Hari Sabtu

Matahari bersinar seharian, saya dan A memutuskan untuk bersantai hari ini dengan tidak kemana-mana. Melihat taman, belum waktunya rumput di potong dan sepertinya semua tanaman cukup mendapat air. Berbalik ke dalam rumah dan bermain sebentar dengan A, putri kami yang semakin hari semakin mengasah kemampuannya bercerita. Melihatnya sangat antusias dengan beberapa boneka Peppa Pig dan teman-temannya, membuat keinginan saya untuk membuat rumah boneka semakin jelas.

Sempat mencari tahu berapa harga rumah boneka di toko barang bekas online bernama Blocket ternyata harganya lumayan mahal, untuk yang paling sederhana pun harganya mencapai 350 SEK. Hal ini menimbulkan keheranan kenapa hanya rumah boneka bisa semahal itu padahal kalau dilihat desainnya sangat sederhana. Ada beberapa yang memiliki desain yang bagus namun harganya pun ikut melambung, coba bayangkan untuk yang bekas saja dengan merek tertentu dijual dengan kisaran harga 600-800 SEK dan itu tanpa mebel atau perlengkapan yang lain. Dasar saya yang pelit dan tidak mau membuang uang untuk barang seperti itu, maka saya putuskan untuk membuat sendiri rumah boneka untuk Agnes dan beserta mebel dan perlengkapan lainnya.

Saya melihat beberapa jepitan baju dan juga stik es krim bekas yang sudah tercuci bersih hasil mengumpulkan setiap A mendapatkan jatahnya. Saya memang suka sekali mengumpulkan barang-barang yang masih bisa digunakan untuk membuat kerajinan tangan seperti tutup kotak susu, stik es krim, kotak jus jeruk dan masih banyak lagi. Entahlah, saya hanya merasa bahwa saya bisa menggunakannya untuk sesuatu yang bisa saya buat bersama A. Hari ini, beberapa barang tersebut akhirnya saya pakai juga.

Saya belum sempat membuat foto dengan menggunakan kamera karena begitu A melihat hasilnya, barang-barang yang sudah jadi langsung dibawa ke ruang tamu dan seperti biasa, putri kami ini kembali larut di cerita yang dia ciptakan. Namun saya sempat mengabadikan dengan kamera HP dan mengunggahnya di Instagram saya @demaodyssey  Sebenarnya masih banyak hasil membuat prakarya hari ini namun belum semua rampung bersama dengan perlengkapannya seperti 2 tempat tidur untuk 2 boneka yang belum saya buatkan kasur, bantal dan juga selimutnya. Nanti rencananya setelah selesai semuanya, saya akan sempatkan membuat foto dengan menggunakan kamera, sekalian membuat dokumen yang nantinya bisa saya gunakan jika ada yang meminta saya mengisi acara keterampilan ataupun saya bisa mempergunakannya di tempat kerja nanti.

Melihat mata A berbinar lebih indah ketika melihat Mamanya membuat banyak mebel, membuat saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya untuk membuat rumah boneka yang saya ingin berikan kepada A. Setelah dipotong dengan beberapa jam menemani A bermain, saya melanjutkan proyek saya. Dari desain tiap ruangannya dan berapa lantai yang nantinya saya mau rumah boneka tersebut. Terus terang saya membuat sedetail mungkin bahkan rumah boneka tersebut memiliki tangga yang menghubungkan lantai bawah dan atas. Sampai saat saya memutuskan untuk menuangkan satu dua kata untuk hari ini, saya sudah berhasil menyelesaikan lantai bawah. Mungkin besok akan saya lanjutkan jika waktu mengijinkan, sehingga kalau nantinya sudah selesai, saya akan berikan A bermain sebentar sebelum nanti minggu depan saya akan membuat dokumentasi dan menulis beberapa bahan yang diperlukan.

Tidak banyak yang kami lakukan hari ini karena memang dari pagi sudah diniatkan akan bersantai, A punya ’me time’ bermain dengan boneka-bonekanya di beberapa furnitur yang baru sedangkan saya juga mendapat ’me time’ dengan membuat sebuah proyek untuk putri tercinta. Sesederhana itu kami menghabiskan hari Sabtu kami namun banyak tawa dan bahagia dari kesederhanaan tersebut, semoga teman-teman juga mendapatkan hal yang sama seperti kami. Pamit dulu yaaa, saya ingin melanjutkan untuk membuat tangga rumah bonekanya A.

Stockholm, demaodyssey 10062017

Advertisements
Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, nature, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Buku Kesayangan A

A, putri kami memiliki beberapa koleksi buku yang bertambah setiap kami pulang ke Bali, Indonesia atau saat mendekati hari ulang tahun A. Buku-buku tersebut tidak semuanya baru terutama yang berbahasa Swedia karena di Swedia, kami bisa membeli buku anak-anak bekas dengan harga yang sangat murah. Biasanya saya pergi ke toko barang bekas khusus anak-anak yang menjual buku seharga 10 kronor (sekitar 15 ribu rupiah) yang sebenarnya kalau beli buku yang sama dengan keadaan masih baru, harganya bisa mencapai 8-15 kali lipat. Kondisi bukunya pun banyak yang bagus dan bahkan ada beberapa buku yang kami beli kondisinya sangat baru dan tidak terlihat kalau buku tersebut sudah dapat digunakan.

