Makna dari Kata Melepaskan

Mengobrol sebentar dengan Kakak tertua yang tinggal di Malang, tidak bisa lama karena perbedaan waktu yang cukup panjang, yang di Malang sudah lewat tengah malam yang di Swedia masih menikmati makan malam. Obrolan kali ini menjelaskan kembali lagi tentang suatu kata dan maknanya, melepaskan.

Terkadang kita tidak mengerti tentang keputusan yang diambil orang lain yang menurut kita suatu langkah bunuh diri atau mengejar mimpi semu. Saat kita sudah memberikan pendapat kita, saat kita sudah memberikan pertolongan yang maksimal, saat niat baik kita diabaikan begitu saja, saat itulah kita harus belajar melepaskan. Mendalami arti kata tersebut walau kadang hati kita ikut teriris, namun itulah yang harus kita lakukan. Dengan melepaskan sesuatu setelah kita berjuang mempertahankan, belajar mengerti jalan hidup masing-masing orang adalah berbeda dan memberikan yang terbaik, bukan saja memberikan pembelajaran baru kepada orang tersebut namun juga pembelajaran kepada diri kita sendiri. Melepaskan bukan berarti tidak ada rasa sayang lagi, malah rasa sayang inilah dasar kita untuk berani melepaskan dan memberikan kesempatan orang tersebut menjalani karmanya, baik itu karma buruk atau karma baik, sekalipun orang tersebut adalah bagian dari diri kita. Jika kita sudah mengerahkan segala kemampuan kita kepada seseorang namun keadaan tidak berubah, kita hanya bisa berharap (mungkin) Tuhan punya rencana lain untuknya. Tuhan ingin orang itu belajar tentang satu hal, belajar tentang hal yang mungkin selama ini belum dia lalui dengan sebuah kelulusan. Masih harus berkubang dengan keadaan yang sama sampai tersadar dengan sendirinya dan berubah ke arah yang lebih baik.

Jika kita sudah melakukan karma yang menurut kita memang sudah seharusnya dilakukan, kita tidak punya kontrol lagi terhadap karma orang yang akan kita tolong. Seperti yang pernah saya sampaikan di tulisan sebelumnya yang bisa dibaca di sini, kita hidup di dunia ini membawa karma masing-masing. Kita bertanggungjawab hanya untuk karma yang kita perbuat dan bukan orang lain, karma kita adalah karma yang kita lakukan dan reaksi kita akan tindakan orang lain. Apa yang orang lain lakukan bukanlah di jangkauan kontrol kita. Sebagai manusia tentu saja kita berusaha untuk menolong dengan cara kita masing-masing namun kita punya keterbatasan, kita tidak selamanya bisa memberikan bantuan kepada orang tersebut, apalagi jika ada pertalian darah di sana. Kita tidak membicarakan tentang hilangnya sayang dan cinta di sini, namun tentang bagaimana kita menolong orang tersebut dengan cara yang (mungkin) agak berbeda dengan orang lain lakukan pada umunya. Seperti memberikan ikan kepada teman atau saudara yang kesusahan atau membutuhkan, apakah kita harus selamanya memberikan dan menyuapi dengan ikan? Menurut saya, kita bisa memberikan satu atau dua kali ikan kepadanya namun pertolongan yang lebih tepat adalah dengan memberikan pancing sehingga orang tersebut bisa menghidupi dirinya sendiri dan (mungkin) nantinya bisa menghidupi orang lain ketika sudah bisa berdiri di kaki sendiri. Mengapa?

Bagi saya, dengan selalu memberikan ikan itu berarti kita tidak memberikan pertolongan yang sesungguhnya. Malah kita melemahkan kemampuan orang tersebut dan kita membantu orang tersebut menjadi malas, tidak menjadi orang yang bisa bertahan dalam badai. Nafas yang ada pada kita ini adalah pinjaman, jika kita hanya menyuapi dengan ikan tanpa mengajari bagaimana menjadi seorang ’survivor’ bagaimana nasib orang tersebut jika kita menghadap Sang Pemilik Kehidupan? Apakah dia atau mereka harus mengikuti kita ke liang kubur padahal waktu mereka mungkin tidak sama dengan kita? Terus terang, saya tidak ingin memiliki andil di sebuah keputusasaan seseorang, yang saya inginkan adalah mempunyai andil dimana orang tersebut bisa bertahan dan menuliskan perjalanan hidupnya walaupun sulit sekalipun. Walaupun adakalanya keputusan memberikan pancing itu akan melukai hati saya, namun dengan pilihan tersebut saya tidak membohongi hati nurani saya. Masalah sakit dan luka di hati, itu sudah merupakan karma yang harus saya jalani, jadi itu tanggung jawab saya bagaimana saya bereaksi terhadap rasa sakit, saya yakin saya bisa menemukan cara berdamai dengan rasa sakit jika ada kemauan.

Mungkin teman-teman yang membaca ini akan melihat bahwa apa yang saya tuangkan di sini terdengar kejam, namun ini bagian dari berani menjadi melawan arus, berani berbeda sesuai dengan nilai dan prinsip hidup yang saya pegang. Jujur, membohongi hati nurani itu amat sangat tidak nyaman, karena kita akan dihantui rasa bersalah atau rasa-rasa yang lain yang terkadang mengganggu kita dalam tidur dan saat-saat yang tidak kita inginkan. Yang lebih parah lagi, rasa tersebut bisa datang kapan saja tanpa kita pernah kita tahu. Saya bisa berkata begini karena saya pernah mengalaminya, namun setelah saya belajar menguatkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya, saat itu saya terlepas dari belenggu sebuah kebohongan. Memang tidak mudah, namun bukan berarti hal itu mustahil dilakukan. Terkadang kita harus menoleh ke samping, mencari inspirasi akan kekuatan diri dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Setiap orang memiliki kemampuan masing-masing, bisa mencapai hal tertinggi dengan satu syarat, jika ada kemauan, kemauan dalam segala hal terutama mau untuk belajar, karena hidup adalah sebuah pembelajaran. Kita tidak akan pernah berhenti belajar bahkan dalam hal sederhana pun kita bisa memetik sebuah pelajaran, sekali lagi jika kita memiliki tekad, memiliki kemauan, memiliki kedahagaan akan sebuah ilmu baik untuk lahir dan bathin.

