Sekilas Kabar Hari Ini

Phonto.jpg

Setelah liburan panjang di Bali kemarin yang belum juga sempat dituangkan lewat tulisan, saya dan keluarga (kali ini lebih lengkap karena P ikut serta) kembali liburan di daerah utara Swedia sambil menghabiskan waktu dengan Farmor (nenek) dan Farfar (kakek) yang sangat senang dengan kehadiran kami, terutama cucunya setelah ditinggal 3 bulan ke Bali. Hari ini kami sudah berada di Stockholm lagi dan saatnya berbenah sedikit (baca: banyak) di rumah mungil kami. Tentang liburan? Nanti saja ya, tidak tahu kenapa kok ingin menceritakan kegiatan hari ini begitu sampai di rumah hehehehe.

Jadi begini, tadi sempat mau membenahi kain-kain yang nantinya mau dijadikan bahan latihan untuk mengasah kemampuan menjahit. Terus ini mata entah kenapa melirik dan terpaku pada lemari baju yang berisi baju yang tidak dilipat, contohnya kebaya dan beberapa jas dan jaket kerja. Berubahlah niat ini menjadi kesibukan memilah baju, maksudnya akan dipilih mana yang masih cukup dan mana yang sudah harus diberikan ke second hand shop yang biasanya dikelola oleh organisasi-organisasi amal yang nantinya hasil penjualan akan disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Menurut saya, daripada dibuang begitu saja kan lebih baik saya berikan saja secara cuma-cuma ke mereka, dengan harapan, semoga saya ada yang membeli. Kalaupun tidak, biasanya baju-baju ini akan dikumpulkan dan nantinya akan disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan terutama saat musim dingin tiba, dimana orang-orang yang kurang beruntung membutuhkan baju dan yang lain-lain.

Lanjut lagi, ternyata setelah dicoba satu persatu, bisa dikatakan 2/3 dari isi lemari saya sudah tidak muat di badan yang lebar ini. Memang sih kalau dipikirkan lagi, baju-baju ini memang baju yang saya pakai sebelum hamil putri kami, A. Ukurannya pun masih kepala 3, kalau sekarang kan sudah kepala 4 (senyum lebar). Sambil mencoba baju, saya dapati ada percakapan di kepala saya yang mengalir begitu saja, seperti biasa, percakapan dengan gadis kecil dalam diri, kali ini bukan hal yang serius dan dalam, kali ini sepertinya lebih biasa dan bisa dijadikan bahan untuk tertawa. Begini awal percakapannya,

Tidak ingin diet? ”Hmmmm, belum ada keinginan untuk ke situ, ntar aja kalau sudah ada keinginan.”

Dalam hal ini, sebagai seorang wanita tentu saja saya ingin punya badan langsing dan tidak susah memilih baju. Tapi setelah saya mendapat pelajaran dari kakak saya di Bali kemarin, ternyata kalau masalah baju itu bukan karena badannya langsing (walaupun ini merupakan salah satu bonus untuk memudahkan). Untuk menarik perhatian dan terlihat bagus menggunakan apapun, itu adalah masalah memilih warna, ukuran dan model bajunya, tentu harus ada kata percaya diri juga. Karena bisa dibuktikan dengan keponakan saya yang badannya kayak model, terkadang tidak selalu cocok menggunakan segala model baju. Ini bukan ngeles seperti kata anak muda jaman sekarang tapi memang benar, saya mengenal beberapa orang yang badannya kayak saya tapi amat sangat modis, di mata saya orang-orang ini pakai baju apapun terlihat anggun, salah satunya kakak saya sendiri. Badannya sih lebih besar dari saya, tapi kalau dia pakai baju, duuuuhhhh… bagus dan pas di mata saya (semoga saja setelah saya menulis kata-kata terakhir, kakak saya tersayang tidak jadi melempar pisau ke adiknya ini hihihihi). Jadi, saat ini saya belum berkeinginan untuk ikutan diet ini itu hehehehe.

Kan ikutan diet lagi tren saat ini, tidak mau ikutan juga? ”Begini, kalau saya ingin melakukan suatu kegiatan, bukan karena ikutan tren tapi karena memang saya ingin.”