Di Swedia, membeli barang bekas bukanlah hal yang baru, tidak saja bagi anak-anak tapi juga untuk orang dewasa. Saya sering membeli baju di toko second hand yang ada di dekat rumah dan juga di kota. Begitu juga ketika membeli baju dan barang-barang perlengkapan A seperti kereta dorong, baju musim dingin, meja, kursi, rak buku dan masih banyak lagi. Pernah gara-gara hal ini saya sempat ditegur oleh teman karena segala hal yang dipunyai A bisa dikatakan 95 persen barang second hand karena menurut dia, kasihan A, lagipula A kan anak pertama di keluarga jadi seharusnya semua barang yang dimiliki A adalah barang baru. Saya tersenyum saja mendengarkan teguran tersebut karena bagi saya, membelikan segala hal yang baru hanya karena anak pertama adalah sesuatu yang tidak wajib. Saya lebih melihat secara praktis saja, apalagi kami tinggal di negeri kulkas yang kebudayaan untuk daur ulang sudah mendarah daging. Membeli barang second hand adalah salah satu dari kebudayaan daur ulang tersebut terutama ketika anak masih di bawah 5-6 tahun. Mengapa begitu? Anak-anak sangat cepat pertumbuhannya, baju musim dingin terkadang hanya bisa dipakai satu musim saja dan harus membeli ukuran yang lebih besar di musim dingin berikutnya. Harga baju dan jaket musim dingin bisa ratusan kronor, daripada membuang-buang uang hanya untuk membeli sesuatu yang hanya terpakai sekali saja, lebih baik uang tersebut kami belikan hal-hal yang bisa menstimulasi perkembangan otak A seperti buku. Well, sebenarnya adalah alasan utama mengapa kami sampai saat ini masih berburu barang-barang bekas baik itu buat A atau saya karena hal-hal tersebut baik untuk mengajarkan A agar bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak.

Maksudnya seperti ini, kalau suatu saat nanti A melamar pekerjaan, bos perusahaan tersebut tidak akan menanyakan apakah baju dan barang yang A miliki waktu bayi adalah barang bekas atau barang baru. Mereka akan melihat kemampuan yang A miliki dan sikap serta tingkah laku sebagai individu dan bagian dari masyarakat. Setidaknya saya tidak pernah mengalami hal tersebut ketika mendapat kesempatan wawancara. Jadi saya ingin menanamkan kepada A bahwa ada hal-hal yang bisa kita kompromikan dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kompromikan seperti menggali potensi dan bakat yang kita punya, ini adalah yang utama. Bagaimana kita menggunakan kemampuan, bakat dan potensi yang ada untuk memberika arti kepada diri sendiri, keluarga dan orang lain. Selama masih bisa dan masih ada toko yang menjual barang bekas, saya akan berusaha mencari barang tersebut terlebih dahulu di toko barang bekas, jika barang tersebut tidak ada, baru saya akan mencoba mencari yang baru. Begitu juga dengan kebutuhan A, ada satu hal yang kami beli baru yaitu sepatu karena sepatu itu sangat penting terutama dalam pembentukan kaki anak. Karena hal inilah kami selalu membeli sepatu yang baru buat A walaupun Mamanya selalu berusaha menunggu ada penurunan harga atau beli di outlet nya sekalian (iyaaaa Mamanya A emang pelit hihihihi).

Kalau buku, saya tidak segan-segan membeli baru terutama buku yang berbahasa Inggris, berbahasa Indonesia dan berbahasa Bali. Karena memang sepertinya mustahil menemukan buku-buku tersebut terjual di toko barang bekas, terutama buku dalam bahasa ibu saya, yaitu bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Buku bahasa Inggris untuk anak-anak bisa dibilang lumayan mahal harganya di Swedia, maka dari itu saya membeli buku-buku tersebut di Inggris karena ada sebuah website yang menjual buku anak-anak murah. Website tersebut bernama The Book People. Kebanyakan buku bahasa Inggris yang A miliki itu hasil koleksi Mamanya ketika sempat tinggal di UK selama 2 tahun. Jadi belinya pun dicicil dan hemat ongkos kirim. Walaupun begitu kami juga masih akan membeli buku di website tersebut karena walaupun sudah ditambah ongkos kirim, buku-buku tersebut masih jauh lebih murah harganya dibanding kalau saya membeli di toko buku di Swedia.

Buku-buku yang ada di blog post ini adalah buku kesayangan A. Hampir semuanya akan dibawa kemanapun A pergi, bahkan ketika kemarin kami pulang liburan ke Indonesia, kami membawa buku-buku tersebut. Seperti terlihat Buku Pustaka Dongeng Nusantara kondisinya tidak seperti buku-buku yang lain karena buku itulah yang paling sering saya baca untuk A dan ketika A berpura-pura membaca buku, maka Dongeng Nusantara lah yang dia buka berkali-kali. Jika dilihat isinya, setiap cerita di buku ini sebenarnya lumayan panjang, namun biasanya saya membacanya saat saya menemani A bermain. Jadi A akan bermain sendiri dengan mainannya dan saya akan membaca cerita ini dengan suara yang agak keras sehingga A akan mendengar. Sesekali, A akan menghampiri saya dan bertanya serta menunjuk gambar yang ada terutama cerita yang dia dengar menarik seperti Ketimun Emas (mungkin) karena suara Mamanya yang aneh ketika menirukan suara raksasa yang mengejar Ketimun Emas. Buku yang lainnya, ceritanya pendek sehingga biasanya A akan duduk di samping atau duduk di pangkuan saat pembacaan buku tersebut. A biasanya akan meminta Farmor dan Farfar untuk membaca buku Swedia, Papa untuk buku dalam bahasa Swedia dan Inggris sedangkan Mama untuk segala buku.

