Pertama di Tahun 2019

Tinggal 2 hari lagi, maka Januari sudah setengah terlewati. Tidak terasa betapa waktu cepat sekali berlalu dan hari ini ingin saja menulis, tentang apa saja yang nantinya muncul di benak. Tadi iseng melihat postingan terakhir di tahun 2018 dan tanggal yang tertera adalah 31 Agustus, itu berarti sudah 4,5 bulan tidak menulis di blog ini sama sekali. Kangen sih sebenarnya ada, ide pun banyak tapi ya itu bisa dibilang kesempatan dan waktu digerus oleh keinginan untuk mencoba hal-hal baru dan juga dihabiskan untuk menemani putri kami terkasih selain juga dihabiskan untuk kerja dan mempersiapkan banyak hal untuk Natal kemarin yang bisa dibilang lumayan ambisius.

Agustus 2018, saya harus berhenti dari tempat kerja saya karena kebetulan perusahaan memutuskan untuk menutup pre-school tersebut. Sebenarnya perusahaan memberikan saya kesempatan untuk bekerja di salah satu pre-school lain di bawah bendera perusahaan namun saya harus menolaknya karena kebetulan pre-school tersebut kebanyakan ada di daerah Utara Stockholm dan saya tinggal di daerah Selatan dan di Kabupaten yang berbeda. Kalaupun saya ambil maka saya harus menghabiskan waktu 3 jam untuk pergi dan pulang nantinya. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan saya ketika mencari pekerjaan yang lain dan Puji Tuhan, 2 minggu sebelum saya selesai di tempat kerja saya yang lama, saya diijinkan untuk mengabdi di salah satu pre-school lumayan dekat dari rumah. Tempat kerja saya yang sekarang hanya berjarak 9,6 km saja dan bisa dicapai dengan mudah baik itu dengan kendaraan umum seperti kereta dan bis, juga bisa dijangkau dengan sepeda ataupun kendaraan pribadi. Tahun 2018 kemarin, kami juga memutuskan bahwa saya akan mengurangi jam kerja saya yang dulunya 100% menjadi 75% saja karena kebetulan P sering bepergian keluar kota, jadi kami ingin A tidak terlalu lama berada di pre-school. Sebenarnya P sudah mulai sering tugas keluar negeri itu sejak awal tahun 2018 dan kami sempat berdiskusi tentang jadual A. Saat itu kami memutuskan untuk mencoba menjalaninya dan ternyata ada banyak kekurangannya karena jika P sedang tidak ada di Stockholm, A harus berada di pre-school nya sejak jam 7 pagi dan kadang saya menjemputnya sekitar jam 5 sore bahkan lebih jika ada gangguan baik itu di transportasi publik ataupun macet di jalan. Ternyata hal ini terasa sekali pada A dan menimbulkan banyak tanya di benak putri kami ini. Saat kami punya kesempatan menjenguk keluarga dari bulan Maret-Juni 2018 kemarin, hampir tiap hari ada diskusi antara A dan saya mengenai keharusan saya bekerja terlalu lama dan perasaan A yang harus tinggal di sekolah lebih lama jika Papa P tidak ada di rumah. Terus terang, kejujuran putri saya mengiris hati saya yang terdalam, saya merasa bersalah telah menghilangkan banyak waktu bersama dia. Maka dari itu, akhir bulan Maret 2018, saya memutuskan untuk mengurangi waktu kerja saya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama A.

Tuhan sepertinya mengerti doa kami karena di bulan Mei 2018, saya mendapat kabar dari kepala sekolah bahwa tempat kerja saya akan ditutup bulan Agustus, itu artinya saya tidak usah mengajukan pengunduran diri. Kami sangat bersyukur akan hal ini dan ketika saya beritahukan A tentang hal ini, saya melihat betapa senangnya dia mendapatkan kesempatan bermain lebih lama sama saya. Sebenarnya setelah berdiskusi, putri kami mengerti kenapa saya bekerja 40 jam per minggu, dia mengatakan bahwa dia hanya ingin mengungkapkan bagaimana perasaan dia yang harus tinggal di sekolah cukup lama setiap harinya. Kami sangat menghargai kejujurannya dan hal ini pula yang menjadi alasan mengapa kami sepakat untuk saya bekerja 75% saja. Saya mulai bekerja di tempat baru bulan September 2018 dan benar saja, ketika saya pertama kali menjemput A jam 3 sore, anak kami ini berlari penuh menyambut saya dengan pelukannya dan senyum lebar. Di rumah kami langsung melakukan prakarya bersama seperti dulu ketika saya masih sekolah dan bekerja hanya paruh waktu. Hati saya meleleh ketika A menatap mata saya dan berkata:

