Belajar Untuk Bertahan Bagian Kedua

Bagian pertama bisa dilihat di sini yaaaaa…

Lanjut lagi, sisi positif yang lainnya adalah saya jadi banyak waktu untuk mencoba hal-hal baru seperti berkebun dengan hidroponik yang sebelumnya belum kepikiran untuk mencoba walaupun sudah sering mendengar. Bagaimana awalnya? Begini, selama pandemi corona, saya susah menemukan kangkung dan tauge yang biasanya saya bisa beli di Toko Thailand yang berlokasi di dekat rumah. Lumayan bingung juga pertama kali, iseng melihat di YouTube dan akhirnya mendapatkan inspirasi ketika ke gudang dan menemukan bibit kangkung yang dibeli beberapa tahun yang lalu. Daripada bibir tersebut dibuang percuma, maka keisengan saya berlanjut dan mencoba menanam walaupun saya tidak yakin bahwa bisa tumbuh. Ternyata bisa dan walaupun kangkungnya tidak tumbuh sempurna namun cukup untuk dimakan 1 kali makan malam. Dari kangkung, keisengan saya berlanjut dengan membuat Eco Enzyme, sebuah inovasi yang baru saya ketahui akhir-akhir ini yang sebenarnya sangat mudah pembuatannya. Setelah membaca sana sini, saya jadi tahu bahwa kegunaan Enzo (sebutan saya buat Eco Enzyme yang saya buat) sangat banyak yaitu selain bisa sebagai pupuk tanaman, bisa juga digunakan untuk pembersih lantai, dll. Semakin semangatlah saya membuatnya, walaupun terus terang saya tidak tahu apakah percobaan Enzo saya bisa berhasil atau tidak. Ini tinggal sebulan lagi, maka saya bisa memanen Enzo tahap pertama saya. Keisengan saya semakin merambah, jadi selain kangkung saya juga membuat tauge dari kacang hijau dan dari kedelai, hasilnya sangat memuaskan. Dari hasil ngobrol ngalur ngidul sama Maming (kakak saya nomor 3) kami menemukan beberapa resep bumbu yang mengingatkan kami akan masakan ibu dan masakan favorit masa kecil kami (nanti saya akan ceritakan terpisah). Sampai saat tulisan ini dibuat, saya rutin membuat kecambah kedelai yang dipanen setiap 3-4 hari sekali dan belum putus karena saya sangat suka akan satu sayur masa kecil yang bernama rambanan.

2 bulan yang lalu, taman di bagian depan rumah kami ditumbuhi banyak lumut sehingga tidak ada rumput yang tersisa. Kami memutuskan untuk mengganti saja keseluruhan taman dengan rumput baru. Biasanya kami bisa membeli rumput yang sudah jadi dan dijual gulungan, namun karena setelah menelepon toko tempat membeli dan ternyata harus menunggu beberapa minggu karena mereka kehabisan persediaan, maka kami memberanikan diri untuk mencoba menanam rumput dari benih. Ini pertama kali kami mencoba, mengapa berani? Karena kebetulan saya punya banyak waktu untuk menjaga dan memperhatikan pertumbuhan benih-benih tersebut dan perhitungan lain adalah, kalaupun gagal kami selalu bisa kembali membeli rumput jadi. Kami kerjakan bersama-sama, pertama-tama Papa P dan saya mencabut semua lumut yang ada, kemudian saya, A dan Indira (keponakan saya, anaknya kakak nomor 3 yang bekerja di Swedia) memberikan pupuk, menebarkan benih rumput dan menutup permukaan seluruh taman dengan tanah baru. Hasilnya? Rumput di taman depan sangat bagus dan kami sangat puas walaupun di minggu-minggu pertama, saya harus menyiram di malam hari setiap 2 hari sekali karena cuaca sangat panas dan tanah menjadi kering. Kenapa menyiram malam hari? Karena kalau menyiram sebelum jam 9 malam, air akan cepat menguap dan itu artinya membuang banyak air. Atas pertimbangan itu pula, jam 9 malam adalah rutinitas untuk memberikan minum kepada benih-benih rumput baru tersebut. Ini juga menjadi salah satu nilai positif, karena kalau kami masih bekerja, mungkin kami akan membeli rumput jadi dan melewatkan kebahagiaan ketika kami melihat rumput-rumput baru tumbuh dengan suburnya. Percayalah, kebahagiaan itu sederhana kok, melihat rumput baru tumbuh (A menyebutnya bayi rumput) saja sudah membuat kami tersenyum dan berteriak bahagia, eh…atau ini cuma kami aja yang receh ya, yang sudah bahagia hanya melihat rumput *nyengir lebar*.