Membaca buku juga salah satu kegiatan saat kita bepergian terutama saat mengendarai mobil. Sampai saat ini saya masih duduk di belakang bersama A karena saya biasanya beraktifitas dengannya saat Papa menyetir. Entah itu bermain dengan beberapa figur boneka atau membaca buku, bisa dikatakan amat sangat jarang saya duduk di depan menemani Papa kecuali tentu saja ketika saya harus menyetir, A akan duduk sendiri di belakang. Khusus untuk buku berjudul Monkey Could Waterski, A hampir bisa menebak apa yang akan terjadi dan menceritakan kepada saya tentang isi halaman tersebut, hal ini mungkin disebabkan karena buku ini sangatlah sering kami baca baik itu di rumah, di pesawat, di kereta atau bahkan di tempat-tempat yang kami kunjungi. Kalau bisa dibilang buku ini menempati peringkat pertama di daftar buku kesayangan putri kami ini dan menurut saya isi buku inipun sangat menarik dan mengajarkan hal-hal yang bisa dilakukan seekor monyet dan hal-hal yang tidak bisa dilakukan. Penulisnya menuangkan fakta tentang seekor binatang dengan cara yang asik untuk didengar atau dibaca seorang anak tanpa merasa terpaksa belajar fakta-fakta tersebut. Buku ini adalah bagian sebuah seri yang terdapat 10 judul buku di dalamnya dan semua buku tersebut berkisah tentang binatang.

A juga memiliki banyak buku di kamar dan di pojok bermainnya, dan akhir pekan ini, saya rencananya ingin menata ulang ruang tamu kami dan membuat pojok yang lebih nyaman lagi buat A untuk bermain dan ada beberapa proyek yang akan saya kerjakan setelah penataan tersebut. Semoga saja bisa terselesaikan dalam waktu 2 hari sehingga saya bisa perlihatkan di blog ini hasil sebelum dan sesudahnya.  Inilah sedikit cerita tentang buku kesayangan A, saya akhiri dulu untuk saat ini. Sebelum pamit, saya ingin mengucapkan, selamat berakhir pekan ya teman-teman semuanya, sampai bertemu lagi di post selanjutnya.

Stockholm, demaodyssey 09062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , , | 2 Comments

Makna dari Kata Melepaskan

Mengobrol sebentar dengan Kakak tertua yang tinggal di Malang, tidak bisa lama karena perbedaan waktu yang cukup panjang, yang di Malang sudah lewat tengah malam yang di Swedia masih menikmati makan malam. Obrolan kali ini menjelaskan kembali lagi tentang suatu kata dan maknanya, melepaskan.

Terkadang kita tidak mengerti tentang keputusan yang diambil orang lain yang menurut kita suatu langkah bunuh diri atau mengejar mimpi semu. Saat kita sudah memberikan pendapat kita, saat kita sudah memberikan pertolongan yang maksimal, saat niat baik kita diabaikan begitu saja, saat itulah kita harus belajar melepaskan. Mendalami arti kata tersebut walau kadang hati kita ikut teriris, namun itulah yang harus kita lakukan. Dengan melepaskan sesuatu setelah kita berjuang mempertahankan, belajar mengerti jalan hidup masing-masing orang adalah berbeda dan memberikan yang terbaik, bukan saja memberikan pembelajaran baru kepada orang tersebut namun juga pembelajaran kepada diri kita sendiri. Melepaskan bukan berarti tidak ada rasa sayang lagi, malah rasa sayang inilah dasar kita untuk berani melepaskan dan memberikan kesempatan orang tersebut menjalani karmanya, baik itu karma buruk atau karma baik, sekalipun orang tersebut adalah bagian dari diri kita. Jika kita sudah mengerahkan segala kemampuan kita kepada seseorang namun keadaan tidak berubah, kita hanya bisa berharap (mungkin) Tuhan punya rencana lain untuknya. Tuhan ingin orang itu belajar tentang satu hal, belajar tentang hal yang mungkin selama ini belum dia lalui dengan sebuah kelulusan. Masih harus berkubang dengan keadaan yang sama sampai tersadar dengan sendirinya dan berubah ke arah yang lebih baik.

Jika kita sudah melakukan karma yang menurut kita memang sudah seharusnya dilakukan, kita tidak punya kontrol lagi terhadap karma orang yang akan kita tolong. Seperti yang pernah saya sampaikan di tulisan sebelumnya yang bisa dibaca di sini, kita hidup di dunia ini membawa karma masing-masing. Kita bertanggungjawab hanya untuk karma yang kita perbuat dan bukan orang lain, karma kita adalah karma yang kita lakukan dan reaksi kita akan tindakan orang lain. Apa yang orang lain lakukan bukanlah di jangkauan kontrol kita. Sebagai manusia tentu saja kita berusaha untuk menolong dengan cara kita masing-masing namun kita punya keterbatasan, kita tidak selamanya bisa memberikan bantuan kepada orang tersebut, apalagi jika ada pertalian darah di sana. Kita tidak membicarakan tentang hilangnya sayang dan cinta di sini, namun tentang bagaimana kita menolong orang tersebut dengan cara yang (mungkin) agak berbeda dengan orang lain lakukan pada umunya. Seperti memberikan ikan kepada teman atau saudara yang kesusahan atau membutuhkan, apakah kita harus selamanya memberikan dan menyuapi dengan ikan? Menurut saya, kita bisa memberikan satu atau dua kali ikan kepadanya namun pertolongan yang lebih tepat adalah dengan memberikan pancing sehingga orang tersebut bisa menghidupi dirinya sendiri dan (mungkin) nantinya bisa menghidupi orang lain ketika sudah bisa berdiri di kaki sendiri. Mengapa?

