Menulis dan Ebiet G. Ade

Suhu di luar sana tepat menunjukkan nol derajat Celcius dan terdengar suara Ebiet G. Ade menemani saya membiarkan jari jemari menari di papan huruf-huruf yang sudah lama tidak saya sentuh. Keinginan selalu ada untuk menuliskan apa saja, namun ternyata belum ada kerelaan dari diri saya untuk meluangkan waktu duduk diam dan menuangkan apa yang ada di kepala. Selalu saja ada perang antara waktu buat A, waktu untuk merapikan rumah, waktu untuk menyiapkan setiap kegiatan untuk dibawa ke sekolah tempat saya bekerja keesokan harinya atau waktu untuk merangkai kata-kata. Pilihan terakhir selalu saja tertinggalkan dengan alasan,

”Nanti saja, masih ada akhir pekan!”

Namun ternyata kalimat itu tidak terjadi sampai 2018 menginjak bulan ketiga. Hari ini saya punya waktu karena tidak berada di sekolah, A masih sakit dan saya memutuskan untuk meminta ijin untuk tidak bekerja untuk menemani putri tersayang di rumah. Melihat A sedang tenggelam dengan Lego, saya melangkahkan kaki untuk merapikan dapur dan ruang tamu sebelum akhirnya memutuskan duduk dan menulis di meja makan saat Ebiet mulai terdengar menyanyi. Ada sekilas terpikir dalam benak, mungkin saya harus membiarkan Ebiet setiap hari mengingatkan saya akan keinginan saya untuk bermain dengan kata-kata dan membiarkan jari-jari ini menari seiring dengan musik yang terdengar nyaman di telinga.

Entahlah, sering sekali terjadi saat saya mendengarkan lagu-lagu Indonesia, banyak ide berlomba-lomba memenuhi kepala ini bahkan terkadang kalimat demi kalimat terangkai dengan indah dan sayangnya, saya sepertinya tidak punya waktu untuk merekamnya sehingga bisa terbaca lagi saat saya sudah punya waktu untuk duduk bersantai. Pernah suatu kali saya berharap, saya memiliki alat perekam yang bisa menolong saya menyimpan apa rangkaian rangkaian tersebut. Saya selalu memiliki buku kecil dan pena yang ada di tas saya kemanapun saya pergi, ada beberapa kali saya berusaha untuk menuliskan ide atau cerita singkat itu, namun hampir lebih banyak terkalahkan oleh ketidaknyamanan menulis di dalam kereta yang penuh dengan orang-orang. Saya masih kalah dengan ketidaknyamanan itu dan memilih untuk menuliskan singkat saja, tanpa ada penjelasan atau bagan-bagan yang bisa saya sambungkan saat komputer ada di depan saya. Bisa terlihat, di buku kecil saya banyak sekali ide-ide tertulis, namun ketika saya membacanya lagi, saya berharap saya bisa merangkai kata sebagus ketika ide tersebut dituliskan.

Yang paling sering terjadi itu ketika saya menyetir mobil dan lagu-lagu dengan bahasa ibu saya berkumandang. Beberapa kali saya kesal sendiri karena ingin rasanya berhenti dan menulis, namun tentu saja saya tidak bisa melakukan itu terutama ketika berada di jalan E4 dimana kecepatan mobil antara 110 dan tempat untuk berhenti itu bisa dikatakan tidak ada. Apakah saya jera setelah pengalaman ini? Nyatanya saya tidak jera, setiap saya menyentuh pintu depan mobil, yang pertama saya lakukan adalah mencari aplikasi Spotify dan memilih sebuah album yang saya namakan Indonesia, dimana saya kumpulkan penyanyi-penyanyi favorit saya seperti Ebiet G. Ade, Chrisye, Padi, Iwan Fals dan masih banyak lagi. Sepertinya yang namanya kesal juga sudah meninggalkan saya dan membiarkan saya terdiam dengan lamunan saya. Tentang masa lalu, tentang impian yang belum tercapai, tentang masa depan dan pembelajaran tentang hidup baik yang sudah saya lewati atau yang bisa saja saya hadapi di masa depan.

Ebiet masih belum terganti dan saya memalingkan wajah saya kepada A yang masih saya bercerita dengan para figur-figur kecil Lego yang entah sudah beberapa kali berganti cerita. Saya bersyukur, anak kami ini memiliki imajinasi yang sepertinya tidak pernah habis. Dia bisa duduk lama dan bibir mungilnya tidak habis-habis mengarang cerita dan memainkan karakter-karakter yang dia inginkan. Cukup jika dia melihat saya atau papanya atau orang dewasa berada di sekitarnya, maka aliran kisah baru akan berlanjut dengan sendirinya. Jika saya harus meninggalkannya sendiri dengan Lego nya, saya akan memberi tahu bahwa saya mengerjakan sesuatu dan akan berada di suatu tempat (seperti dapur atau ruang cuci baju atau area lain di rumah kami) maka putri kecil kami ini akan asik sendiri tanpa harus ditemani. Ada yang unik dengan A, dia tidak suka kalau dia sendiri tanpa tahu dimana para orang dewasa berada. Ini mungkin kebiasaan yang saya tanamkan sejak kecil, saya selalu bilang ke A kalau saya (atau papanya) harus meninggalkannya bermain sendiri. Walaupun saya hanya ke dapur untuk memasak atau melakukan hal yang lain, saya selalu memberitahunya, dengan tujuan jika putri kesayangan ini butuh bantuan, dia tahu dimana mencari saya atau papanya berada (atau orang dewasa lainnya seperti kakek neneknya).

