Hari Pertama di Tahun 2018

Tidak banyak yang dikerjakan pada hari pertama di tahun baru ini. Selain membersihkan rumah, kami bersantai dan mencoba untuk menyiapkan segala sesuatu untuk memulai kegiatan seperti biasanya besok, dimana saya akan kembali bekerja penuh waktu sebagai guru TK, P akan bekerja kembali ke kantornya dan gadis kecil kami akan kembali menikmati hari-hari bersama teman-teman dan guru-gurunya di TK (preschool kalau mau lebih spesifik).

Tidak banyak yang berubah di keseharian kami di awal tahun 2018, masih menjalankan rutinitas yang sama, atau mungkin masih terlalu awal untuk membuat sebuah perubahan atau langkah baru. Beberapa rencana dan keinginan sudah kami tulis, setidaknya untuk melihat secara garis besar, tahun 2018 apa saja mimpi yang ingin kami raih dalam genggaman. Seperti tahun lalu, kami tidak membuat resolusi yang harus kami laksanakan, kami ikuti saja kemana air mengalir dan tetap berusaha meneruskan daftar mimpi dan pengharapan yang kami ingin wujudkan dalam bentuk nyata.

Tahun 2017 bisa dikatakan banyak pembelajaran yang saya sebagai individu dapatkan, baik itu yang menyenangkan atau pun yang kurang menyenangkan. Saya mendapat tantangan yang cukup sehingga saya semakin belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Terkadang masih lupa tapi ada banyak hal yang mengingatkan saya, jadi emosi yang biasanya dalam hitungan jam saya bisa kurangi dalam hitungan menit. Masih harus belajar banyak di tahun ini dan berharap nantinya saya bisa menguranginya dalam bentuk detik dan terakhir mungkin dalam bentuk senyum, karena saya ingin memberi contoh yang baik kepada A, putri tersayang kami.

Saya mendapat rejeki dan kesempatan untuk bekerja penuh waktu lagi yang dimulai bulan September tahun lalu. Setelah lama vakum dari pekerjaan penuh waktu, saya mendapat tantangan baru, baik itu dalam hal administrasi dan juga berinteraksi dengan berbagai macam persoalan dan karakter. Menjadi guru adalah pekerjaan yang saya nikmati sekali prosesnya, dari berinteraksi dengan anak didik, dengan orang tua mereka, dengan sesama rekan sejawat dan juga dengan atasan. Banyak ilmu yang saya dapatkan sekaligus melatih kesabaran dan selalu berusaha menemukan metode-metode atau cara bagaimana saya bisa menjadi pelengkap orang tua dan membantu anak didik saya tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya. Bisa saya katakan, saya mempunyai anak lebih dari satu sekarang karena 5 hari seminggu saya menghabiskan waktu 40 jam bersama 17 anak didik di TK. Sekali lagi, saya menikmati waktu saya bersama mereka dan kami bersama-sama mengenyam prosesnya dan belajar dari kebersamaan kami.

Ada beberapa teman yang menanyakan keberadaan saya baik itu di Facebook, Instagram atau di blog ini karena memang saya agak jarang menulis dan mengunduh foto lagi. Kalau Facebook, memang sudah lama saya jarang membuka atau sekedar menyapa teman-teman karena alasannya adalah waktu yang saya punya, saya pakai lebih banyak untuk bermain dengan A. Jadi sejak putri saya semakin besar, saya lebih banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama di keseharian kami, namun saya masih aktif di Instagram dan blog karena saat itu status saya masih pelajar dan belum bekerja. Sesekali saya masih menulis dan menyapa teman-teman ketika A berada di TK dan saya mempunyai waktu luang dan tugas sekolah sudah saya kerjakan semua. Namun sejak saya bekerja penuh waktu, bisa dibilang kegiatan saya di sosial media berkurang drastis karena waktu saya untuk A ditujukan ke pekerjaan, jadi saya pergunakan waktu untuk bersosial media untuk bermain bersama A. Itu alasan mengapa saya jarang berinteraksi dengan dunia maya. Bagi saya, yang utama adalah pemenuhan waktu untuk bersama keluarga yang paling utama, setelah itu pekerjaan saya, dan untuk hal-hal lain bisa menunggu saat saya benar-benar mempunyai waktu luang terutama untuk dihabiskan di Facebook dan Instagram.

Sebenarnya A sudah terbiasa bermain sendiri dan menggunakan imajinasinya untuk mengarang cerita dengan Lego atau beberapa mainannya. Kalau melihat kemampuan gadis kecil ini, yang sudah bisa bermain berjam-jam tanpa harus ditemani, bisa dilihat saya mempunyai waktu untuk bersosial media, tapi kenapa saya tidak melakukannya? Karena saya lebih memilih membaca buku di sebelah tempat A bermain atau melakukan kegiatan yang saya tekuni saat ini yaitu origami, paper wicker art atau mencari ide-ide baru untuk kegiatan yang nantinya akan saya lakukan dengan A atau dengan anak didik saya. Bagi saya, dengan duduk bersama A, saya bisa memantau sejauh mana putri kami mampu berimajinasi dan melihat perkembangannya secara lebih dekat dan detail. Terkadang saya memberikan beberapa pertanyaan dalam bahasa Indonesia, menolongnya jika ada sesuatu hal yang tidak bisa A lakukan atau sekedar melatih kesabarannya dan menuntun dia terutama saat dia kesal tidak bisa melakukan sesuatu (sudah mencoba beberapa kali namun belum berhasil). Seperti saat ini, saya menulis ini sambil duduk di satu meja dengan A yang sibuk bermain dengan Lego Friends hadiah Natal dari kami dan sepupunya. Terkadang A meminta saya berbicara di salah satu karakter di ceritanya, saya dengan senang hati melakukannya, seperti beberapa saat yang lalu, A meminta saya berperan sebagai Mama dari Marshall (salah satu karakter Paw Patrol) yang akan pergi menolong Marshall yang tersesat. Saya berhenti sejenak menulis dan bermain untuk beberapa menit memenuhi permintaan putri kami sebagai pelengkap cerita fantasinya.