Bagi saya, dengan selalu memberikan ikan itu berarti kita tidak memberikan pertolongan yang sesungguhnya. Malah kita melemahkan kemampuan orang tersebut dan kita membantu orang tersebut menjadi malas, tidak menjadi orang yang bisa bertahan dalam badai. Nafas yang ada pada kita ini adalah pinjaman, jika kita hanya menyuapi dengan ikan tanpa mengajari bagaimana menjadi seorang ’survivor’ bagaimana nasib orang tersebut jika kita menghadap Sang Pemilik Kehidupan? Apakah dia atau mereka harus mengikuti kita ke liang kubur padahal waktu mereka mungkin tidak sama dengan kita? Terus terang, saya tidak ingin memiliki andil di sebuah keputusasaan seseorang, yang saya inginkan adalah mempunyai andil dimana orang tersebut bisa bertahan dan menuliskan perjalanan hidupnya walaupun sulit sekalipun. Walaupun adakalanya keputusan memberikan pancing itu akan melukai hati saya, namun dengan pilihan tersebut saya tidak membohongi hati nurani saya. Masalah sakit dan luka di hati, itu sudah merupakan karma yang harus saya jalani, jadi itu tanggung jawab saya bagaimana saya bereaksi terhadap rasa sakit, saya yakin saya bisa menemukan cara berdamai dengan rasa sakit jika ada kemauan.

Mungkin teman-teman yang membaca ini akan melihat bahwa apa yang saya tuangkan di sini terdengar kejam, namun ini bagian dari berani menjadi melawan arus, berani berbeda sesuai dengan nilai dan prinsip hidup yang saya pegang. Jujur, membohongi hati nurani itu amat sangat tidak nyaman, karena kita akan dihantui rasa bersalah atau rasa-rasa yang lain yang terkadang mengganggu kita dalam tidur dan saat-saat yang tidak kita inginkan. Yang lebih parah lagi, rasa tersebut bisa datang kapan saja tanpa kita pernah kita tahu. Saya bisa berkata begini karena saya pernah mengalaminya, namun setelah saya belajar menguatkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya, saat itu saya terlepas dari belenggu sebuah kebohongan. Memang tidak mudah, namun bukan berarti hal itu mustahil dilakukan. Terkadang kita harus menoleh ke samping, mencari inspirasi akan kekuatan diri dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Setiap orang memiliki kemampuan masing-masing, bisa mencapai hal tertinggi dengan satu syarat, jika ada kemauan, kemauan dalam segala hal terutama mau untuk belajar, karena hidup adalah sebuah pembelajaran. Kita tidak akan pernah berhenti belajar bahkan dalam hal sederhana pun kita bisa memetik sebuah pelajaran, sekali lagi jika kita memiliki tekad, memiliki kemauan, memiliki kedahagaan akan sebuah ilmu baik untuk lahir dan bathin.

Kakak masih terlelap di belahan ujung dunia yang satunya dan di sini saya masih berkutat dengan pemikiran dan mencari celah untuk berteman dengan rasa sakit. Berharap yang terbaik, berharap bahwa pancing yang kami berikan itu bisa digunakan dan bukan diletakkan saja di pojok rumah. Sebuah harapan tentang satu perubahan ke arah yang lebih baik yang (mungkin) belum terlihat sebagai sebuah kebaikan. Mata bisa saja tertutup dan berbeda, satu orang melihat itu sebagai sebuah kebaikan sedangkan yang satunya melihat sebagai sesuatu yang tidak tepat. Tapi siapakah kita bisa menentukan mana yang paling benar? Tidak ada kebenaran yang sejati karena hanya perubahan lah yang abadi. Mungkin apa yang saya dan kakak anggap baik belum bisa terlihat sebagai sebuah jalan keluar, namun kami bertahan karena kami yakin inilah yang kami inginkan. Biarlah waktu yang nantinya membantu kami untuk melihat kehidupan manakah yang memberikan senyuman dan kehidupan mana yang memberikan sebuah kepalsuan, hal semu. Sebenarnya sudah bisa kami rasakan sendiri namun sekali lagi, ini keputusan kami untuk melepaskan, belajar melepaskan (lagi).

Dari pilihan melepaskan kami belajar ikhlas, belajar berbincang dengan rasa sakit dan tidak nyaman, menerima bahwa ini bagian dari karma. Ada rencana Tuhan yang kami tidak tahu dan tidak seorangpun tahu namun kami yakin ini yang terbaik dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang umatnya tidak bisa menyelesaikan. Ini hanya tentang waktu, kami hanya akan menjadi penonton kali ini tanpa beradu akting lagi di dalam sebuah pementasan. Sebuah mimpi bahwa panggung itu tidak roboh sebelum pentas selesai dimainkan, mimpi tentang sebuah akhir yang bisa membuat semuanya tersenyum dan mengerti sekali lagi tentang inilah karma yang selalu menyertai kita dalam setiap langkah yang kita ambil di perjalanan kali ini, di buku kehidupan yang kita bawa saat lahir yang bertuliskan kisah-kisah tentang pencarian sebuah keseimbangan.