Melihat ke arah taman belakang yang masih tertutup si putih salju, melihat awan yang menutupi sebagian awan yang membiru hari ini, tiba-tiba lagu ’Menjaring Matahari’ Ebiet melemparkan saya ke sebuah tempat di tanah kelahiran saya. Di pinggir pantai, ditemani deburan ombak, duduk termenung dengan kertas putih dan pena, saya menuliskan puisi demi puisi akan sebuah keresahan dan kepasrahan. Ohhhhh, lagu ini membuat saya ingin pulang, mengunjungi tempat itu, masihkah ada pohon kokoh tersebut? Masihkan ada kenyamanan yang sama yang bisa saya nikmati seperti dulu? Saya ingin pulang…

Saya arahkan jari untuk melihat berapa lagu Ebiet lagi yang terpampang di layar komputer saya dan saya memilih untuk menghentikannya, saya memilih untuk menggantinya dengan Katon Bagaskara yang berada beberapa nomor di bawahnya. Keinginan untuk menangis karena rindu harus saya tangguhkan saat ini, mungkin nanti saja, saat saya merasa waktunya lebih tepat. Saya harus beranjak sekarang ke dapur, menyelesaikan tugas saya memasak untuk orang-orang tersayang. Setidaknya saya sudah berhasil menuangkan beberapa pikiran yang ada, merekamnya hingga bisa saya baca lagi suatu saat nanti dan belajar tentang diri sendiri pada saat saya menuliskan ini.

Sebelum menutup komputer saya, ingin rasanya tahu… adakah yang ingin menemani saya menelusuri kembali jalan yang sudah terlalui saat saya diberi kesempatan berada di Bali lagi?

Haninge, demaodyssey 14032018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian | Tagged , , | Leave a comment

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Seperti judul di atas, berdamai dengan diri sendiri itu tidak mudah karena banyak sekali godaan yang menanti kita begitu memutuskan untuk belajar berdamai bahkan dengan diri sendiri. Dibutuhkan keberanian untuk mengalahkan ego yang selalu saja siap menanti celah dimana kita lengah dan lemah. Tak jarang kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sesuai dengan apa yang kita pegang seperti prinsip hidup. Ketidakadilan contohnya bisa menimbulkan amarah yang sesekali atau berkali-kali susah untuk kita kontrol. Sehari pun tidak cukup waktu untuk kita untuk memulai dan menyelesaikan pelajaran satu ini, pelajaran untuk berdamai dalam skala kecil.

Sebagai manusia, kita masih dipenuhi oleh nafsu dalam segala hal dan jika kita tidak mulai dari sekarang mengenali nafsu tersebut, tidak mustahil suatu saat nanti nafsu tersebut akan menjadi tuan sedangkan kita sebagai pelayannya. Nafsu akan hal-hal yang berbau keduniawian dan juga akan hal-hal yang tidak bisa kita lihat dan jelaskan secara nyata. Nafsu ini pula yang biasanya menjadi godaan terberat setelah ego ketika kita membuat sebuah keputusan untuk melepaskan dan mempelajari tentang betapa nikmatnya hidup dalam kedamaian, terutama damai yang ada dalam diri kita. Terlahir dengan segala nafsu tentu saja kita tidak bisa dengan mudah menghilangkannya, nafsu akan tetap ada di sana seperti hewan memburu mangsanya dan menantikan waktu yang tepat untuk menyerang. Tapi setidaknya kita bisa mempelajari bagaimana caranya meredam kekuatan nafsu dan ego tersebut sehingga kalaupun mereka melintas suatu hari, bisa kita menahan lajunya agar tidak memberikan dampak yang bisa merusak, baik itu diri kita ataupun orang lain.

Dalam hidup ini, kita tidak bisa menyenangkan setiap orang yang ada di sekitar kita. Akan selalu ada orang-orang yang tersakiti tanpa sengaja, orang-orang yang marah dan kesal akan tingkah laku kita, orang-orang yang berusaha menjatuhkan kita atau orang-orang yang sekedar iseng mencoba mengetes sejauh mana pertahanan kita, sejauh mana kemampuan kita untuk bereaksi atas sebuah peristiwa. Namun jangan kawatir, akan selalu ada penyeimbang dimana kita akan bertemu dengan orang-orang yang bahagia bersama kita, menerima kita apa adanya, mampu tertawa tulus bersama kita tanpa kita harus berusaha melakukan sesuatu melampaui batas kemampuan kita. Hidup itu seperti timbangan, ada keseimbangan yang sempurna antara baik dan buruk, yin dan yang, tangis dan tawa, dingin dan panas. Keseimbangan inilah yang nantinya akan kita pelajari dari karma, yang juga bisa menjadi pengingat dan sebuah sarana untuk membantu kita berdamai dengan diri sendiri.

Rasa iri adalah rasa yang terkadang mencuat begitu saja tanpa alasan dan kalau kita tidak siap efeknya bisa lebih besar dari sekedar letusan gunung yang mengeluarkan lava panas. Menyelinap saat sepi datang dan perlahan memasuki ruang-ruang terdalam hingga memenuhi setiap sudutnya. Dari pembelajaran selama ini, rasa iri ini berhasil ditepis dengan satu kata, syukur. Ketika iri yang sebenarnya hanya terdiri dari 3 huruf ini menghampiri, cobalah tanya pada diri kita sendiri,

”Sudahkah kau beryukur untuk apa yang kau miliki saat ini?”

Satu tanya yang bisa menampar kesadaran kita akan karunia yang kita miliki saat ini sudah cukup, cukup untuk membuat kita bahagia, cukup untuk memberikan tantangan kepada kita, cukup untuk mengajarkan kita untuk menunduk dan mengucap syukur atas Sang Maha Pengasih. Tanya yang membangunkan kita dari mimpi semu dan membuka mata kita bahwa diijinkan bernafas hari ini saja sudah menjadi sebuah anugerah yang agung, jadi buat apa menghabiskan waktu untuk memberi makan nafsu yang menjelma menjadi rasa iri. Bukankah detik yang kita gunakan untuk merasa iri, lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, setidaknya mengucap syukur yang tak terkira atas keberadaan kita di bumi saat ini.

Berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah awal dari sebuah perjalanan ke sebuah fase dimana kita selesai dengan diri sendiri. Fase dimana kita terlepas dan menempel kepada satu tujuan, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Proses pendekatan ini bisa berwujud dalam banyak hal, seperti berbuat baik, menolong orang-orang yang kesusahan, mendalami ilmu agama, berbagi kasih dengan orang-orang yang kurang beruntung, melakukan karma baik sebanyak-banyaknya dan masih banyak lagi contoh tingkah laku dan peristiwa yang bisa digunakan sebagai acuan untuk menikmati proses tersebut. Di fase ini, kita tidak akan lagi terpesona oleh hal-hal keduniawian seperti halnya status dan materi, bukan pula penampilan luar yang terpenting, namun kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki lah yang dicari. Tentu saja untuk mencapai fase ini dibutuhkan sebuah keberanian, sebuah penyerahan, sebuah keinginan dan keyakinan akan sebuah proses pembelajaran. Tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan akan apa yang kita peroleh dari usaha kita, sebuah hasrat, dahaga akan setiap penerimaan yang nantinya kita dapatkan di setiap langkah dalam proses tersebut. Seperti mendaki sebuah gunung, nikmati saja proses pendakiannya tanpa memikirkan apa yang akan kita peroleh ketika kita mencapai puncaknya.

Hidup adalah pembelajaran, pengkajian akan bakat yang kita punya, akan makna hidup itu sendiri, akan sebuah tujuan dimana nantinya kita harus pertanggungjawabkan bukan saja kepada Sang Pencipta tapi juga kepada orang-orang yang nantinya kita tinggalkan. Seperti menyerahkan buku yang kita tulis saat helaan nafas terakhir, apakah buku tersebut selesai? Atau hanya terisi setengahnya? Atau bahkan kosong? Apakah cerita bermakna di dalamnya? Atau hanya sebuah fiksi yang semu belaka? Isi buku tersebut kita yang menorehkan, kita yang memutuskan bagaimana kita bereaksi di setiap babaknya, warna apa yang kita ingin coretkan sebagai penghiasnya. Jangan sampai, buku kehidupan kita sendiri ditulis oleh orang lain, karena jika itu terjadi, bagaimana kita mempertanggungjawabkannya nanti? Sanggupkah kita melihat efek yang nantinya timbul dari tersebarnya buku tersebut, sanggupkah kita berkata ”Saya penulisnya” ketika hal-hal yang orang lain tuliskan dalam buku kehidupan kita berdampak negatif terutama ke keluarga dan keturunan kita? Berusahalah menulisnya sendiri, walaupun terkadang itu berat, namun hasilnya akan lebih manis.

Saya sudah memulai pembelajaran tentang berdamai dengan diri sendiri sejak lama dan masih terus belajar karena masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, masih terkadang harus bergulat dengan nafsu yang ada dalam diri, terkadang masih lupa. Namun seperti yang saya niatkan, apapun tantangan yang akan saya hadapi ke depannya, saya tidak akan berbalik dan memutuskan untuk berhenti belajar. Saya sedang belajar menikmati setiap langkah dalam proses pembelajaran tersebut, akankah tahun ini saya belajar lebih banyak? Saya ikuti saja kemana arahnya, yang terpenting bagi saya adalah saya menerima keputusan ini dan berniat menyelesaikannya. Kesiapan untuk tergores, terluka, menangis, tertawa, tersenyum, terjatuh atau bahkan tersungkur sudah saya tekadkan sebelum detik jam melewati angka 12 terakhir di tahun 2017, ketika saya memeluk orang-orang kesayangan dan tersenyum bersama menyaksikan pendaran kembang api di halaman belakang sarang kami di negeri kulkas ini.

Sebuah pengingat untuk diri sendiri.

Haninge, demaodyssey 02012018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, JejakdiJanuari | Tagged , | Leave a comment

Hari Pertama di Tahun 2018

Tidak banyak yang dikerjakan pada hari pertama di tahun baru ini. Selain membersihkan rumah, kami bersantai dan mencoba untuk menyiapkan segala sesuatu untuk memulai kegiatan seperti biasanya besok, dimana saya akan kembali bekerja penuh waktu sebagai guru TK, P akan bekerja kembali ke kantornya dan gadis kecil kami akan kembali menikmati hari-hari bersama teman-teman dan guru-gurunya di TK (preschool kalau mau lebih spesifik).

Tidak banyak yang berubah di keseharian kami di awal tahun 2018, masih menjalankan rutinitas yang sama, atau mungkin masih terlalu awal untuk membuat sebuah perubahan atau langkah baru. Beberapa rencana dan keinginan sudah kami tulis, setidaknya untuk melihat secara garis besar, tahun 2018 apa saja mimpi yang ingin kami raih dalam genggaman. Seperti tahun lalu, kami tidak membuat resolusi yang harus kami laksanakan, kami ikuti saja kemana air mengalir dan tetap berusaha meneruskan daftar mimpi dan pengharapan yang kami ingin wujudkan dalam bentuk nyata.

Tahun 2017 bisa dikatakan banyak pembelajaran yang saya sebagai individu dapatkan, baik itu yang menyenangkan atau pun yang kurang menyenangkan. Saya mendapat tantangan yang cukup sehingga saya semakin belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Terkadang masih lupa tapi ada banyak hal yang mengingatkan saya, jadi emosi yang biasanya dalam hitungan jam saya bisa kurangi dalam hitungan menit. Masih harus belajar banyak di tahun ini dan berharap nantinya saya bisa menguranginya dalam bentuk detik dan terakhir mungkin dalam bentuk senyum, karena saya ingin memberi contoh yang baik kepada A, putri tersayang kami.

Saya mendapat rejeki dan kesempatan untuk bekerja penuh waktu lagi yang dimulai bulan September tahun lalu. Setelah lama vakum dari pekerjaan penuh waktu, saya mendapat tantangan baru, baik itu dalam hal administrasi dan juga berinteraksi dengan berbagai macam persoalan dan karakter. Menjadi guru adalah pekerjaan yang saya nikmati sekali prosesnya, dari berinteraksi dengan anak didik, dengan orang tua mereka, dengan sesama rekan sejawat dan juga dengan atasan. Banyak ilmu yang saya dapatkan sekaligus melatih kesabaran dan selalu berusaha menemukan metode-metode atau cara bagaimana saya bisa menjadi pelengkap orang tua dan membantu anak didik saya tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya. Bisa saya katakan, saya mempunyai anak lebih dari satu sekarang karena 5 hari seminggu saya menghabiskan waktu 40 jam bersama 17 anak didik di TK. Sekali lagi, saya menikmati waktu saya bersama mereka dan kami bersama-sama mengenyam prosesnya dan belajar dari kebersamaan kami.

