Kegiatan Harian Ketika Wabah Corona Melanda

Hari ke 5 kami berada di Stockholm dalam situasi yang masih terasa tidak biasa, dimana virus yang bernama corona masih ingin memperlihatkan bahwa kita tidak boleh jumawa. Jika Tuhan mengijinkan maka tidak ada seorang manusiapun bisa menghalangi kehendakNYA, walaupun dalam situasi seperti ini masih saja ada manusia yang mengira bahwa dia mengetahui lebih dari Sang Maha Pencipta.

Miris? Iya, namun sebagai manusia saya hanya bisa menghela nafas dan mengingatkan diri sendiri bahwa setiap orang berbeda dan saya sebaiknya memilih bagaimana saya bereaksi. Apa yang bisa saya bagikan, akan saya tuliskan dan ceritakan, apakah akan diterima atau tidak? Itu sudah menjadi bagian dari sesuatu yang tidak bisa saya kontrol karena setiap manusia akan mengintepretasikan berbeda sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Kali ini saya ingin berbagi, apa saja yang kami lakukan sehari-hari ketika wabah kali ini menyapa hampir setiap penjuru dunia.

Di Swedia, dalam situasi tak biasa ini, bisa dibilang masih normal. Tidak ada yang namanya lockdown namun hanya anjuran untuk social distancing, mengurangi kegiatan yang tidak perlu di luar rumah dan juga menjaga kebersihan dan kesehatan. Hanya SMA dan Universitas saja yang sudah ditutup dan diberlakukan pembelajaran online, selebihnya masih buka. Kami (saya dan A) yang baru saja datang dari Bali hari Selasa kemarin memutuskan bahwa A tidak akan masuk ke pre-school nya minimal 2 minggu sejak kami menjejakkan kaki kembali di Stockholm. Ini kesadaran kami sebagai bagian dari masyarakat untuk mendengarkan, mengerti dan melaksanakan apa yang menjadi anjuran pemerintah. Kebetulan saya juga sudah selesai bekerja sebelum kami pulang liburan ke Bali, jadi kemungkinan saya akan berkegiatan di rumah saja sampai nanti setelah hari raya Paskah seperti yang kami rencanakan sebelumnya.

Social distancing, mengenai hal ini kami sudah memberitahukan A mengenai hal ini dan Puji Tuhan dia mengerti mengapa dia tidak bisa langsung pergi bertemu dengan teman-temannya di sekolah yang sudah dia rindukan selama ini. Namun, setiap hari kami masih berjalan-jalan di luar rumah sekedar untuk mencari udara segar dan tentu saja kami pergi ke tempat-tempat dimana orang-orangnya sedikit atau tidak ada orang sama sekali. Kebetulan kami tinggal di daerah dimana ada hutan kecil di belakang rumah dan tempat bermainnya pun lumayan luas, jadi ketika kami menghabiskan waktu di luar, kami hanya bertemu sekali saja dengan tetangga yang juga menghirup udara segar. Kami masih berbicara namun dengan jarak kira-kira 2 meter antara 1 dengan yang lainnya, karena kami sama-sama mengerti apa yang seharusnya kami lakukan dalam situasi seperti ini.

Seperti hari ini, hutan kecil sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali. Kebetulan saya mengetahui bahwa organisasi Friluftsfrämjandet  aka Swedish Outdoor Association punya tantangan untuk tetap aktif dan sehat di alam untuk segala usia. Tantangan itu sudah memasuki hari ke 5 maka dari itu, kami melakukan semua tantangan hari ini. Apa saja tantangannya? Berjalan sambil menjada keseimbangan di sebuah batu atau pohon yang sudah tumbang dan tergeletak di tanah, diam dan tidak bersuara sambil mendengarkan apa saja yang bisa di dengar ketika berada di alam terbuka, membuat permainan tick-tack-toe mempergunakan kayu/ranting yang sudah jatuh di tanah atau melempar batu atau ranting ke ember untuk anak yang lebih kecil, menemukan 3 hal yang berawalan dengan huruf B dan masih banyak lagi. Kalau memang tertarik, bisa melihat di Instagram saya @demaodyssey bagaimana kami melakukan tantangan tersebut.

