebenarnya adalah memberikan kesempatan untuk pikiran saya bisa terbaca dan tidak terlupakan begitu saja, disamping juga memberikan sedikit latihan kepada jari-jemari saya menari mengikuti irama yang dipimpin oleh sebuah pikiran. Berharap perpaduan itu menjadi sebuah komposisi yang bukan saja bisa dinikmati oleh saya namun juga oleh orang lain terutama oleh putri kami, A. Mimpi saya, suatu saat A akan mengerti beberapa bagian perjalanan saya dengan membaca apa yang saya tuangkan di sini. Ingatan saya mungkin saja pudar, kemampuan saya untuk merangkai kata bisa saja semakin berkurang, kemampuan untuk bercerita kembali bisa saja tidak menyimpan apa yang saya tulis hari ini, namun saya punya tempat ini. Sebuah platform yang nantinya bisa saya gunakan untuk memacu semangat A untuk semakin mendalami bahasa Indonesia, platform yang bisa saya wariskan kepada A mungkin untuk dilanjutkan atau sekedar untuk dibaca kala waktu senggang. Platform yang ingin saya tunjukkan kepada A, tentang sebuah perjalanan hidup, pembelajaran untuk menulis lembar demi lembar di buku kehidupan.

Menulis adalah satu dari kegiatan yang sangat saya sukai sejak kecil, saya bisa duduk dimana saja dan masuk ke dunia saya untuk menggoreskan satu atau dua kata. Koleksi puisi yang saya tulis dengan tangan sangat banyak, ingin rasanya menyimpannya dalam bentuk tulisan rapi di komputer, namun saya belum rela saja menggunakan waktu saya untuk melakukan hal itu. Mungkin bisa dikatakan kalau menyimpan puisi-puisi tersebut dalam bentuk digital bukan menjadi prioritas yang utama saat ini. Nanti sajalah… saya tidak tahu apakah ini bisa dikategorikan sebagai sebuah kemalasan atau memang kembali pada skala prioritas? Biarlah orang lain yang menilai, buat saya untuk saat ini hal itu bukan suatu kebutuhan yang mendesak.

Kami pernah ngobrol saat akhir pekan menghampiri, berandai-andai dengan keluarga kecil kami, saat mertua datang berkunjung. Jika seandainya kami memenangkan sebuah lotteri atau dikasi kesempatan untuk memiliki uang berlebih, apa yang akan kami lakukan. Entah mengapa, kami memiliki jawaban yang sama, pergi berwisata ke beberapa tempat. Mulailah kami mengembangkan ide tersebut, setiap orang harus mengatakan tempat mana yang ingin sekali dikunjungi dan diikuti pula alasan mengapa memilih tempat tersebut. Obrolan santai yang ternyata membuat kami semakin mengerti pribadi kami masing-masing. Ketika giliran saya untuk menyebutkan kemana saya ingin pergi jalan-jalan, jawaban saya adalah ke tempat dimana saya bisa dekat dengan air atau pegunungan. Orang-orang kesayangan saya tertawa, karena untuk berada dekat air sebenarnya bukan hal yang susah. Kami naik mobil 10 menit pun atau naik kereta 30 menit saja, sudah bisa berada dekat dengan air. Kalau pegunungan mungkin agak susah karena kami harus menyetir setidaknya 8-9 jam untuk bisa menikmatinya. Mereka menanyakan mengapa begitu sederhana, ya… karena jika berada di dekat air atau pegunungan, entah mengapa saya pasti keinginan untuk membaca dan menulis akan melonjak tinggi mengalahkan keinginan yang lain seperti makan contohnya. Inilah yang ingin saya kembangkan, kemampuan untuk bisa bercerita lewat tulisan, berbagi tentang buah pikiran yang saya gunakan tidak saja sebagai pengingat untuk diri sendiri namun juga sebagai alat untuk memberikan kebebasan pada gadis kecil dalam diri untuk memberikan saya pelajaran, renungan dan juga sebuah ajang untuk mendalami bagaimana saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri, sebelum berdamai dengan orang lain.

