Wanaprastha Asrama Bagian 2

Nedersta, 25 November 2021

Wanaprastha memang biasanya dilakukan saat kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, entah itu karena anak sudah mapan dan mandiri, atau alasan lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan seseorang mulai menapaki jenjang ini saat masih memiliki tanggung jawab yang sama atau bahkan bertambah. Maka tulisan selanjutnya, saya akan mencoba menjelaskan sesuai dengan pemahaman dan pengalaman saya menjalaninya selama 2 tahun ini.

Kita bisa saja mulai menapaki jenjang Wanaprastha dengan cara mengurangi atau menyederhanakan keinginan. Contohnya, kalau dulu kita membeli baju baru walaupun yang lama masih bagus dan bisa dipakai (ini biasanya karena ego, ingin mendapat pengakuan dari orang lain, mengikuti mode, status, dll), nah kalau sekarang kita menyederhanakannya dengan mencoba memakai baju yang masih ada tanpa takut akan prasangka atau pendapat dari orang lain. Menurut saya selama baju bisa memberikan fungsinya dengan baik dan dalam keadaan bersih, maka merk atau label tidak menjadi masalah. Tidak perlu membeli berlebihan hanya untuk dipandang atau menyenangkan orang lain.

Hal lain yang bisa dijadikan contoh adalah, makanan, dulu bisa membeli segala macam makanan dan kalau tidak kesampaian bisa sakit hati dan sedih, nah kalau di jenjang ini, maka menikmati makanan yang ada tanpa merasa sedih, jengkel atau marah jika keinginan untuk membeli makanan lain tidak kesampaian. Dulu, setiap ingin makan bakso seperti yang ada di Bali dan tidak kesampaian, ada rasa sedih dan kangen yang panjang. Namun sekarang, perasaan itu sudah tidak ada lagi. Kalau tidak kesampaian makan bakso seperti yang ada di Bali, ya membuat sendiri, kalau tidak sempat dan tidak ada persediaan di lemari pembeku, ya makan yang ada di lemari pendingin, santai…tanpa harus sedih dan kecewa.


Kedua contoh di atas hanyalah sebagian kecil banyak hal dalam keseharian kita yang bisa kita sederhanakan atau intinya mengurangi keinginan dan menyederhanakan kehidupan. Baju, makanan dan hal-hal yang diperlukan tubuh itu tidak harus mewah, cukup bersih dan sesuai fungsinya. Dengan mengerti inti dari jenjang ini maka jika ada keinginan yang tidak sampai (entah itu membeli baju, makanan, rumah, mobil, dll) maka rasa sakit hati, sedih dan kecewa akan berkurang, bahkan bisa tidak ada sama sekali.

Penerimaan yang tulus dan rasa syukur akan apa yang kita punyai akan tercapai di jenjang ini. Cobalah menghargai hal-hal sederhana yang kita sudah punya saat ini dan memberdayakannya sesuai fungsinya. Hidup yang tidak berlebihan dan tidak memberikan ego tempat untuk berkembang dalam diri sendiri. Bahagia dengan apa yang kita miliki. Seperti yang dijelaskan sama Mbak Nana dalam 4 video akhir tahunnya, bahwa jangan memberi makan ego, namun berikan makanan kepada jiwa lah yang terpenting. Jiwa tidak butuh kebutuhan-kebutuhan yang berlebihan, jiwa butuh secukupnya, kebutuhan-kebutuhan yang sesuai dengan fungsinya dan bukan dengan label, merk atau omongan orang lain. Kebahagiaan jiwa tidak terpengaruh oleh hal-hal yang terlihat dengan adanya materi namun pada sebuah kesederhanaan dan pelepasan diri dari hal-hal yang mengikat.

Jika sudah bisa mengurangi dan menguasai keinginan dan menyederhanakan pada kebutuhan paling dasar (kebutuhan fisiologi, seperti makanan, dll) maka kemampuan tersebut bisa ditingkatkan ke kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang lainnya, seperti yang ada pada segitiga Maslow. Prosesnya tentu saja berbeda setiap orangnya namun akan butuh waktu dan tidak bisa instant. Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Tentu saja tegantung dari niat, keyakinan dan kemampuan kita memahami hidup itu sendiri karena sebagai manusia kita memiliki banyak kebutuhan dasar baik yang pokok ataupun yang abstrak (5 kebutuhan dasar manusia menurut Maslow) dan untuk bisa mengurangi dan membuatnya lebih sederhana maka akan membutuhkan waktu dan proses. Kita mungkin tidak bisa meniadakan sama sekali kebutuhan tersebut secara penuh, namun dengan cara mengurangi, menyederhanakan maka kita sudah dalam proses melepaskan diri dari ikatan-ikatan keduniawian sehingga bisa menerima sebuah kesedihan dan kekecewaan sebagai pembelajaran dan bukan lagi sebagai sebuah petaka yang harus dihindari.

Contoh lain yang bisa saya tuliskan dan sudah saya bagikan adalah keinginan untuk berpetualang ke negara lain atau bahasa gaulnya ngebolang. Di tahapan Wanaprastha, inti dari bepergian ke negara atau tempat lain itu sudah bergeser. Kalau dulu ingin mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan gambar diri di setiap gambar, ingin posting setiap hari, ingin mendapat reaksi dan komentar dari orang-orang, dll. Tapi kalau sekarang inti dari ngebolang itu karena saya ingin menikmati, mengerti, belajar dan mengetahui apa yang ada di tempat tersebut baik itu itu yang bersejarah maupun yang tidak, yang terutama adalah pelajaran apa yang bisa saya petik dari perjalanan ngebolang itu dan tentu saja menikmati makanan khas daerah tersebut.

Dalam hal mengambil foto dulunya untuk aktualisasi dan diakui sama orang, kalau sekarang ambil fotonya tanpa ada diri sendiri di dalamnya, sebagai kenangan jika ingin menuliskan perjalanan itu kembali akan tempat tersebut dan berbagi pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau postingan tersebut dibaca atau tidak, itu sudah bukan jadi acuan saya lagi. Saya mencoba terlepas dari ikatan untuk mendapatkan aktualisasi dari orang lain. Saya menulis dan membagikan pengalaman karena saya ingin, bukan untuk mendapat pujian. Jika postingan saya bermanfaat bagi orang lain, saya bersyukur karenanya. Jika tidak ada satu pun yang membaca, maka tulisan-tulisan itu bisa dijadikan acuan oleh anak dan cucu saya kelak untuk mengenal saya lebih dalam terutama saat saya tidak lagi ada secara fisik.

Jadi kembali lagi bukan berarti kita tidak boleh atau meniadakan jiwa ngebolang namun mencoba menguranginya dan melatih diri untuk tidak kecewa dan sedih jika belum/tidak bisa pergi ke satu tempat yang diinginkan. Kalau belum bisa bepergian jauh, solusinya ya pergi ke daerah sekitar rumah saja. Jadi penerimaan akan menjadi lebih gampang jika kita sudah belajar mengurangi dan menyederhanakan kehidupan tersebut. Semakin sering kita melatih diri untuk melepaskan, maka diharapkan kita akan bisa mencapai tahapan selanjutnya yaitu Bhiksuka Asrama.

Bagian terakhir dari postingan ini akan diunduh setelah postingan ini 🙂

Åre, 27 Desember 2021

About demaodyssey

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2021, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.