Ada beberapa teman yang menanyakan keberadaan saya baik itu di Facebook, Instagram atau di blog ini karena memang saya agak jarang menulis dan mengunduh foto lagi. Kalau Facebook, memang sudah lama saya jarang membuka atau sekedar menyapa teman-teman karena alasannya adalah waktu yang saya punya, saya pakai lebih banyak untuk bermain dengan A. Jadi sejak putri saya semakin besar, saya lebih banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama di keseharian kami, namun saya masih aktif di Instagram dan blog karena saat itu status saya masih pelajar dan belum bekerja. Sesekali saya masih menulis dan menyapa teman-teman ketika A berada di TK dan saya mempunyai waktu luang dan tugas sekolah sudah saya kerjakan semua. Namun sejak saya bekerja penuh waktu, bisa dibilang kegiatan saya di sosial media berkurang drastis karena waktu saya untuk A ditujukan ke pekerjaan, jadi saya pergunakan waktu untuk bersosial media untuk bermain bersama A. Itu alasan mengapa saya jarang berinteraksi dengan dunia maya. Bagi saya, yang utama adalah pemenuhan waktu untuk bersama keluarga yang paling utama, setelah itu pekerjaan saya, dan untuk hal-hal lain bisa menunggu saat saya benar-benar mempunyai waktu luang terutama untuk dihabiskan di Facebook dan Instagram.

Sebenarnya A sudah terbiasa bermain sendiri dan menggunakan imajinasinya untuk mengarang cerita dengan Lego atau beberapa mainannya. Kalau melihat kemampuan gadis kecil ini, yang sudah bisa bermain berjam-jam tanpa harus ditemani, bisa dilihat saya mempunyai waktu untuk bersosial media, tapi kenapa saya tidak melakukannya? Karena saya lebih memilih membaca buku di sebelah tempat A bermain atau melakukan kegiatan yang saya tekuni saat ini yaitu origami, paper wicker art atau mencari ide-ide baru untuk kegiatan yang nantinya akan saya lakukan dengan A atau dengan anak didik saya. Bagi saya, dengan duduk bersama A, saya bisa memantau sejauh mana putri kami mampu berimajinasi dan melihat perkembangannya secara lebih dekat dan detail. Terkadang saya memberikan beberapa pertanyaan dalam bahasa Indonesia, menolongnya jika ada sesuatu hal yang tidak bisa A lakukan atau sekedar melatih kesabarannya dan menuntun dia terutama saat dia kesal tidak bisa melakukan sesuatu (sudah mencoba beberapa kali namun belum berhasil). Seperti saat ini, saya menulis ini sambil duduk di satu meja dengan A yang sibuk bermain dengan Lego Friends hadiah Natal dari kami dan sepupunya. Terkadang A meminta saya berbicara di salah satu karakter di ceritanya, saya dengan senang hati melakukannya, seperti beberapa saat yang lalu, A meminta saya berperan sebagai Mama dari Marshall (salah satu karakter Paw Patrol) yang akan pergi menolong Marshall yang tersesat. Saya berhenti sejenak menulis dan bermain untuk beberapa menit memenuhi permintaan putri kami sebagai pelengkap cerita fantasinya.

Namun ada keinginan merekam kembali jejak dan aktif menulis lagi setidaknya di blog ini. Saya akan berusaha setidaknya meluangkan waktu untuk menuliskan beberapa patah kata, setidaknya ada sesuatu yang saya bisa wariskan kepada A dan sebagai pemicu semangat putri saya untuk berbicara bahasa Indonesia. Terus terang ada rasa kangen menuangkan buah pikiran dan bermain dengan kata-kata sekaligus mendengarkan bunyi huruf-huruf yang tertekan oleh jari saya untuk menghasilkan kalimat demi kalimat, seperti saat ini. Ada kebahagiaan menyusup di dalam sana saat mata saya membaca lagi baris demi baris yang tersusun di depan saya. Mungkin memang saya harus lebih pintar membagi waktu antara origami, pencarian ide, membaca buku dan menulis saat saya menemani A bermain setiap harinya. Saya tidak berjanji namun seperti yang saya sudah katakan di atas, saya akan berusaha.

A masih asyik bermain di samping saya dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore. Saya pamit dulu, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan sebelum rutinitas bersama A yang artinya membaca beberapa buku sebelum tidur. Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya.

Haninge, demaodyssey 01012018

Posted in 2018, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, JejakdiJanuari, Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Spending Time with Papa

”A note that I wrote long time a go when A was 1 year old but I completely forgot about it. When I read it, I feel that I have to posted here because this is a part of memories that I would like my daughter to read when she is able to. The other reason is, the love between them even stronger now and I have not been able to record it in one or two blog post. So here you are, a memory when we have our quality time with our precious one, A!”

Everyday we try to have walk together since we know that our little miss loves being outside. This year we have quite okay summer with some rainy days here and there. We try to stay inside if we have heavy rain outside and usually we will have walk after that.

Since P takes his parental leave from job, he could join us to have our everyday exercise. For A, it is always fun when papa walks beside her and watches her along the way. Me? Usually I bring my phone to capture the moment but sometimes I bring my camera and being the photographer of the day for them 😀 There is always joy when I push the shutter and preserve what is happening in front of me, the activities of my loved ones.

When the rain comes, A would choose to walk a bit slower and find the water pool along the road that we pass through. She was so excited to jump on it and getting water in her trouser and her small feet. Actually we had wellington boots but at that time it is still quite big and heavy for her. We didn’t have long walk anyway so wed cleaned her as soon as we arrived home. Lately, A loves to hold papa’s hand everytime we have our every day walk. A moment that I try to capture that I could show to A later on when she is understand about life more.