Namun ada keinginan merekam kembali jejak dan aktif menulis lagi setidaknya di blog ini. Saya akan berusaha setidaknya meluangkan waktu untuk menuliskan beberapa patah kata, setidaknya ada sesuatu yang saya bisa wariskan kepada A dan sebagai pemicu semangat putri saya untuk berbicara bahasa Indonesia. Terus terang ada rasa kangen menuangkan buah pikiran dan bermain dengan kata-kata sekaligus mendengarkan bunyi huruf-huruf yang tertekan oleh jari saya untuk menghasilkan kalimat demi kalimat, seperti saat ini. Ada kebahagiaan menyusup di dalam sana saat mata saya membaca lagi baris demi baris yang tersusun di depan saya. Mungkin memang saya harus lebih pintar membagi waktu antara origami, pencarian ide, membaca buku dan menulis saat saya menemani A bermain setiap harinya. Saya tidak berjanji namun seperti yang saya sudah katakan di atas, saya akan berusaha.

A masih asyik bermain di samping saya dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore. Saya pamit dulu, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan sebelum rutinitas bersama A yang artinya membaca beberapa buku sebelum tidur. Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya.

Haninge, demaodyssey 01012018

Advertisements
Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, JejakdiJanuari, Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Spending Time with Papa

”A note that I wrote long time a go when A was 1 year old but I completely forgot about it. When I read it, I feel that I have to posted here because this is a part of memories that I would like my daughter to read when she is able to. The other reason is, the love between them even stronger now and I have not been able to record it in one or two blog post. So here you are, a memory when we have our quality time with our precious one, A!”

Everyday we try to have walk together since we know that our little miss loves being outside. This year we have quite okay summer with some rainy days here and there. We try to stay inside if we have heavy rain outside and usually we will have walk after that.

Since P takes his parental leave from job, he could join us to have our everyday exercise. For A, it is always fun when papa walks beside her and watches her along the way. Me? Usually I bring my phone to capture the moment but sometimes I bring my camera and being the photographer of the day for them 😀 There is always joy when I push the shutter and preserve what is happening in front of me, the activities of my loved ones.

When the rain comes, A would choose to walk a bit slower and find the water pool along the road that we pass through. She was so excited to jump on it and getting water in her trouser and her small feet. Actually we had wellington boots but at that time it is still quite big and heavy for her. We didn’t have long walk anyway so wed cleaned her as soon as we arrived home. Lately, A loves to hold papa’s hand everytime we have our every day walk. A moment that I try to capture that I could show to A later on when she is understand about life more.

Spending time with papa is something fun for A. Beside having a walk, they will watch cartoon or listening to the music and dance together. For baby A, papa is always someone to have so much fun with. The same thing when farmor and farfar are around. While with mama, A needs to follow some rules and of course we also have so much fun but with some restriction LOL!! Hahaha. But I have tried to play with her as much as I can, reading books, singing together, doing some silly movement or maybe just cudlling together in the sofa. I know that our Sunshine will have lots of fans too in Bali later on when she has chance to get to know the whole family from mama’s side. I can’t wait for that to happen 😀

Papa and A are best friends I could say, they loves to tease mama a lot and sometimes they laugh together when they are succeed to make mama get annoyed of their silly act. I can’t get mad if I see those cheeky faces. I love them both soooo much and yeah, I can not imagine to live without them. They are the reason why I feel happiness in every single second of my life.

Stockholm, demaodyssey 11092015 (post 15062017)

Posted in #NulisRandom2017, Being 40, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Hari Rabu dan Inspirasi

Pagi ini diawali dengan putri saya yang mengatakan tidak mau sekolah, ketika ditanya dia hanya bilang kalau baby Nalle, bonek beruang kecilnya tidak mau sekolah. Saya tersenyum dan mencoba menceritakan bahwa saya dulu juga sempat seperti dia, malas sekolah namun saya jalan saja ke sekolah dan saya bilang sama A, kita lihat kalau setelah bertemu dengan teman-teman dan gurunya apakah masih tidak mau sekolah. Saya bilang, kalau memang begitu, saya akan biarkan A menghabiskan hari dengan Mamanya. Seperti biasa putri saya mengikuti anjuran yang saya berikan dan kami berhasil bersiap-siap dan mulai berjalan ke sekolah A yang jaraknya 600 meter saja dari rumah.

