Belajar Untuk Bertahan

Di masa pandemi corona, banyak pelajaran yang kita dapatkan dalam segala hal di perjalanan kali ini. Kita semua sama-sama belajar satu hal penting, pelajaran paling berharga yang sering kita acuhkan atau mencoba untuk mengesampingkannya, pelajaran bagaimana caranya bertahan.

Bertahan dalam segala bentuk keadaan yang kehidupan sodorkan di depan kita. Pelajaran bagaimana bertahan dalam guncangan badai, baik itu badai kecil ataupun badai besar di masa dimana ketidakpastian adalah sesuatu yang kita mencoba untuk berdamai. Di masa dimana virus bernama corona diijinkan Tuhan untuk memberikan kita waktu untuk belajar, memberikan kita waktu untuk berhenti sejenak, memberikan Ibu Pertiwi waktu untuk memulihkan kesehatannya yang telah turun merosot seiring waktu. Pelajaran yang membuat kita sedikit bingung pada awalnya bagaimana harus bereaksi dan sampai sekarang pun masih ada keraguan bagi mereka yang belum menemukan reaksi apa yang bisa mereka berikan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bertahan dengan sisi negatif atau bertahan di sisi positif? Pilihan itu ada pada setiap individu yang memperoleh kesempatan kali ini untuk mengalami pandemi yang bukan saja mendera di satu atau dua negara, namun telah menjejakkan kakinya di hampir seantero dunia.

Bukan hanya kita sebagai individu yang harus belajar bertahan, namun organisasi, perusahaan bahkan negara pun dipaksa untuk belajar bersama kita, bagaimana bertahan kali ini. Kita lihat betapa setiap negara memiliki kebijakan masing-masing yang terkadang sama atau bahkan berbeda satu sama lain. Benar dan tidaknya tentu saja dikondisikan dengan keadaan tiap negara dan tentu saja tidak ada yang 100 persen puas akan keputusan yang sudah diambil. Menurut saya itu wajar saja, karena bukankah kita semua tahu bahwa kita tidak bisa membahagiakan semua orang. Dalam kehidupan pasti selalu saja ada orang-orang yang tidak puas dan akan menjadi oposisi, karena apa? Karena Tuhan mengijinkan, sehingga kita tetap diberikan kesempatan untuk waspada dan selalu belajar untuk memperbaiki diri di setiap harinya, di setiap tindakan dan langkah yang kita ambil. Mereka ada untuk membuat kita mempertimbangkan setiap reaksi kita untuk menentukan kemana langkah kita tujukan selanjutnya. Apakah kita harus selalu mendengarkan oposisi? Itu kembali pada diri kita, dimana kita diberikan waktu untuk belajar memilah, kapan kita mendengarkan, mana yang penting yang harus didengarkan dan diikuti, mana yang hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri atau bahkan mana yang harus kita acuhkan. Banyak pelajaran yang Tuhan ingin kita belajar dan mengerti.

Seperti mata uang, saya juga mendapatkan dampak negatif dan positif dari pandemi corona kali ini. Namun, kalau boleh saya bilang, dampak negatifnya sangat sedikit dibandingkan dampak positif yang lebih banyak saya dan keluarga rasakan. Saya bahas dampak negatif dulu yaaaa…

Kehilangan pekerjaan adalah salah satu dampak negatif yang saya terima. Untuk mencari pekerjaan pengganti pun sangat sulit karena banyak perusahaan mencoba untuk berhemat dan mengurangi pegawai mereka. Apakah saya sedih? Tidak juga, tapi ini bukan berarti saya sombong atau takabur namun saya melihatnya dari sisi positif bahwa saya menjadi punya lebih banyak waktu bersama keluarga terutama kesempatan untuk melakukan berbagai aktifitas bersama putri kami yang sebentar lagi akan memasuki perjalanan yang baru di sekolah peralihan sebelum masuk sekolah dasar. Namun bukan berarti saya tidak mencoba mencari kerja sama sekali, tentu saja saya tetap berusaha mengirim lamaran ke berbagai Taman Kanak-kanak namun saya tidak ’ngoyo’ atau ngotot karena saya mengerti bahwa dalam situasi yang spesial ini, saya belajar untuk bertahan. Sisi negatif lainnya adalah kami tidak bisa bertemu dengan mertua karena biasanya kami bertemu setiap 4-6 minggu sekali dan kali ini perjumpaan itu sudah tertunda lebih dari 8 bulan. Tentu saja ada kerinduan yang sangat dalam namun kami harus bersabar, bertahan dan mengerti bahwa keputusan untuk tidak bertemu adalah demi kebaikan kedua sisi. Mertua berada dalam grup dimana kemungkinan untuk tertular cukup tinggi dan sampai akhirnya kami bisa bertemu beberapa minggu yang lalu dengan kondisi yang tidak seperti biasanya (nanti saya ceritakan khusus di postingan sendiri) Kami masih berharap virus ini cepat menuntaskan tugasnya dan memberikan ruang kepada kita semua untuk menjalani kehidupan seperti biasa walaupun nantinya tidak akan sama seperti sebelum corona menyapa.