Pasti ada yang penasaran, katanya diam di rumah kok masih keluar? Begini, di Swedia, dianjurkan setiap hari kami keluar rumah untuk menghirup udara segar, apalagi setelah seharian berada di rumah. Tiada hari tanpa keluar rumah dan udara segar menjadi salah satu bagian terpenting yang bisa menambah daya tahan tubuh apalagi saat matahari bersinar cerah seperti hari ini. Tidak peduli cuaca apapun, kami pasti keluar rumah setidaknya 30 menit setiap hari. Namun dalam situasi sekarang ini, kami memikirkan dan memilih bagaimana kami menerapkan social distancing ketika kami berada di luar. Apakah tidak cukup berada di halaman belakang rumah saja? Sebenarnya cukup, tapi seperti yang saya jelaskan di atas bahwa kami tinggal di area dimana ada hutan kecil dan taman yang lumayan besar, jadi kemungkinan untuk berada di kerumunan itu sangat kecil. Jadi masih aman untuk tidak menulari atau tertulari oleh orang lain, tentu saja kami mencuci tangan sebelum keluar dan sesudah sampai di rumah.

P bekerja dari rumah sudah beberapa minggu sebelum kami tiba dan untuk saat ini memang dia yang bertugas untuk membeli beberapa bahan seperti susu, sayur dan buah karena saya masih memutuskan untuk tidak pergi ke tempat ramai selama 2 minggu setelah kepulangan kami. Puji Tuhan, di 2 toko bahan makanan di dekat rumah masih lengkap semuanya dan sepertinya tidak ada yang menimbun makanan kering atau sejenisnya. Namun, saya mendengar dari P bahwa supermarket terbesar tempat dimana kami biasanya belanja sudah ada yang memborong tissue toilet dan bahan kering, jadi ada beberapa rak yang terlihat kosong. Kami kebetulan masih punya persediaan sebelum wabah corona ini dan terus terang kami tidak begitu kawatir dan tidak panik untuk memborong bahan makanan. Kebetulan kami punya bahan makanan seperti daging moose hasil dari perburuan tahun lalu, begitu pula ikan salmon hasil tangkapan mertua. Jadi bisa dibilang kami memiliki persediaan cukup untuk mengantipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami punya beberapa bibit sayur mayur seperti kangkung, salad dan wortel yang bisa kami tanam dan panen pada waktunya.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu berubah dalam keseharian kami, kecuali melihat P ada di rumah setiap hari, hal ini kami syukuri karena dengan begitu dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kami. Seperti yang kami yakini, setelah wabah ini berlalu maka kegiatan P diluar negeri akan banyak dan dia akan bepergian seperti biasa, 2-3 minggu per bulan. Makanya kami ambil dan nikmati sisi positif wabah ini yaitu bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama baik itu di dalam atau di luar rumah dibandingkan sebelum ada wabah. Selalu ada pelajaran dan hal-hal yang positif yang bisa diambil dan dipelajari dari setiap kegiatan.

Mari kita bersama ambil dan jalani tugas kita sebagai bagian dari masyarakat dengan mendengarkan, mentaati dan menjalankan anjuran pemerintah dimana kita tinggal. Jangan saling menyalahkan namun mari saling berpegangan tangan untuk bersama-sama menjadi pemutus rantai penyebaran virus corona dengan harapan bahwa wabah ini akan segera berakhir. Lakukan apa yang bisa kita lakukan tanpa membahayakan orang lain baik itu keluarga, teman atau pun orang-orang yang ada di sekitar kita. Jaga kesehatan ya teman-teman semua dimanapun kalian berada dan jaga kebersihan, bersama kita bisa melewati cobaan kali ini.

 

Haninge, demaodyssey 21032020

 

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.