Sepanjang perjalanan, mulut saya masih menceritakan pengalaman sekolah saya waktu kecil di Bali. Saya berbagi bahwa berjalan kaki ke sekolah bukanlah hal yang baru bagi saya, walaupun dari rumah ke sekolah berjarak 1,7 km dan biasanya saya berjalan ditemani kakak ketika masih kecil namun saat sudah mulai kelas 5 SD, saya bisa pulang sendiri tanpa ditemani. Ketika saya lirik putri kami yang berjalan pelan, mukanya terlihat berpikir dan ketika dia menangkap basah tatapan saya, senyuman dan elusan sayang saya berikan kepadanya. A tidak banyak bicara sampai kita memasuki gerbang sekolah, tampak Olivia teman baiknya menghampiri dan A langsung tersenyum meminta ijin saya untuk bermain dengan Olivia. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan guru A, saya menanyakan apakah A masih ingin sekolah dan saya sudah tahu jawabannya, putri tersayang ini memilih untuk tinggal dan bermain dengan temannya. Saya berjanji bahwa Papa akan menjemputnya nanti sore. Setelah memberi kecupan dan salam semoga dia mempunyai hari yang indah, saya beranjak menuju rumah untuk mengambil perlengkapan sebelum menuju stasiun kereta yang berjarak 400 meter saja.

Siang saya bertemu dengan teman untuk membeli tahu sekalian makan siang bersama. Kami sempat mengobrol banyak karena memang sudah lama sekali tidak bertemu walaupun dulunya kami satu sekolah dalam menempuh pendidikan asisten guru TK. Jurusan yang sama namun berbeda tahun ajaran saja, saya lulus terlebih dahulu dan senang rasanya mendengar bahwa guru-guru yang dulu mengajar saya masih ada di KUI, sekolah dimana kami mendapatkan pendidikan tentang anak. Tidak terasa kami mengobrol hampir 2 jam lamanya dan percakapan masih dilanjutkan sampai di Hongkong Trading, toko Asia dimana kami bisa membeli bahan-bahan untuk membuat masakan Indonesia. Di toko itu juga kami berpisah dan berharap akan bertemu lagi setelah dia kembali dari liburan ke Indonesia. Saya tinggal sebentar di toko tersebut untuk membeli bahan untuk membuat soto ayam buat seorang teman yang akan berkunjung dan menginap di rumah besok.

Bahan belanjaan sudah ada di tas IKEA kecil milik saya, entah kenapa tiba-tiba saya mendapat inspirasi untuk mampir ke Slöjd Detaljer, toko dimana biasanya prang-orang membeli bahan-bahan untuk pekerjaan tangan dan kebetulan toko ini lebih murah dari toko lain yang bernama Panduro. Ketika memasuki areal toko, kaki beranjak membawa saya ke sebuah pojok dimana kertas lipat berada dan sayapun tersenyum lebar karena di hadapan saya, nampak satu bundel kertas origami yang tebal dan warnanya sangat menggugah selera saya untuk membeli. Segera saja saya menghitung dengan kalkulator apakah perkiraan tentang murah dan tidaknya kertas tersebut benar adanya dan setelah melihat angka di kalkulator, tangan saya langsung memasukkan 2 bundel kertas di keranjang belanja. Otak saya mulai berputar dengan berbagai macam kerajinan tangan yang bisa saya buat untuk berbagai kegiatan. Toko ini sangat sarat inspirasi menurut saya dan biasanya saya betah untuk berjalan-jalan dan memperhatikan setiap barang yang ada sambil ide-ide bermunculan di kepala. Ingin rasanya mengerjakan semua ide tersebut namun saya tahu yang paling utama saat ini adalah beberapa proyek yang harus saya selesaikan sebelum saya bekerja nantinya. Kertas origami ini akan sangat membantu saya untuk bisa menarik minat anak didik untuk duduk bersama saya dan membuat berbagai macam bentuk yang bisa mereka pakai untuk melatih motorik halus.

Sampai rumah, tangan sudah gatal ingin memulai tapi saya harus bersih-bersih dan merapikan rumah terlebih dahulu. Cucian bersih menumpuk di ruang cuci dan saya butuh keranjang kosong untuk menaruh cucian kotor. Melihat saya merapikan rumah, A bermain bersama Papanya namun ketika waktunya tidur, A yang biasanya dikeloni Papanya, meminta saya menemani dia tidur malam ini. Sepertinya anak ini kangen tidur dan bercerita dengan Mamanya, benar saja ketika kami merebahkan badan berdua di kasur kecilnya, A meminta saya untuk berdoa secara Hindu dan Kristen. Gayatri Mantram bait pertama saya lantunkan diiringi dengan A yang berusaha mengucapkan setiap kata Sansekerta tersebut dengan sempurna. Setelah itu kami saling menceritakan dan bertanya apa yang kami lakukan hari ini, A bertanya apakah lain kali Albyn dan Olivia boleh mampir dan bermain air di kolam kecil yang nangkring di taman belakang. Saya menjelaskan bahwa kami harus menanyakan dulu kepada orang tua Albyn dan Olivia kapan mereka bisa bermain bersama di rumah kami. A setuju dan menguap sebelum memindahkan tangan saya untuk memeluk tubuhnya yang malam ini tanpa baju. Saya elus halus punggungnya sambil mulut saya mencium dahinya beberapa kali sampai putri kami ini tertidur lelap.