Apalagi hal positif lainnya? Saya jadi punya banyak waktu untuk merajut *ketawa lebar* yang dulunya saya harus berbagi antara pekerjaan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai guru dan baru sebagai Deni yang terkadang porsi sebagai Deni akan menjadi bagian terakhir setelah beberapa peran di atas. Namun di masa pandemi ini, porsi sebagai Deni naik menjadi peringkat ketiga dan memiliki jatah waktu lebih banyak yang artinya saya bisa merajut lebih banyak dan melakukan hal-hal yang selama ini masih hanya dalam daftar tunggu. Berkebun yang dulunya seadanya, sekarang saya bisa sedikit berlama-lama. Mencoba resep baru terutama makanan Bali juga merupakan sebuah kenikmatan yang saya sangat hargai. Bahkan saya mendapatkan masukan dan ide untuk mencoba tanaman liar yang rasanya seperti bayam untuk dimasak dan ternyata bikin ketagihan apalagi tanaman liar yang bernama ’Kirskål’ aka Ground Elder ini banyak sekali saya temukan di sekitar tempat saya tinggal terutama di hutan kecil di dekat taman bermain. Hampir setiap hari saya memetik dan lumayan untuk menambah kalau mau masak sayur urab Bali atau masakan yang lainnya.

Saya beruntung diijinkan untuk melihat lebih banyak sisi positif selama pandemi ini dan diberikan banyak waktu untuk belajar menggali potensi diri yang dulu tidak pernah saya pikirkan kalau saya bisa lakukan. Bagi saya, untuk dapat belajar bertahan dan memilih bereaksi positif itu merupakan pelajaran yang sangat berharga, baik itu bagi saya sendiri, bagi suami saya dan juga menjadi contoh bagi putri kami. A juga akhirnya ketularan belajar bertahan dan reaksinya diluar dugaan saya. Contohnya?

Saat A tahu bahwa waktu bermain dengan temannya di sekolah berkurang, dia sempat protes namun setelah dijelaskan dan melihat bahwa ada sisi positif (lebih banyak waktu sama Mama dan Papa) di balik berkurangnya jam main dengan teman, A menerima dengan senang hati dan bahkan terkadang dia meminta ijin untuk tidak sekolah untuk bisa membantu saya di kebun atau hanya sekedar ke hutan mencari bayam liar dan bersepeda sambil piknik. Begitu pula saat A tahu kalau ada kemungkinan dia tidak bisa ketemu Farmor dan Farfar lama (sekitar hampir 8 bulan dan yang biasanya kami bertemu setiap 4-6 minggu sekali), sempat sedih tapi setelah diberi penjelasan dia menerima dan menikmati sekali saat berbicara lewat telepon atau ketemu lewat video call saja. Bahkan ketika rencana pesta ulang tahunnya bulan lalu harus dibatalkan, tanpa diberi penjelasan dia sudah mengerti dan melihat sisi positifnya, yaitu setelah dirayakan dengan bernyanyi bersama di kelas, dilanjutkan dengan menghabiskan waktu berdua sama mamanya dari membeli hadiah yang diinginkan, makan siang dan diajak membuat kue kesukaannya sambil ngobrol ngalur ngidul. Permintaannya pun sederhana untuk ukuran anak kecil ultah, pancake berbentuk monyet. Walaupun mamanya bukan orang yang pintar membuat kue, pancake buatan saya sudah cukup membuatnya tertawa bahagia karena bagi dia keinginannya tercapai mendapatkan tema monyet untuk ultahnya.