Kakak masih terlelap di belahan ujung dunia yang satunya dan di sini saya masih berkutat dengan pemikiran dan mencari celah untuk berteman dengan rasa sakit. Berharap yang terbaik, berharap bahwa pancing yang kami berikan itu bisa digunakan dan bukan diletakkan saja di pojok rumah. Sebuah harapan tentang satu perubahan ke arah yang lebih baik yang (mungkin) belum terlihat sebagai sebuah kebaikan. Mata bisa saja tertutup dan berbeda, satu orang melihat itu sebagai sebuah kebaikan sedangkan yang satunya melihat sebagai sesuatu yang tidak tepat. Tapi siapakah kita bisa menentukan mana yang paling benar? Tidak ada kebenaran yang sejati karena hanya perubahan lah yang abadi. Mungkin apa yang saya dan kakak anggap baik belum bisa terlihat sebagai sebuah jalan keluar, namun kami bertahan karena kami yakin inilah yang kami inginkan. Biarlah waktu yang nantinya membantu kami untuk melihat kehidupan manakah yang memberikan senyuman dan kehidupan mana yang memberikan sebuah kepalsuan, hal semu. Sebenarnya sudah bisa kami rasakan sendiri namun sekali lagi, ini keputusan kami untuk melepaskan, belajar melepaskan (lagi).

Dari pilihan melepaskan kami belajar ikhlas, belajar berbincang dengan rasa sakit dan tidak nyaman, menerima bahwa ini bagian dari karma. Ada rencana Tuhan yang kami tidak tahu dan tidak seorangpun tahu namun kami yakin ini yang terbaik dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang umatnya tidak bisa menyelesaikan. Ini hanya tentang waktu, kami hanya akan menjadi penonton kali ini tanpa beradu akting lagi di dalam sebuah pementasan. Sebuah mimpi bahwa panggung itu tidak roboh sebelum pentas selesai dimainkan, mimpi tentang sebuah akhir yang bisa membuat semuanya tersenyum dan mengerti sekali lagi tentang inilah karma yang selalu menyertai kita dalam setiap langkah yang kita ambil di perjalanan kali ini, di buku kehidupan yang kita bawa saat lahir yang bertuliskan kisah-kisah tentang pencarian sebuah keseimbangan.

Stockholm, demaodyssey 08062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , | Leave a comment

Putri Kecil Kami

Namanya Agnes, putri kecil kami yang sebentar lagi akan menginjak 3 tahun. Waktu serasa cepat sekali berlalu terutama saat melihat A yang tumbuh menjadi gadis kecil dengan kemampuan yang semakin terasah. Kami masih sering dibuat kaget dan kagum melihat betapa cepatnya A menyerap hal-hal di sekitarnya, baik itu kami ajarkan secara sengaja ataupun tidak. Gadis kecil yang sudah bisa memilih kegiatan yang disukainya namun masih bisa diajak bernegosiasi dan berdiskusi untuk melakukan hal lain yang ada di dalam skala prioritas. Putri yang yang mengajarkan banyak hal baik itu sebagai orang tua maupun sebagai individu, putri yang selalu mengingatkan kami akan nilai dan prinsip yang kami pegang dalam hidup dan yang ingin kami A belajar nantinya, sehingga suatu saat jika dia ingin memiliki nilai dan prinsip yang baru, dia punya bahan pembanding yang bisa dijadikan acuan.

Pulang dari 9 minggu menghabiskan waktu di Bali, kemampuan berbahasa Inggris A berkembang sangat pesat. Bahkan Papanya sendiri terkejut dan kagum, bagaimana 9 minggu itu bisa membuat putrinya berkomunikasi dengan lancar dengan bahasa Inggris yang sebelumnya A hanya bisa menyebutkan kalimat yang pendek-pendek. A bahkan menunjukkan ke Papanya kalau dia bisa mengarang suatu cerita bersamaan dengan tangan mungilnya memainkan beberapa figur lego. Kami, tentu saja bersyukur dengan perkembangan tersebut dan berusaha mempertahankan apa yang kami lakukan selama ini. Di rumah, kami menggunakan 3 bahasa. Saya menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara berdua dengan A, Papanya menggunakan bahasa Swedia dan jika kami bersama-sama, kami menggunakan bahasa Inggris. Saya dengan suami sendiri memang masih menggunakan bahasa Inggris karena saya ingin melatih terus kemampuan bahasa Inggris saya sehingga tidak hilang. Alasan yang mungkin untuk orang lain tidak masuk akal tapi bagi saya itu sangat masuk akal karena dulu saya pernah bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang saat mendapat beasiswa dan bekerja di Singapore tahun 2000-2001 tapi karena sudah tidak pernah terpakai lagi, jadinya saya lupa dan sedikit ingat akan huruf Hiragana dan Katakana. Maka dari itu saya tidak mau lagi kehilangan kemampuan untuk berbahasa Inggris dengan lancar.

Waktu di Bali kemarin, bahkan ketika kakak dan keluarga menggunakan bahasa Bali, A sepertinya mengerti namun menjawabnya dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kami sebagai orang tua berharap A akan bisa setidaknya 2 bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Swedia. Kalau nantinya dia bisa bahasa Inggris dan bahasa Bali, itu adalah bonus. Kenapa saya sepertinya bersikeras agar A bisa bahasa Indonesia? Alasannya adalah, saya ingin A bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Bali. Alasan lain adalah saya ingin A mencintai akar Mamanya seperti A mencintai akar Papanya, karena bagaimanapun A adalah anak yang mempunyai 2 kebudayaan yang sama unik dan indahnya. Hanya dengan bahasa Indonesia, A akan bisa belajar, menyelami dan memperkuat ikatannya kepada Indonesia baik itu dalam hal kulturnya, tradisi, kekayaan alam dan semua hal tentang Indonesia. Kami ingin A mengerti bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain, Indonesia adalah negeri yang mengagumkan dan hebat dan memiliki keunikan yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Dalam lingkup kecil, sebagai orang tua, P dan saya ingin A mengerti tata krama dan adat istiadat Bali, tanah kelahiran Mamanya, karena nantinya A akan berhadapan dengan anggota keluarga dari pihak Ninik dan Kakiangnya yang tentu saja memiliki pandangan dan tata krama yang berbeda walaupun keduanya adalah orang Bali.