Turun ke lantai bawah saya melanjutkan membersihkan dapur karena besok ada 2 kegiatan yang harus saya kerjakan seharian, dokter gigi di kota dan setelah itu mengantar A untuk ke Puskesmas untuk kontrol 3 tahun dan setelahnya kami akan ke kota untuk menjemput teman yang akan datang dengan bayinya. Setelah bersih, jam sudah menunjukkan 15 menit sebelum pukul 11 malam. Saya sempatkan menulis beberapa patah kata untuk mengingatkan diri ini bahwa hari ini tanpa saya rencanakan, saya mendapat banyak inspirasi dan semoga nanti di akhir pekan saya bisa bekerja sedikit dengan kertas origami yang saya punya. Saya pamit dulu karena harus bangun lebih pagi besok, selamat malam dan sampai ketemu besok ya teman-teman.

Stockholm, demaodyssey 14062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , , | 1 Comment

Kreatifitas, Nilai Lebih Kehidupan

”Papaaaaa, look. Mama makes a dollhouse for me!”

”Oh wow… Mama is very good. Do you like your dollhouse?”

”Yes, I love my dollhouse!”

”Aaaaah, thank you Agnes, thank you Papa”

Percakapan ini terjadi ketika kami menyambut Papa pulang dari kantor. Hati saya penuh dengan kebahagiaan melihat kedua orang yang saya sayangi suka dengan apa yang saya buat. Terlebih A mengerti bahwa rumah boneka itu adalah buatan Mamanya. Dari sejak pulang sekolah dia sudah bermain dengan asik dan cerita tentang keluarga Peppa Pig mengalir lancar di mulutnya. Seperti yang sudah saya pernah tulis sebelumnya bahwa putri kami sangat suka dengan karakter Peppa Pig dan Om Alit, menolong kami untuk membelikan karakter Peppa Pig lengkap dengan teman-teman sekolahnya. Ketika saya memberikan karakter tersebut kepada A, matanya berbinar dan bibir mungilnya tidak henti-hentinya berbicara dan menyebut nama di setiap boneka-boneka kecil tersebut. Ditambah sekarang keluarga Peppa Pig sudah memiliki rumah yang digunakan untuk bermain bersama, minum teh dan juga piknik. Melihatnya tenggelam dalam dunianya dan mengarang cerita baru dengan rumah boneka hasil buatan saya, membuat saya tersenyum oleh luapan kegembiraan dan kepuasan.

Ada banyak alasan mengapa saya membuatkan rumah boneka itu untuk A dan tidak membelinya, salah satunya karena rumah boneka yang saya lihat sangat mahal walaupun itu hanya bekas. Alasan lainnya adalah desain rumah boneka yang dijual tidak ada yang sesuai dengan apa yang saya mau. Namun alasan utamanya adalah, mengajarkan A untuk menjadi kreatif dan bukan konsumtif. Kami bisa saja membelikannya dan saya tidak usah susah-susah menggunakan waktu saya untuk berkutat dengan barang-barang bekas yang kami punya di rumah, tapi apakah kami bisa mengajarkan nilai lebih di kehidupan pada A yaitu kreatifitas? Menurut saya tidak bisa, alih-alih mengajarkan kreatifitas, saya takut kalau saya malah mengajarkan A untuk konsumtif.

Saya mengerti dan sadar bahwa kreatifitas akan bisa membantu kita dalam segala hal dan situasi yang ada di kehidupan kita. Kreatifitas juga mengajarkan kita bahwa dengan sedikit uang atau tanpa uang sama sekali kita bisa bahagia dan menikmati hidup. Nilai lain yang diajarkan oleh kretifitas adalah apa yang kita ciptakan dari tangan kita sendiri akan lebih lama tersimpan daripada kita membelinya. Jika jika kreatif, kita akan terus menantang otak kita untuk belajar dan memperbaiki hasil yang sudah kita wujudkan, terus menggali ide-ide baru yang nantinya bisa kita gunakan untuk membahagiakan diri kita dan bahkan orang lain. Orang yang kreatif tidak akan kehabisan akal untuk membunuh waktu jika berhadapan dengan yang namanya kebosanan. Kreatifitas adalah salah satu unsur utama yang harus kita miliki untuk menjadi seorang survivor. Hal yang paling penting adalah tidak ada seorangpun yang bisa mengambil kreatifitas yang kita miliki dalam diri kita.

Harta bisa saja hilang, kecantikan bisa saja pudar namun kreatifitas akan terus terasah dan semakin tajam jika kita menggunakannya. Ini juga yang membuat saya dan suami ingin A belajar dan mengerti bahwa menjadi seseorang yang kreatif lebih baik daripada menjadi orang yang konsumtif. Dalam jangka panjang kreatifitas lebih diutamakan daripada sifat konsumtif. Contohnya, jika kita melamar pekerjaan, perusahaan akan lebih memilih karyawan yang kreatif daripada yang konsumtif. Itu hal penting karena menurut kami, orang yang kreatif akan puas dan bahagia dengan apa yang dia miliki, namun orang konsumtif tidak akan pernah puas walaupun barang-barang sudah bertumpuk di rumahnya. Biasanya, orang yang kreatif tidak akan mempersoalkan penampilan, selama apa yang dipakai adalah bersih dan layak pakai. Sedangkan, kami banyak menemui orang-orang yang konsumtif tidak akan pernah puas dengan penampilan atau barang yang dimilikinya. Sekali lagi kami tidak ingin A menjadi seperti itu, kami ingin A tahu dan mengerti bahwa penampilan bukanlah hal yang paling utama dalam hidup. Mengapa?

