Teman dan Karma

Phonto (1)

”Kita adalah pelajar di universitas kehidupan. Universitas yang memiliki pelajaran yang berbeda dan unik untuk setiap individu di dalam perjalanan mereka untuk mencapai sebuah keseimbangan. Bukan seberapa cepat kita lulus di universitas ini yang dihitung, namun seberapa kita belajar, menikmati dan mengerti setiap proses yang ada di setiap langkah dan keputusan yang kita ambil. Belajar untuk membayar karma pada setiap orang yang kita temui di sepanjang perjalanan kehidupan”.

~demaodyssey 09082018~

Pernah kah punya rasa takut untuk kehilangan teman?

Pertanyaan yang tidak hanya sekali menghampiri, baik itu dari teman ataupun dari gadis kecil dalam diri yang datang ketika keheningan menyapa. Jawaban yang mungkin sudah pernah saya tuliskan dulu namun akan saya tuliskan lagi, baik sebagai pengingat buat diri sendiri dan juga sebagai catatan nanti, ketika putri kami sudah bisa membaca tulisan ibunya. Mungkin juga buat teman-teman yang sudah sudi mampir di blog ini dan menyempatkan diri untuk membaca sampai tuntas isinya.

Kehidupan ini adalah suka dan duka, dimana kedua hal ini memiliki porsi yang sama. Kehidupan ini adalah sebuah universitas dimana tiap individu di dalamnya adalah pelajar yang memiliki tujuan dan mendapatkan pelajaran yang berbeda satu sama lain namun satu hal yang menyamakan kita adalah porsi antara suka dan duka yang ditentukan oleh yang namanya karma. Dari 100 persen kehidupan itu telah terbagi 50% duka dan 50% nya lagi adalah suka. Terkadang suka dan duka itu tidak terlihat dalam porsi yang sama, karena pandangan kita lah yang membuatnya tidak sama. Sikap kita lah yang sering menutup mata kita untuk melihat dan menerima bahwa porsi antara suka dan duka dalam hidup ini adalah sama. Tidak jarang, kita terlalu tenggelam dalam duka dan ada penolakan yang membuat kita bahkan tidak bisa mengucap syukur dan melihat hikmah yang bisa kita petik di setiap peristiwa. Hanyalah jiwa-jiwa yang sudah mengerti dan sudah berdamai saja yang bisa melihat proporsi dan kedua hal tersebut adalah sama. Bagaimana kita bisa belajar berdamai dengan diri sendiri? Bagaimana kita bisa mencapai sebuah pengertian dan melihat juga menerima bahwa hal itu seimbang? Belajar lah lagi tentang karma, tentang apa yang kita tanam, itulah nantinya yang akan kita tuai.

Saya belajar, bahwa setiap orang yang saya jumpai dalam kehidupan ini memiliki ikatan karma dengan saya, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Seperti yang sering kita dengar bahwa setiap orang yang mampir dalam kehidupan kita mengajarkan kita akan kehidupan itu sendiri, ada yang datang untuk tinggal, ada yang datang hanya sekedar menagih atau menerima karma, ada juga yang datang hanya sekilas bahkan terkadang kita tidak sadari keberadaannya. Namun, setiap orang tersebut sudah diijinkan Tuhan untuk mengingatkan kita dalam segala hal, terutama tentang sejauh mana karma baik itu karma baik atau karma buruk yang sudah kita tanam selama ini. Karma, sebuah kata yang tidak hanya orang yang mempercayai Tuhan yang yakin akan hal ini, bahkan orang yang tidak percaya akan Tuhan mengenal juga kata ini dalam bentuk yang lain, tidak peduli akan warna kulit, ras, kaya, miskin dan hal-hal keduniawian. Sebuah kata yang terkadang menghenyakkan kita dalam sebuah sudut dimana kesadaran menusuk jantung yang terdalam, sebuah kata yang kadang menampar namun kadang juga membuat kita bingung akan bahagia, suka yang dia bayarkan.

