Tentang Kehilangan

Hilang… kata yang sering menjadi momok bagi beberapa orang, dan reaksi yang terkadang didapatkan pun beragam. Ada yang marah, kesal, sedih, bingung dan masih banyak rasa yang biasanya dikaitkan dengan sesuatu hal yang negatif. Jarang sekali ditemui kata hilang tersebut disandingkan dengan lega, senyum dan kata yang biasanya berkonotasi positif. Mengapa? Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa mengernyitkan dahi karena hampir sebagian besar tahu bahwa memang sudah seperti itu sejak dahulu kala.

Sebenarnya, jika kita mau belajar, kata hilang tidak selamanya bermakna jelek. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa kata tersebut bisa juga berarti positif, namun dasar yang membedakan adalah bagaimana kita memilih untuk bereaksi ketika dalam hidup kita dihadapkan pada kata tersebut. Sebagai manusia tentu saja reaksi pertama yang kita berikan adalah reaksi yang sudah kita ketahui dan pelajari sejak kecil, yang sudah kita tahu dan ada dalam diri kita. Tak jarang, ketika suatu kata yang kita jauhi mendekati kehidupan kita, maka kepanikan adalah jawabnya, amarah akan mengisi setiap ruang yang kita ijinkan mereka berada, sedih tidak bisa dihindari dan hal-hal ini bisa mempengaruhi tidak saja diri kita namun juga orang-orang di sekitar kita. Bahkan tak jarang bisa merusak suatu hubungan yang jika suatu hari di masa depan kita pertanyakan, bagaimana hal sepele bisa kita biarkan begitu saja merusak apa yang sudah kita punya.

Kehilangan sesuatu terkadang efeknya lebih sedikit daripada kehilangan seseorang, terutama jika orang-orang tersebut memberikan arti dalam hidup kita. Namun apakah kita harus terus menyalahkan kehilangan atas ketidakmampuan kita memilih untuk bereaksi dengan lebih baik? Setiap orang dalam hidup ini pasti pernah kehilangan, baik itu skala besar ataupun skala kecil, tetapi efeknya sangat berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Mengapa berbeda? ini kembali kepada bagaimana individu itu memutuskan untuk bersikap ketika kehilangan itu terjadi, bagaimana mengambil langkah dikala sebuah situasi yang dihindari banyak orang menghampiri. Apakah keputusan dan pengambilan langkah untuk bereaksi itu bisa dipelajari? Tentu saja bisa, karena kita sebagai manusia diberikan kemampuan untuk belajar dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menggali ilmu bagaimana caranya untuk menghadapi segala sesuatu dan tantangan yang ada di hadapan kita. Seperti yang saya sudah bahas sebelumnya bahwa menurut saya, kita sebagai manusia yang diberikan ijin untuk membayar karma di dunia adalah pelajar-pelajar di Universitas Kehidupan. Apakah tugas utama seorang pelajar? Menurut saya ya belajar, baik itu secara lahir dan bathin dan tidak terpaku pada satu hal saja, namun secara keseluruhan sebagai sebuah perjalanan yang akan ada akhir ketika raga sudah tidak bisa dilihat, namun perjalanan abadi setelahnya mengikuti.

Mungkin ada sebagian (atau bahkan semua) tidak setuju dengan perumpamaan yang saya tuliskan tentang kehidupan kita (sebagai pelajar di Universitas Kehidupan) di dunia ini dan saya kira itu hal yang wajar, karena setiap individu tentu saja memiliki hak untuk menggambarkan dan mencari sebuah perumpamaan sederhana yang nantinya bisa digunakan sebagai acuan untuk memudahkan kita untuk mengerti kejadian-kejadian yang kita alami selama diijinkan bernafas oleh Sang Maha Kuasa. Saya memilih menggambarkannya sebagai sebuah universitas, itu untuk memudahkan saja baik itu untuk diri saya sendiri (ketika saya kebingungan), keluarga dan kepada orang-orang yang ada di sekitar saya karena bagaimanapun setiap orang yang mampir, tinggal atau pergi di kehidupan saya, mengenal arti kata pelajar.

Kembali pada kata kehilangan, bagi saya ini adalah salah satu dari sekian banyak pelajaran yang bisa kita gali maknanya, mengerti dan menolong kita untuk menjadi pelajar (manusia) yang lebih baik lagi. Dengan belajar tentang kehilangan, tanpa kita sadari kita juga bisa (jika ada keinginan) mengambil mata pelajaran lain yaitu melepaskan. Belajar kehilangan dan belajar melepaskan adalah 2 mata kuliah yang saling berhubungan, namun apakah kita bisa mengambil satu persatu? Tentu saja bisa karena sekali lagi, kita dibebaskan untuk memilih mata pelajaran apa saja yang kita ijinkan diri kita sendiri untuk belajar. Terus bedanya dimana? Menurut saya, yang berbeda adalah proses belajar kedua hal tersebut, berapa lama kita bisa mengerti akan ilmu tersebut kembali lagi akan berlabuh pada kemampuan masing-masing individu. Kemauan dari diri sendiri untuk mengatakan bahwa ’saya bisa dan mampu’.