Spending time with papa is something fun for A. Beside having a walk, they will watch cartoon or listening to the music and dance together. For baby A, papa is always someone to have so much fun with. The same thing when farmor and farfar are around. While with mama, A needs to follow some rules and of course we also have so much fun but with some restriction LOL!! Hahaha. But I have tried to play with her as much as I can, reading books, singing together, doing some silly movement or maybe just cudlling together in the sofa. I know that our Sunshine will have lots of fans too in Bali later on when she has chance to get to know the whole family from mama’s side. I can’t wait for that to happen 😀

Papa and A are best friends I could say, they loves to tease mama a lot and sometimes they laugh together when they are succeed to make mama get annoyed of their silly act. I can’t get mad if I see those cheeky faces. I love them both soooo much and yeah, I can not imagine to live without them. They are the reason why I feel happiness in every single second of my life.

Stockholm, demaodyssey 11092015 (post 15062017)

Posted in #NulisRandom2017, Being 40, photography | Tagged , , , | Leave a comment

Hari Rabu dan Inspirasi

Pagi ini diawali dengan putri saya yang mengatakan tidak mau sekolah, ketika ditanya dia hanya bilang kalau baby Nalle, bonek beruang kecilnya tidak mau sekolah. Saya tersenyum dan mencoba menceritakan bahwa saya dulu juga sempat seperti dia, malas sekolah namun saya jalan saja ke sekolah dan saya bilang sama A, kita lihat kalau setelah bertemu dengan teman-teman dan gurunya apakah masih tidak mau sekolah. Saya bilang, kalau memang begitu, saya akan biarkan A menghabiskan hari dengan Mamanya. Seperti biasa putri saya mengikuti anjuran yang saya berikan dan kami berhasil bersiap-siap dan mulai berjalan ke sekolah A yang jaraknya 600 meter saja dari rumah.

Sepanjang perjalanan, mulut saya masih menceritakan pengalaman sekolah saya waktu kecil di Bali. Saya berbagi bahwa berjalan kaki ke sekolah bukanlah hal yang baru bagi saya, walaupun dari rumah ke sekolah berjarak 1,7 km dan biasanya saya berjalan ditemani kakak ketika masih kecil namun saat sudah mulai kelas 5 SD, saya bisa pulang sendiri tanpa ditemani. Ketika saya lirik putri kami yang berjalan pelan, mukanya terlihat berpikir dan ketika dia menangkap basah tatapan saya, senyuman dan elusan sayang saya berikan kepadanya. A tidak banyak bicara sampai kita memasuki gerbang sekolah, tampak Olivia teman baiknya menghampiri dan A langsung tersenyum meminta ijin saya untuk bermain dengan Olivia. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan guru A, saya menanyakan apakah A masih ingin sekolah dan saya sudah tahu jawabannya, putri tersayang ini memilih untuk tinggal dan bermain dengan temannya. Saya berjanji bahwa Papa akan menjemputnya nanti sore. Setelah memberi kecupan dan salam semoga dia mempunyai hari yang indah, saya beranjak menuju rumah untuk mengambil perlengkapan sebelum menuju stasiun kereta yang berjarak 400 meter saja.

Siang saya bertemu dengan teman untuk membeli tahu sekalian makan siang bersama. Kami sempat mengobrol banyak karena memang sudah lama sekali tidak bertemu walaupun dulunya kami satu sekolah dalam menempuh pendidikan asisten guru TK. Jurusan yang sama namun berbeda tahun ajaran saja, saya lulus terlebih dahulu dan senang rasanya mendengar bahwa guru-guru yang dulu mengajar saya masih ada di KUI, sekolah dimana kami mendapatkan pendidikan tentang anak. Tidak terasa kami mengobrol hampir 2 jam lamanya dan percakapan masih dilanjutkan sampai di Hongkong Trading, toko Asia dimana kami bisa membeli bahan-bahan untuk membuat masakan Indonesia. Di toko itu juga kami berpisah dan berharap akan bertemu lagi setelah dia kembali dari liburan ke Indonesia. Saya tinggal sebentar di toko tersebut untuk membeli bahan untuk membuat soto ayam buat seorang teman yang akan berkunjung dan menginap di rumah besok.

Bahan belanjaan sudah ada di tas IKEA kecil milik saya, entah kenapa tiba-tiba saya mendapat inspirasi untuk mampir ke Slöjd Detaljer, toko dimana biasanya prang-orang membeli bahan-bahan untuk pekerjaan tangan dan kebetulan toko ini lebih murah dari toko lain yang bernama Panduro. Ketika memasuki areal toko, kaki beranjak membawa saya ke sebuah pojok dimana kertas lipat berada dan sayapun tersenyum lebar karena di hadapan saya, nampak satu bundel kertas origami yang tebal dan warnanya sangat menggugah selera saya untuk membeli. Segera saja saya menghitung dengan kalkulator apakah perkiraan tentang murah dan tidaknya kertas tersebut benar adanya dan setelah melihat angka di kalkulator, tangan saya langsung memasukkan 2 bundel kertas di keranjang belanja. Otak saya mulai berputar dengan berbagai macam kerajinan tangan yang bisa saya buat untuk berbagai kegiatan. Toko ini sangat sarat inspirasi menurut saya dan biasanya saya betah untuk berjalan-jalan dan memperhatikan setiap barang yang ada sambil ide-ide bermunculan di kepala. Ingin rasanya mengerjakan semua ide tersebut namun saya tahu yang paling utama saat ini adalah beberapa proyek yang harus saya selesaikan sebelum saya bekerja nantinya. Kertas origami ini akan sangat membantu saya untuk bisa menarik minat anak didik untuk duduk bersama saya dan membuat berbagai macam bentuk yang bisa mereka pakai untuk melatih motorik halus.

Sampai rumah, tangan sudah gatal ingin memulai tapi saya harus bersih-bersih dan merapikan rumah terlebih dahulu. Cucian bersih menumpuk di ruang cuci dan saya butuh keranjang kosong untuk menaruh cucian kotor. Melihat saya merapikan rumah, A bermain bersama Papanya namun ketika waktunya tidur, A yang biasanya dikeloni Papanya, meminta saya menemani dia tidur malam ini. Sepertinya anak ini kangen tidur dan bercerita dengan Mamanya, benar saja ketika kami merebahkan badan berdua di kasur kecilnya, A meminta saya untuk berdoa secara Hindu dan Kristen. Gayatri Mantram bait pertama saya lantunkan diiringi dengan A yang berusaha mengucapkan setiap kata Sansekerta tersebut dengan sempurna. Setelah itu kami saling menceritakan dan bertanya apa yang kami lakukan hari ini, A bertanya apakah lain kali Albyn dan Olivia boleh mampir dan bermain air di kolam kecil yang nangkring di taman belakang. Saya menjelaskan bahwa kami harus menanyakan dulu kepada orang tua Albyn dan Olivia kapan mereka bisa bermain bersama di rumah kami. A setuju dan menguap sebelum memindahkan tangan saya untuk memeluk tubuhnya yang malam ini tanpa baju. Saya elus halus punggungnya sambil mulut saya mencium dahinya beberapa kali sampai putri kami ini tertidur lelap.