Ini juga salah satu yang dipertanyakan beberapa teman yang kemarin sempat ketemu di Bali. Jawaban saya ya tetap sama, karena apa? Karena saya tidak mau saja ikutan hehehe, saya maunya kalau saya gagal atau sukses ya karena keinginan saya, bukan karena ikutan tren. Satu lagi hal, biasanya kalau orang sudah ikutan tren terus ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, ada tendensi mereka akan menyalahkan orang lain yang menciptakan tren tersebut. Tidak semua orang begitu, tapi sebagian besar orang-orang yang saya kenal yang juga sering mengikuti tren, jadi ini hasil pengamatan saya selama ini. Terus terang saat ini saya masih nyaman dengan badan saya yang menurut orang Indonesia sudah termasuk dalam hitungan bahaya saking lebarnya dan menyentuh angka 7. Ini juga salah satu hasil pengamatan saya selama liburan di Bali kemarin tentang berat badan. Kalau berat badan yang ideal menurut kebanyakan orang yang saya kenal, itu berkepala 4 atau paling maksimal itu menyentuh angka 50. Lebih dari 50 itu sudak gemuk, bisa dibayangkan kan bagaimana tanggapan mereka ketika tahu saya itu melebihi angka 7 hihihihi. Untungnya mereka tidak pingsan walaupun keluar juga kata-kata gendut dan gemuk untuk menggambarkan badan saya yang lebar ini hihihihi. Ketika saya mencoba menjelaskan bahwa itu bukan masalah besar, mereka mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya agak nyeleneh (nanti kalian akan temukan beberapa contoh pertanyaannya di bawah). Balik lagi, saya masih nyaman dengan badan saya, saya masih bisa jalan kaki 20 km tanpa kesulitan dan masih bisa mengerjakan hal-hal yang bahkan orang-orang berbadan langsing tidak bisa mengerjakan hehehehe daaaan sekali lagi tidak, saya tidak mau melakukan sesuatu karena lagi tren atau terpaksa karena lingkungan atau tekanan dari orang lain.

Apa tidak takut, suami akan melirik wanita lain kalau badan lebar? ”Tidak, saya tidak takut. Kalau karma saya sudah selesai dengan P, walaupun badan saya langsing ya tetap saja kami tidak bersama lagi. Begitu juga kalau karma saya belum selesai, saya yakin selebar apapun badan saya, kami akan tetap bersama dalam sayang.”

Ini salah satu contoh pertanyaan yang menurut saya agak nyeleneh, kenapa? Karena saya tahu kalau P memutuskan untuk menikah dengan saya bukan karena badan saya namun karena P menyayangi saya apa adanya entah itu berat badan saya berkepala 4 ataupun 7. P melihat dan mengerti bahwa saya punya potensi yang dia inginkan untuk jadi istri dan ibu yang terbaik, saya bisa memberikan P apa yang dia tidak bisa dapatkan dari orang lain. Jadi saya tidak pernah takut kalau P akan mencari wanita lain hanya karena badan saya melar. Pernah sih P bercanda tentang badan saya yang semakin melar tapi ketika saya tanyakan apakah dia ingin badan istrinya ini langsing? Tahu dia jawab apa, selama kamu sehat, Mama, bagi saya angka berat badanmu bukan suatu ukuran. Nah, saya sehat dan masih mampu melakukan hal-hal seperti biasanya dan saya makan seperti biasanya, sayur dan buah selalu ada di piring saya dan bahkan porsinya lebih banyak daripada karbohidrat. Kalaupun nanti saya kurus ya berarti saya mungkin melakukan sesuatu yang extra seperti bekerja kembali. Sempat setelah bekerja 6 bulan, dari angka berkepala 7 turun menjadi berkepala 6 dan menurut saya itu hal biasa. Namun setelah 3 bulan di Bali, eeehhh… kembali lagi jadi kepala 7 karena memang saya akui, di Bali jarang sekali bisa jalan minimal 6 km seperti yang saya lakukan di Swedia. Namanya juga liburan hehehehe, tapi berat badan yang di Bali kemarin sudah perlahan turun tanpa saya ikutan diet karena memang aktifitas sekarang ini ya tidak sama seperti di Bali kemarin walaupun masih dalam suasana liburan. Seperti yang saya jawab di atas, saya dipersatukan dengan P itu karena ada karma yang harus saya bayar kepada P dan begitu juga sebaliknya. Semoga saja tautan karma itu ada sampai maut memisahkan kami, amen. Jadi saya yakin, karma itu juga yang nantinya berperan penting dalam hubungan kami dan bukan berat badan (nyengir lebar). Nanti di postingan lain akan saya bahas hubungan karma dengan pertemanan. Balik lagi, saya tidak pernah takut kalau berat badan saya mempengaruhi rasa sayang P kepada saya dan begitu juga sebaliknya.