Jawabannya adalah perlu waktu yang lebih lama untuk belajar menjadi orang yang kreatif dibanding menjadi orang yang konsumtif atau orang yang modis. Saya membuktikan sendiri bahwa perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menjadi pintar dan cermat dalam membuat origami, namun untuk menjadi konsumtif tidak diperlukan waktu lama, selama itu ada kemampuan untuk membeli. Malah terkadang ada beberapa kasus yang pernah saya temui, orang yang konsumtif akan sulit menghentikan kebiasaannya walaupun sudah tidak memiliki dana untuk menjadi konsumtif, hasilnya? Akan terbelit hutang dan penyesalan. Saya mengerti bahwa banyak hal yang tidak bisa diolah dari barang bekas, tapi kami mencoba mengajarkan pada A kalau berbelanja menggunakan skala prioritas, mana hal yang terpenting dan mana yang bisa menunggu atau bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita. Seperti yang saya pernah bilang di tulisan terdahulu, kalau masalah buku, saya tidak segan membeli yang baru kalau memang tidak saya dapatkan di toko barang bekas, karena bagi saya buku adalah ilmu yang bisa meluaskan wawasan dan bisa dipakai oleh A sampai beberapa tahun. Sebentar lagi saya akan bekerja dengan anak-anak, buku-buku yang dimiliki A bisa saya gunakan untuk menunjang pekerjaan saya. Lagipula memiliki buku (harapan kami) bisa menumbuhkan niat membaca A, karena jika saya memiliki waktu luang dan A lebih memilih bermain sendiri, saya akan berada di sebelah A sambil membaca kembali buku-buku koleksi saya. Sepertinya A tanpa sadar melihat kebiasaan saya ini dan dia tahu mana buku yang sering saya baca dan mana buku sering dibaca kakek neneknya. Bahkan A sudah mengklaim salah satu buku bahasa Swedia saya padahal dia belum bisa membaca novel tersebut. Kalau saya ingin membaca buku novel tersebut, maka saya harus meminta ijin sama A apakah saya boleh meminjam atau tidak. Semoga saja, niat membaca A terus berkembang ke depannya.

Mendengar A memberi tahu Papanya tentang rumah boneka tersebut membuat saya bangga. Setidaknya dia mengerti kalau mainan tersebut hasil karya Mamanya, karena saya memang terus menceritakan selama proses pembuatannya, bahwa rumah boneka itu berasal dari kardus bekas jagung bakar yang saya dapatkan dari toko bahan makanan ICA secara cuma-cuma, bantal dan bahan selimut saya bilang ke A kalau itu berasal dari baju Papanya yang sudah tidak terpakai lagi (tentu saja sambil menunjukkan wujud kemeja yang sudah saya potong sana sini) dan tempat tidur dari es krim yang saya kumpulkan selama 3-4 bulan. Sempat A berniat untuk membantu saya menempel kertas kado bekas Natal tahun lalu, namun saya sarankan untuk belajar menempel di sebuah kardus sepatu dulu dan memberitahukan bahwa kardus sepatu itu sebagai ajang untuk latihan dan kalau sudah bisa maka A bisa membantu saya di proyek besar selanjutnya. Putri kami menurut dan dia dengan asik menggunting kertas kado dan menempelkannya di kotak sepatu di samping saya sambil terkadang ada nyanyian kecil dari mulutnya. Mengerjakan sesuatu bersama A adalah sesuatu yang menyenangkan walaupun setelah kita membuat kerajinan, saya harus membersihkan extra tempat kami berkarya. Tapi itu tidak menjadi soal, menurut saya, kalau kami ingin A nantinya menjadi kreatif maka kami harus rela dan dengan senang hati membersihkan tempat setelah A melatih otot-otot motoriknya. Kami rela berkorban tenaga untuk mengajarkan A nilai-nilai dan prinsip yang kami pegang untuk menjalani hidup.

Kreatifitas tidak akan pernah lekang oleh waktu, kreatifitas dalam diri akan terus berkembang jika diberikan stimulasi yang tepat. Saya yakin setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi kreatif, namun pertanyaannya adalah, apakah ada niat, ada kemauan untuk berlatih dan meluangkan waktu? Sebagai orang tua, kami bertanggungjawab untuk meluangkan waktu untuk A, tidak perduli selelah apapun kami. Beruntung saya dan P sudah terbiasa membuat skala prioritas dan lebih mudah bagi kami untuk mengubah kebutuhan kami dan menyesuaikan dengan kebutuhan A saat ini. Kami sudah sama-sama berkomitmen bahwa kebebasan kami adalah nomor 2 setelah A, sampai A benar-benar bisa berdiri sendiri barulah kami akan perlahan melepaskan A untuk mengepakkan sayapnya dan menjelajahi bumi yang indah ini, namun kami akan selalu ada buat A jika dia ingin beristirahat sejenak dan menginginkan pelukan orang tua.