Bagi kami, bahasa adalah salah satu dari beberapa hal penting yang harus A kuasai karena kami tidak mau ketika A pulang ke Bali, dia akan merasa seperti orang luar dan bukan bagian dari keluarga. Kami (terutama saya) mungkin bisa dibilang agak keras kalau dalam satu hal ini, karena saya pernah merasakan bagaimana rasanya tidak bisa mengikuti secara utuh ketika pertama kali bertemu dengan anggota keluarga dari pihak suami ketika mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Swedia. Mereka sebenarnya baik dan selalu menyediakan waktu bagi P untuk menterjemahkan apa yang mereka bicarakan, namun saya merasa seperti orang luar dan merasakan bahwa saya memperlambat alur percakapan tersebut. Sejak kejadian itu saya bertekad berusaha sebaik mungkin belajar bahasa Swedia dan tidak merepotkan P dan anggota keluarga yang lain. Pengalaman itu pula yang membuat saya berkerja keras untuk mengajarkan A untuk bis aberbahasa Indonesia walaupun saya sadar dan tahu tantangan apa yang ada di hadapan saya, namun saya sudah siap.

Bahasa Indonesia A tidak berkembang seperti bahasa Inggris nya, hal ini sempat membuat kami heran. Tapi saya belum menyerah, saya hanya perlu melanjutkan apa yang saya sudah lakukan sebelumnya. Saat ini A terkadang masih berbicara dalam bahasa Inggris kepada saya, seperti minggu lalu ketika A mengajukan pertanyaan ’mengapa’ untuk pertama kalinya.

”Mama, why Papa has to work?”

”Maksud Agnes, why does Papa have to work? Mengapa Papa harus bekerja? Work bahasa Indonesianya kerja (saya berusaha menterjemahkan langsung kepada A kata-kata yang dia ucapkan dalam bahasa lain selain bahasa Indonesia). Papa bekerja karena kita perlu uang untuk makan, untuk beli baju, buku dan lain-lain. Seperti waktu kita pergi liburan ke bali, naik pesawat, terus waktu Agnes main dan ketemu sama Maming, Mbok Ayes, Om Alit, biang Ira dan semua kakak-kakak di Bali dan Malang, itu uangnya hasil Papa kerja. Agnes ingat saat beli kue waktu Mama ulang tahun? Itu juga dari Papa. Nanti bulan Agustus, Mama juga harus bekerja dan Agnes sekolah agak lama, tidak apa-apa kan?!”

”Mama tidak kerja, Mama sekolah”

”Dulu Mama sekolah tapi kan sudah selesai sebelum kita pergi ke Bali. Setelah selesai sekolah, Mama bekerja sama seperti Papa.”

”Hmmm, oke Mama.”

Ada rasa yang tidak bisa saya ungkapkan ketika pertama kali A menggunakan kata ’mengapa’ yang membuat saya tersenyum, mengelus kepala putri kami dan memberikannya ciuman sayang. Putri saya sudah semakin besar, sudah bisa diajak berkomunikasi, bercerita dan mengenang masa-masa kecil saya setiap malam. Seperti anak kecil lainnya, A juga terkadang keras kepala dan berteriak jika keinginannya tidak dipenuhi, namun hal itu biasanya tidak berlangsung lama karena A akan duduk di pangkuan saya untuk mendengarkan penjelasan Mamanya yang panjang kali lebar. Jika A sedih dan menangis, biasanya saya akan menjelaskan bahwa saya juga pernah kesal dan menangis seperti dia waktu saya kecil. Saya biasanya berbicara dengan A dan memberitahukan bahwa saya juga pernah berada di posisi yang sama, dan menceritakan bagaimana sebaiknya kalau kita kesal atau sedih atau marah. Seperti contohnya kalau marah, saya akan ajak A untuk berhitung 1 sampai 10 perlahan-lahan dan menanyakan apakah A masih marah ketika kami berdua sudah menghitung sampai angka 5. Cara yang saya pergunakan ini berhasil meredam rasa marah, kesal dalam diri putri kami ini. Semoga dia bisa menerapkan cara yang sama ketika berhadapan dengan rasa kesal dan marah dan juga rasa yang lainnya.

Tata bahasa Inggris A memang belum sempurna dan saya berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya walaupun mungkin terkadang saya harus melihat lagi di buku tata bahasa yang saya punya atau bahkan di internet. Bahasa Inggris saya jauh dari sempurna namun Papanya A biasanya akan mengoreksi jika menemukan saya menggunakan kata atau tata bahasa yang tidak sesuai. Kalau dalam berbahasa Indonesia, saya berusaha berbicara dengan tata bahasa yang agak baku walaupun hal ini membuat keponakan saya yang bekerja di Swedia tertawa mendengarnya. Menurut dia, saya terdengar aneh ketika saya berbicara sesuai EYD dengan A dan semakin aneh lagi karena saya selalu menjelaskan panjang lebar dengan A dan menggunakan pengalaman masa kecil saya dulu sebagai pembanding. Entahlah, saya termasuk cerewet dan sangat senang berbicara dengan A, menceritakan pengalaman yang saya punya. Terus terang, saya tidak tahu apakah A menyerap semuanya namun sepertinya dia juga senang mendengarnya, karena bisa dipastikan dia akan duduk manis di pangkuan Mamanya atau berada di pelukan Mamanya ketika saya menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu.

Kami memang sudah sepakat akan menggunakan gabungan dari yang terbaik dari 2 kebudayaan yang berbeda, yang terbaik dari Bali, Indonesia dan yang terbaik dari Swedia. Sebagai orang tua yang mempunyai latar belakang berbeda, kami berusaha menselaraskan kedua kultur ini sehingga nantinya bisa berjalan dalam harmoni dan memberikan sumbangsih yang sama banyak porsinya ke dalam hidup putri kami. Mungkin sekarang porsi penggunaan bahasa Swedia akan lebih besar terutama saat A berada di sekolahnya 5 hari seminggu, namun saya yakin saya bisa memberikan stimulasi yang cukup buat A untuk bisa mempertahankan kemampuan bahasa Indonesia nya. Ini sebuah pekerjaan rumah buat saya, mencari cara bagaimana saya bisa tetap konsisten, menggali, mencoba dan selalu memperbaiki cara yang paling ampuh untuk bisa membantu A meningkatkan keterampilan A berbahasa Indonesia terutama penambahan kosa katanya. Ini sebuah tantangan yang saya tahu akan datang dan saya sudah siap akan hal itu.