Stockholm, demaodyssey 08062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , | Leave a comment

Putri Kecil Kami

Namanya Agnes, putri kecil kami yang sebentar lagi akan menginjak 3 tahun. Waktu serasa cepat sekali berlalu terutama saat melihat A yang tumbuh menjadi gadis kecil dengan kemampuan yang semakin terasah. Kami masih sering dibuat kaget dan kagum melihat betapa cepatnya A menyerap hal-hal di sekitarnya, baik itu kami ajarkan secara sengaja ataupun tidak. Gadis kecil yang sudah bisa memilih kegiatan yang disukainya namun masih bisa diajak bernegosiasi dan berdiskusi untuk melakukan hal lain yang ada di dalam skala prioritas. Putri yang yang mengajarkan banyak hal baik itu sebagai orang tua maupun sebagai individu, putri yang selalu mengingatkan kami akan nilai dan prinsip yang kami pegang dalam hidup dan yang ingin kami A belajar nantinya, sehingga suatu saat jika dia ingin memiliki nilai dan prinsip yang baru, dia punya bahan pembanding yang bisa dijadikan acuan.

Pulang dari 9 minggu menghabiskan waktu di Bali, kemampuan berbahasa Inggris A berkembang sangat pesat. Bahkan Papanya sendiri terkejut dan kagum, bagaimana 9 minggu itu bisa membuat putrinya berkomunikasi dengan lancar dengan bahasa Inggris yang sebelumnya A hanya bisa menyebutkan kalimat yang pendek-pendek. A bahkan menunjukkan ke Papanya kalau dia bisa mengarang suatu cerita bersamaan dengan tangan mungilnya memainkan beberapa figur lego. Kami, tentu saja bersyukur dengan perkembangan tersebut dan berusaha mempertahankan apa yang kami lakukan selama ini. Di rumah, kami menggunakan 3 bahasa. Saya menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara berdua dengan A, Papanya menggunakan bahasa Swedia dan jika kami bersama-sama, kami menggunakan bahasa Inggris. Saya dengan suami sendiri memang masih menggunakan bahasa Inggris karena saya ingin melatih terus kemampuan bahasa Inggris saya sehingga tidak hilang. Alasan yang mungkin untuk orang lain tidak masuk akal tapi bagi saya itu sangat masuk akal karena dulu saya pernah bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang saat mendapat beasiswa dan bekerja di Singapore tahun 2000-2001 tapi karena sudah tidak pernah terpakai lagi, jadinya saya lupa dan sedikit ingat akan huruf Hiragana dan Katakana. Maka dari itu saya tidak mau lagi kehilangan kemampuan untuk berbahasa Inggris dengan lancar.

Waktu di Bali kemarin, bahkan ketika kakak dan keluarga menggunakan bahasa Bali, A sepertinya mengerti namun menjawabnya dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kami sebagai orang tua berharap A akan bisa setidaknya 2 bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Swedia. Kalau nantinya dia bisa bahasa Inggris dan bahasa Bali, itu adalah bonus. Kenapa saya sepertinya bersikeras agar A bisa bahasa Indonesia? Alasannya adalah, saya ingin A bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Bali. Alasan lain adalah saya ingin A mencintai akar Mamanya seperti A mencintai akar Papanya, karena bagaimanapun A adalah anak yang mempunyai 2 kebudayaan yang sama unik dan indahnya. Hanya dengan bahasa Indonesia, A akan bisa belajar, menyelami dan memperkuat ikatannya kepada Indonesia baik itu dalam hal kulturnya, tradisi, kekayaan alam dan semua hal tentang Indonesia. Kami ingin A mengerti bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain, Indonesia adalah negeri yang mengagumkan dan hebat dan memiliki keunikan yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Dalam lingkup kecil, sebagai orang tua, P dan saya ingin A mengerti tata krama dan adat istiadat Bali, tanah kelahiran Mamanya, karena nantinya A akan berhadapan dengan anggota keluarga dari pihak Ninik dan Kakiangnya yang tentu saja memiliki pandangan dan tata krama yang berbeda walaupun keduanya adalah orang Bali.

Bagi kami, bahasa adalah salah satu dari beberapa hal penting yang harus A kuasai karena kami tidak mau ketika A pulang ke Bali, dia akan merasa seperti orang luar dan bukan bagian dari keluarga. Kami (terutama saya) mungkin bisa dibilang agak keras kalau dalam satu hal ini, karena saya pernah merasakan bagaimana rasanya tidak bisa mengikuti secara utuh ketika pertama kali bertemu dengan anggota keluarga dari pihak suami ketika mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Swedia. Mereka sebenarnya baik dan selalu menyediakan waktu bagi P untuk menterjemahkan apa yang mereka bicarakan, namun saya merasa seperti orang luar dan merasakan bahwa saya memperlambat alur percakapan tersebut. Sejak kejadian itu saya bertekad berusaha sebaik mungkin belajar bahasa Swedia dan tidak merepotkan P dan anggota keluarga yang lain. Pengalaman itu pula yang membuat saya berkerja keras untuk mengajarkan A untuk bis aberbahasa Indonesia walaupun saya sadar dan tahu tantangan apa yang ada di hadapan saya, namun saya sudah siap.