Saya memang menghabiskan waktu cukup lama untuk membuat rumah boneka tersebut, beberapa jam dalam 2 hari namun melihat reaksi putri kami, waktu itu seimbang dengan harapan saya dan suami. Saya sudah memikirkan proyek yang hampir sama, menggunakan kardus bekas dari ICA namun lebih besar, cuma saya belum menemukan waktu yang tepat untuk memulai. Ada beberapa hal dalam daftar yang harus saya selesaikan dulu karena hal-hal tersebut lebih mendesak. Tentu saja saya akan tulis di sini jika proyek tersebut selesai berserta beberapa foto bagaimana penampakan proyek tersebut. Untuk saat ini, saya bisa berkata bahwa kami puas akan hasil proyek rumah boneka dan bangga melihat reaksi A yang mengerti dan dengan bangga memberitahukan tentang apa yang Mamanya kerjakan dengan sayang, untuk saya bahagia ini tidak bisa terbayar dengan uang sekalipun. Semoga saja saya masih diijinkan untuk terus berkarya untuk putri saya dan orang lain, amen.

Stcokholm, demaodyssey 13062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , , | 4 Comments

Ketika Rasa Malas Datang

Kemarin malam diniatkan akan melakukan banyak hal hari ini namun ternyata pagi ini harus berjuang dengan yang namanya rasa malas. Entah kenapa, sejak bangun rasa malas tiba-tiba datang dan bahkan ketika mengantarkan A sekolah saja, rasa itu masih menggelayuti. Melihat cuaca yang agak cerah, sempat terpikir akan mengoles pagar dengan minyak tapi begitu dilihat di gudang, sisa minyak tahun lalu tidak cukup untuk seluruh pagar. Jadi niat diurungkan dan akhirnya membersihkan ruang tamu yang berantakan setelah akhir pekan kemarin.

Tangan sudah mulai mengatur meja dan mainan Agnes, ketika tiba-tiba rasa malas menggoda,

”Hmmm….sepertinya enak nih kalau duduk santai di taman dan minum the atau jus”

Sempat terdiam juga dan memikirkan hal itu, hush…mata menatap meja yang berantakan, akhirnya berhasil meneruskan pekerjaan menyapu dan merapikan ruangan. Seperti biasa, dapur adalah tempat atau ruang kerja bagi saya kalau tidak ruang makan. Karena dari dapur bisa melihat ke jalan dan tempat parkir di depan rumah dan juga melihat ke taman belakang, jadi bisa dibilang dapur adalah tempat paling strategis di rumah ini. Tidak jarang P menemani saya dengan laptop-nya dan kami berdua tenggelam dengan kesibukan masing-masing.

Setelah menjawab beberapa email dan melakukan apa yang seharusnya dikerjakan, saya kira rasa malas akan hilang, tetapi tidak begitu bahkan kali ini mempengaruhi rasa lapar saya. Malas sekali membuat makanan dan memilih untuk mengambil pisang dan beberapa buah persika. Sambil menikmati buah, masih merasa heran kenapa tiba-tiba jadi pemalas seperti ini. Well, walaupun sudah selesai mengerjakan yang seharusnya, tetap saja harus berjuang dan memarahi rasa malas yang datang dan memperingatkan untuk tidak mengganggu. Cuaca pun sebenarnya naik turun, sempat hujan sebentar yang diiringi sinar matahari yang terang. Beberapa kali langit disinggahi oleh awan gelap yang turun menjadi butiran air, meskipun hanya untuk beberapa menit saja. Tetap saja ingin mengatakan pada alam bahwa apa yang saya dan alam rasakan sama, naik turun seperti roda yang berputar.

Melihat beberapa foto dan sempat mengaturnya dengan santai sebelum akhirnya melihat 2 kardus setengah rampung rumah boneka untuk A, begitu melihat itu, entah darimana datangnya semangat dan segera saja meja dapur berubah menjadi berantakan dengan peralatan seperti gunting, kertas, lim dan yang lainnya. Tenggelam bersama kardus-kardus tersebut membuat saya sedikit berpikir, apakah memang hati saya ingin saya menyelesaikan rumah boneka ini secepatnya? Terheran lagi ketika tidak saya rasakan kemalasan yang tadi menyerang ganas. Hmmmm, mungkin alam bawah sadar yang menyuruh saya untuk memberi kebahagiaan extra kepada putri kami. Hasilnya? Rumah boneka tersebut selesai dan sudah saya pajang dengan bangga di Instagram saya @demaodyssey . Ada 2 foto di sana, satu saat rumah itu tertutup dan kedua setelah saya atur boneka Peppa Pig dan teman-temannya bermain dan terlihat menghabiskan hari di dalam dan di luar rumah. Sambil ditemani Chrisye saya menata meja sehingga saat A datang dari sekolah, dia akan bisa langsung bermain setelah mencuci tangan dan minum air putih.

Benar saja, saya melihat binar bahagia yang lebih hari ini dari matanya. Ada banyak yang saya rasakan dan ingin saya tumpahkan sekarang, namun anehnya… rasa malas menyerang lagi setelah A tertidur. Kami sempat bermain berdua di rumah boneka dan mengarang cerita sampai P datang dan kami bertiga bersenda-gurau dan bercanda di sofa di ruang tamu. Sehabis memandikan A, P mengajak putri kami untuk tidur dan seperti biasa, A mengucapkan salam dan saya berikan kecupan terindah. Sudah 3 hari ini A ingin tidur bersama ayahnya dan tertidur sangat cepat. Dulu, sebelum pulang ke Bali, A biasanya tidur jam 9-10 malam namun sekarang maksimal 08:30 dia sudah menggosok gigi dan tertidur dikeloni Papanya. Kami kaget ketika pertama kali dia ingin tidur bersama Papanya, karena biasanya Mamanya yang mengeloni A. Tentu saja hal ini kami terima dengan senang hati karena itu artinya ada waktu extra buat Papanya untuk dihabiskan dengan A.