Cerita singkat mengenai putri kami, sejujurnya masih banyak hal yang ingin saya tuangkan melalui tulisan. Nanti jika saya ada waktu lagi, saya akan ceritakan lagi tentang A, tentang saya dan P, sebagai orang tua dan sebagai sebuah team yang saling membantu satu sama lain, tentang satu keluarga kecil yang menorehkan kisah-kisah keseharian dalam kata-kata. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saya ingin A bisa menguasai bahasa Indonesia, karena secara pribadi saya berharap nantinya A bisa membaca dan mengerti apapun yang saya tuangkan dalam blog ini, siapa tahu A akan mengikuti jejak saya, belajar menuliskan kegiatannya dan menjadikan menulis itu sebuah kebutuhan. Semoga…

Stockholm, demaodyssey 07062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Indonesia, photography, Tentang A | Tagged , , , | 2 Comments

Piknik

Tanggal 6 Juni diperingati sebagai Hari Nasional Swedia dan perayaan besar-besaran ada di hampir setiap sudut kota. Kota Tua dan beberapa tempat lain seperti Skansen, Sigtuna akan mengadakan perayaan khusus yang bisa dinikmati tidak saja bagi warga yang tinggal di sekitar kota namun juga warga yang ada di luar kota. Akan terlihat betapa banyak orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu teman dan menghabiskan hari yang terangnya semakin lama. Hari ini, saya dan keluarga menghabiskan hari dengan beberapa teman baik yang juga membawa keluarga untuk menikmati hari yang sangat cerah.

Rencana semula kami akan berpiknik di Drottningholm yang merupakan istana musim panas keluarga kerajaan. Namun ternyata bukan kami saja yang memiliki keinginan yang sama. Parkiran di tempat wisata ini amat sangat penuh sehingga kami akhirnya memutuskan untuk berganti tempat di salat satu istana yang bernama Svartsjö yang kalau diterjemahkan secara harfiah berarti danau hitam. Sayangnya, saya lupa membawa kamera untuk mengabadikan istana ini padahal tempat ini memiliki taman yang indah dan dari tempat kami tadi, kami mendapatkan 2 pemandangan yaitu pemandangan air di sebelah kiri dan juga pemandangan istana yang tampah gagah di sebelah kanan kami.

Seperti biasa, canda tawa selalu menghiasi pertemuan kami dan tentu saja makanan Indonesia yang berlimpah ruah terhampar di hadapan kami. Karena tidak terlalu banyak orang yang datang siang tadi, maka anak-anak kami dengan bebas menjelajah lingkungan istana dan berlarian melatih motorik kasar dan halus mereka. Ini pertama kali kami menghabiskan waktu bersama-sama setelah saya dan A pulang kembali dari Indonesia, jadi banyak hal yang kami saling bagi dan bicarakan. Senang rasanya berbagi tawa dan informasi tentang banyak hal dan yang utama adalah anak-anak kami bisa saling mengenal dan bermain bersama.

Pulang ke rumah banyak hal yang saya harus persiapkan karena besok adalah hari pertama A kembali ke pre-cshool selain membereskan alat-alat yang kami pergunakan untuk piknik tadi. Sebenarnya ada banyak yang ingin diceritakan di sini namun ada tugas lain yang lebih penting yang harus saya kerjakan. (Mungkin) besok saya bisa mendapatkan waktu lebih lama lagi untuk menulis lebih panjang tentang beberapa hal. Satu hal yang penting adalah saya dan keluarga sangat menikmati piknik hari ini dan semoga di ke depannya kebersamaan ini bisa kami lakukan, minimal sekali dalam setahun. Ini bukan untuk kami saja, orang-orang dewasa, namun hal ini terlebih lagi buat anak-anak kami yang bisa mempererat tali pertemanan mereka seperti ibu dan bapaknya, ameeeen.

Stockholm, demaodyssey 06062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , | Leave a comment

Batik Bags

Batik is a technique that Indonesian uses to wax resist dyeing on a piece of cloth or material but Batik could also used for the cloth itself that made by this technique. Batik (cloth) is something that we use a lot in Indonesia in every day life or on special occasion. In Bali, you can see many Balinese wear Batik to go to the temple or doing our every day ceremony at home.

Nowadays, Batik is used for many different things for example dress, bags, souvenirs and many more. The result of using Batik as a basic material is amusing and every single thing of item is unique because it has different pattern even they made from the same cloth. I have couple of stuff that made from Batik, such as clothes, bags and some scarf and I love to use it for many different moments.

I have Batik bags that I would like to sell, not many but enough to test the market here in Sweden. Those Batik bags have different shapes and material, some of them are combination between Batik dan leather, and some of them are made from Batik and some artificial leather. Honestly, this would be the first time for me to test how is the market, the demand in Sweden. It would be interesting, new experience and new challenge which I’m sure that I could learn something from it.

Well, my plan is I would make new Instagram account that special to test the market with couple of things that I want to sell. I would give an update through my previous Instagram account @demaodyssey. I haven’t put price tag yet for these bags but if anyone of you interested in buying one of these (or any bag that I would put in my Instagram) you could contact me through this website or you could contact me in Instagram, so I could send some more picture and the price of each bag. Later on when the new Instagram account is done, you could see the description of every bag and the price tag too.

So… that’s it for today! I would continue the preparation for tomorrow picnic with some good friends to celebrate Swedish National Day. See you in the next post!