Turun ke lantai bawah saya melanjutkan membersihkan dapur karena besok ada 2 kegiatan yang harus saya kerjakan seharian, dokter gigi di kota dan setelah itu mengantar A untuk ke Puskesmas untuk kontrol 3 tahun dan setelahnya kami akan ke kota untuk menjemput teman yang akan datang dengan bayinya. Setelah bersih, jam sudah menunjukkan 15 menit sebelum pukul 11 malam. Saya sempatkan menulis beberapa patah kata untuk mengingatkan diri ini bahwa hari ini tanpa saya rencanakan, saya mendapat banyak inspirasi dan semoga nanti di akhir pekan saya bisa bekerja sedikit dengan kertas origami yang saya punya. Saya pamit dulu karena harus bangun lebih pagi besok, selamat malam dan sampai ketemu besok ya teman-teman.

Stockholm, demaodyssey 14062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , , | 1 Comment

Kreatifitas, Nilai Lebih Kehidupan

”Papaaaaa, look. Mama makes a dollhouse for me!”

”Oh wow… Mama is very good. Do you like your dollhouse?”

”Yes, I love my dollhouse!”

”Aaaaah, thank you Agnes, thank you Papa”

Percakapan ini terjadi ketika kami menyambut Papa pulang dari kantor. Hati saya penuh dengan kebahagiaan melihat kedua orang yang saya sayangi suka dengan apa yang saya buat. Terlebih A mengerti bahwa rumah boneka itu adalah buatan Mamanya. Dari sejak pulang sekolah dia sudah bermain dengan asik dan cerita tentang keluarga Peppa Pig mengalir lancar di mulutnya. Seperti yang sudah saya pernah tulis sebelumnya bahwa putri kami sangat suka dengan karakter Peppa Pig dan Om Alit, menolong kami untuk membelikan karakter Peppa Pig lengkap dengan teman-teman sekolahnya. Ketika saya memberikan karakter tersebut kepada A, matanya berbinar dan bibir mungilnya tidak henti-hentinya berbicara dan menyebut nama di setiap boneka-boneka kecil tersebut. Ditambah sekarang keluarga Peppa Pig sudah memiliki rumah yang digunakan untuk bermain bersama, minum teh dan juga piknik. Melihatnya tenggelam dalam dunianya dan mengarang cerita baru dengan rumah boneka hasil buatan saya, membuat saya tersenyum oleh luapan kegembiraan dan kepuasan.

Ada banyak alasan mengapa saya membuatkan rumah boneka itu untuk A dan tidak membelinya, salah satunya karena rumah boneka yang saya lihat sangat mahal walaupun itu hanya bekas. Alasan lainnya adalah desain rumah boneka yang dijual tidak ada yang sesuai dengan apa yang saya mau. Namun alasan utamanya adalah, mengajarkan A untuk menjadi kreatif dan bukan konsumtif. Kami bisa saja membelikannya dan saya tidak usah susah-susah menggunakan waktu saya untuk berkutat dengan barang-barang bekas yang kami punya di rumah, tapi apakah kami bisa mengajarkan nilai lebih di kehidupan pada A yaitu kreatifitas? Menurut saya tidak bisa, alih-alih mengajarkan kreatifitas, saya takut kalau saya malah mengajarkan A untuk konsumtif.

Saya mengerti dan sadar bahwa kreatifitas akan bisa membantu kita dalam segala hal dan situasi yang ada di kehidupan kita. Kreatifitas juga mengajarkan kita bahwa dengan sedikit uang atau tanpa uang sama sekali kita bisa bahagia dan menikmati hidup. Nilai lain yang diajarkan oleh kretifitas adalah apa yang kita ciptakan dari tangan kita sendiri akan lebih lama tersimpan daripada kita membelinya. Jika jika kreatif, kita akan terus menantang otak kita untuk belajar dan memperbaiki hasil yang sudah kita wujudkan, terus menggali ide-ide baru yang nantinya bisa kita gunakan untuk membahagiakan diri kita dan bahkan orang lain. Orang yang kreatif tidak akan kehabisan akal untuk membunuh waktu jika berhadapan dengan yang namanya kebosanan. Kreatifitas adalah salah satu unsur utama yang harus kita miliki untuk menjadi seorang survivor. Hal yang paling penting adalah tidak ada seorangpun yang bisa mengambil kreatifitas yang kita miliki dalam diri kita.

Harta bisa saja hilang, kecantikan bisa saja pudar namun kreatifitas akan terus terasah dan semakin tajam jika kita menggunakannya. Ini juga yang membuat saya dan suami ingin A belajar dan mengerti bahwa menjadi seseorang yang kreatif lebih baik daripada menjadi orang yang konsumtif. Dalam jangka panjang kreatifitas lebih diutamakan daripada sifat konsumtif. Contohnya, jika kita melamar pekerjaan, perusahaan akan lebih memilih karyawan yang kreatif daripada yang konsumtif. Itu hal penting karena menurut kami, orang yang kreatif akan puas dan bahagia dengan apa yang dia miliki, namun orang konsumtif tidak akan pernah puas walaupun barang-barang sudah bertumpuk di rumahnya. Biasanya, orang yang kreatif tidak akan mempersoalkan penampilan, selama apa yang dipakai adalah bersih dan layak pakai. Sedangkan, kami banyak menemui orang-orang yang konsumtif tidak akan pernah puas dengan penampilan atau barang yang dimilikinya. Sekali lagi kami tidak ingin A menjadi seperti itu, kami ingin A tahu dan mengerti bahwa penampilan bukanlah hal yang paling utama dalam hidup. Mengapa?