Seperti saya bilang sebelumnya bahwa banyak sisi positif yang saya ambil dari pandemi ini. Pelajaran demi pelajaran yang berharga yang nantinya bisa menolong saya di kehidupan saya di masa depan. Apa saja sisi positif tersebut?

Kesempatan untuk meluangkan waktu bersama baik itu dengan suami, anak dan bahkan keluarga saya di Bali, terutama dengan kakak nomor 3. Papa P biasanya bekerja lebih banyak di luar negeri dibandingkan dengan di Swedia karena memang kebetulan pekerjaannya saat ini lebih banyak mengharuskan dia menghabiskan waktu di negara-negara selain Swedia. Saat ini Papa P jadi lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya di rumah dengan artian walaupun bekerja, kami masih bisa makan siang dan makan malam bersama, atau bahkan dia masih sempat bermain dengan A walaupun hanya 10-30 menit setelah makan siang atau saat ada waktu jeda. Membantu saya di taman atau hanya sekedar minum kopi bersama sambil mendiskusikan hal-hal apa saja yang akan kami lakukan, baik itu kegiatan bersama A atau merapikan bagian rumah yang harus dibenahi. Waktu bersama Papa P sangat berharga bagi kami terutama untuk A, karena dia yang selama ini sering kangen kalau Papa P lagi tidak ada di rumah. Karena saya berstatus sebagai pengangguran, maka A hanya boleh berada di Taman Kanak-kanak selama 15 jam per minggu yang sebelumnya 40 jam. Kami jadi lebih banyak meluangkan waktu lebih banyak dari biasanya, saya pun berkesempatakan untuk berbincang dengan A, menjawab pertanyaannya, berbagi tentang masa kecil saya, hingga berdiskusi tentang hal-hal yang bagi saya cukup mengejutkan. A juga berkesempatan membantu saya lebih banyak di rumah, dari membersihkan kamarnya dan kamar kami, ruang tamu hingga kamar Farmor/Farfar yang kali ini sering menjadi kamar dimana saya dan A menonton TV program kesayangannya yaitu Beast Master di Netflix. Kesempatan ini tidak bisa kami beli dengan uang karena terlalu berharga untuk bisa tergantikan dengan materi. Nilai positif terbesar yang nantinya akan kami kenang dan kami yakin sangat berarti bagi A dalam melanjutkan perjalanannya di masa depan.

Secara fisik, saya memang tidak ada di Bali namun karena corona, saya merasa kalau saat ini Bali sangat dekat, kenapa? Karena saya bisa mengobrol dengan kakak saya nomor 3 hampir setiap hari. Biasanya kami hanya bisa bersapa seminggu sekali dan itu pun kalau kami tidak berhalangan, kalau masing-masing lagi keluar rumah, maka obrolan kami akan tertunda hingga beberapa minggu. Bukan hanya karena perbedaan waktu, kesibukan masing-masing juga kadang menjadikan waktu menjadi sedikit sulit untuk didapatkan untuk saling bersua walaupun hanya di dunia maya, kami sudah puas. Corona memberikan kami kesempatan untuk lebih sering mengobrol, dari hal-hal yang konyol sampai hal-hal yang serius. Berbagi sedih dan tawa bahkan bersama anak, keponakan-keponakan dan sepupu, kami mendapatkan waktu untuk saling menggoda satu sama lain. Sebuah nilai positif yang nantinya mungkin sulit kami dapatkan saat kegiatan kami kembali normal, bersamaan dengan kewajiban sebagai murid dan pekerja di bidang masing-masing. Maka selama situasi masih mengijinkan, kami akan menikmati kebersamaan ini.

Nilai positif lain? Saya lanjutkan ke postingan selanjutnya yaaaa….takutnya ini kepanjangan kalau dituliskan jadi satu *nyengir lebar*

 

Haninge, 06082020

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2020, catatan perjalanan, Jejak 2020 and tagged , . Bookmark the permalink.

1 Response to Belajar Untuk Bertahan

  1. Pingback: Belajar Untuk Bertahan Bagian Kedua | One step at a time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.