Stockholm, demaodyssey 05062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, Jejak 2017, photography | Tagged , , | Leave a comment

Kegiatan Hari Minggu dan Burung Turaco

Pagi tadi kegiatan diisi dengan mengajak A ke taman bermain di belakang rumah dan kebetulan di taman bermain ada pasir (kerikil kecil) yang bisa dimainkan A sebagai makanan kuda, makanan bebek dan bensin mobil. A memang sering menggunakan fantasinya untuk membuat cerita dimana dan kapan saja. Saya terkadang disuruh menjadi pembeli, peternak kuda, murid dan bahkan salah satu karakter dari kartun Peppa Pig atau Paw Patrol. Setelah lebih dari satu jam berada di luar, saya memutuskan untuk mengajak A pulang karena saya baru sadar kalau putri kami ini tidak memakai popok dan saya tidak membawa potty. Setelah sampai di rumah, A makan siang dengan sepupunya dan saya melanjutkan untuk membuang daun-daun kering dan beberapa ranting mawar dari hasil membersihkan taman beberapa hari yang lalu. Di daerah kami, daun kering dan ranting pohon bisa dibuang di tempat yang sudah disediakan yang berlokasi di hutan di belakang rumah kami. Hutan ini pula dimana saya biasa menggunakannya sebagai obyek foto dan juga mencari strawberry, raspberry dan blueberry liar yang banyak tumbuh di dalam hutan. Pre-school A juga sering menggunakan hutan ini sebagai tempat untuk berkegiatan seperti memperkenalkan berbagai macam pohon ataupun menggunakannya untuk melatih anak-anak bagaimana caranya bekerjasama dan menyelesaikan masalah dengan teman-teman dan guru mereka. Jadi hutan di dekat taman bermain ini fungsinya sangat banyak bagi kami dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Ketika saya menyiram tanaman dan rumput di bagian paling dekat dengan rumah yang kebetulan terlihat kering dan tidak tersentuh hujan, tercetus keinginan untuk mengisi kolam plastik A dengan air dan membiarkan putri tersayang ini berenang dan bermain air. Melihat Mamanya menyiapkan kolam kecil tersebut, saya bisa melihat binar bahagia di mata A. Tanpa disuruh pun dia mengambil bola dan beberapa boneka legonya untuk berenang bersama. Saya biarkan dia bermain air dan saya bercakap-cakap dengan seorang teman baik sambil tangan saya melanjutkan untuk memetik rumput liar dan bunga Dandelion yang ada di beberapa areal taman. Saya sudah pernah menceritakan tentang bunga kuning ini di salah satu post yang bisa dilihat di sini. Musim panas seperti biasa adalah musim dimana rumput cepat tumbuh dan tanaman liar akan bergembira menyembul di beberapa tanaman yang kami punya di kebun belakang. Minggu depan saya merencanakan untuk memberi minyak pada pagar kayu di bagian belakang dan bagian depan rumah karena matahari sepertinya akan menghilang lagi di balik awan hujan yang mendekati di daerah kami. Melihat Mamanya sudah selesai dengan urusan taman dan sedang minum the hijau, A memutuskan untuk berhenti berenang dan menyodorkan tangan mungilnya yang terlihat pucat karena sudah berada di dalam air lebih dari 2 jam. Setelah dikeringkan, A meminta jatahnya untuk menonton TV dan saya bisa menebak dia ingin menonton Paw Patrol dan Peppa Pig setelahnya. Putri kecil ini memang sedang tergila-gila dengan 2 kartun ini. Saya biarkan dia menonton kartun tersebut dan saya makan siang dengan sisa pizza yang kami beli kemarin untuk makan malam. Malam ini, kami akan memanggang daging dan beberapa sayuran untuk makan malam.

Setelah makan siang, saya duduk manis di depan laptop sambil melihat beberapa foto dan mata saya tertuju kepada foto burung Turaco yang saya temui di Eco Green Park dan bagi saya, burung ini memiliki keindahan tersendiri. Burung yang secara ekslusif bisa ditemukan di Afrika Selatan ini mempunyai jambul yang bagus dan ada beberapa jenis yang saya sempat abadikan saat kami berada di sana. Saya sudah pernah membagi pengalaman saya bertemu dengan Elang Jawa di blog post yang menceritakan kekaguman saya terhadap burung yang diidentikkan dengan lambang NKRI, Sang Garuda Pancasila. Post tersebut dan beberapa foto dari si burung yang gagah tersebut bisa dibaca dan dilihat di sini. Jadi saya memutuskan untuk berbagi foto lagi dan sambil menuntaskan keikutsertaan saya di acara #NulisRandom2017 yang bisa saya jadikan untuk melatih konsisten saya untuk menulis lagi.

Waktu saya yang hanya 30 menit sampai 1 jam hari ini sudah hampir selesai, pekerjaan selanjutnya sudah menunggu saya. Semoga saya bisa terus konsisten dan bisa menggunakan waktu seefisien mungkin untuk berbagi dan menulis lagi. Sampai jumpa di post berikutnya dan selamat menikmati hari Minggu yang hanya tersisa beberapa jam lagi.

Stockholm, demaodyssey 04062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, animal, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Berbagi dengan Seorang Teman

”Den, boleh tanya ga?”

”Boleh, mau tanya apa?”

”Kamu pernah merasa takut ga untuk jadi berbeda?”

”Tidak, saya tidak pernah takut untuk berbeda.”

”Kenapa? Apa alasannya kamu tidak takut?”

”Begini, saya menyukai perbedaan karena perbedaan itu lah yang membuat hidup ini lebih berwarna, menurut saya perbedaan itu indah. Hidup adalah sebuah pembelajaran, dalam hidup kita harus selalu belajar dan dari perbedaan yang ada itulah saya banyak belajar tentang hidup itu sendiri, tentang bagaimana menggali potensi, bakat dan kemampuan yang saya punya, tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Contohnya begini, saya dan P berbeda. Kami dibesarkan dengan kultur yang sangat berbeda, tapi dari perbedaan itu kami saling belajar satu sama lain. Belajar menghargai, menghormati, kompromi dan beradaptasi. Kami mulai dari 2 titik yang berbeda dan dari perbedaan yang kami punya, kami berusaha berjalan bersama-sama untuk mencapai titik dimana kami berdua merasa nyaman, aman dan bisa berbagi apa saja dan menua bersama. Saya yakin, saya dipertemukan dan disatukan dengan P oleh Tuhan juga karena perbedaan tersebut, karena seperti yang sudah saya katakan, dari perbedaan tersebut kami belajar dan bathin kami menjadi kaya. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya tidak punya perbedaan dan 100 persen sama dengan suami saya, saya yakin kami tidak akan bisa belajar dari satu sama lain. Kehidupan kami (mungkin) akan membosankan dan kami akan merasa lelah dengan persamaan di setiap titik kehidupan.