Bahasa Indonesia A tidak berkembang seperti bahasa Inggris nya, hal ini sempat membuat kami heran. Tapi saya belum menyerah, saya hanya perlu melanjutkan apa yang saya sudah lakukan sebelumnya. Saat ini A terkadang masih berbicara dalam bahasa Inggris kepada saya, seperti minggu lalu ketika A mengajukan pertanyaan ’mengapa’ untuk pertama kalinya.

”Mama, why Papa has to work?”

”Maksud Agnes, why does Papa have to work? Mengapa Papa harus bekerja? Work bahasa Indonesianya kerja (saya berusaha menterjemahkan langsung kepada A kata-kata yang dia ucapkan dalam bahasa lain selain bahasa Indonesia). Papa bekerja karena kita perlu uang untuk makan, untuk beli baju, buku dan lain-lain. Seperti waktu kita pergi liburan ke bali, naik pesawat, terus waktu Agnes main dan ketemu sama Maming, Mbok Ayes, Om Alit, biang Ira dan semua kakak-kakak di Bali dan Malang, itu uangnya hasil Papa kerja. Agnes ingat saat beli kue waktu Mama ulang tahun? Itu juga dari Papa. Nanti bulan Agustus, Mama juga harus bekerja dan Agnes sekolah agak lama, tidak apa-apa kan?!”

”Mama tidak kerja, Mama sekolah”

”Dulu Mama sekolah tapi kan sudah selesai sebelum kita pergi ke Bali. Setelah selesai sekolah, Mama bekerja sama seperti Papa.”

”Hmmm, oke Mama.”

Ada rasa yang tidak bisa saya ungkapkan ketika pertama kali A menggunakan kata ’mengapa’ yang membuat saya tersenyum, mengelus kepala putri kami dan memberikannya ciuman sayang. Putri saya sudah semakin besar, sudah bisa diajak berkomunikasi, bercerita dan mengenang masa-masa kecil saya setiap malam. Seperti anak kecil lainnya, A juga terkadang keras kepala dan berteriak jika keinginannya tidak dipenuhi, namun hal itu biasanya tidak berlangsung lama karena A akan duduk di pangkuan saya untuk mendengarkan penjelasan Mamanya yang panjang kali lebar. Jika A sedih dan menangis, biasanya saya akan menjelaskan bahwa saya juga pernah kesal dan menangis seperti dia waktu saya kecil. Saya biasanya berbicara dengan A dan memberitahukan bahwa saya juga pernah berada di posisi yang sama, dan menceritakan bagaimana sebaiknya kalau kita kesal atau sedih atau marah. Seperti contohnya kalau marah, saya akan ajak A untuk berhitung 1 sampai 10 perlahan-lahan dan menanyakan apakah A masih marah ketika kami berdua sudah menghitung sampai angka 5. Cara yang saya pergunakan ini berhasil meredam rasa marah, kesal dalam diri putri kami ini. Semoga dia bisa menerapkan cara yang sama ketika berhadapan dengan rasa kesal dan marah dan juga rasa yang lainnya.

Tata bahasa Inggris A memang belum sempurna dan saya berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya walaupun mungkin terkadang saya harus melihat lagi di buku tata bahasa yang saya punya atau bahkan di internet. Bahasa Inggris saya jauh dari sempurna namun Papanya A biasanya akan mengoreksi jika menemukan saya menggunakan kata atau tata bahasa yang tidak sesuai. Kalau dalam berbahasa Indonesia, saya berusaha berbicara dengan tata bahasa yang agak baku walaupun hal ini membuat keponakan saya yang bekerja di Swedia tertawa mendengarnya. Menurut dia, saya terdengar aneh ketika saya berbicara sesuai EYD dengan A dan semakin aneh lagi karena saya selalu menjelaskan panjang lebar dengan A dan menggunakan pengalaman masa kecil saya dulu sebagai pembanding. Entahlah, saya termasuk cerewet dan sangat senang berbicara dengan A, menceritakan pengalaman yang saya punya. Terus terang, saya tidak tahu apakah A menyerap semuanya namun sepertinya dia juga senang mendengarnya, karena bisa dipastikan dia akan duduk manis di pangkuan Mamanya atau berada di pelukan Mamanya ketika saya menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu.

Kami memang sudah sepakat akan menggunakan gabungan dari yang terbaik dari 2 kebudayaan yang berbeda, yang terbaik dari Bali, Indonesia dan yang terbaik dari Swedia. Sebagai orang tua yang mempunyai latar belakang berbeda, kami berusaha menselaraskan kedua kultur ini sehingga nantinya bisa berjalan dalam harmoni dan memberikan sumbangsih yang sama banyak porsinya ke dalam hidup putri kami. Mungkin sekarang porsi penggunaan bahasa Swedia akan lebih besar terutama saat A berada di sekolahnya 5 hari seminggu, namun saya yakin saya bisa memberikan stimulasi yang cukup buat A untuk bisa mempertahankan kemampuan bahasa Indonesia nya. Ini sebuah pekerjaan rumah buat saya, mencari cara bagaimana saya bisa tetap konsisten, menggali, mencoba dan selalu memperbaiki cara yang paling ampuh untuk bisa membantu A meningkatkan keterampilan A berbahasa Indonesia terutama penambahan kosa katanya. Ini sebuah tantangan yang saya tahu akan datang dan saya sudah siap akan hal itu.