”Mama, den här som jag saknar att göra med dig”

(Mama, hal ini yang saya kangeni untuk dilakukan denganmu)

Saya tersenyum dan memeluknya dan tangan kamipun kembali sibuk bermain dengan warna dan kertas yang ada di meja dapur. Ketika saya kabarkan hal ini kepada P, kami berdua mengerti dan bersyukur bahwa kami mengambil keputusan yang benar. Kebahagiaan A adalah yang utama bagi kami dan sebagai orang tua kami akan melakukan yang terbaik dan berusaha menyesuaikan jadual kami untuk dia, setidaknya sampai A bisa mandiri dan mempunyai kegiatannya sendiri. Kami berpendapat bahwa 6 tahun pertama di kehidupan A adalah tahun emas dimana kami punya kesempatan sepenuhnya untuk meletakkan landasan yang kuat bagi dia untuk berjalan, menjawab tantangan yang ada dan yang paling penting adalah dasar untuk menjadi anak yang bahagia. Kami lega ketika pertemuan orang tua terakhir di tahun ajaran 2018, kami mendapat kabar dari guru-guru A bahwa anak kami adalah anak yang bahagia dan cepat belajar, menuruti aturan dan pengertian, punya timbang rasa yang tinggi terhadap teman-temannya. Bahkan guru-guru A menanyakan kepada kami bagaimana kami mendidik A sehingga A bisa bermain baik itu bersama temannya ataupun sendirian, karena menurut mereka tidak semua anak bisa bermain sendiri dan memiliki fantasi dan bisa mengarang cerita dengan permainan/alat peraga yang ada. Mendengar bagaimana guru-gurunya menjelaskan keseharian A di pre-school nya, ada bangga yang menyusup ke relung yang paling dalam. Kami lega dan bersyukur sejauh ini bisa mendidik A menjadi anak yang bahagia dan pengertian. Ini memberi kami semangat untuk melanjutkan apa yang kami terapkan selama ini.

Tahun 2018, waktu saya di dunia maya bisa dikatakan amat sangat berkurang baik itu di Facebook, Instagram ataupun menulis di blog ini. Alasannya ya seperti yang sudah saya tulis di atas, kesibukan saya sebagai ibu, istri dan guru membuat saya mengesampingkan keinginan saya untuk berinteraksi di dunia maya. Kadang ada rasa kangen menyapa teman-teman yang saya kenal yang berada di berbagai tempat. Namun biasanya rasa kangen itu datang saat saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau saat saya merencanakan kegiatan apa yang akan saya lakukan dengan A setelah pulang sekolah dan kegiatan apa yang saya lakukan dengan anak didik saya di pre-school. Jadi umumnya rasa kangen itu akan terabaikan begitu saja dengan kesibukan tersebut dan saya akan sadar ketika sudah lewat beberapa hari atau berminggu-minggu setelahnya. Mungkin karena itu juga banyak teman yang merasa saya tidak hiraukan, memilih untuk tidak berteman lagi dengan saya. Untuk hal ini, saya mengerti mereka sepenuhnya dan saya tidak menyalahkan mereka sama sekali. Hal ini saya tuangkan ke tulisan terakhir saya yang bisa dibaca di sini  jika teman-teman berkenan membacanya. Bisa disimpulkan teman saya banyak berkurang di tahun 2018 karena satu dan lain hal dan saya tidak menyesalinya ataupun menyalahkan siapapun atau apapun dalam keadaan ini karena saya mengerti bahwa ini bagian dari kehidupan dan karma.