Setiap manusia dilahirkan berbeda, bahkan anak kembar sekalipun tidak pernah saya dengar memiliki kesamaan 100 persen lahir dan bathin. Ini juga yang meyakinkan dan membuat saya mengerti bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah perbedaan. Kamu bisa bayangkan seandainya pelangi itu hanya memiliki satu warna, apakah kamu masih menganggapnya seindah ketika pelangi memiliki 7 warna? Kalau saya, saya lebih memilih pelangi memiliki 7 warna.

Menurut saya, yang paling penting dalam menghadapi sebuah perbedaan adalah bagaimana kita menyatukan perbedaan tersebut dalam harmoni dan menggunakannya sebagai dasar untuk memperkaya diri kita secara bathin. Sayang rasanya jika kebhinekaan itu dianggap sebagai sebuah masalah dan dipandang dari sisi negatif, padahal lebih banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari sebuah kebhinekaan. Kalau ada sisi positif, mengapa kita harus memilih sisi negatif? Tapi sekali lagi, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Kita memiliki pilihan dalam hidup, kamu menanyakan pandangan saya tentang perbedaan, ini jawaban yang saya punya.”

”Tapi apakah kamu akan tetap memilih berbeda ketika pilihanmu itu dijadikan sebagai dasar untuk menghinamu, menjauhimu dan tidak mengakuimu sebagai bagian dari sebuah kelompok?”

”Saya hidup bukan untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Hidup saya adalah untuk belajar dan membayar karma dengan menjalankan nilai-nilai dan prinsip hidup yang saya (dan suami saya) punya dan berusaha untuk tidak merugikan orang lain sama sekali. Kami tidak memaksakan orang lain untuk memiliki dan menggunakan nilai dan prinsip tersebut di dalam kehidupan mereka. Jika mereka ingin menjadikannya sebagai pembanding dengan prinsip dan nilai yang mereka pakai, ya silahkan saja. Kami tidak pernah takut dikucilkan karena perbedaan yang kami punya karena kami yakin di luar sana ada banyak orang yang juga menghargai dan menghormati sebuah perbedaan. Bagi saya, alangkah tidak nyaman hidup saya jika saya selalu menginginkan pengakuan dari orang lain karena saya tidak akan bisa menjadi diri sendiri dan akan selalu membandingkan diri saya dengan orang lain. Saya tidak akan bisa bebas tanpa rasa takut untuk melakukan apa yang saya sukai, mencari kedamaian diri dan kepuasan bathin dengan melakukan hal-hal yang (mungkin) berbeda dengan yang lain lakukan. Kalau saya karena perbedaan saya tidak diterima sebagai bagian dari sebuah kelompok, saya akan bilang ’It’s completely fine for me’ karena lebih baik saya sendiri namun saya tidak membohongi hati nurani saya dan merendahkan nilai-nilai dan prinsip hidup kami, daripada saya menjadi bagian dari sebuah kelompok dengan perasaan tertekan dan tidak nyaman. Pengakuan orang lain tidak bisa saya jadikan sebagai bagian dari pertanggungjawaban saat saya menghadap Tuhan, namun tingkah laku dan perbuatan sayalah yang bisa saya masukkan dalam pertanggungjawaban tersebut. Karma, apakah saya sudah berbuat baik, apakah saya berbuat buruk, apakah saya sudah mencapai keseimbangan dari karma itu sendiri ataukah saya masih harus belajar lagi, menebus lagi dan membayar karma yang saya buat sebelumnya. Seperti kata pepatah, apa yang orang lain lakukan terhadap kita, itu adalah karma mereka, namun bagaimana kita bereaksi adalah karma kita. Di sini kita dihadapkan pada sebuah pilihan lagi, apakah kita bereaksi negatif, netral atau positif? Itu diserahkan ke masing-masing individu. Karma tidak mengenal agama, karma tidak mengenal suku dan ras, karma akan menghidangkan apa yang pantas kita dapatkan. Biarkan saja orang menghina kita, biarkan saja orang menjauhi kita, seiring waktu akan terlihat dan terbuka dengan jelas karakter seseorang. Pengakuan orang lain hanya akan membelenggu kita sehingga kita tidak bisa mengepakkan sayap kita untuk menjelajah bumi dan langit, menggali potensi dan kemampuan kita, memahami bakat yang sudah Tuhan berikan sejak kita lahir ke dunia. Melepaskan diri dari pengakuan orang lain bisa kita jadikan suatu pijakan untuk berdamai dengan diri dan akhirnya selesai dengan diri sendiri dimana kita akan menemukan hakikat hidup itu sendiri.

Namun tentu saja sebagai manusia biasa, terkadang amarah masih ada dan sulit dikontrol. Ini tugas kita untuk belajar, belajar dan belajar lagi bagaimana mengontrol dan mengendalikan amarah kita sehingga kita tidak membuat karma buruk lagi karena reaksi kita tersebut. Maksudnya begini, sebagai manusia tentu saja akan ada banyak kemungkinan kita marah jika kita ditindas, namun bagaimana caranya mengurangi kemarahan tersebut yang mungkin harusnya 2 hari menjadi hanya 2 jam dan selanjutnya menjadi hanya 2 menit saja. Tentu saja tidak mudah, saya juga terkadang belum bisa mengontrol dengan baik tapi saya terus belajar dan berlatih sehingga saya bisa mencapai titik dimana saya bisa mencapai standar kontrol yang saya inginkan. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang, namun jika saya sudah menjalankan nilai-nilai dan prinsip hidup saya (kami) dengan baik, saya menyerahkan penilaiannya kepada karma dan saya akan bersyukur jika diijinkan untuk memperbaiki setiap kesalahan yang saya lakukan.”

”Aku tahu kamu banyak tidak disukai orang dan bahkan ada beberapa orang yang saya tahu bisa dikatakan membencimu. Bagaimana bisa kamu bisa kuat dan menjalani apa yang mereka buat atau katakan dan tetap memegang nilai-nilai dan prinsip hidup kalian? Bagaimana bisa kamu bisa bersabar dan tetap menjadi berbeda?”