Jadi sebenarnya reaksi yang kita pilih bisa menular atau menyebar ke orang-orang di sekitar kita terutama keluarga dekat yang bersama kita setiap harinya. Jika kita memilih bereaksi positif maka secara tidak langsung anggota keluarga kita akan merasakannya dan akan merasa tenang dan akhirnya bereaksi positif juga tanpa kita paksakan. Seperti contoh di atas, bahkan A yang baru saja berulang tahun ke 6 sudah bisa melihat sisi positif dari sebuah situasi yang menimbulkan rasa sedih. Jadi yakinlah, selalu ada sinar terang di ujung terowongan yang gelap, tentu saja jika kita mau mencari dan mau berusaha mencari sumber cahaya tersebut.

Kita semua tidak pernah tahu dan yakin kapan pastinya virus corona ini bersama kita dan kapan kehidupan kembali berjalan mendekati sebelum adanya pandemi ini, namun kita diberi pilihan untuk belajar bertahan, belajar menjadi petarung dan bukan pecundang (jika kita mau dan yakin) dan belajar banyak hal serta belajar bagaimana bereaksi terhadap situasi yang tidak menentu ini. Belajar melihat sisi positif dari setiap situasi bahkan yang keadaan yang menyedihkan sekalipun. Jika kita berhasil lulus dari cobaan ini maka niscaya kita akan mendapatkan bekal yang bisa kita gunakan di masa depan. Saat ini Tuhan memberikan kita waktu yang banyak untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya teronggok dalam daftar karena terbatasnya waktu, maka manfaatkan lah sebelum Tuhan mengijinkan kita sibuk kembali dengan pekerjaan yang kita punya sebelum wabah ini ada. Mungkin Tuhan sedang menjawab keluhan yang mungkin kita lontarkan, bukankah kata-kata seperti…

”Waaaah, aku ga ada waktu nih buat…..”

”Duuuuh, andaikan 1 hari itu bisa lebih dari 24 jam jadi bisa….”

”Cepet banget sih waktu berjalan, gua kan belum sempat melakukan….”

”….bla…bla…bla…”

….dan masih banyak lagi, sering kita dengar atau bahkan katakan, seolah-olah waktu yang diberikan selama ini kurang untuk melakukan semua yang kita ingin lakukan. Sekarang Tuhan sudah secara tidak langsung menjawab doa/harapan kita maka pergunakanlah sebelum nantinya kesempatan kita berkurang untuk menyenangkan diri sendiri.

Mungkin juga Ibu Pertiwi sedang memulihkan kondisinya yang sudah dirusak oleh manusia. Ini mungkin salah satu cara Tuhan mengijinkan Ibu Pertiwi untuk beristirahat yang cukup, memulihkan energi, memberikan pelajaran pada semua mahluk bahwa kita harus saling menjaga. Virus ini ada karena Tuhan mengijinkan dia ada, seperti Tuhan mengijinkan setiap kejadian yang baik dan buruk terjadi dalam kehidupan kita. Jika sudah seijinNYA, siapakah kita bisa menolak dan mempertanyakan keputusan Sang Maha Kuasa. Kita sudah diberikan kesempatan, pergunakanlah untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik atau yang terbaik dari yang terburuk. Hargailah setiap kesempatan yang kita punya, sesakit apapun itu karena selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dan kita ambil sebagai bekal untuk mengambil keputusan di masa depan.

Di masa pandemi corona…bertahan adalah pelajaran berharga yang kita dapatkan untuk melanjutkan langkah kita di perjalanan selanjutnya. Untuk menetapkan langkah apa yang harus kita ambil, jika Tuhan mengijinkan corona mereda dan kita kembali menikmati hal-hal yang sempat hiatus selama wabah ini melanda. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan Tuhan. Selamat berkarya dan menggali potensi diri lebih dalam lagi, kita pasti bisa 😊

Haninge, 07082020

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2020, catatan perjalanan, Jejak 2020 and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.