Namun saya banyak belajar di tahun 2018 dan menemukan bahwa saya mampu mempelajari hal yang dulunya saya kira akan butuh waktu lama. Saya berhasil membuat boneka amigurumi saya yang pertama dan bisa dilihat di Instagram saya . Ketika saya menyadari bahwa saya memiliki kemampuan ini, maka saya memutuskan untuk membuat satu persatu isi Advent Calendar buat A di tahun 2018 yang temanya adalah buatan tangan Mama. Maka saya mulai menyiapkan diri dengan menggali sisa benang dan barang-barang bekas yang bisa saya pergunakan untuk membuat 24 barang yang nantinya akan dibuka setiap hari dari tanggal 1 Desember hingga Natal. Jadilah saya membuat sofa dari kotak sisa es krim dan sisa kain batik, tempat tidur, lemari dan perlengkapan kamar dari buku/koran/majalah bekas yang ada di tas daur ulang di dapur, baju, tas, selimut dan boneka rajut dari sisa benang yang tersimpan di gudang, dan masih banyak lagi. Menyiapkan setiap hal tersebut tidak lah mudah karena A selalu berada di samping saya dan menanyakan apa yang saya buat sedangkan barang-barang tersebut tidak seharusnya terlihat. Puji Tuhan saya berhasil menghindari A melihat hasil akhirnya walaupun dia melihat seluruh prosesnya. Hasil-hasil tersebut bisa dilihat di Instagram yang saya miliki yang bernama @demaodyssey . Selama proses menyiapkannya ada semangat yang mengisi setiap detiknya dan percakapan dengan A pun menjadi lebih dalam. Dengan membuat dan menyiapkan Advent Calendar tersebut, saya ingin A mengerti bahwa kami bisa memanfaatkan barang-barang daur ulang yang ada di rumah dan membuat mainan sendiri seperti yang kita inginkan. Ketika melihat mata A membuka tas nomor 1, saya tahu bahwa ada yang sangat bahagia menerima boneka rajutan buatan Mamanya. Meluncur kata sayang dari bibir mungilnya dan apresiasi yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata, cukup membuat saya bersyukur sudah diberikan kesempatan untuk mencoba hal baru yang dulunya tidak pernah saya yakini kalau saya bisa. Setelah Natal, efek dari pembuatan 24 hal tersebut mulai terlihat. Ketika A melihat ada kotak atau kardus bekas, dia akan menyuruh siapa saja yang di dekatnya untuk membantunya menyimpan kardus/kotak tersebut dan berkata bahwa dia dan mama akan menciptakan karya baru bersama. Ketika dia melihat mainan yang ada di majalah ataupun di layar laptop/Ipad, dia akan bertanya apakah saya bisa membuatnya dan jawaban saya hampir selalu sama, bisa dan kita akan membuatnya bersama-sama. Ketika akhir pekan, selalu saja ada waktu untuk duduk berdua dan melihat di Youtube, berbagai macam prakarya dari yang mudah hingga agak susah untuk nantinya kami coba bersama.

Tahun 2018 sekali lagi tahun pembelajaran bagi saya baik sebagai sebuah keluarga maupun sebagai individu dengan kekurangan dan kelebihannya. Tahun 2019 juga tetap menjadi pembelajaran karena bagaimanapun saya masih menjadi murid, pelajar di Universitas Kehidupan. Bahkan 2019 ada niat dan mimpi yang ingin saya kejar dan tangkap, saya sudah mulai menyiapkannya dari sekarang. Namun tidak terlalu berambisi karena fokus kami berdua masih A yang akan menginjak angka 5 musim panas nanti. Salah satu niat saya bahkan mengurangi lagi kerja dari 75% hingga menjadi 50% saja, ada beberapa alasan mendasar di balik keputusan itu. Seperti saya bilang, ambisi tidak terlalu tinggi untuk mewujudkannya, hanya berusahak arena saya yakin jika kita memiliki keinginan dan kita berusaha mewujudkannya, maka alam aka menolong kita. Saya tidak kawatir kalaupun hal tersebut tidak terwujud, selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Semua yang terjadi itu adalah seijin Tuhan dan jika memang hal tersebut adalah hak saya, maka saya akan mendapatkannya, jika tidak itu berarti bukan hak saya namun hak orang lain. Sesederhana itu… salah satu prinsip yang ingin saya tanamkan kepada A.

Semoga teman-teman melalui tahun 2018 dengan baik dan mari kita jalani semua proses di tahun 2019 ini, ijinkan saya mengucapkan Selamat Tahun Baru….walaupun bisa dibilang telat untuk melakukannya. Lebih baik telat daripada tidak sama sekali bukan hehehhe…. Semoga kita bisa berjumpa lagi dalam bentuk tulisan.

 

Tungelsta, dym13012019

Advertisements

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2019, catatan perjalanan, Januari2019 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Pertama di Tahun 2019

  1. Di says:

    Demi anak, memang sebagai ortu kita harus bisa melakukan segala hal, Deni. Ada waktunya aku dan mas dulu berbagi waktu saat kami harus bekerja. Aku kerja dari jam 6 pagi sampai 2 siang, mas kerja sore sampai malamnya. Aku pulang kerja langsung mengurus macam2 dan sampai rasanya setengah gila! Masa2 itu benar2 melelahkan lahir, batin dan mental. Aku yakin kamu dan suamimu bisa menjalani pilihan terbaik demi Agnes. Peluk erat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s