Kali ini saya ingin berbagi dengan menggunakan diri saya (lagi) sebagai contoh, mengapa? Karena saya mengetahui dengan pasti bagaimana proses yang sudah saya jalani. Saya pernah terpuruk dari beberapa kehilangan di kehidupan saya, terutama ketika saya kehilangan orang-orang yang saya hargai dan mempunyai nilai di kehidupan saya. Namun sedikit demi sedikit saya bisa mengatasi kesedihan akan kehilangan tersebut. Pertama kali, bisa dikatakan saya terpuruk bertahun-tahun, sampai ingin rasanya menanyakan pada Tuhan kenapa saya harus merasakan kehilangan yang dalam. Ketika di sebuah kehilangan, ego saya menyuruh saya menyalahkan Tuhan, di sanalah saya merasa tertampar dan mendapatkan kekuatan untuk memaafkan diri saya yang sempat lancang memiliki keinginan untuk mendengarkan ego dan memutuskan untuk belajar walaupun tertatih tentang sebuah kehilangan. Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa berada di jenjang ini, dimana saya bisa melepaskan tanpa keterpurukan. Pelajaran tentang karma pun sangat menolong saya untuk menjalani prosesnya dengan lebih lapang. Kalau dulu saya bisa menangis berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sekarang saya hanya bersedih beberapa menit saja dan ikhlas menerima bahwa ini bagian dari karma yang harus saya bayar. Semakin banyak karma yang saya bayar lunas, maka semakin saya terbebas dari hutang kehidupan.

Apakah dengan ini saya menjadi orang yang tega dan acuh? Saya kira tidak, saya hanya melepaskan hutang karma dan memberikan fokus saya kepada karma lain yang harus saya bayar. Keyakinan yang saya miliki, kehilangan akan datang saat karma kita sudah terbayar lunas, baik itu kita inginkan atau tidak. Kita tidak bisa mengikat orang lain untuk bersama kita seterusnya karena prinsip yang saya tuliskan sebelumnya. Saya dipertemukan oleh orang-orang di kehidupan saya ini karena ada karma yang harus saya bayar, namun begitu karma itu lunas maka orang-orang tersebut akan menghilang satu persatu baik dengan sebab atau tanpa sebab, baik itu saya inginkan atau tidak. Dulu saya masih akan mencoba untuk mempertahankan dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak kehilangan, namun sekarang saya sudah belajar melepaskan mereka dengan senyuman. Ini juga salah satu kelegaan yang pernah saya tuliskan di postingan saya sebelumnya, kelegaan yang saya rasakan karena saya telah berhasil melunasi salah satu karma saya. Namun saya tidak menutup kemungkinan orang-orang tersebut kembali lagi dalam kehidupan saya di masa depan, kenapa? Karena saya percaya, jika ada karma yang belum tuntas maka kami akan dipertemukan lagi dengan catatan Tuhan mengijinkannya itu terjadi.

Jujur saya masih harus banyak belajar tentang kehilangan, saya masih merasa bahwa ilmu saya masih dangkal dan masih banyak yang harus saya pelajari. Kemampuan saya untuk mengijinkan diri sendiri untuk bersedih dalam hitungan menit (dan bukan bulan atau tahun) dan kemudian tersenyum melepaskan merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang, proses yang melewati pahatan-pahatan serta sayatan yang terkadang membuat saya ingin menyerah, namun sekali lagi pelajaran-pelajaran saya (terutama tentang karma) sebelumnya menguatkan saya untuk menjalani dan menikmati setiap langkah hingga saya seperti sekarang ini. Saya yakin, mata kuliah kehilangan akan saya ambil lagi di masa depan, namun sebelum hal itu terjadi, saya akan membekali diri dengan beberapa mata kuliah lain yang nantinya menopang saya untuk menjalani proses kehilangan tersebut dengan lebih lapang hingga kelegaan bisa saya dapatkan (mungkin) tanpa kesedihan suatu saat nanti. Ini tugas saya selanjutnya sebagai pelajar di Universitas Kehidupan kali ini.

”Jalani karmamu, engkau sedang dipahat untuk menjadi sebuah patung yang unik. Kehilangan adalah sebuah pembelajaran yang nantinya akan menuntunmu untuk mengerti bahwa kamu akan sendiri pada akhirnya ketika Tuhan mengijinkanmu menghadapNYA untuk mempertanggungjawabkan kesempatan yang DIA berikan padamu di kehidupan kali ini”.

 

Haninge, 14082020

About dema1497

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2020, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2020, photography and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.