Jawabannya adalah perlu waktu yang lebih lama untuk belajar menjadi orang yang kreatif dibanding menjadi orang yang konsumtif atau orang yang modis. Saya membuktikan sendiri bahwa perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menjadi pintar dan cermat dalam membuat origami, namun untuk menjadi konsumtif tidak diperlukan waktu lama, selama itu ada kemampuan untuk membeli. Malah terkadang ada beberapa kasus yang pernah saya temui, orang yang konsumtif akan sulit menghentikan kebiasaannya walaupun sudah tidak memiliki dana untuk menjadi konsumtif, hasilnya? Akan terbelit hutang dan penyesalan. Saya mengerti bahwa banyak hal yang tidak bisa diolah dari barang bekas, tapi kami mencoba mengajarkan pada A kalau berbelanja menggunakan skala prioritas, mana hal yang terpenting dan mana yang bisa menunggu atau bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita. Seperti yang saya pernah bilang di tulisan terdahulu, kalau masalah buku, saya tidak segan membeli yang baru kalau memang tidak saya dapatkan di toko barang bekas, karena bagi saya buku adalah ilmu yang bisa meluaskan wawasan dan bisa dipakai oleh A sampai beberapa tahun. Sebentar lagi saya akan bekerja dengan anak-anak, buku-buku yang dimiliki A bisa saya gunakan untuk menunjang pekerjaan saya. Lagipula memiliki buku (harapan kami) bisa menumbuhkan niat membaca A, karena jika saya memiliki waktu luang dan A lebih memilih bermain sendiri, saya akan berada di sebelah A sambil membaca kembali buku-buku koleksi saya. Sepertinya A tanpa sadar melihat kebiasaan saya ini dan dia tahu mana buku yang sering saya baca dan mana buku sering dibaca kakek neneknya. Bahkan A sudah mengklaim salah satu buku bahasa Swedia saya padahal dia belum bisa membaca novel tersebut. Kalau saya ingin membaca buku novel tersebut, maka saya harus meminta ijin sama A apakah saya boleh meminjam atau tidak. Semoga saja, niat membaca A terus berkembang ke depannya.

Mendengar A memberi tahu Papanya tentang rumah boneka tersebut membuat saya bangga. Setidaknya dia mengerti kalau mainan tersebut hasil karya Mamanya, karena saya memang terus menceritakan selama proses pembuatannya, bahwa rumah boneka itu berasal dari kardus bekas jagung bakar yang saya dapatkan dari toko bahan makanan ICA secara cuma-cuma, bantal dan bahan selimut saya bilang ke A kalau itu berasal dari baju Papanya yang sudah tidak terpakai lagi (tentu saja sambil menunjukkan wujud kemeja yang sudah saya potong sana sini) dan tempat tidur dari es krim yang saya kumpulkan selama 3-4 bulan. Sempat A berniat untuk membantu saya menempel kertas kado bekas Natal tahun lalu, namun saya sarankan untuk belajar menempel di sebuah kardus sepatu dulu dan memberitahukan bahwa kardus sepatu itu sebagai ajang untuk latihan dan kalau sudah bisa maka A bisa membantu saya di proyek besar selanjutnya. Putri kami menurut dan dia dengan asik menggunting kertas kado dan menempelkannya di kotak sepatu di samping saya sambil terkadang ada nyanyian kecil dari mulutnya. Mengerjakan sesuatu bersama A adalah sesuatu yang menyenangkan walaupun setelah kita membuat kerajinan, saya harus membersihkan extra tempat kami berkarya. Tapi itu tidak menjadi soal, menurut saya, kalau kami ingin A nantinya menjadi kreatif maka kami harus rela dan dengan senang hati membersihkan tempat setelah A melatih otot-otot motoriknya. Kami rela berkorban tenaga untuk mengajarkan A nilai-nilai dan prinsip yang kami pegang untuk menjalani hidup.

Kreatifitas tidak akan pernah lekang oleh waktu, kreatifitas dalam diri akan terus berkembang jika diberikan stimulasi yang tepat. Saya yakin setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi kreatif, namun pertanyaannya adalah, apakah ada niat, ada kemauan untuk berlatih dan meluangkan waktu? Sebagai orang tua, kami bertanggungjawab untuk meluangkan waktu untuk A, tidak perduli selelah apapun kami. Beruntung saya dan P sudah terbiasa membuat skala prioritas dan lebih mudah bagi kami untuk mengubah kebutuhan kami dan menyesuaikan dengan kebutuhan A saat ini. Kami sudah sama-sama berkomitmen bahwa kebebasan kami adalah nomor 2 setelah A, sampai A benar-benar bisa berdiri sendiri barulah kami akan perlahan melepaskan A untuk mengepakkan sayapnya dan menjelajahi bumi yang indah ini, namun kami akan selalu ada buat A jika dia ingin beristirahat sejenak dan menginginkan pelukan orang tua.

Saya memang menghabiskan waktu cukup lama untuk membuat rumah boneka tersebut, beberapa jam dalam 2 hari namun melihat reaksi putri kami, waktu itu seimbang dengan harapan saya dan suami. Saya sudah memikirkan proyek yang hampir sama, menggunakan kardus bekas dari ICA namun lebih besar, cuma saya belum menemukan waktu yang tepat untuk memulai. Ada beberapa hal dalam daftar yang harus saya selesaikan dulu karena hal-hal tersebut lebih mendesak. Tentu saja saya akan tulis di sini jika proyek tersebut selesai berserta beberapa foto bagaimana penampakan proyek tersebut. Untuk saat ini, saya bisa berkata bahwa kami puas akan hasil proyek rumah boneka dan bangga melihat reaksi A yang mengerti dan dengan bangga memberitahukan tentang apa yang Mamanya kerjakan dengan sayang, untuk saya bahagia ini tidak bisa terbayar dengan uang sekalipun. Semoga saja saya masih diijinkan untuk terus berkarya untuk putri saya dan orang lain, amen.

