Wanaprastha Asrama Bagian 3

Nedersta, 25 November 2021

Tantangan terberat di jenjang ini (menurut saya dan Maming, kakak tersayang) adalah bagaimana mengurangi dan menyederhanakan keinginan atau kebutuhan yang sifatnya abstrak (harga diri dan aktualisasi diri) dimana kedua kebutuhan ini ada di tingkatan paling atas dalam segitiga Maslow.

Kenapa sulit? Karena secara sederhananya begini, berperang dengan musuh yang terlihat lebih gampang daripada menghadapi musuh yang tidak terlihat. Saya pakai contoh makanan lagi, suatu hari saya merasa lapar dan ingin makan babi guling, di Swedia sangat susah atau bahkan tidak ada sama sekali yang menjual. Bikin sendiri juga belum tentu berhasil, nah karena lapar menyerang ya sudah saya berperang dengan keinginan untuk makan babi guling dengan cara makan nasi berisi daging ‘bacon’. Setelah kenyang, keinginan makan babi guling pun hilang. Jadi di sini kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk menang karena kan berperangnya dengan rasa lapar, babi guling, nasi dan bacon. Menurut pengalaman saya, untuk memenangkan perang ini tidak perlu latihan terlalu banyak. Kita yang memegang kontrol penuh akan aksi dan reaksi.

Sekarang coba bayangkan dengan berperang dengan yang kebutuhan akan aktualisasi diri, pengakuan dari orang lain. Yang satu ini jenisnya abstrak dan susah dikontrol karena bagaimana kita memaksa orang untuk memberikan pendapat tentang kita. Iya kalau pendapatnya positif, tapi kalau pendapatnya negatif? Lebih parah lagi nanti perangnya, yang ada malah perangnya jadi lebih lama. Di sini kesempatan kita memenangkan perang berkurang karena bukan kita yang memegang penuh kontrol akan reaksi orang lain. Untuk memenangkan perang ini, maka lebih baik jika kita menyiapkan diri lebih mantap lagi, latihan lebih sering lagi, menyiapkan segala senjata yang berupa sabar, kesadaran diri, pengertian akan arti dan tujuan hidup, dll.

Perang dengan rasa ingin diakui, ingin dihargai dan hal abstrak lainnya menjadi sebuah proses yang lebih panjang, lebih rumit dari perang dengan bahan makanan, baju dan hal-hal sekunder lainnya. Dalam Catur Asrama, kita diberikan kesempatan untuk belajar sebaik-baiknya dalam setiap jenjang di dalamnya. Sudah diberikan petunjuk akan hal yang harus menjadi fokus kita dan ketika dilihat (menurut saya) ada hubungan dan kesamaan antara Catur Asrama, Segitiga Maslow dan ajaran kemelekatan oleh Buddha Gautama.

Sekarang semuanya dikembalikan kepada kita sebagai manusia yang akan memilih jalan mana yang akan diambil dalam kehidupan kali ini. Sebagai pelajar di UK (Universitas Kehidupan, istilah yang saya dan Maming pakai untuk menjelaskan dan berbagi kejadian dalam hidup di lingkup keluarga), maka kita lah yang bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil. Di sini kita akan dipertemukan dengan yang namanya hukum karma, hukum tabur tuai, hukum aksi dan reaksi, yang (sayangnya) banyak berusaha untuk menghindari namun pada akhirnya akan menyadari bahwa ini adalah bagian dari hukum alam, yang tidak melihat agama atau kepercayaan apa yang kita anut.

Hukum alam ini berlaku di seluruh dunia, tidak peduli warna kulit, warna mata, pendidikan, materi, dll. Begitu kita melakukan aksi maka akan ada reaksi yang akan mengikuti. Tidak perlu penelitian untuk membuktikannya. Kamu berusaha dan tidak diam, maka alam akan membantumu. Kalau usaha maka akan ada hasil yang tidak pernah jauh dari seberapa usaha yang kita lakukan. Sudah berusaha namun belum terlihat hasilnya? Artinya jangan diam, terus berusaha, ganti haluan, gali potensi diri karena kita tidak pernah tahu kapan atau sedekat mana kita dengan tujuan kita. Kalau kita menyerah, apakah tidak sakit hati kalau tahu setelahnya bahwa kesempatan yang kita idamkan sudah sangat dekat dengan kita. Namun karena kita memilih menyerah, maka kesempatan itu hilang pada akhirnya.

Kemarin sempat berbicara sama Maming seperti biasa dan membahas (lagi) tentang Wanaprastha Asrama ini dan menyamakan pemahaman yang kami punya. Pada akhirnya kami ingin seperti Tetsuya, seorang pemanah di Buku Paulo Coelho terbaru yang bernama ’The Archer’. Tetsuya yang menurut kami sudah mencapai berhasil keluar sebagai pemenang di jenjang ini, berhasil membebaskan diri dari kemelekatan, bebas memilih yang dia inginkan dan menjalankan hidup dengan damai. Tetsuya, seorang pemanah yang sudah selesai dengan dirinya.

Siapa lagi yang menurut kami sudah selesai dengan diri mereka sendiri? Kami berdua sepakat bahwa Bapak Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana adalah Tetsuya dalam wujud nyata dan menjadi orang yang kami jadikan contoh bagaimana usaha, niat, konsisten dan keyakinan akan bisa menghantarkan kita berproses di setiap jenjangnya hingga mencapai sebuah titik dimana kita sudah selesai dengan diri kita sendiri. Bahkan alam pun sepertinya selalu siap sedia memenuhi kebutuhan batin kedua orang idola kami tersebut, dua orang yang lakunya patut kami teladani dan mengingatkan kami akan Tetsuya.

Ini bagian terakhir dari sebuah renungan akhir tahun yang terinspirasi oleh postingan Mbak Nana Padmo tentang kemelekatan. Panjang ya? Ya iyalah…kan pengalaman selama 2 tahun lebih mencoba menapaki jenjang ke-3 dalam Catur Asrama. Huaaaaa, bagaimana kalau lebih dari 10 tahun? Apakah penjelasannya lebih panjang lagi? Bisa iya bisa saja tidak. Saya akhiri tulisan kali ini seperti ajakan Mbak Nana,

‘Yuk ke sana yuuk, bareng-bareng. Enak kok nanti…!’

Åre, 27 Desember 2021

About demaodyssey

A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden. I love to write almost about everything and it helps me to understand more about myself and life.I love traveling, where I can learn a lot about other cultures, I love reading where I can improve my languages skill and learn about others through their works, and photography is one of my passions where I learn to understand nature deeper. I am a dream catcher... and will always be! Thank you for stopping by and hope you enjoy to read my posts. Take care
This entry was posted in 2021, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.