”P pernah mengatakan kalau istrinya ini unik, karena menurut suami tersayang, saya ini tidak 100 persen orang Bali, Indonesia dan tidak juga 100 persen orang Swedia (walaupun paspor saya sudah berubah warna), P bilang saya berada di tengah-tengah. Saya terus terang tersenyum bangga karena saya merasa saya bisa menggabungkan yang terbaik dari 2 kultur yang berbeda, tentu saja ini hal-hal tersebut adalah hal-hal yang sesuai dengan nilai dan prinsip hidup kami. Keunikan ini juga yang terkadang membuat saya terbuang dari sebuah kelompok, karena mereka pikir saya terlalu melawan arus. Seperti saya sudah bilang sebelumnya, saya tidak terlalu peduli apa penilaian orang kepada saya selama saya tidak merugikan mereka. Saya memilih untuk menggunakan waktu saya untuk menggali potensi diri dan bakat yang (mungkin) terpendam dan belum saya temukan daripada saya memikirkan mengapa orang-orang membenci saya. Kalau mereka memilih untuk membenci saya, itu karma mereka dan saya tidak memiliki hak untuk mengatur dan mencampuri keputusan mereka tersebut.

Saya bisa kuat begini karena saya memiliki keluarga yang sama-sama memegang teguh nilai dan prinsip hidup yang kami punya, saya juga kuat karena saya memiliki teman yang mempunyai nilai dan prinsip yang berbeda namun bisa diselaraskan dengan apa yang kami punya. Saya bisa kuat karena dilingkari oleh orang-orang yang bisa saya ajak untuk terus belajar saling menghargai, menghormati dan belajar tentang banyak hal dalam hidup dengan melihat sisi positif sebuah perbedaan. Kekuatan dan kesabaran ini juga saya dapatkan ketika saya melakukan perjalanan ke beberapa Pura yang ada di Bali dan Jawa, terlebih saat saya dan A berlibur selama 9 minggu di awal tahun ini. Perjalanan mendaki ke Pura Lempuyang Luhur memberikan saya banyak pelajaran bagaimana hidup itu harus dijalankan dan memberikan saya kesempatan untuk merenungkan banyak hal. Nanti lah kalau sudah ada waktu, saya akan cerita perjalanan spiritual saya menaiki 1700 tangga untuk mencapai puncak. Saya sebagai pribadi jauh dari sempurna, ada ratusan bahkan ribuan aspek dalam hidup yang harus saya pelajari, dan saya dengan berbagi saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang hidup, tentang orang lain, tentang diri saya dan tentang segala hal. Saya masih manusia biasa yang melakukan kesalahan, saya pernah marah, kecewa dan mengumbar kata-kata yang mungkin menyakiti orang lain baik itu sengaja maupun tidak, namun saya belajar memperbaikinya. Saya mungkin masih sulit melupakan perlakuan beberapa orang yang pernah menyakiti saya, namun saya bisa katakan saya memaafkan mereka dan saya berharap mereka, orang-orang yang pernah saya sakiti juga memaafkan saya. Belajar melupakan juga satu hal yang harus saya pelajari karena saya menyadari bahwa kepala saya tidak akan bisa menampung ilmu yang baru jika masih ada beban dan hal-hal yang sudah tidak relevan dengan babak kehidupan yang sekarang saya jalani. Mengosongkan kepala itu perlu sesekali untuk menyediakan tempat untuk pemikiran baru, untuk ilmu baru yang bisa kita gunakan sebagai dasar untuk melangkah lagi.

Sekali lagi, jangan pernah takut berbeda karena perbedaan itu indah, perbedaan itu sarat dengan pelajaran-pelajaran yang bisa kita petik, perbedaan itu memiliki banyak sisi positif yang bisa kita gunakan dalam hidup dengan manusia lain di bumi ini dan perbedaan itu bisa kita jadikan sebagai acuan untuk belajar dan melatih diri untuk menjadi lebih baik lagi. Saya juga masih belajar, mari sama-sama belajar dan mengingatkan, jika saya salah katakan salah sehingga saya memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan tersebut. Saya lebih baik ditegur jika melakukan kesalahan daripada didiamkan saja karena bagi saya teguran tersebut adalah tanda sayang dari orang lain yang ingin saya belajar dan tumbuh. Entahlah, saya merasa jika saya melakukan sesuatu yang tidak benar dan didiamkan begitu saja, itu bagi saya adalah orang tersebut sudah tidak peduli tentang saya. Jadi jika saya masih kamu anggap sebagai teman, tegurlah saya jika saya berbuat salah atau melewati batas tanpa saya sadari dan saya akan lakukan hal yang sama karena kamu adalah teman saya dan saya peduli sama kamu.”

”Will do Den, terima kasih sudah berbagi.”

”Terima kasih kembali, sudah mengijinkan saya berbagi.”

Percakapan kami usai karena waktu sudah mengingatkan kami bahwa ada kewajiban yang harus kami lakukan untuk orang-orang tersayang dengan janji jika ada waktu luang yang lain, kami akan berbagi lagi tentang hal-hal lain, tentang hidup, tentang segala hal. Aaaahhhh…indahnya berbagi!

Stockholm, demaodyssey 03062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, photography, thought | Tagged , , , | 1 Comment

Bertemu dengan Si Elang Jawa

Saya tidak pernah bermimpi untuk bertemu dengan si burung Elang Jawa yang dulu pernah saya baca diidentikkan dengan Burung Garuda Pancasila, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti mendapat durian runtuh ketika saya mendapatkan kesempatan tersebut tanpa sengaja.

Pulang berlibur kemarin saya sempatkan untuk mengunjungi kakak pertama saya yang berdomisili di Malang, Jawa Timur. Selain untuk memberikan A kesempatan untuk bertemu dan bermain dengan sepupunya yang kebetulan tidak bisa pulang ke Bali saat kami menghabiskan waktu berlibur kami, dikarenakan pada saat itu tidak ada libur sekolah, saya juga sudah berniat untuk sembahyang ke beberapa Pura yang ada di daerah tersebut. Dalam kesempatan ini, hanya 2 Pura yang bisa saya datangi dan melakukan upacara persembahyangan. Kedua Pura tersebut yaitu Pura Luhur Dwijawarsa yang letaknya di daerah Sawojajar dan Pura Luhur Giri Arjuno yang letaknya di daerah Batu.