Cerita singkat mengenai putri kami, sejujurnya masih banyak hal yang ingin saya tuangkan melalui tulisan. Nanti jika saya ada waktu lagi, saya akan ceritakan lagi tentang A, tentang saya dan P, sebagai orang tua dan sebagai sebuah team yang saling membantu satu sama lain, tentang satu keluarga kecil yang menorehkan kisah-kisah keseharian dalam kata-kata. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saya ingin A bisa menguasai bahasa Indonesia, karena secara pribadi saya berharap nantinya A bisa membaca dan mengerti apapun yang saya tuangkan dalam blog ini, siapa tahu A akan mengikuti jejak saya, belajar menuliskan kegiatannya dan menjadikan menulis itu sebuah kebutuhan. Semoga…

Stockholm, demaodyssey 07062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Indonesia, photography, Tentang A | Tagged , , , | 2 Comments

Piknik

Tanggal 6 Juni diperingati sebagai Hari Nasional Swedia dan perayaan besar-besaran ada di hampir setiap sudut kota. Kota Tua dan beberapa tempat lain seperti Skansen, Sigtuna akan mengadakan perayaan khusus yang bisa dinikmati tidak saja bagi warga yang tinggal di sekitar kota namun juga warga yang ada di luar kota. Akan terlihat betapa banyak orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu teman dan menghabiskan hari yang terangnya semakin lama. Hari ini, saya dan keluarga menghabiskan hari dengan beberapa teman baik yang juga membawa keluarga untuk menikmati hari yang sangat cerah.

Rencana semula kami akan berpiknik di Drottningholm yang merupakan istana musim panas keluarga kerajaan. Namun ternyata bukan kami saja yang memiliki keinginan yang sama. Parkiran di tempat wisata ini amat sangat penuh sehingga kami akhirnya memutuskan untuk berganti tempat di salat satu istana yang bernama Svartsjö yang kalau diterjemahkan secara harfiah berarti danau hitam. Sayangnya, saya lupa membawa kamera untuk mengabadikan istana ini padahal tempat ini memiliki taman yang indah dan dari tempat kami tadi, kami mendapatkan 2 pemandangan yaitu pemandangan air di sebelah kiri dan juga pemandangan istana yang tampah gagah di sebelah kanan kami.

Seperti biasa, canda tawa selalu menghiasi pertemuan kami dan tentu saja makanan Indonesia yang berlimpah ruah terhampar di hadapan kami. Karena tidak terlalu banyak orang yang datang siang tadi, maka anak-anak kami dengan bebas menjelajah lingkungan istana dan berlarian melatih motorik kasar dan halus mereka. Ini pertama kali kami menghabiskan waktu bersama-sama setelah saya dan A pulang kembali dari Indonesia, jadi banyak hal yang kami saling bagi dan bicarakan. Senang rasanya berbagi tawa dan informasi tentang banyak hal dan yang utama adalah anak-anak kami bisa saling mengenal dan bermain bersama.

Pulang ke rumah banyak hal yang saya harus persiapkan karena besok adalah hari pertama A kembali ke pre-cshool selain membereskan alat-alat yang kami pergunakan untuk piknik tadi. Sebenarnya ada banyak yang ingin diceritakan di sini namun ada tugas lain yang lebih penting yang harus saya kerjakan. (Mungkin) besok saya bisa mendapatkan waktu lebih lama lagi untuk menulis lebih panjang tentang beberapa hal. Satu hal yang penting adalah saya dan keluarga sangat menikmati piknik hari ini dan semoga di ke depannya kebersamaan ini bisa kami lakukan, minimal sekali dalam setahun. Ini bukan untuk kami saja, orang-orang dewasa, namun hal ini terlebih lagi buat anak-anak kami yang bisa mempererat tali pertemanan mereka seperti ibu dan bapaknya, ameeeen.

Stockholm, demaodyssey 06062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , | Leave a comment

Batik Bags

Batik is a technique that Indonesian uses to wax resist dyeing on a piece of cloth or material but Batik could also used for the cloth itself that made by this technique. Batik (cloth) is something that we use a lot in Indonesia in every day life or on special occasion. In Bali, you can see many Balinese wear Batik to go to the temple or doing our every day ceremony at home.

Nowadays, Batik is used for many different things for example dress, bags, souvenirs and many more. The result of using Batik as a basic material is amusing and every single thing of item is unique because it has different pattern even they made from the same cloth. I have couple of stuff that made from Batik, such as clothes, bags and some scarf and I love to use it for many different moments.

I have Batik bags that I would like to sell, not many but enough to test the market here in Sweden. Those Batik bags have different shapes and material, some of them are combination between Batik dan leather, and some of them are made from Batik and some artificial leather. Honestly, this would be the first time for me to test how is the market, the demand in Sweden. It would be interesting, new experience and new challenge which I’m sure that I could learn something from it.

Well, my plan is I would make new Instagram account that special to test the market with couple of things that I want to sell. I would give an update through my previous Instagram account @demaodyssey. I haven’t put price tag yet for these bags but if anyone of you interested in buying one of these (or any bag that I would put in my Instagram) you could contact me through this website or you could contact me in Instagram, so I could send some more picture and the price of each bag. Later on when the new Instagram account is done, you could see the description of every bag and the price tag too.