Stcokholm, demaodyssey 13062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , , | 4 Comments

Ketika Rasa Malas Datang

Kemarin malam diniatkan akan melakukan banyak hal hari ini namun ternyata pagi ini harus berjuang dengan yang namanya rasa malas. Entah kenapa, sejak bangun rasa malas tiba-tiba datang dan bahkan ketika mengantarkan A sekolah saja, rasa itu masih menggelayuti. Melihat cuaca yang agak cerah, sempat terpikir akan mengoles pagar dengan minyak tapi begitu dilihat di gudang, sisa minyak tahun lalu tidak cukup untuk seluruh pagar. Jadi niat diurungkan dan akhirnya membersihkan ruang tamu yang berantakan setelah akhir pekan kemarin.

Tangan sudah mulai mengatur meja dan mainan Agnes, ketika tiba-tiba rasa malas menggoda,

”Hmmm….sepertinya enak nih kalau duduk santai di taman dan minum the atau jus”

Sempat terdiam juga dan memikirkan hal itu, hush…mata menatap meja yang berantakan, akhirnya berhasil meneruskan pekerjaan menyapu dan merapikan ruangan. Seperti biasa, dapur adalah tempat atau ruang kerja bagi saya kalau tidak ruang makan. Karena dari dapur bisa melihat ke jalan dan tempat parkir di depan rumah dan juga melihat ke taman belakang, jadi bisa dibilang dapur adalah tempat paling strategis di rumah ini. Tidak jarang P menemani saya dengan laptop-nya dan kami berdua tenggelam dengan kesibukan masing-masing.

Setelah menjawab beberapa email dan melakukan apa yang seharusnya dikerjakan, saya kira rasa malas akan hilang, tetapi tidak begitu bahkan kali ini mempengaruhi rasa lapar saya. Malas sekali membuat makanan dan memilih untuk mengambil pisang dan beberapa buah persika. Sambil menikmati buah, masih merasa heran kenapa tiba-tiba jadi pemalas seperti ini. Well, walaupun sudah selesai mengerjakan yang seharusnya, tetap saja harus berjuang dan memarahi rasa malas yang datang dan memperingatkan untuk tidak mengganggu. Cuaca pun sebenarnya naik turun, sempat hujan sebentar yang diiringi sinar matahari yang terang. Beberapa kali langit disinggahi oleh awan gelap yang turun menjadi butiran air, meskipun hanya untuk beberapa menit saja. Tetap saja ingin mengatakan pada alam bahwa apa yang saya dan alam rasakan sama, naik turun seperti roda yang berputar.

Melihat beberapa foto dan sempat mengaturnya dengan santai sebelum akhirnya melihat 2 kardus setengah rampung rumah boneka untuk A, begitu melihat itu, entah darimana datangnya semangat dan segera saja meja dapur berubah menjadi berantakan dengan peralatan seperti gunting, kertas, lim dan yang lainnya. Tenggelam bersama kardus-kardus tersebut membuat saya sedikit berpikir, apakah memang hati saya ingin saya menyelesaikan rumah boneka ini secepatnya? Terheran lagi ketika tidak saya rasakan kemalasan yang tadi menyerang ganas. Hmmmm, mungkin alam bawah sadar yang menyuruh saya untuk memberi kebahagiaan extra kepada putri kami. Hasilnya? Rumah boneka tersebut selesai dan sudah saya pajang dengan bangga di Instagram saya @demaodyssey . Ada 2 foto di sana, satu saat rumah itu tertutup dan kedua setelah saya atur boneka Peppa Pig dan teman-temannya bermain dan terlihat menghabiskan hari di dalam dan di luar rumah. Sambil ditemani Chrisye saya menata meja sehingga saat A datang dari sekolah, dia akan bisa langsung bermain setelah mencuci tangan dan minum air putih.

Benar saja, saya melihat binar bahagia yang lebih hari ini dari matanya. Ada banyak yang saya rasakan dan ingin saya tumpahkan sekarang, namun anehnya… rasa malas menyerang lagi setelah A tertidur. Kami sempat bermain berdua di rumah boneka dan mengarang cerita sampai P datang dan kami bertiga bersenda-gurau dan bercanda di sofa di ruang tamu. Sehabis memandikan A, P mengajak putri kami untuk tidur dan seperti biasa, A mengucapkan salam dan saya berikan kecupan terindah. Sudah 3 hari ini A ingin tidur bersama ayahnya dan tertidur sangat cepat. Dulu, sebelum pulang ke Bali, A biasanya tidur jam 9-10 malam namun sekarang maksimal 08:30 dia sudah menggosok gigi dan tertidur dikeloni Papanya. Kami kaget ketika pertama kali dia ingin tidur bersama Papanya, karena biasanya Mamanya yang mengeloni A. Tentu saja hal ini kami terima dengan senang hati karena itu artinya ada waktu extra buat Papanya untuk dihabiskan dengan A.

Tapiiii begitu A naik ke lantai atas, rasa malas kembali menyerang saya. Sadar kalau belum makan, saking malasnya, saya memutuskan untuk makan salad saja karena tinggal memotong selada, tomat dan mentimun, gampang dan praktis sekaligus mengenyangkan. Ingat kalau hari ini belum menulis, makanya saya memutuskan untuk menulis sedikit saja sebelum saya mandi dan tidur. Besok harus bertemu dengan beberapa orang yang meminta saya datang dan saya sudah berjanji akan datang, orang-orang yang (mungkin) akan memberikan atau mengambil bagian di masa depan saya. Semoga saja pertemuan besok lancar dan hasilnya seperti yang saya harapkan. Sepertinya saya harus mengalah dan bersiap untuk tidur. Di luar sana masih hujan dan suasana yang dingin semakin menguatkan rasa malas.

”Rasa malas, saya menyerah hari ini karena tugas saya untuk hari ini sudah terlaksana. Baiklah, keinginan untuk mencari bahan proyek selanjutnya harus saya tangguhkan sampai lain kali. Mari, kita tidur! Selamat malam”.

Stockholm, demaodyssey 12062017

Posted in #NulisRandom2017, 2017, Being 40, catatan perjalanan, Catatan prajurit kecil, cerita harian, photography | Tagged , , , | Leave a comment