Kami sempat berlibur bersama saat akhir pekan tiba dan memutuskan untuk datang ke Eco Green Park, tempat wisata terbaru di Malang. Terus terang saya tidak mempunyai harapan apapun sebelum ke sana dan mengira tempat wisata ini akan menyerupai tempat-tempat wisata yang lainnya seperti Jatim Park 1 dan 2. Namun ternyata saya salah. Banyak sekali yang bisa dilihat dan dipelajari di sini, mungkin jika saya memiliki waktu luang akan saya buat blog post tersendiri mengenai tempat wisata ini yang menurut saya sangat spesial. Kenapa begitu berkesan? Karena di tempat inilah saya berkenalan dan melihat langsung si Elang Jawa, burung yang memiliki ciri dan tubuh mirip dengan burung Garuda yang menjadi lambang NKRI.

Saya sempat terkesima dan tidak percaya ketika petugas mengatakan bahwa di dalam sangkar yang dibuat mendekati habitat asli para burung Elang tersebut, ada sepasang burung Elang Jawa, si burung Garuda (menirukan Mas petugas yang menjaga sangkar tersebut). Bergegas dan berharap bahwa si Elang Jawa akan berada cukup dengan saya sehingga saya bisa mengabadikannya dengan kamera. Saya beruntung karena si Elang Jawa yang berjenis kelamin betina terbang mendekati jalan dimana saya berdiri dan berusaha mencari dimana si Elang yang perkasa ini. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya bidikkan kamera saya beberapa kali ketika Elang tersebut bertengker di sebatang kayu yang ada di sebelah kanan saya. Sepertinya si Elang tahu kalau saya mengaguminya, karena dengan gagahnya burung cantik ini berpose dan memperlihatkan betapa dia pantas untuk diidentikkan dengan lambang NKRI tercinta. Melalui lensa kamera saya menikmati keindahan burung Elang ini dan selalu berdecak kagum menyaksikan setiap gerakan burung ini. Saya bagaikan anak kecil berada di sebuah toko mainan dan diperbolehkan memilih mainan apa saja yang ingin saya ambil. Masih bermimpi rasanya berada cukup dekat dengan si Elang Jawa.

Elang Jawa yang terkenal dengan nama Javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi) adalah spesies asli pulau Jawa. Yang menarik dari burung ini adalah fakta yang menyatakan bahwa burung ini adalah burung yang monigami, yang artinya memiliki satu pasangan seumur hidup. Bagi saya burung ini sangat unik, memiliki tubuh sedang sekitar 60-70 cm dengan bulu yang menutup hampir seluruh bagian kaki dan dengan jambul yang kita bisa lihat hampir sama dengan jambul yang dimiliki burung Garuda Pancasila. Si Elang di mata saya adalah burung yang gagah, itu terlihat ketika si Elang berdiri tegap. Tatapan matanya yang tajam sanggup membuat saya berdecak kagum dan terpesona. Tidak salah jika dengan ciri-ciri tersebut, burung Elang Jawa ini disebut-sebut mirip dengan burung Garuda, tunggangan Dewa Wisnu yang menjadi inspirasi lambang NKRI. Namun sayangnya, seperti yang pernah saya baca beberapa kali, nasib burung ini tidak sama gagah dengan penampakannya. Elang Jawa adalah salah satu spesies yang terancam punah, itu dikarenakan habitat asli burung tersebut berkurang dan juga karena perburuan liar. Pemerintah sudah mengusahakan penangkaran burung Elang ini dan membuat peraturan untuk satwa langka Indonesia. Saya berharap populasi burung ini bisa berkembang pesat dan jika A sudah mengerti, akan saya ajak ke Eco Green Park malang lagi untuk melihat secara nyata burung Elang Jawa, si anggun yang gagah perkasa. Mas penjaga sangkar menceritakan kepada saya bahwa sepasang burung Elang yang dimiliki tempat wisata ini didapatkan dari koleksi pribadi seseorang. Mereka disita dan dipindahkan ke Malang karena burung ini adalah termasuk salah satu burung yang dilindungi oleh pemerintah. Bahkan pemerintah RI mengukuhkan burung Elang Jawa ini sebagai wakil satwa satwa langka dirgantara melalui Keputusan Presiden nomor 4 tahun 1993.

Saya berada di sangkar itu lebih dari 30 menit dan saat itu saya tidak berkesempatan mengabadikan si Elang jantan karena bertengker di puncak pohon yang tinggi dan tidak terjangkau jelas dengan lensa kamera saya. Sekali lagi saya beruntung, karena si Elang betina bersedia terbang dan bertengger megah di jarak yang lumayan dekat dan memberikan saya kesempatan untuk terpesona akan kecantikan burung ini. Foto-foto ini sudah saya tunjukkan ke A dan menceritakan secara sederhana bahwa burung ini adalah endemis pulau Jawa dan saya mengatakan pada A, jika tahun depan kami berkesempatan ke Malang lagi, akan saya bawa A bertemu dengan si Elang secara nyata dan berharap kami mendapatkan kesempatan yang sama untuk terpukau dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan A berpendapat bahwa burung ini beautiful ketika saya perlihatkan beberapa hasil bidikan saya, A menyukai ketika si Elang Jawa bertengger dengan kepala menoleh namun bisa dilihat matanya memandang ke arah kami yang menikmati foto lewat layar laptop.

”Semoga ya Nak, nanti saat kita pergi ke Eco Green Park lagi, si burung Elang mau datang menghampiri sehingga A bisa liat dari dekat, amen. A mau lihat burung Elang Jawa yang cantik ini?”

”Iya, Mama”.

Jawaban yang keluar dari bibir mungil itu membuat saya tersenyum. Saya tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak bahwa jawaban itu menumbuhkan harapan di hati saya bahwa A akan mencintai tanah kelahiran Mamanya sebesar dia mencintai tanah kelahiran Papanya. Semoga…

Stockholm, demaodyssey 02062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, Indonesia, Jejak 2017, photography | Tagged , , , , | 3 Comments