Tapiiii begitu A naik ke lantai atas, rasa malas kembali menyerang saya. Sadar kalau belum makan, saking malasnya, saya memutuskan untuk makan salad saja karena tinggal memotong selada, tomat dan mentimun, gampang dan praktis sekaligus mengenyangkan. Ingat kalau hari ini belum menulis, makanya saya memutuskan untuk menulis sedikit saja sebelum saya mandi dan tidur. Besok harus bertemu dengan beberapa orang yang meminta saya datang dan saya sudah berjanji akan datang, orang-orang yang (mungkin) akan memberikan atau mengambil bagian di masa depan saya. Semoga saja pertemuan besok lancar dan hasilnya seperti yang saya harapkan. Sepertinya saya harus mengalah dan bersiap untuk tidur. Di luar sana masih hujan dan suasana yang dingin semakin menguatkan rasa malas.

”Rasa malas, saya menyerah hari ini karena tugas saya untuk hari ini sudah terlaksana. Baiklah, keinginan untuk mencari bahan proyek selanjutnya harus saya tangguhkan sampai lain kali. Mari, kita tidur! Selamat malam”.

Stockholm, demaodyssey 12062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Senin Hampir Tiba

Tidak terasa akhir pekan sebentar lagi berakhir dan hari Senin sudah tinggal hitungan jam saja. Besok akan ada banyak hal yang harus saya kerjakan, terutama menyiapkan apa yang akan saya bawa nantinya ketika akan mengunjungi mertua untuk merayakan Midsummer tahun ini. Ada rencana akan melatih A untuk bisa tidur malam tanpa kami orang tuanya. Sebenarnya waktu di bali kemarin A sudah sempat menginap tanpa Mamanya beberapa kali namun di Swedia, ini akan menjadi pengalaman pertama buat putri kami.

Kami memang bisa dibilang telat untuk melatih A kalau dibanding dengan teman-teman yang lain di Swedia, mungkin karena memang situasi seperti ini belum kami butuhkan selama ini. Sekarang kami memutuskan untuk melatih A bukan karena kami membutuhkan namun lebih kepada membiarkan Farmor dan Farfar menghabiskan waktu beberapa hari bertiga saja dengan cucu tersayang. A sudah agak besar sekarang, sudah mengerti kalau diajak berbicara dan berdiskusi hal-hal sederhana. Kebutuhannya pun sudah semakin gampang untuk dipenuhi dan A sendiri sudah bisa memberitahukan kapan dia ingin mandi, makan, minum dan kebutuhan yang lainnya. Dalam hal bermain pun, A sudah tidak memerlukan banyak waktu untuk ditemani karena Puji Tuhan, putri kami ini sudah biasa bermain dan bercerita sendiri. Kalaupun ada orang dewasa di sekitarnya, dia terkadang memilih bermain sendiri. Ada kalanya A akan meminta salah satu dari kami untuk menemani, terutama ketika dia ingin memainkan beberapa peran dalam satu adegan, seperti contoh ketika di dalam ceritanya ada 3 bayi yang menangis dan membutuhkan 3 orang dewasa untuk menggendong. Jika hanya dua, maka kedua tangan mungilnya masih memungkinkan untuk memegang 2 figur dewasa dan 2 anak-anak, biasanya saya atau Papanya akan memegang figur dewasa dan anak-anak yang ketiga. Cerita masih dipegang atau dilakoni oleh A sendiri. Hal ini juga yang semakin mempermudah Farmor dan Farfar nantinya ketika tidak ada kami.

Sudah ada rencana yang sebenarnya kami akan lakukan, P akan bermain golf dengan teman SMA-nya sedangkan saya akan berkutat dengan beberapa foto, buku, alat tulis dan laptop untuk membuat dokumentasi seluruh kerajinan tangan yang pernah saya bikin sebelumnya. Jujur, saya sangat ingin membuat dokumentasi yang rapi untuk setiap karya tersebut sehingga nantinya akan mudah mengambil dan melihat jika diperlukan. Jadi, kami akan menghabiskan beberapa jam melakukan kegiatan sendiri-sendiri sebelum malamnya mungkin kami akan mengunjungi teman atau mungkin hanya berdua menikmati makan malam di daerah tempat kami menginap nanti. Jika latihan berjalan lancar, maka kami akan menggunakan hari kedua sebagai suatu jalan untuk menjelajahi bagian utara Swedia, mungkin masih dalam jangkauan 1-2 jam dari rumah mertua. Kami berharap A akan baik-baik saja dan menikmati waktu yang dihabiskan bersama kakek dan neneknya.