So… that’s it for today! I would continue the preparation for tomorrow picnic with some good friends to celebrate Swedish National Day. See you in the next post!

Stockholm, demaodyssey 05062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2017, photography | Tagged , , | Leave a comment

Kegiatan Hari Minggu dan Burung Turaco

Pagi tadi kegiatan diisi dengan mengajak A ke taman bermain di belakang rumah dan kebetulan di taman bermain ada pasir (kerikil kecil) yang bisa dimainkan A sebagai makanan kuda, makanan bebek dan bensin mobil. A memang sering menggunakan fantasinya untuk membuat cerita dimana dan kapan saja. Saya terkadang disuruh menjadi pembeli, peternak kuda, murid dan bahkan salah satu karakter dari kartun Peppa Pig atau Paw Patrol. Setelah lebih dari satu jam berada di luar, saya memutuskan untuk mengajak A pulang karena saya baru sadar kalau putri kami ini tidak memakai popok dan saya tidak membawa potty. Setelah sampai di rumah, A makan siang dengan sepupunya dan saya melanjutkan untuk membuang daun-daun kering dan beberapa ranting mawar dari hasil membersihkan taman beberapa hari yang lalu. Di daerah kami, daun kering dan ranting pohon bisa dibuang di tempat yang sudah disediakan yang berlokasi di hutan di belakang rumah kami. Hutan ini pula dimana saya biasa menggunakannya sebagai obyek foto dan juga mencari strawberry, raspberry dan blueberry liar yang banyak tumbuh di dalam hutan. Pre-school A juga sering menggunakan hutan ini sebagai tempat untuk berkegiatan seperti memperkenalkan berbagai macam pohon ataupun menggunakannya untuk melatih anak-anak bagaimana caranya bekerjasama dan menyelesaikan masalah dengan teman-teman dan guru mereka. Jadi hutan di dekat taman bermain ini fungsinya sangat banyak bagi kami dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Ketika saya menyiram tanaman dan rumput di bagian paling dekat dengan rumah yang kebetulan terlihat kering dan tidak tersentuh hujan, tercetus keinginan untuk mengisi kolam plastik A dengan air dan membiarkan putri tersayang ini berenang dan bermain air. Melihat Mamanya menyiapkan kolam kecil tersebut, saya bisa melihat binar bahagia di mata A. Tanpa disuruh pun dia mengambil bola dan beberapa boneka legonya untuk berenang bersama. Saya biarkan dia bermain air dan saya bercakap-cakap dengan seorang teman baik sambil tangan saya melanjutkan untuk memetik rumput liar dan bunga Dandelion yang ada di beberapa areal taman. Saya sudah pernah menceritakan tentang bunga kuning ini di salah satu post yang bisa dilihat di sini. Musim panas seperti biasa adalah musim dimana rumput cepat tumbuh dan tanaman liar akan bergembira menyembul di beberapa tanaman yang kami punya di kebun belakang. Minggu depan saya merencanakan untuk memberi minyak pada pagar kayu di bagian belakang dan bagian depan rumah karena matahari sepertinya akan menghilang lagi di balik awan hujan yang mendekati di daerah kami. Melihat Mamanya sudah selesai dengan urusan taman dan sedang minum the hijau, A memutuskan untuk berhenti berenang dan menyodorkan tangan mungilnya yang terlihat pucat karena sudah berada di dalam air lebih dari 2 jam. Setelah dikeringkan, A meminta jatahnya untuk menonton TV dan saya bisa menebak dia ingin menonton Paw Patrol dan Peppa Pig setelahnya. Putri kecil ini memang sedang tergila-gila dengan 2 kartun ini. Saya biarkan dia menonton kartun tersebut dan saya makan siang dengan sisa pizza yang kami beli kemarin untuk makan malam. Malam ini, kami akan memanggang daging dan beberapa sayuran untuk makan malam.

Setelah makan siang, saya duduk manis di depan laptop sambil melihat beberapa foto dan mata saya tertuju kepada foto burung Turaco yang saya temui di Eco Green Park dan bagi saya, burung ini memiliki keindahan tersendiri. Burung yang secara ekslusif bisa ditemukan di Afrika Selatan ini mempunyai jambul yang bagus dan ada beberapa jenis yang saya sempat abadikan saat kami berada di sana. Saya sudah pernah membagi pengalaman saya bertemu dengan Elang Jawa di blog post yang menceritakan kekaguman saya terhadap burung yang diidentikkan dengan lambang NKRI, Sang Garuda Pancasila. Post tersebut dan beberapa foto dari si burung yang gagah tersebut bisa dibaca dan dilihat di sini. Jadi saya memutuskan untuk berbagi foto lagi dan sambil menuntaskan keikutsertaan saya di acara #NulisRandom2017 yang bisa saya jadikan untuk melatih konsisten saya untuk menulis lagi.

Waktu saya yang hanya 30 menit sampai 1 jam hari ini sudah hampir selesai, pekerjaan selanjutnya sudah menunggu saya. Semoga saya bisa terus konsisten dan bisa menggunakan waktu seefisien mungkin untuk berbagi dan menulis lagi. Sampai jumpa di post berikutnya dan selamat menikmati hari Minggu yang hanya tersisa beberapa jam lagi.

Stockholm, demaodyssey 04062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, animal, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , , | Leave a comment