Mereka belum puas dengan jawaban saya, mereka meminta saya untuk menyebutkan nama satu atau beberapa tempat yang pertama kali ada di kepala jika rejeki itu sudah ada dan memungkinkan saya untuk pergi. Yang ada, beberapa nama berkelibat di benak saya, mulai dari Fjord di Norwegia, Aosta Valley yang terletak di barat laut Italia dan Danau Garda di utara Italia. Mengapa 3 tempat ini? Mungkin karena saya sudah melihat beberapa foto dari teman-teman baik yang sudah pernah ke sana atau bahkan tinggal di sana dan ketika saya melihat foto-foto tersebut saya seperti bisa melihat diri saya sendiri, duduk dengan buku, kertas, pena atau mungkin komputer saya dan tenggelam dalam barisan huruf-huruf yang mendendangkan sebuah karya agung di telinga saya. Saya ingin mengunjungi tempat itu untuk bisa membandingkan dan merasakan apakah impian saya untuk menulis di sana bisa menjadi kenyataan, apakah benar adanya suasana air dan pegunungan itu bisa membuat saya tersihir dan bermain dengan huruf dan angka. Itu impian saya! Jawaban saya membuat orang-orang terkasih mengambil telefon mereka dan mulai mencari tahu seperti apa tempat tersebut, terutama Aosta valley yang baru pertama kali mertua saya mendengar nama tempat tersebut. Mereka tahu saya dan setuju bahwa tempat-tempat tersebut akan mampu membuat saya diam berjam-jam dengan buku, kertas, pena dan komputer saya. Seperti halnya ketika kami berada di Åre, salah satu tempat yang bisa menyihir saya.

Ini juga salah satu alasan mengapa saya menulis, setidaknya saya bisa berbagi dan menggambarkan tentang sebuah tempat tersebut dengan menuliskannya. Saat ini mungkin tidak terlalu banyak yang bisa saya bagikan mengenai tempat-tempat dimana saya mendapat kesempatan berkunjung bersama keluarga, namun saya sudah pernah menuliskan beberapa tempat yang memberikan arti tersendiri dan bisa dilihat dibeberapa postingan saya sebelumnya, contohnya cerita ketika kami berada di Praha, ketika saya berada tempat favorit saya, Skansen atau hanya sekedar berjalan-jalan di Kota Tua Stockholm dan masih ada beberapa postingan lagi.

Jika dilihat, saya bisa saja menulis tanpa membagikannya kepada orang lain, namun bagi saya apa salahnya jika saya berbagi. Sekali lagi, kalaupun tidak ada satu pun yang membaca tulisan saya, setidaknya saya sudah menyimpan buah pikiran saya untuk A nantinya. Tujuan utama saya menulis bukan untuk menjadi terkenal, saya menulis karena saya suka. Ada atau tidak pembaca, tidak pernah mempengaruhi keinginan saya untuk melanjutkan merangkai kata, menuangkan pendapat, mengungkapkan sebuah pandangan akan kehidupan. Tapi tentu saja ada kebanggaan tersendiri dan haru jika ada yang membacanya seperti teman saya yang ada di postingan ini. Saya lebih bangga lagi ketika ada seorang teman yang lain mengatakan kepada saya secara pribadi bahwa tulisan saya seperti seorang teman yang mengatakan hal,

”Kamu tidak sendiri!”

Terutama ketika teman tersebut berada di posisi dimana roda kehidupannya berada di titik terendah. Saat saya mendengar hal-hal seperti inilah yang membuat saya semakin mencintai kegiatan ini, ada buncah di dada yang kadang nyaris membuat saya menangis, ternyata saya masih bisa bermanfaat buat orang lain walau hanya tulisan yang tidak seberapa. Saya yakin bahwa berbagi hal positif itu suatu keindahan yang menempatkan manusia untuk mengerti akan kasih, akan roda kehidupan yang terus berputar, akan karma, akan arti sebuah perputaran menerima dan memberi. Saya tidak akan berhenti di sini, walaupun terkadang seperti yang sudah saya pernah katakan bahwa terkadang sulit menemukan waktu untuk duduk dan menarikan jari jemari ini, namun saya akan terus berusaha untuk menemukan waktu itu.

Menulis bagi saya adalah bagian dari perjalanan saya, sama seperti halnya membaca dan melakukan kreativitas yang lain. Inilah yang menyeimbangkan saya ditengah kesibukan saya sebagai anak, ibu, istri, menantu, teman dan manusia. Selama saya masih bisa diberikan kesempatan membuka mata di setiap pagi menjelang, kalian akan tetap melihat satu dua kalimat saya di platform ini. Mungkin kepulangan ke tanah kelahiran kali ini akan membantu saya untuk melatih dan berkomitmen untuk meluangkan waktu menuliskan tentang apa saja di setiap hari saya. Ya… mari kita lihat bersama hasilnya. Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya.

Haninge,  demaodyssey 18032018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menulis?

  1. nyonyasepatu says:

    pokoknya menulis trus yaaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s