Malam masih belum begitu larut namun saya memutuskan untuk tidur lebih awal. Besok, A akan masuk pre-school lagi dan Papa juga akan berangkat pagi-pagi. Semoga saja cuaca cerah jadi saya bisa menghabiskan sisa baju yang masih teronggok rapi menanti untuk digiling di mesin cuci. Oiya, jika ada waktu lebih, akan saya gunakan untuk menyelesaikan lantai 2 rumah boneka A yang masih setengah jadi. Saat saya mengetik ini, saya membayangkan seandainya saya bisa memberikan rumah boneka tersebut saat A pulang dari sekolah, aaaaahhh… saya yakin saya akan mendapat pelukan, senyuman dan ciuman extra banyak dari putri kami ini. Memikirkannya saja sudah sanggup membuat saya tersenyum. Kesimpulannya, saya harus melakukan semua rencana saya seefektif mungkin sehingga bisa memiliki waktu tambahan. Yah, kita lihat saja besok yang tentu saja saya akan rekam lagi jejaknya di sini dan ijinkan saya mengucapkan, selamat malam dan sampai jumpa besok (gerakan tangan melambai).

Stockholm, demaodyssey 11062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, nature, photography | Tagged , , , , | Leave a comment

Hari Sabtu

Matahari bersinar seharian, saya dan A memutuskan untuk bersantai hari ini dengan tidak kemana-mana. Melihat taman, belum waktunya rumput di potong dan sepertinya semua tanaman cukup mendapat air. Berbalik ke dalam rumah dan bermain sebentar dengan A, putri kami yang semakin hari semakin mengasah kemampuannya bercerita. Melihatnya sangat antusias dengan beberapa boneka Peppa Pig dan teman-temannya, membuat keinginan saya untuk membuat rumah boneka semakin jelas.

Sempat mencari tahu berapa harga rumah boneka di toko barang bekas online bernama Blocket ternyata harganya lumayan mahal, untuk yang paling sederhana pun harganya mencapai 350 SEK. Hal ini menimbulkan keheranan kenapa hanya rumah boneka bisa semahal itu padahal kalau dilihat desainnya sangat sederhana. Ada beberapa yang memiliki desain yang bagus namun harganya pun ikut melambung, coba bayangkan untuk yang bekas saja dengan merek tertentu dijual dengan kisaran harga 600-800 SEK dan itu tanpa mebel atau perlengkapan yang lain. Dasar saya yang pelit dan tidak mau membuang uang untuk barang seperti itu, maka saya putuskan untuk membuat sendiri rumah boneka untuk Agnes dan beserta mebel dan perlengkapan lainnya.

Saya melihat beberapa jepitan baju dan juga stik es krim bekas yang sudah tercuci bersih hasil mengumpulkan setiap A mendapatkan jatahnya. Saya memang suka sekali mengumpulkan barang-barang yang masih bisa digunakan untuk membuat kerajinan tangan seperti tutup kotak susu, stik es krim, kotak jus jeruk dan masih banyak lagi. Entahlah, saya hanya merasa bahwa saya bisa menggunakannya untuk sesuatu yang bisa saya buat bersama A. Hari ini, beberapa barang tersebut akhirnya saya pakai juga.

Saya belum sempat membuat foto dengan menggunakan kamera karena begitu A melihat hasilnya, barang-barang yang sudah jadi langsung dibawa ke ruang tamu dan seperti biasa, putri kami ini kembali larut di cerita yang dia ciptakan. Namun saya sempat mengabadikan dengan kamera HP dan mengunggahnya di Instagram saya @demaodyssey  Sebenarnya masih banyak hasil membuat prakarya hari ini namun belum semua rampung bersama dengan perlengkapannya seperti 2 tempat tidur untuk 2 boneka yang belum saya buatkan kasur, bantal dan juga selimutnya. Nanti rencananya setelah selesai semuanya, saya akan sempatkan membuat foto dengan menggunakan kamera, sekalian membuat dokumen yang nantinya bisa saya gunakan jika ada yang meminta saya mengisi acara keterampilan ataupun saya bisa mempergunakannya di tempat kerja nanti.

Melihat mata A berbinar lebih indah ketika melihat Mamanya membuat banyak mebel, membuat saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya untuk membuat rumah boneka yang saya ingin berikan kepada A. Setelah dipotong dengan beberapa jam menemani A bermain, saya melanjutkan proyek saya. Dari desain tiap ruangannya dan berapa lantai yang nantinya saya mau rumah boneka tersebut. Terus terang saya membuat sedetail mungkin bahkan rumah boneka tersebut memiliki tangga yang menghubungkan lantai bawah dan atas. Sampai saat saya memutuskan untuk menuangkan satu dua kata untuk hari ini, saya sudah berhasil menyelesaikan lantai bawah. Mungkin besok akan saya lanjutkan jika waktu mengijinkan, sehingga kalau nantinya sudah selesai, saya akan berikan A bermain sebentar sebelum nanti minggu depan saya akan membuat dokumentasi dan menulis beberapa bahan yang diperlukan.

Tidak banyak yang kami lakukan hari ini karena memang dari pagi sudah diniatkan akan bersantai, A punya ’me time’ bermain dengan boneka-bonekanya di beberapa furnitur yang baru sedangkan saya juga mendapat ’me time’ dengan membuat sebuah proyek untuk putri tercinta. Sesederhana itu kami menghabiskan hari Sabtu kami namun banyak tawa dan bahagia dari kesederhanaan tersebut, semoga teman-teman juga mendapatkan hal yang sama seperti kami. Pamit dulu yaaa, saya ingin melanjutkan untuk membuat tangga rumah bonekanya A.

Stockholm, demaodyssey 10062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, nature, photography | Tagged , , , | Leave a comment