Teman, sebuat pertalian yang dulu saya sering pertanyakan keberadaannya, karena ketidakmengertian saya tentang karma itu sendiri. Ketika hidup belum mengajarkan saya bagaimana berteman dengan sakit, terutama sakit yang kita rasakan di dalam bathin kita. Saat hidup mengajarkan saya bagaimana harus bertahan di dalam badai dan bangkit dari banyak kejatuhan yang terkadang mampu membuat saya teronggok sendiri, sebelum akhirnya menjadi saya yang sekarang. Saya yang masih belajar dan mencari arti yang lebih dalam lagi, mencari pengetahuan, mengontrol ego yang ada dalam diri, memahat sebuah tonggak yang nantinya bisa saya wariskan kepada putri kami. Tonggak tentang karma yang nantinya bisa membantu penerus saya ketika saya tidak bisa berada di sampingnya lagi. Sebuah kayu pegangan yang nantinya bisa memberikan gambaran tentang saya dan pengertian saya tentang teman dan karma.

Dulu, saya sering merasa sakit jika saya kehilangan teman baik itu dari kesalahan saya ataupun tidak. Ketika saya masih labil, masih melihat dan berharap teman yang saya punya akan selamanya bersama saya, ketika saya dengan naifnya menyalahkan diri sendiri setiap kali saya kehilangan atau dijauhi seseorang yang saya sebut teman. Tak jarang air mata saya mengalir atas ketidakadilan tersebut, terutama jika saya merasa saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya yang dulu masih menganggap bahwa kehilangan teman adalah sebuah hukuman karena karma buruk saya, sebuah peringatan karena saya menyakiti orang lain. Ketakutan yang membenamkan saya, ketakutan karena ketidaktahuan saya, ketakutan yang dulu diikuti banyak alasan yang masuk akal. Sering saya dapati diri saya melakukan apa saja demi pertemanan itu tetap ada, bahkan mengorbankan kebahagiaan saya sendiri dan berakhir dimana saya dimanfaatkan oleh orang-orang yang saya anggap teman. Masih teringat betapa saya berkali-kali menangis dalam diam ketika saya tidak dihargai sebagai teman dan hanya dihampiri ketika mereka membutuhkan pertolongan saya, ketika saya bermanfaat bagi mereka. Saat itu saya tidak memiliki kekuatan untuk melontarkan satu kata pun untuk menanyakan, tidak punya apapun untuk melihat diri saya sendiri bisa pantas menjadi seorang teman bagi mereka.

Namun, seiring waktu berjalan… ketika saya mulai belajar berdamai dengan diri sendiri, sekarang saya bisa melihat bahwa pandangan saya itu masih dipengaruhi ego yang mengontrol saya. Saya sudah bisa berjalan dan melangkah ke depan, tidak merasa takut lagi, dan tersenyum ketika saat ini saya bisa melihat pengalaman saya dulu itu adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Pembelajaran tentang sebuah arti pertemanan, mengerti bagaimana karma mengambil peran dari setiap sebuah hubungan dalam kehidupan ini. Apakah itu berarti sekarang saya tidak pernah kehilangan atau dijauhi oleh orang yang saya anggap teman? Yang terjadi sebaliknya, saat saya sudah belajar berdamai dengan diri saya dan mengerti jalannya karma, saya banyak kehilangan teman, banyak dijauhi jangankan oleh teman, namun saudara dan kerabat. Apakah saya menangis karenanya? Tidak, saya bahkan tersenyum dan berterima kasih. Jahat kah saya?

Saya tersenyum dan berterima kasih karena saya sekarang mengerti bahwa jika ada orang yang menjauhi atau saya kehilangan teman, saudara, kerabat di kehidupan saya, itu artinya ikatan karma yang kami miliki sudah selesai. Itu artinya saya sudah lunas membayar karma yang saya punya, untuk saat ini, mungkin saya dilepaskan dari kewajiban membayar karma kepada orang-orang tersebut. Karma adalah hutang bagi saya, jadi dilepaskan dari kewajiban itu sebuah kelegaan yang berarti hutang saya sudah lunas, setidaknya untuk saat ini. Sekarang ini, saya bisa melepaskan teman, saudara, kenalan atapun kerabat dengan damai tanpa harus menyalahkan diri sendiri dan mengorbankan kebahagiaan saya. Menurut saya, itu bukan sebuah kehilangan lagi. Itu adalah sebuah kebebasan, sebuah kesempatan baru untuk bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki ikatan karma yang harus saya bayar. Semakin banyak saya membayar karma, semakin sedikit hutang saya dengan harapan, ketika saatnya nanti saya menutup mata, karma saya sudah seimbang antara suka dan duka. Yang saya fokuskan sekarang ini adalah terus membayar hutang karma saya kepada orang-orang yang masih berada dan bertemu dengan saya, baik itu orang-orang yang sudah saya kenal lama ataupun orang-orang baru. Tidak ada kesedihan dan air mata lagi karena saya sudah melihat sisi lain dari sebuah peristiwa di jalan kehidupan saya.