Kan kalau badan langsing biasanya bisa bikin orang bahagia? ”Hmmm, tunggu dulu! Dengar dari siapa kalau langsing itu bisa dijadikan tolak ukur kebahagiaan?”

Ini lagi juga yang sempat ditanyakan sama teman di Bali yang jujur membuat saya geleng-geleng kepala. Badan langsing tidak bisa dijadikan patokan untuk melihat seseorang itu bahagia atau tidak. Yang membuat seseorang itu bahagia adalah pilihan orang tersebut untuk bahagia, bukan karena badan langsing. Ada kok beberapa orang yang saya tahu badannya bikin iri setiap wanita yang melihat namun kenyataannya tidak bahagia di dalam hidupnya. Tidak jarang ada yang kena penyakit depresi, padahal kalau memang kelangsingan itu sama dengan bahagia, dia tidak akan pernah depresi dan sering merasakan kepahitan dalam kesehariannya. Tubuh saya memang melar namun bisa dipastikan saya bahagia lahir dan bathin, tidak diragukan lagi. Bahkan sebentar lagi harus kehilangan pekerjaan saja, saya masih bahagia dan akan bahagia terus karena saya sudah memilih bahwa saya akan bahagia di segala situasi dan tantangan (psssstt…. Mengenai kehilangan pekerjaan, nanti saja saya bahas ya karena bahasanya tidak akan sesuai dengan tulisan kali ini).

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang lain yang masuk dan saya jawab, namun nanti saja saya bahas kalau ada keinginan untuk menuliskannya lebih banyak lagi. Hal ini yang saya ingin bagi kali ini dan dengan harapan bisa nantinya berguna baik itu buat saya, keluarga saya dan orang lain. Saya juga manusia, ada kemungkinan saya akan lupa banyak hal dan dengan menuliskan ini saya berharap, kalau roda kehidupan saya berada di bawah, saya bisa kembali dan membaca sambil (mungkin) akan tertawa jika mengingat hari dimana tangan saya sibuk mencoba baju dan pikiran saya sibuk menjawab pertanyaan yang saya dapatkan ketika liburan di Bali dan diingatkan kembali oleh gadis kecil dalam diri.

Jadi buat teman-teman di luar sana yang merasa risi berbadan lebar atau pernah mendapatkan pertanyaan seperti saya, jangan pernah merasa minder dengan badan yang tidak menyentuh angka 4 karena berat badan yang diawali dengan angka 4 tidak menjamin kebahagiaan yang kita rasakan dalam kehidupan kita. Tidak juga suatu patokan untuk sebuah sukses dan karakter kita sebagai manusia, tidak bisa juga dijadikan sebuah tolak ukur untuk sebuah ketakutan yang nantinya bisa membuat kita berhenti untuk berpikir secara logis dan positif. Lakukan sesuatu karena memang keinginanmu, bukan karena mengikuti tren atau mengikuti orang lain, atau bahkan yang lebih parah, melakukan sesuatu karena tekanan orang lain. Kalau memang kalian tidak nyaman dengan tubuh kalian, lakukan sesuatu namun keinginan itu harus timbul dari diri sendiri. Kalau kalian ingin langsing, lakukanlah demi kesehatan dan kenyamanan dan bukan karena ingin pamer atau dipuji orang lain. Mengapa? Karena bergantung dengan pendapat orang lain sepenuhnya akan mengikat kita akan sebuah kebebasan untuk menggali potensi yang ada dalam diri kita. Pujian dan ketenaran tidak akan pernah melayanimu sepenuhnya, pujian dan ketenaran ada kalanya sebuah ujian apakah kita kuat menghadapi sebuah tantangan. Jangan sampai pujian tentang badan langsing mematikan niat untuk menggali potensi diri yang lainnya.

Padahal awalnya cuman iseng aja memilah baju tapi percakapannya jadi panjang hehehe. Silahkan kalau ada yang mau menambahkan pertanyaan kepada saya, nanti saya akan jawab dengan senang hati (senyum lebar). Psssst…itu di atas ada foto saya yang diambil beberapa hari yang lalu saat liburan bersama keluarga di daerah utara Swedia, lebar dan belum ada keinginan untuk diet namun bisa dipastikan dalam keadaan bahagia seutuhnya hehehehe.

Stockholm, dym08072018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s