Tahun ini, saya semakin diajarkan tentang kedua hal itu, karma dan teman. Apalagi setelah diberikan ijin oleh Tuhan untuk pulang ke Bali selama 3 bulan, saya menjalani banyak tantangan dan juga pembelajaran. Ada kerikil yang tajam, bahkan sempat membuat saya menggelengkan kepala ketika kenyataan menampar saya, menyadarkan saya akan apa yang biasanya saya lihat hanya menutupi sebuah sikap yang jauh dari bayangan saya. Tetapi karenanya saya berterima kasih, banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Di luar hal tersebut, saya dapatkan banyak kebebasan yang mengajarkan saya untuk berdamai lebih dalam lagi dengan diri saya sendiri dan dengan gadis kecil dalam diri. Selama waktu saya di tanah kelahiran, banyak diskusi yang saya lakukan dengan kakak no. 3, kakak yang paling dekat dengan saya. Diskusi tentang kehidupan, saya diberikan banyak pelajaran yang membuat saya semakin yakin bahwa saya bisa melanjutkan perjuangan yang tidak mudah ini, perjalanan yang penuh kerikil ini, sebuah kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri. Sehingga nantinya saya bisa berikan saya seutuhnya kepada orang-orang yang pantas, orang-orang yang diijinkan Tuhan untuk datang ke dalam kehidupan saya, orang-orang yang akan saya bayarkan karma saya dengan tuntas, baik itu datang sebentar ataupun datang untuk tinggal hingga nafas saya yang terakhir.

Kakak saya jualah yang lebih menyadarkan saya akan proporsi suka dan duka dalam perjalanan kita kali ini, yang seimbang dan tanpa kita sadari kadang kita melihatnya secara salah. Kesadaran dimana kita harus berhati-hati jika sepertinya hidup kita mudah terlalu lama, berhati-hati dan bersiap-siap bahwa mungkin kita mengambil bagian suka terlalu banyak dan meninggalkan porsi duka yang lebih banyak. Belajar lagi tentang melihat duka itu sebagai sebuah pelajaran, yang ingin menguji kita sejauh mana kita bisa bangkit ketika jatuh, sejauh mana kita mau terlepas dari ego yang biasanya akan menyuruh kita untuk berduka lama dan dalam. Duka adalah sebuah pengingat bahwa hidup ini adalah untuk mencapai keseimbangan, karena dengan duka kita mengetahui bahwa suka itu ada. Sebuah ketulusan untuk melihat bahwa duka itu adalah sebuah pengingat bahwa kita bukanlah siapa-siapa, kita adalah makhluk pendosa, murid dari universitas kehidupan yang harus berjuang untuk lulus dengan baik, kalau bisa dengan nilai terbaik.

Ada banyak cerita yang tertinggal dari 90 hari penuh di Bali, dan saya akan menuliskannya. Mungkin tidak setiap hari, namun saat jari-jari tangan ini masih ingin menari di deretan huruf dan angka. Saat saya memiliki waktu untuk bercakap-cakap dengan gadis kecil dalam diri saya. Sampai saat itu hadir, saya cukupkan dulu tulisan ini.

”Adakah dari teman yang membaca tulisan ini ingin berbagi dengan saya? Mungkin kita bisa belajar bersama, toh status kita sama di sini, sebagai pelajar di universitas yang sama, universitas kehidupan. Terima kasih sudah sudi mampir dan meluangkan waktu untuk mendengarkan celoteh saya. Selamat berakhir pekan”.

 

Stockholm, dym31082018

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, thought. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s